Minggu, 15 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Tentang Keberanian untuk Mengungkap Kebenaran

Aku membeku. Aku sebenarnya tidak memiliki bukti kuat. Tidak. Tepatnya keberanian yang kuat. Hanya saja kegugupanku membuat semuanya kacau.

Fadlan by Fadlan
14 Februari 2021
in Sastra
A A
0
Keberanian

Keberanian

3
SHARES
134
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Aku sebenarnya bukan orang yang gugup. Itu hanya anggapan mereka yang belum mengerti tentang kehidupanku. “Apakah kau mau jadi temanku?”  Aku akan bertanya kepada setiap anak yang aku temui. Mereka selalu menjawab ya, sampai suatu hari seorang gadis ingusan mengatakan tidak – dan menjulurkan lidahnya padaku. Aku terkejut. Aku tidak tahu bagaimana aku harus bersikap.

Aku kemudian bertanya pada gadis itu mengapa ia tidak suka padaku. Alih-alih menjawab, ia hanya mengangkat bahunya dan berjalan pergi kembali ke orang tuanya. Aku terus menatap gadis itu dan bertanya-tanya: “Mengapa dia tidak ingin berteman denganku?” Aku masih belum mengerti.

Orang tuaku kemudian menjelaskan bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan orang yang tidak menyukaiku.

“Itu normal,” kata ayahku.

“Karena kita tidak mungkin bisa memaksakan orang lain supaya mau menyukai kita,” sambung ibuku.

Aku tidak sepenuhnya mengaminkan perkataan mereka. Namun itu adalah hal baru bagiku. Sebagai anak sembilan tahun aku mencoba untuk menyukai setiap orang yang aku temui. Karena aku tahu benar rasanya ditolak itu sama sekali tidak menyenangkan. Mungkin begitulah cara dunia ini bekerja, pikirku.

Pandangan bahwa beberapa orang mungkin tidak menyukaiku sangat sulit untuk aku pahami. Bagaimana aku bisa tahu apakah si A atau si B menyukaiku atau tidak?

“Kau akan tahu dengan sendirinya, nak,” kata ayahku.

“Kau mungkin akan merasakan sesuatu – semacam sinyal atau sejenisnya. Intinya sesuatu seperti itu.” Ibuku menambahkan.

“Ibu, bisakah kau memberikanku penjelasan yang sesuai dengan usiaku? Itu sama sekali tidak menjelaskan apa-apa.”

Ibu mencoba berkelit, “Kau mau segelas susu?”

Aku pun mengangguk.

Sejak saat itu, aku berhenti meminta anak-anak lain untuk berteman denganku; bagaimana jika mereka adalah bagian dari kelompok orang yang tidak menyukaiku? Lebih baik aman daripada menyesal, bukan?

Jadi, aku pun berhenti untuk mencari teman. Sebaliknya, aku hanya menyapa mereka yang memang ingin berbicara denganku saja; mereka yang jelas menunjukkan bahwa mereka menyukaiku.

Ini tentu tidak mudah bagi anak sembilan tahun. Aku mungkin hanya akan melihat anak-anak lain yang sedang bermain. Meskipun aku  sangat ingin bergabung, tetapi aku tidak bisa. Rasa gugup, ketakutan dan pikiran-pikiran negatifku spontan akan menahanku.

Dan kemudian, hidupku terus berlanjut.

***

Aku sekarang berusia 30-an dan nampaknya sifat naif masa kecilku itu masih terbawa sampai sekarang. Persis seperti pribahasa ‘kecil teranja-anja, besar terbawa-bawa’. 

Meskipun secara pengalaman kini aku lebih mengerti bagaimana segala sesuatu itu bekerja, dan aku tahu kapan seorang menyukaiku atau tidak daripada ketika aku masih berusia sembilan tahun, aku terkadang masih berjuang untuk mencari cara bagaimana harus memulai percakapan yang baik agar orang lain tidak tersinggung atau merasa nyaman denganku.

Namun tak jarang juga aku masih merasa aneh dan tidak siap untuk itu.

Suatu hari aku pergi menemui kepala sekolah di sekolah putriku. Aku ingin dia memberikan teguran pada guru matematika di sana. Sebagai orang tua aku merasa adalah keharusan untuk menjaga dan membela anak sendiri.

Bagaimana pun aku tidak menyukai cara mengajar guru matematika itu yang aku nilai sudah terlalu kuno. Dia kerap memberikan hukuman fisik dengan alasan yang aku kira tidak jelas, bukan hanya pada putriku, tapi juga anak-anak lain.

Dari semua orang tua, mungkin hanya aku saja yang berani angkat suara mengkritik cara sekolah melayani dan memberi pengajaran kepada anak-anak.

Malam sebelumnya, aku sudah memberi tahu istriku tentang apa-apa saja yang akan aku sampaikan nanti – setiap detail yang akan aku tunjukkan kepada kepala sekolah.

Kepala sekolah adalah seorang pria besar dengan suara berat yang mungkin jika ia berbicara bisa Anda dengar sekalipun dari jauh. Pada hari itu, dia nampak sibuk dan kesal. Dia baru saja menutup telepon ketika aku berjalan di kantornya (aku mendengar dia berteriak cukup keras beberapa detik sebelumnya).

Kami pun bertemu. Dia menjabat tanganku dan memberi isyarat agar aku masuk ke ruangannya. Dia kemudian memeriksa komputernya kembali.

“Tunggu sebentar.” Ucapnya.

Aku mengangguk. Aku lalu melihat-lihat sekeliling ruangannya untuk mencari hal-hal menarik untuk dilihat sembari menunggu. Di sana ada banyak sekali foto dan piagam. Termasuk tentu saja, foto presiden dan wakil presiden dengan latar bendera di belakangnya.

“Aku dikabari bahwa bapak punya keluhan dengan guru matematika kami, bukan?” Dia bertanya setelah beberapa menit, membuka buku catatan besar dan mengambil pena.

“Ya… ya… aku ingin berbicara denganmu tentang dia… tentang beberapa kekhawatiran yang… aku kira alami dimiliki oleh semua orang tua,” seperti biasa, penyakit gugupku kembali lagi.

“Oke. Jadi, apa keluhan bapak? Aku harap itu bukan hal yang serius.”

Tentu saja ini serius sekali, pikirku. Namun sebaliknya aku berkata, “Tidak… tidak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu….” 

“Sesuatu?” ia mulai memperbaiki posisi duduknya, dan menurunkan sedikit kacamatanya hingga menunjukan tatapan serius.

“Hal-hal kecil yang dibicarakan anak-anak… aku kira.” Aku mulai merasa gerah dan tidak nyaman. Padahal jelas ruangan itu ber-AC.

Sial, kegugupanku meningkat.

“Oke. Silakan.”

“Tidakkah bapak berpikir kalau… mungkin… dia terlalu keras mengajar anak-anak? Maksudku, si guru matematika,”

“Bisa dijelaskan? Apa bapak punya contoh perilakunya yang menurut bapak keras pada anak-anak?”

Aku punya bukti! Aku sudah menyusun semuanya semalam, bahkan sudah menghapalkannya, pekikku dalam hati. Bagaimana mungkin insting orang tua bisa menafikan fakta bahwa setiap pulang sekolah anaknya terus mendapatkan bekas tamparan di pipinya?

Namun sekeras apapun aku berpikir, mulutku justru berkata lain, “Em, mungkin dia sudah mengajar dengan baik sebagai seorang guru… hanya saja anak-anak… Anda tahu… mereka suka berbicara….”

“Ya, anak-anak memang suka berbicara. Tapi apakah hanya itu yang ingin bapak sampaikan?”

“Tidak. Yah, ya … seperti … yang anak-anak bicarakan … tentang sikapnya … mungkin itu bukan apa-apa. Tapi aku ingin kau tahu….”

Dia diam menatapku selama beberapa detik. Aku mendapat getaran. Perasaan yang familiar; Apakah dia tidak menyukaiku? Apakah dia marah? Apakah dia tersinggung? Tanyaku dalam hati.

“Jadi, ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi? Tolong jelaskan supaya saya bisa mengerti.”

“Tidak ada yang serius. Aku hanya ingin Anda tahu… tentang… tentang rumor ini.”

“Mohon maaf, pak. Kami tidak ingin berurusan dengan rumor apapun di sini. Apakah bapak punya bukti yang mungkin lebih spesifik? Selain rumor?”

Aku membeku. Aku sebenarnya tidak memiliki bukti kuat. Tidak. Tepatnya keberanian yang kuat. Hanya saja kegugupanku membuat semuanya kacau.

“Tidak. Tidak juga. Ah, mungkin ini bukan masalah yang besar.”

Dia mendesah lalu menutup kembali buku catatan itu – sama kosongnya dengan saat awal pertemuan kami.

“Terima kasih. Aku akan mengingat keluhan Anda. Terima kasih sudah merepotkan diri buat jauh-jauh datang ke sini…” Ujarnya sembari melipat tangannya.

Aku tidak tahu. Aku merasa ada sesuatu ‘lain’ di balik kalimatnya barusan. Dia kemudian berdiri lalu mengantarku keluar dari kantornya

Begitu aku keluar teleponku berdering. Itu istriku. Dia ingin tahu bagaimana hasil pertemuan itu.

“Jadi? Apa yang dia katakan?”

“Dia bilang dia akan mengingat keluhanku…”

“Mengingat keluhanmu? Guru itu seharusnya di penjara! Apa kau sudah memberitahunya bahwa kita tidak segan-segan akan melaporkan sekolah ke polisi jika mereka tidak menindaklanjutinya?”

Sebagai suami dan orang tua aku merasa malu. Tentang betapa sulitnya menumbuhkan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Dan karena itu pula istriku menjadi semakin meledak. Belakangan aku sadar – adalah keputusan tepat untuk tidak membawanya kemari. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan di sini.

Memang benar, jika sudah berkenaan dengan anak, seorang ibu lah yang akan berdiri di garis depan untuk membela anaknya. Terlepas dari apakah anaknya salah atau tidak.

“Sudahlah… Aku yakin kepala sekolah pasti mengerti dan akan melakukan sesuatu…”

***

Sesampainya di rumah, aku lalu membuat catatan dari semua hal yang mungkin akan aku ceritakan kepada kepala sekolah ketika anakku bermasalah lagi dengan guru matematikanya.

Aku berjanji PASTI akan memberitahunya. Tanpa gugup, tentunya.

Aku lalu meminta putriku untuk menuliskan semua kejadian yang ia dan teman-temannya alami ketika guru itu mengajar.

Namun, keesokan harinya tiba-tiba kami menerima kabar bahwa guru matematika itu telah melukai seorang siswi di sekolah itu, yang membuat siswi tersebut mengalami patah tulang di salah satu jarinya. Tidak ada yang tahu apa yang kemudian terjadi pada guru matematika itu, karena dia sudah menghilang saat polisi datang. []

Tags: anak-anakCerita Anakorang tuaparentingpendidikan anakRelasi Suami-Istri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

KUA Batang Hari Lampung Timur, Terapkan Pakta Kesalingan

Next Post

Noktah Cinta Wafa dan Nabela

Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Related Posts

Aturan Medsos 2026
Keluarga

Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

12 Maret 2026
Mendidik Rasa Aman
Keluarga

Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

25 Februari 2026
Child Protection
Keluarga

Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

22 Februari 2026
Nabi Ibrahim
Pernak-pernik

Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

14 Februari 2026
Relasi tidak Sehat
Keluarga

Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

2 Februari 2026
Gap Usia dalam Relasi
Publik

Ironi Gap Usia dalam Relasi Remaja dan Pria Dewasa: Romansa atau Ketimpangan Kuasa?

2 Februari 2026
Next Post
Nabela

Noktah Cinta Wafa dan Nabela

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan
  • Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga
  • Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna
  • Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah
  • Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0