Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Mengenal Filosofi Keluarga Pythagoras

Sumber-sumber kuno menunjukkan bahwa banyak perempuan yang berperan aktif dalam menyebarkan ajaran Pythagoras

Fadlan by Fadlan
12 September 2024
in Pernak-pernik
A A
0
Pythagoras

Pythagoras

6
SHARES
283
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pythagorasisme merupakan aliran filsafat yang aktif dan populer sejak akhir abad ke-6 SM hingga abad ke-2 atau ke-3 M. Penganut Pythagoras awal terdiri dari anggota keluarga Pythagoras.

Sumber-sumber kuno menunjukkan bahwa banyak perempuan yang berperan aktif dalam menyebarkan ajaran Pythagoras. Bahkan memainkan peran utama dalam pengembangan filsafat Pythagoras periode-periode awal.

Diogenes Laertius, dalam ‘Lives of the Eminent Philosophers’, melaporkan:

“Aristonexus menyatakan bahwa Pythagoras memperoleh sebagian besar doktrin etikanya dari Themistoclea, pendeta perempuan di Delphi.” (D.L VIII/8).

Dalam sejarah, penganut ajaran Pythagoras awal meliputi Themistoclea, Theano, Arignote, Myia, dan Damo. Selain Themistoclea, perempuan-perempuan lainnya adalah anggota keluarga Pythagoras.

Arignote

Para pengikut Pythagoras awal memandang alam semesta sebagai sesuatu yang teratur dan harmonis. Segala sesuatu memiliki hubungan matematis tertentu dengan segala sesuatu yang lain. Harmoni dan keteraturan dianggap ada ketika segala sesuatu berada di dalam hubungan yang tepat satu sama lain.

Hubungan ini dinamakan sebagai proporsi matematis. Ini adalah salah satu “ajaran suci” yang terkait dengan putri Pythagoras, Arignote. Menurut Arignote:

“… Hakikat angka adalah penyebab paling utama dari seluruh langit, bumi, dan wilayah di antaranya. Demikian pula, hakikat ini adalah akar dari keberadaan para dewa dan daimone, serta manusia ilahi.” (Peter Gorman, 1979: 90).

Pandangan Arignote berhubungan erat dengan pandangan ibunya, Theano dari Crotona, bahwa semua yang ada—semua yang nyata dapat kita bedakan dari hal-hal lain melalui pencacahan. Hakikat abadi angka juga terkait langsung dengan koeksistensi harmonis yang terdapat di berbagai hal.

Harmoni tersebut dapat kita anggap sebagai hubungan matematis. Dalam hal ini, angka adalah penyebab segala sesuatu. Tanpa angka, kita tidak dapat menghitung, menggambarkan, dan membedakan satu hal dengan hal lain, dan angka mengungkapkan hubungan yang teratur di antara berbagai hal.

Theano dari Crotona

Theano adalah putri Brontinus, seorang yatim piatu dan bangsawan Crotona. Ia pertama kali menjadi murid Pythagoras, dan kemudian menjadi istrinya.

Dalam sebuah dokumen yang berkaitan dengan karya besarnya, ‘On Piety’, dia menyinggung konsep metafisik tentang imitasi dan partisipasi. Teks tersebut penterjemahnya adalah Vicki Lynn Harper:

“Saya melihat bahwa banyak orang Yunani percaya bahwa Pythagoras mengatakan semua hal dihasilkan dari angka. Pernyataan itu sendiri menimbulkan kesulitan: Bagaimana hal-hal yang tidak ada dapat dianggap menghasilkan sesuatu? Namun, Pythagoras tidak mengatakan bahwa semua hal muncul dari angka; sebaliknya, semua hal berkesesuaian dengan angka—atas dasar bahwa keteraturan dalam pengertian utama adalah dalam angka dan dengan partisipasi dalam tatanan itu yang pertama dan yang kedua dan sisanya secara berurutan ditetapkan pada hal-hal yang dihitung.” (Holger Thesleff, 1965).

Theano mengatakan bahwa ketika kita bertanya apa hakikat suatu objek, kita dapat menjawab dengan menggambarkan sebuah perumpamaan antara objek itu dan sesuatu yang lain, atau kita dapat mendefinisikan objek tersebut.

Menurutnya, Pythagoras bermaksud untuk mengekspresikan analogi antara benda dan angka. Ini adalah konsep imitasi bahwa benda seperti angka. Dengan partisipasi angka di alam semesta, tatanan dan harmoni, suatu objek, baik yang berwujud maupun tidak, dapat kita urutkan dengan semua objek lain dan dapat kita hitung. Benda dapat kita hitung sesuai dengan angka, yang pengertian utamanya adalah penataan.

Dokumen yang terkait dengan Theano tampaknya tidak Aristoteles ketahui yang pernah mengatakan bahwa kaum Pythagoras:

“… membangun benda-benda alami dari angka, benda-benda yang ringan dan berat dari benda-benda yang tidak berat atau ringan…” (Aristotle, Metaphysics, 1090a22).

Keabadian Jiwa

Jika kita mengartikan “benda-benda” menurut Theano sebagai benda-benda jasmani, atau objek fisik, seperti yang saya kira harus kita pahami, mengingat penggunaan istilah “menghasilkan,” dia hanya mengklaim bahwa benda-benda jasmani tidak muncul dari angka itu sendiri karena angka hakikatnya bersifat non-jasmani.

Sebaliknya, angkalah yang memungkinkan kita untuk membedakan satu benda dari benda-benda yang lain. Dengan menghitung benda-benda sebagai yang pertama, kedua, dst., Kita secara tidak langsung mengklaim dapat menentukan parameter fisik benda-benda tersebut bahwa sesuatu kita mulai di sini, berakhir di sana, dst.

Jadi ketika kita menghitung, secara tidak langsung kita juga menggambarkan objek-objek. Kita dapat mengatakan bahwa sesuatu adalah objek karena kita dapat menghitungnya.

Selain tentang angka, Theano juga menjelaskan dua doktrin Pythagoras lainnya. Keabadian jiwa dan transmigrasi jiwa. Theano menegaskan bahwa Pythagoras percaya pada keadilan Tuhan di akhirat dan pada transmigrasi jiwa setelah kematian ke dalam tubuh baru yang belum tentu manusia.

Theano menghubungkan moralitas dengan kosmologi untuk menunjukkan mengapa kita tidak boleh meragukan keabadian jiwa:

“Jika jiwa tidak abadi, maka hidup adalah pesta pora bagi para pelaku kejahatan yang mati setelah menjalani hidup mereka yang kejam.” (Clement of Alexandria, Stromata, IV/7, 9).

Harmoni Alam Semesta

Dalam alam semesta yang berprinsip dan harmonis, segala sesuatu memiliki tempat dan fungsinya sendiri-sendiri. Yakni menurut suatu hukum: hukum fisika, logika, atau moralitas dan agama. Perbuatan jahat atau tidak bermoral jelas bertentangan dengan hukum-hukum tersebut, dan menyebabkan kekacauan dan perselisihan.

Menurut Theano, jika jiwa tidak abadi, maka mereka yang menyebabkan kekacauan tidak hanya mendapatkan semacam tumpangan gratis dalam hidup dengan mengorbankan mereka yang telah mereka sakiti, tetapi mereka juga mengganggu ketertiban alam semesta. Jika keseimbangan dan harmoni alam semesta terpulihkan, jiwa mau tak mau harus abadi.

Dengan begitu orang-orang yang tidak bermoral berkesempatan untuk memperbaiki ketertiban yang telah mereka rusak dengan menerima hukuman untuk terlahir kembali sebagai sesuatu yang lebih rendah dari manusia. Lalu dengan menjalani kehidupan selanjutnya seperti yang diharuskan oleh hukum moral.

Myia

Myia merupakan salah satu putri kandung Theano dan Pythagoras. Dia menikah dengan seorang atlet, Milo (kadang-kadang disebut sebagai Milon, Mylon, atau bahkan Meno) yang berasal dari kampung halaman ibunya, Crotona. Di rumahnya lah Pythagoras mati terbakar.

Dia menulis tentang penerapan prinsip harmonia dalam kehidupan perempuan. Suratnya kepada Phyllis membahas pentingnya memenuhi kebutuhan bayi yang baru lahir sesuai dengan prinsip harmonia.

Menurutnya, bayi yang baru lahir secara alami menginginkan apa yang sesuai dengan kebutuhannya, dan yang dibutuhkannya adalah moderasi. Makanan dan pakaian yang tidak terlalu sedikit ataupun terlalu banyak. Temperatur yang tidak terlalu tinggi (panas) dan tidak terlalu rendah (dingin), dll.

Karena alasan tersebut, seorang ibu harus memiliki sikap yang moderat dalam pengasuhan. Seorang ibu tidak boleh tidur atau minum berlebihan, dan harus mengendalikan nafsu seksual suaminya (mungkin karena kehamilan akan menghalangi proses laktasi). Seorang ibu harus “melakukan semua hal dengan baik di waktu yang tepat” dan harus mengendalikan kebutuhannya sendiri.

Pemikiran Myia di atas dapat kita lihat dari suratnya kepada Phyllis yang saat itu baru saja melahirkan. Di sisi lain ia ingin mencari perawat/pengasuh. Berikut isi suratnya:

“Myia kepada Phyllis,

Salam. Karena kamu telah menjadi seorang ibu, aku ingin memberimu nasihat ini. Pilihlah seorang perawat yang baik hati dan bersih, yang rendah hati dan tidak terlalu banyak tidur atau minum. Perempuan seperti itu akan lebih mampu menilai cara membesarkan anak-anakmu dengan cara yang sesuai dengan status mereka—tentu saja, asalkan dia memiliki cukup susu untuk memberi makan anak, dan tidak mudah terpengaruh oleh bujukan suaminya untuk tidur sekamar dengannya.

Seorang perawat memiliki peran besar dalam hal ini yang merupakan bagian pertama dan pendahuluan dari seluruh kehidupan seorang anak, yaitu mengasuh dengan tujuan untuk membesarkan anak dengan baik. Karena dia akan melakukan segala sesuatu dengan baik pada waktu yang tepat. Biarkan dia memberikan puting susu dan payudara serta makanan, bukan secara spontan, tetapi sesuai dengan pertimbangan yang tepat. Dengan demikian dia akan membimbing bayi menuju kesehatan.

Dia tidak boleh menyerah setiap kali dia sendiri ingin tidur, tetapi ketika bayi yang baru lahir ingin beristirahat; dia akan menjadi penghibur bagi anak itu. Janganlah dia menjadi pemarah, banyak bicara, atau sembarangan dalam mengambil makanan, tetapi hendaklah ia bersikap tertib dan tenang. Yang terbaik adalah menidurkan bayi yang baru lahir setelah ia cukup kenyang dengan susu, karena pada saat itu istirahat akan menyenangkan bagi bayi, dan makanan seperti itu mudah dicerna.

Jika ada makanan lain, seseorang harus memberikan makanan yang sesederhana mungkin. Jauhi anggur sama sekali, karena efeknya yang kuat, atau tambahkan sedikit dalam campuran susu malam. Jangan terus-menerus memandikan anak. Lebih baik memandikan anak dengan air hangat namun jangan terlalu sering. Mandikan bayi dengan suhu sedang. Selain itu, udara harus memiliki keseimbangan panas dan dingin yang sesuai, dan rumah tidak boleh terlalu berangin atau terlalu tertutup. Air tidak boleh keras atau lembut, dan seprai tidak boleh kasar tetapi harus nyaman di kulit.

Dalam semua hal ini, alam semesta hanya menginginkan apa yang pantas, bukan yang berlebihan. Inilah hal-hal yang aku pikir berguna untuk dituliskan kepadamu saat ini: harapan saya tentang pengasuhan anak. Dengan bantuan Tuhan, kita akan memberikan pengingat yang layak dan tepat mengenai pengasuhan anak lagi di lain waktu.” (Hercher, Epistolographi Graeci, 608).

Pengasuhan Anak ala Pythagoras

Kalian mungkin terkesan, seperti saya, ketika dia menutup suratnya dengan pernyataan bahwa “Inilah hal-hal yang aku pikir berguna untuk dituliskan kepadamu saat ini…” Ada kesederhanaan dari cara dia memberikan nasihat.

Dia bahkan berjanji akan memberikan Phyllis nasihat lainnya nanti. Ketika saatnya tepat untuk mengingatkan Phyllis tentang hal-hal lain sehubungan dengan pengasuhan anak ala Pythagoras! Surat di atas juga secara tidak langsung merangkum apa yang para perempuan lakukan di keluarga Pythagoras.

Mereka percaya bahwa tugas mereka sebagai filsuf perempuan adalah untuk mengajarkan kepada perempuan lain apa yang perlu perempuan ketahui, jika mereka ingin menjalani hidup yang harmonis dan menciptakan keadilan dalam jiwa dan rumah tangga mereka.

Demikian pula, tugas filsuf laki-laki adalah untuk mengajarkan kepada laki-laki lain apa yang perlu laki-laki ketahui agar mereka menjalani hidup yang harmonis. Yakni menciptakan keadilan dan keharmonisan dalam jiwa dan rumah tangga mereka.

Orientasi tugas ini sebagian menjelaskan, dan sebagian lagi hanya menggambarkan, alasan pendekatan realistis terhadap moral yang perempuan ambil, dan pendekatan yang laki-laki ambil menurut Pythagoras dan keluarganya. Laki-laki dan perempuan memiliki pendekatan yang berbeda karena tugas mereka berbeda. Pythagoras percaya bahwa tugas perempuan dan laki-laki berbeda karena sifat mereka berbeda. []

Tags: filsafatFilsufKemaslahatan KeluargaPengasuhan AnakperempuanPythagoras
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Menyoal Keulamaan Patriakat

Next Post

Identitas Ulama Perempuan KUPI

Fadlan

Fadlan

Saat ini bekerja serabutan sebagai freelance writer dan tutor private Bahasa Inggris

Related Posts

HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

20 Juli 2026
Sepak Bola Dunia
Aktual

Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

20 Juli 2026
HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

18 Juli 2026
Lagu Teh Hijau
Personal

Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

17 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Penyakit yang Menular
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

12 Juli 2026
Next Post
Ulama Perempuan KUPI

Identitas Ulama Perempuan KUPI

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0