Selasa, 17 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Fastabiqul Khairat

    Fastabiqul Khairat ala Gen Z di Akhir Ramadan

    Peacewashing

    Keluar dari Jebakan Peacewashing BoP

    Aborsi Aman

    Absennya Aborsi Aman sebagai Kontrol Negara Terhadap Tubuh Perempuan

    Perceraian

    Gemuruh Kausa Perceraian

    Khairunnas Anfa’uhum Linnas

    Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

    Konflik Keluarga

    Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Al-Quds Day

    Mengenal Al-Quds Day: Sebuah Pengingat Bahwa Keadilan Tidak Boleh Dilupakan

    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Komplikasi Kehamilan

    Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Penyebab Tingginya Kematian Perempuan

    Seksual Perempuan

    Perempuan Rentan Terpapar Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual

    Kehamilan berulang

    Kehamilan Berulang Tingkatkan Risiko Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

    Risiko Kesehatan

    Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

    Kekurangan Gizi

    Kekurangan Gizi Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Perempuan

    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Fastabiqul Khairat

    Fastabiqul Khairat ala Gen Z di Akhir Ramadan

    Peacewashing

    Keluar dari Jebakan Peacewashing BoP

    Aborsi Aman

    Absennya Aborsi Aman sebagai Kontrol Negara Terhadap Tubuh Perempuan

    Perceraian

    Gemuruh Kausa Perceraian

    Khairunnas Anfa’uhum Linnas

    Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

    Konflik Keluarga

    Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Al-Quds Day

    Mengenal Al-Quds Day: Sebuah Pengingat Bahwa Keadilan Tidak Boleh Dilupakan

    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Komplikasi Kehamilan

    Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Penyebab Tingginya Kematian Perempuan

    Seksual Perempuan

    Perempuan Rentan Terpapar Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual

    Kehamilan berulang

    Kehamilan Berulang Tingkatkan Risiko Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

    Risiko Kesehatan

    Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

    Kekurangan Gizi

    Kekurangan Gizi Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Perempuan

    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    Kehidupan Perempuan

    Kesehatan Perempuan dan Dampaknya bagi Kehidupan Keluarga

    Aisyah dan Hafshah

    Dua Perempuan Teladan: Sayyidah Aisyah dan Hafshah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Francis Fukuyama: Intimate Wedding sebagai Gejala Runtuhnya Kolektivitas Tradisional

Di tengah kehidupan kota yang bising, macet, dan penuh dengan interaksi transaksional melelahkan, pasangan muda tidak lagi mencari validasi dari ribuan orang

Fadlan by Fadlan
20 November 2025
in Keluarga
A A
0
Intimate Wedding

Intimate Wedding

28
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Menurut Anda, apa itu pernikahan? Haruskah ia dirayakan? Bagaimana ia kita rayakan? Dan apakah perayaan itu musti mewah? Berapa banyak orang yang perlu kita undang?

Sebagai seorang yang belum pernah merasakan euforia pernikahan, pertanyaan-pertanyaan tersebut sering menggantung di benak saya. Dan itu semakin gencar membayangi ketika saya membaca sebuah artikel The Jakarta Post bertajuk “Uniquely yours: Jakarta weddings are getting smaller and more personal.”

Artikel yang Aqraa Sagir tulis tersebut menyoroti sebuah fenomena yang mungkin sudah kita rasakan getarannya. Pergeseran tren pernikahan di perkotaan, terutama di Jakarta, yang kian menyusut dalam skala, namun menebal dalam keintiman. Generasi muda mulai meninggalkan tradisi pesta kolosal mewah yang dihadiri ribuan tamu—yang sebagian besar tidak mereka kenal—ke perayaan yang lebih kecil, sederhana, hangat, dan personal.

Fenomena ini, sepintas, mungkin tampak seperti strategi penghematan ekonomi belaka. Namun, jika kita melihatnya lebih jauh, pergeseran ini adalah gejala dari perubahan radikal di dalam struktur sosial kita.

Dalam bukunya, ‘The Great Disruption: Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial’, Francis Fukuyama membedah bagaimana transisi dari era industri ke era informasi memporak-porandakan tatanan sosial yang lama.

Jika kita analogikan, pernikahan gaya lama adalah sisa-sisa dari mentalitas era industri. Ia bersifat massal, terstandarisasi, dan hierarkis. Dalam model ini, pernikahan bukan semata-mata perayaan cinta dua individu, melainkan show of force keluarga besar di mana individu tunduk pada norma sosial yang kaku.

Tren Intimate Wedding

Ribuan tamu yang hadir adalah representasi dari kewajiban sosial orang tua, relasi bisnis, dan hutang budi masa lalu yang harus terbayar lunas dengan jabat tangan di atas pelaminan. Namun, Fukuyama mengingatkan bahwa norma sosial tidaklah statis. Ia hancur dan kemudian tersusun ulang.

Apa yang kita saksikan pada tren micro-wedding atau intimate wedding di dalam artikel Aqraa Sagir di atas adalah proses penyusunan ulang tersebut. Sebuah respons adaptif masyarakat modern terhadap dunia yang semakin riuh dan terfragmentasi. Pergeseran ini menandakan kemenangan individualisme atas kolektivisme tradisional.

Di masa lalu, masyarakat terikat oleh apa yang sosiolog Ferdinand Tönnies sebutkan sebagai “Gemeinschaft” (paguyuban), sebuah komunitas yang berdasarkan pada kekerabatan dan tatap muka. Namun, kota-kota besar seperti Jakarta adalah representasi dari “Gesellschaft” (patembayan), sebuah masyarakat yang berdasarkan pada rasionalitas yang impersonal.

Di tengah transisi tersebut, generasi muda perkotaan merasa asing dengan kewajiban mengundang banyak orang yang tidak punya ikatan emosional dengan mereka. Fukuyama menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern, kebebasan individu menguat. Manusia ingin membebaskan diri dari aturan-aturan sosial yang mereka anggap mengekang.

Radius Kepercayaan

Namun, ada yang lebih dalam dari sekadar pemberontakan terhadap tradisi. Fukuyama memperkenalkan konsep “radius kepercayaan” (radius of trust). 

Dalam masyarakat tradisional, kepercayaan sering kali meluas namun dangkal, atau terbatas hanya pada kerabat saja. Di era modern, terjadi fenomena yang oleh Fukuyama sebutkan sebagai miniaturisasi moral (moral miniaturization). Ini adalah kondisi di mana orang-orang merasa lebih nyaman dan percaya pada kelompok-kelompok yang lebih kecil dan terseleksi, daripada dalam institusi besar atau komunitas luas. Intimate wedding di Jakarta adalah manifestasi fisik dari miniaturisasi moral ini.

Di tengah kehidupan kota yang bising, macet, dan penuh dengan interaksi transaksional yang melelahkan, pasangan muda tidak lagi mencari validasi dari ribuan orang. Mereka mencari kedalaman, keaslian, dan koneksi nyata. Lalu mereka memperkecil radius perayaan mereka untuk memperdalam kualitas emosional di dalamnya. Mereka menciptakan “gua”, tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri tanpa harus bersandiwara di hadapan ratusan atau ribuan tamu undangan.

Peran Perempuan

Dalam ‘The Great Disruption’, Fukuyama juga membahas tentang peran perempuan dan perubahan struktur keluarga sebagai pendorong utama perubahan norma sosial. Naiknya partisipasi perempuan dalam angkatan kerja dan kemandirian ekonomi mereka mengubah dinamika kekuasaan dalam keputusan-keputusan domestik.

Di perkotaan seperti Jakarta, banyak mempelai wanita adalah seorang profesional yang mandiri secara finansial. Mereka bukan lagi objek pasif yang “diserahkan” dari ayah ke suami dalam sebuah upacara adat yang kaku. Kemandirian ini memberikan mereka suara bahkan otoritas untuk menolak dikte dan ekspektasi sosial.

Jika dulu pernikahan adalah tentang hubungan antara dua keluarga dan pertukaran sumber daya, kini pernikahan—bagi kelas menengah urban perkotaan—adalah tentang kemitraan yang setara dan ekspresi diri. Keinginan untuk membuat pernikahan yang “uniquely yours” seperti yang Sagir utarakan, adalah cerminan dari pergeseran nilai ini. Dari pernikahan sebagai kewajiban institusional menjadi pernikahan sebagai proyeksi identitas personal.

Modal Sosial

Selain itu, kita tidak bisa mengabaikan aspek “modal sosial” (social capital) yang menjadi inti pemikiran Fukuyama dalam bukunya. Modal sosial adalah serangkaian nilai atau norma informal yang dimiliki bersama oleh anggota suatu kelompok yang memungkinkan terjadinya kerja sama.

Banyak yang mungkin beranggapan bahwa mengecilnya skala pernikahan adalah tanda terkikisnya modal sosial. Namun, Fukuyama mengajak kita untuk tidak terburu-buru menyimpulkan. Menurutnya, modal sosial tidak hilang, ia hanya berubah bentuk.

Dari perspektif ini, pesta pernikahan dengan 2.000 tamu mungkin tampak memiliki modal sosial yang besar, tetapi jika interaksinya hanya sebatas salaman dua detik tanpa makna, apakah itu benar-benar memperkuat ikatan sosial?

Sebaliknya, pernikahan hanya dengan beberapa tamu di mana setiap orang benar-benar berinteraksi, berbagi cerita, dan tertawa bersama, dapat menghasilkan modal sosial yang jauh lebih kuat dan berkualitas.

Inilah yang direkalibrasi oleh generasi muda perkotaan. Mereka tidak lagi mendefinisikan komunitas sebagai “siapa saja yang pernah berinteraksi dengan orang tua saya.” Melainkan “siapa yang benar-benar peduli dan hadir dalam hidup saya.”

Di sisi lain, di banyak masyarakat, pesta besar umumnya menganggapnya sebagai sarana untuk kompetisi status—sebuah zero-sum game di mana seseorang menunjukkan bahwa mereka lebih mampu dan kaya daripada tetangganya. Fukuyama mencatat bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk yang hierarkis dan selalu mencari pengakuan.

Di era industri atau masyarakat feodal, pengakuan tersebut kita dapatkan melalui kemegahan dan jumlah massa yang berhasil terkumpulkan. Namun, di era informasi saat ini yang didominasi oleh kelas-kelas kreatif dan profesional urban, mata uang status ini berubah.

Kemewahan yang norak dan massal mulai dianggap usang atau bahkan vulgar. Status kini kita dapat melalui kurasi, keaslian, dan pengalaman. Ini adalah contoh dari pergeseran materialisme ke post-materialisme, di mana pengalaman dan ekspresi diri lebih kita hargai daripada akumulasi benda atau jumlah tamu undangan yang hadir.

Rekonstruksi Besar

Setelah tatanan lama terganggu atau hancur akibat perubahan teknologi dan ekonomi, manusia secara alami akan membangun kembali tatanan sosial yang baru. Manusia adalah makhluk yang secara biologis terprogram untuk menciptakan aturan moral dan tatanan sosial. Tren pernikahan intim ini bisa kita lihat sebagai bagian dari rekonstruksi tersebut.

Setelah lelah dengan norma-norma lama yang terasa tidak lagi relevan—pemborosan biaya, kewajiban mengundang orang asing, dan hilangnya sakralitas—generasi muda perkotaan pun menyusun norma baru. Mereka menetapkan aturan main baru: bahwa pernikahan haruslah bermakna, bahwa privasi harus menjadi yang utama, dan bahwa keintiman lebih berharga daripada formalitas.

Ini adalah bentuk self-organization. Sama seperti para komuter di Washington D.C. yang menciptakan aturan “slugging” (berbagi tumpangan) untuk mengatasi kemacetan kota. Salah satu contoh yang dikutip Fukuyama tentang bagaimana ketertiban muncul dari bawah. Pasangan muda perkotaan menciptakan tata krama pernikahan yang baru untuk mengatasi “kemacetan” emosional dan finansial dari tradisi lama.

Tentu saja, argumen ekonomi tidak bisa kita kesampingkan, meskipun Fukuyama sering menekankan bahwa budaya dan nilai punya otonominya sendiri. Biaya hidup di kota-kota besar seperti Jakarta yang tinggi, harga properti yang melangit, dan ketidakpastian ekonomi global memaksa pasangan muda untuk berpikir rasional dan realistis. Namun, dalam kerangka Fukuyama, rasionalitas ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan perubahan nilai.

Jika di masa lalu orang rela berhutang demi gengsi hanya untuk sebuah pesta besar, sekarang rasionalitas ekonomi yang didukung dengan perubahan budaya memvalidasi pilihan orang untuk berhemat. Ada pergeseran dari “kewajiban komunal” menjadi “tanggung jawab individual”.

Pasangan muda lebih memilih mengalokasikan dananya untuk rumah atau investasi masa depan sebagai bentuk perencanaan jangka panjang yang mencerminkan etos kelas menengah baru yang lebih pragmatis. Namun berorientasi pada kesejahteraan keluarga, alih-alih kepuasan keluarga besar.

Peran Teknologi

Menariknya, Fukuyama juga menyinggung tentang peran teknologi dalam membentuk relasi sosial. Di era di mana hampir seluruh hidup kita terpampang di media sosial, masalah privasi pun muncul. Hari ini, semakin kita terhubung secara digital, semakin kita merindukan koneksi fisik yang autentik. Pesta pernikahan besar di mana setiap orang bisa mengambil foto dan menyebarkannya secara real-time bisa terasa sangat melelahkan.

Intimate wedding menawarkan semacam tempat perlindungan dari normalisasi yang melelahkan di atas. Di sini, teknologi (seperti undangan digital atau streaming terbatas) kita gunakan untuk mengontrol akses. Bukan untuk membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapapun.

Ini sejalan dengan tesis Fukuyama bahwa dalam masyarakat jaringan (network society), hierarki formal (seperti aturan adat yang kaku) tergantikan oleh jaringan informal yang berdasarkan pada kepercayaan dan nilai bersama. Pasangan atau pengantin adalah admin jaringan tersebut, dan mereka berhak menentukan siapa yang masuk dalam momen kebahagiaan mereka—dan siapa yang tidak.

Satu hal yang perlu kita catat adalah bahwa perubahan ini tidak terjadi tanpa gesekan. Fukuyama mengakui bahwa masa transisi atau disrupsi sering kali menyakitkan. Di Jakarta, gesekan ini nyata terjadi dalam bentuk konflik antargenerasi.

Kompromi

Orang tua yang masih memegang teguh norma lama, bahwa pernikahan adalah hajatan orang tua untuk mengundang semua kenalan mereka. Kondisi ini sering kali bentrok dengan anak-anak mereka yang memegang nilai-nilai baru.

Itu adalah benturan antara nilai-nilai kolektivis masa lalu dengan nilai-nilai individualis masa kini. Namun, seperti yang Fukuyama gambarkan dalam analisis sejarahnya, masyarakat pada akhirnya akan menemukan keseimbangan baru.

Kompromi-kompromi mulai bermunculan: acara adat untuk keluarga di pagi hari, dan resepsi intimate untuk teman di malam hari. Ini adalah bukti bahwa manusia punya kemampuan untuk beradaptasi dan mensintesis nilai-nilai yang bertentangan demi menjaga kohesi sosial.

Kita juga harus melihat fenomena ini dalam konteks urbanisasi perkotaan yang brutal. Jakarta, sebagai megalopolis, sering kali mengalienasi masyarakatnya. Dalam keramaian kota, individu sering merasa sendirian.

Intimate Wedding Bukan Kemunduran Budaya

Pesta pernikahan besar, ironisnya, sering kali memperparah alienasi ini—pengantin berdiri di panggung seperti pajangan, disalami oleh ribuan tangan yang tak ia kenal, tersenyum mekanis hingga rahang kaku. Itu adalah bentuk interaksi yang sangat “Tayloristik”. Istilah yang Fukuyama gunakan untuk menggambarkan efisiensi pabrik yang tidak manusiawi. Di mana tamu terproses seperti barang berjalan: datang, salaman, makan, pulang.

Jika kita merenungkan kembali pertanyaan di awal tulisan ini, Fukuyama mungkin akan mengatakan bahwa tidak ada definisi tunggal. Apa yang kita anggap sakral atau wajib dalam sebuah perayaan hanyalah konsensus sosial di waktu tertentu. Ketika teknologi berubah, ketika struktur ekonomi bergeser, dan ketika cara kita memandang diri sendiri bertransformasi, cara kita merayakan cinta pun ikut berubah.

Intimate wedding di Jakarta atau di kota-kota besar lain bukanlah tanda kemunduran budaya atau lunturnya semangat gotong royong. Justru sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kehidupan masih terus berdenyut, sebuah contoh dari masyarakat yang tengah menata ulang norma-normanya agar relevan dengan tantangan zaman.

Sebab bagaimanapun, modal sosial yang paling berharga bukanlah tentang berapa banyak orang yang kita kenal atau seberapa megah pesta yang kita gelar. Modal sosial yang sejati adalah kualitas hubungan yang kita bangun dengan orang-orang terdekat.

Di tengah dunia yang tak menentu ini, di mana institusi-institusi besar kehilangan kepercayaan publik dan ikatan-ikatan tradisional melonggar, intimate wedding adalah tindakan yang radikal sekaligus puitis. Pergeseran ini adalah tentang menemukan norma baru yang lebih manusiawi di tengah kacaunya transisi zaman. []

Daftar Pustaka

Fukuyama, Francis. ‘The Great Disruption: Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial’. (Terj. Ruslani). Penerbit Qalam: Yogyakarta, 2016.

Tags: bukuDisfungsi Institusi PernikahanfilsafatIntimate Weddingisu sosialKritik Sosialpernikahan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Perjuangan KUPI Menghentikan Sunat Perempuan: Dari Musyawarah, Penolakan, hingga Penerimaan Publik

Next Post

Membumikan Ijtihad: Langkah KUPI Menghapus Sunat Perempuan dari Ruang Keluarga hingga Negara

Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Related Posts

Konflik Keluarga
Keluarga

Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

16 Maret 2026
Vidi Aldiano dan Sheila Dara
Personal

Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

14 Maret 2026
Ngaji Manba’us-Sa’adah
Keluarga

Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

10 Maret 2026
Gugat Cerai
Keluarga

Cerai Gugat Sinyal Ketimpangan dan Pentingnya Perspektif Mubadalah

6 Maret 2026
Pernikahan
Aktual

Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

6 Maret 2026
Curu Pa'dong
Keluarga

Tradisi Curu Pa’dong: Mengikat Cinta, Keluarga, dan Kehidupan

5 Maret 2026
Next Post
Sunat Perempuan

Membumikan Ijtihad: Langkah KUPI Menghapus Sunat Perempuan dari Ruang Keluarga hingga Negara

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Fastabiqul Khairat ala Gen Z di Akhir Ramadan
  • Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Penyebab Tingginya Kematian Perempuan
  • Keluar dari Jebakan Peacewashing BoP
  • Perempuan Rentan Terpapar Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual
  • Absennya Aborsi Aman sebagai Kontrol Negara Terhadap Tubuh Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0