Mubadalah.id – Dewasa ini, rasa-rasanya saya menyadari kerumitan soal cinta. Berbagai macam aspek, dampak, sebab, sampai hukum-hukumnya, masih banyak orang yang membahas cinta. Dalam bukunya Arum Faizi dkk, Istikharah Cinta, ibarat labirin, semakin kita telusuri maka semakin kita dibuat bingung dan bertanya-tanya apa sebenarnya cinta itu.
Tulisan ini spesifik akan membahas romantika asmara cinta lawan jenis. Dari sana, mungkin semua orang sudah banyak mengalami, lalu bisa membayangkan, sampai mendefinisikan soal bentuk cinta. Tapi baiklah, itu hak masing-masing, sekarang mari lihat bagaimana A-Qur’an membahas cinta ini.
Ternyata kalau kita lihat secara jeli, dan membaca penafsiran ulama, Al-Qur’an sudah mantap membincangkan asmara. Surah Ali Imran ayat 14 misalnya, di situ ada sebuah pengakuan jujur tentang diri kita:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita”. (QS. Al-Imran [3]: 14).
Sekilas mungkin ayat ini menggambarkan biologis tentang ketertarikan antara laki-laki dan perempuan. Tapi perlu juga kita sadari, ayat ini menegaskan bahwa hati manusia diciptakan untuk bisa tertarik, mencinta, menginginkan dan semacamnya. Dan itulah yang nantinya kita sebut sebagai fitrah, yang sudah terdesain oleh ilahi.
Cinta sebagai Energi yang Kuat
Al-Qur’an melihat cinta sebagai sumber energi yang kuat, yang apabila kita arahkan dengan benar dapat melahirkan kedewasaan, tanggung jawab, dan bahkan membentuk peradaban. Kalau kita tarik lebih jauh, Islam adalah agama yang ingin mengelola romantika asmara agar menjadi berkah, bukan bencana bagi umat manusia.
Umar radhiyallahu ‘anhu setelah membaca ayat itu langsung menangis. Beliau merenungkan bahwa kecenderungan manusia kepada perempuan dan berbagai kenikmatan dunia memang Allah sendiri yang menghiasinya dalam jiwa manusia. Oleh sebab itu, ujian terkait syahwat menjadi sangat berat, sebab manusia teruji dengan sesuatu yang pada dasarnya Allah ciptakan sebagai ketertarikan natural. (Ibn al-Mundhir. Tafsīr Ibn al-Mundhir. hlm. 140).
Dalam sebuah kitab hadis ada keterangan mengenai sikap Umar terhadap ayat itu:
بَابُ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ هَذَا الْمَالُ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَقَالَ اللهُ تَعَالَى ﴿زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا﴾ قَالَ عُمَرُ اللَّهُمَّ إِنَّا لَا نَسْتَطِيعُ إِلَّا أَنْ نَفْرَحَ بِمَا زَيَّنْتَهُ لَنَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ أُنْفِقَهُ فِي حَقِّهِ
“…. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘ya Allah, kami tidak mampu kecuali merasa senang terhadap apa yang telah Engkau jadikan indah bagi kami. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku dapat membelanjakannya pada tempat yang semestinya.” (Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Bāb Hādhā al-māl khuḍratun ḥulwah, Sultāniyyah. Hlm.93).
Mungkin di sini sudah bisa kita pahami, Al-Qur’an memandang cinta bukan sekadar ledakan emosi. Dalam beberapa buku yang membahas cinta, biasanya banyak tergambarkan dengan sesuatu yang membangun sakīnah, atau mewujudkan rumah batin yang damai. Dan semua itu banyak kita ambil dari Al-Qur’an.
Romantisasi Cinta
Selain itu Al-Qur’an juga membahas cinta dari dimensi romantisasi dalam cinta. Surat Ar Rum ayat 21 menyatakan:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum [30]: 21).
Ayat ini menggambarkan bahwa hubungan laki-laki dan perempuan bukan sekadar ikatan biologis. Lebih jauh lagi Allah di dalam cinta menanam ketenangan, dan kasih sayang yang menguatkan hubungan manusia. Ia menjadi dasar terbentuknya keluarga dan menjadi bukti desain ilahi dalam kehidupan manusia. (Al-Māwardī, Al-Nukat wa al-‘Uyūn, 305).
Di titik ini, asmara tidak lagi berhenti sebagai urusan perasaan semata. Islam menempatkan cinta sebagai fondasi keluarga, dan keluarga sebagai fondasi masyarakat. Dan Islam mengupayakan atau menjaga kemurnian energi fitrah berupa cinta itu agar tidak berubah menjadi bumerang kepada manusia.
Rasulullah ﷺ pun mengingatkan bahwa ketertarikan kepada lawan jenis bisa menjadi ujian besar bagi manusia. Sabdanya:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Tidak aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada wanita.” (Shahih Bukhari. No. 5096). Perlu dicatat, ini bukan pernyataan yang mendiskreditkan perempuan, tetapi peringatan bahwa cinta memiliki daya tarik kuat yang dapat membawa manusia pada kebaikan atau kehancuran.
Manajemen Cinta Ala Islam
Ulama mengatakan, hadis itu hanya menyebutkan salah satu faktor yang sering menyebabkan gangguan hidup. Tapi bukan berarti perempuan itu sendiri pembawa sial. Perempuan bisa menjadi ujian bagi laki-laki karena dorongan syahwat, bukan celaan terhadap perempuan. (Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Bāb Hādhā al-māl khuḍratun ḥulwah, Sultāniyyah. Hlm. 93).
Bahkan bagi sebagian orang yang cukup ekstrem mengatakan pernikahan itu adalah penjara cinta. Mereka tidak memahami kalau Islam itu memberikan wadahnya. Syariat tidak membatasi dengan hal yang menakutkan. Justru Islam membuat semacam manajemen cinta agar tetap menuju kebahagiaan. Dan tentunya tetap mematuhi dan menjalani sesuai tuntunannya.
Pada akhirnya, pembahasan Al-Qur’an tentang asmara adalah ajakan bagi manusia untuk memandang cinta bukan sebagai sekadar sensasi, melainkan sebagai jalan menuju kedewasaan spiritual yang lebih jauh lagi. Islam tidak meminta kita mematikan fitrah, karena cinta tidak hanya membuat dua hati saling terpikat, melainkan juga membuat manusia semakin dekat dengan Tuhannya. []









































