Selasa, 14 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Menemukan Makna Cinta yang Mubadalah dari Film Sore: Istri dari Masa Depan

Film ini secara sangat otentik merepresentasikan dua sisi pengalaman emosional yang sangat umum dalam dinamika hubungan manusia.

Fisco Moedjito by Fisco Moedjito
23 Juli 2025
in Uncategorized
A A
0
Film Sore: Istri dari Masa Depan

Film Sore: Istri dari Masa Depan

35
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ketika saya menonton film Sore: Istri dari Masa Depan” beberapa hari yang lalu di bioskop, saya menyadari bahwa film ini lebih dari sekadar kisah cinta biasa. Bagi saya, film besutan Yandy Laurens ini membuka ruang refleksi tentang bagaimana cinta sejati yang sadar mesti terbangun atas kesiapan, kesadaran, dan kemitraan yang sehat.

Selain itu, saya juga merasakan bahwa film ini juga selaras dan relevan dengan prinsip Mubadalah. Prinsip yang menekankan kesetaraan, kemitraan, dan kerja sama sebagai fondasi relasi laki-laki dan perempuan dalam berbagai ranah kehidupan.

Cinta yang Belum Siap Akan Bisa Melukai

Pernah dengar ungkapan, “Cinta yang belum siap akan bisa melukai, meski niatnya baik”? Nah, film ini menggambarkan ungkapan tersebut lewat karakter Jonathan (diperankan oleh Dion Wiyoko) dan Sore (diperankan oleh Sheila Dara Aisha).

Melalui karakter Sore dan Jonathan, film ini mengajak kita memahami luka batin, trauma, dan perjalanan penyembuhan dalam relasi yang kompleks. Jonathan adalah sosok yang belum siap secara emosional untuk membuka diri dan mencintai secara penuh karena luka trauma masa lalu dan ketidakstabilan emosinya.

Meskipun niatnya mungkin baik, ketidaksiapan emosionalnya justru dapat menyebabkan luka dan rasa sakit bagi diri sendiri maupun bagi Sore sebagai pasangannya.

Sebagai istri dari masa depan, Sore hadir dengan kesadaran penuh tentang kondisi Jonathan. Bahkan ia mengetahui kesulitan dan luka yang akan mereka hadapi. Namun, cinta Sore bukanlah nafsu atau sekadar perasaan romantis yang membabi buta. Melainkan cinta yang berlandaskan pada kesadaran, penerimaan, dan pilihan untuk mendampingi meski risiko luka tetap ada.

Film ini secara halus mengajak kita untuk melihat bahwa seseorang yang “belum siap” bukanlah sosok yang buruk. Melainkan manusia yang berjuang melawan trauma internal, dan membutuhkan waktu, pengertian, dan kesabaran.

Konsep ini mengingatkan kita bahwa cinta tidak selalu bisa menyembuhkan secara instan. Jika seseorang belum siap, baik secara psikologis maupun emosional, maka hubungan tersebut bisa menimbulkan lebih banyak rasa sakit daripada pertumbuhan positif.

Dua Pihak yang Saling Mencintai Merupakan Subyek Utuh

Dalam buku Qiraah Mubadalah, Kiai Faqihuddin Abdul Kodir menegaskan Mubadalah sebagai prinsip kesetaraan dan kemitraan dalam relasi laki-laki dan perempuan. Dalam prinsip Mubadalah, kedua pihak hadir sebagai subyek utuh yang setara dan saling mendukung. Menjadi subyek utuh berarti masing-masing pihak memiliki akal, kehendak, hak, dan tanggung jawab atas diri sendiri.

Prinsip tersebut sangat selaras dalam film ini. Jonathan yang belum siap merupakan gambaran seseorang yang belum menyelesaikan tanggung jawabnya terhadap luka batin. Ia masih berusaha berdamai dengan luka dan tanggung jawab atas penyembuhan dirinya sendiri.

Sementara itu, Sore sebagai pasangan hadir bukan sebagai pelengkap pasif, melainkan sebagai subyek aktif yang sadar akan kapasitas dan batasan diri serta tidak memaksakan perubahan secara instan pada Jonathan.

Prinsip Mubadalah mematahkan stigma bahwa perempuan hanya sebagai pelengkap atau obyek. Dalam film ini, Sore justru muncul dari masa depan sebagai sosok mandiri, sadar, dan aktif yang memilih datang ke masa lalu bukan untuk sekadar dicintai, tetapi untuk menyelamatkan Jonathan dan mendukung pertumbuhan bersama.

Situasi ini mengilustrasikan aplikasi praktis prinsip Mubadalah dalam relasi modern bahwa perempuan tidak hanya sekadar pelengkap, tetapi subyek penuh yang berperan aktif.

Penghormatan terhadap Proses dan Kapasitas Masing-Masing

Film ini mengajarkan kepada kita bahwa luka batin bukan sesuatu yang bisa kita paksakan segera sembuh. Sore berkata kepada Jonathan, “Aku nggak akan bisa maksa kamu. Tapi kapanpun kamu siap, aku ada di sini.” Dia memahami bahwa penyembuhan itu harus dari kesadaran dan kerelaan dari pihak yang terluka.

Lebih jauh, dia mengajarkan kita bahwa sebuah luka akan mereda ketika kita bersedia percaya bahwa setiap orang mampu menghadapi lukanya.

Prinsip Mubadalah mendukung gagasan ini dengan menegaskan kesalingan dalam menghormati kapasitas dan proses masing-masing. Tidak ada dominasi atau pengambilalihan beban yang berlebihan, melainkan pendampingan yang setara dan penuh pengertian tanpa paksaan.

Kita tidak bisa memaksa pasangan atau orang lain untuk segera berubah. Yang ada adalah saling menemani dengan penuh pengertian. Pada akhirnya, kita akan merasa lebih tenang dan secure. Karena ketika dalam memproses luka itu, kita punya seseorang yang bersedia hadir tanpa memaksakan kita untuk segera sembuh.

Cinta atas Komitmen yang Sadar, Landasan Hubungan yang Sehat

Film ini juga menegaskan arti penting cinta yang sadar. Aspek kesadaran dan kesiapan emosional menjadi kunci utama untuk cinta dan hubungan yang sehat. Prinsip Mubadalah menegaskan bahwa relasi laki-laki dan perempuan harus berdasar pada kesetaraan dan kesalingan, bukan dominasi satu pihak terhadap yang lain.

Cinta yang tumbuh tidak hanya berlandaskan perasaan semu, tetapi juga kesadaran penuh akan diri sendiri dan orang yang kita cintai. Kesadaran ini menjadi elemen kunci dalam Mubadalah yang menuntut kedua pihak hadir sebagai subyek utuh.

Kedua pihak merupakan individual mandiri dengan kesiapan emosional yang memadai. Tanpa kesadaran diri dan regulasi emosi yang baik, cinta bisa berubah menjadi beban yang menyakitkan, bukan ruang bagi tumbuh kembang bersama.

Sore pernah berkata kepada Jonathan dalam bahasa Kroasia:

“Da moram živjeti deset tisuća života, uvijek bih izabrala tebe.”

(“Kalau aku harus hidup sepuluh ribu kali pun, aku akan tetap memilihmu.”)

Kalimat tersebut menunjukkan dimensi cinta yang sangat dalam dari sosok Sore, yakni pilihan sadar dan komitmen berulang yang tidak terhenti oleh keluh kesah, luka, atau ketidaksempurnaan. Dalam konteks Mubadalah, ini adalah bukti hadirnya subyek utuh dalam relasi, yang bukan sekadar mengikuti arus emosi atau kebutuhan sesaat, melainkan berproses secara dewasa dan bijak.

Komitmen ini bukan tentang mengikat secara posesif, melainkan memilih untuk bertanggung jawab bersama, memberi ruang penyembuhan dan pertumbuhan bagi dua pihak. Dengan kata lain, Sore menunjukkan bahwa cinta yang sebenar-benar cinta adalah yang memilih dengan kesadaran penuh dan tidak tergoyahkan oleh masa lalu atau ketidakpastian masa depan.

Setiap Dari Kita Adalah Sore dan Jonathan

Film ini secara sangat otentik merepresentasikan dua sisi pengalaman emosional yang sangat umum dalam dinamika hubungan manusia. Film ini menyentuh realitas banyak orang yang pernah berada baik di posisi Sore maupun Jonathan.

Beberapa dari kita mungkin pernah berada pada posisi Sore. Sosok yang memberi terlalu banyak, baik perhatian, energi, dan cinta. Dengan harapan bisa menyelamatkan atau membantu orang yang dicintai melewati kesulitan, meski risiko sakit hati dan kekecewaan sangat besar.

Posisi ini menggambarkan karakter yang berbagi cinta dengan kesadaran dan niat baik, tetapi dihadapkan pada tantangan tidak mudah menerima ketidaksiapan atau ketidaksempurnaan pasangan.

Ada juga di antara kita yang pernah berada pada posisi Jonathan. Sosok yang belum selesai dengan luka batin dan proses penyembuhan dirinya sendiri, namun tetap mendambakan cinta, penerimaan, dan harapan baru dari orang lain.

Jonathan merepresentasikan ketidaksiapan emosional yang sangat manusiawi, yang tetap menginginkan hubungan dan kedekatan meski belum sepenuhnya siap membuka diri atau bertanggung jawab secara emosional.

Kedua peran ini sangat universal dan menjadi representasi pengalaman banyak pasangan atau individu yang menghadapi ketidaksempurnaan dalam relasi karena faktor internal masing-masing.

Hubungan antara Sore dan Jonathan juga menegaskan bahwa kehadiran orang yang tepat di waktu yang tidak tepat bukan kesalahan siapa-siapa. Seringkali, kita harus melewati proses pertumbuhan diri dulu sebelum siap memasuki komitmen dan jenjang yang lebih serius.

Oleh karena itu, hubungan dengan pola Sore dan Jonathan menggarisbawahi pentingnya kesiapan emosional sebagai prasyarat utama untuk menjajaki hubungan berlandaskan Mubadalah. Tanpa kesiapan personal, kesetaraan dan kemitraan tidak akan berjalan mulus karena ada ketidakseimbangan tanggung jawab maupun energi emosional.

Refleksi untuk Kehidupan Nyata

Film Sore: Istri dari Masa Depan” menghadirkan pelajaran tentang cinta yang sadar yang tidak hanya sekadar perasaan, tetapi juga pilihan yang berulang dan komitmen penuh kesadaran. Dengan mengaitkannya pada prinsip Mubadalah, kita memahami bahwa cinta sejati adalah kemitraan yang berdasarkan kesetaraan, saling menghormati, dan kerja sama.

Film ini mengajarkan kita bahwa memberi cinta dengan sadar berarti mengenali kapasitas diri sendiri dan pasangan, serta menghargai proses yang masih berlangsung. Menerima pasangan yang belum siap bukan berarti mengorbankan diri tanpa batas, melainkan melibatkan komunikasi jujur, kesabaran, dan pengertian yang sejati. Dalam hubungan yang sehat, setiap individu dihargai sebagai mitra dengan hak dan tanggung jawab yang sama, sesuai prinsip Mubadalah.

Dengan demikian, film Sore: Istri dari Masa Depan tidak hanya bercerita tentang cinta dan luka, tetapi juga memetik pelajaran universal tentang bagaimana menciptakan hubungan yang adil, sehat, dan berkelanjutan. Bukan berdasarkan idealisme romantis semu, melainkan sesuai kenyataan dan nilai-nilai kemanusiaan yang utuh dan universal. []

Tags: CintaFilm IndonesiaFilm Sore Istri dari Masa DepanJodohMubadalahRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Standar Keadilan Menurut Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm

Next Post

Menghargai Hak-hak Anak

Fisco Moedjito

Fisco Moedjito

Part-time student and worker. Full-time learner. Bachelor of Law from Universitas Gadjah Mada.

Related Posts

Tadarus Subuh
Keluarga

Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

13 Juli 2026
Normal
Disabilitas

Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

13 Juli 2026
Perempuan dalam Perkawinan
Personal

Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

13 Juli 2026
Kemandirian Manusia
Disabilitas

Kemandirian Manusia: Mitos yang Dibongkar Difabel

9 Juli 2026
Mitos Disabilitas
Disabilitas

Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

8 Juli 2026
Kesepiaan
Keluarga

Mengapa Kesepian Bisa Hadir dalam Pernikahan?

6 Juli 2026
Next Post
Hak-hak Anak

Menghargai Hak-hak Anak

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin
  • Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option
  • Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?
  • Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0