Selasa, 10 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    Takjil

    Budaya Takjil Sebagai Resistensi Sikap Individualisme

    Perang Iran

    Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

    Nuzulul Quran

    Refleksi Nuzulul Quran: Membaca Lebih dari Sekadar Membaca

    Hari Perempuan Internasional

    Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

    War Cerai

    Insiden “War Cerai” dan Ironi Perkawinan Kita

    Dimensi Difabelitas

    Dimensi Difabelitas dalam Lanskap Masyarakat Jawa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    Kebebasan Beragama

    Al-Qur’an Tegaskan Pentingnya Menghormati Kebebasan Beragama

    Makna Puasa

    Mengilhami Kembali Makna Puasa

    Persaudaraan

    Persaudaraan Menjadi Misi Utama dalam Ajaran Islam

    Non-Muslim

    Sejarah Nabi Tunjukkan Kerja Sama Muslim dan Non-Muslim

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Lingkungan

Silabus Lingkungan untuk Pejabat dan Pemilik Modal, Mengapa Ini Penting?

Silabus menjaga lingkungan akan membuka kesadaran bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.

Khairul Anwar by Khairul Anwar
2 Februari 2026
in Lingkungan, Publik, Rekomendasi
A A
0
Silabus Lingkungan

Silabus Lingkungan

34
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Siswa – siswi salah satu Sekolah Dasar (SD) di Pekalongan melakukan kunjungan ke Ekowisata Mangrove Mulyoasri. Kunjungan ke tempat tersebut bukan untuk bermain apalagi menebang pohon, melainkan belajar menanam bibit pohon mangrove, serta berlatih mengenal alam sejak dini. Bukan cuma satu dua sekolahan, beberapa sekolah dari tingkat SD hingga SMA/SMK sederajat juga melakukan hal yang sama.

Ekowisata Mangrove Mulyoasri memang sering menerima anjangsana dari institusi pendidikan di Pekalongan maupun sekitarnya. Mereka datang bersama gurunya. Teman saya, Satyo, menjadi pengelola ekowisata tersebut. Bersama rekan kerjanya, ia akan mengedukasi serta melatih tata cara menanam pohon mangrove yang benar kepada anak-anak sekolahan yang datang.

Tanpa dorongan dari pihak sekolahan, saya yakin anak-anak itu tidak akan pergi ke Ekowisata Mangrove secara berkelompok. Di sini tentu saja ada peran dari sang guru. Tak lain dan tak bukan, para guru ingin siswanya kelak dapat menjadi pribadi yang mencintai alam. Di luar beberapa sekolahan yang ada di Pekalongan itu, saya yakin sekolah-sekolah lain juga sudah mengajarkan pentingnya menanam pohon, membuang sampah pada tempatnya, hingga membimbing anak didiknya agar tidak mudah merusak alam.

Saya juga masih ingat betul, ketika menimba ilmu di Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 2000-an, siswa-siswi diajak oleh guru untuk gotong royong bersih lingkungan setiap minggu sekali. Program-program seperti ini tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Tetapi juga menumbuhkan karakter siswa yang disiplin, bertanggung jawab, dan peduli lingkungan sebagai bagian dari akhlak mulia.

Silabus Lingkungan Ala Prabowo

Singkatnya, institusi pendidikan seperti sekolahan sudah mengajarkan sikap mencintai alam kepada peserta didik sejak lama. Presiden kita Prabowo Subianto tampaknya ingin mempertegas hal itu. Prabowo meminta para guru di seluruh Indonesia untuk memasukkan mata pelajaran tentang pendidikan lingkungan ke dalam silabus. Katanya, hal ini untuk meningkatkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga alam dan mengantisipasi perubahan iklim.

Pernyataan itu dilontarkan sang presiden saat sambutan pada Puncak Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 di Jakarta, Jumat 28 November kemarin. Ucapan ini muncul seiring dengan peristiwa bencana banjir bandang dan tanah longsor di sebagian Pulau Sumatera. Apa yang Presiden Prabowo katakan, saya kira harus kita dukung sebagai sesuatu positif untuk keberlangsungan masa depan bumi yang kita huni ini.

Meski terkesan positif, pernyataan politikus Partai Gerindra itu menimbulkan gejolak di masyarakat. Di media sosial, banyak yang menyayangkan statemen sang presiden itu. Di saat rakyat sedang berduka akibat bencana yang telah menewaskan lebih dari 600 orang (data terbaru 1 Desember), pernyataan presiden seolah-olah hanya untuk menutupi kebobrokan para elite penguasa dan oligarki yang telah merusak ruang hidup manusia dan makhluk lainnya di Bumi.

Semua Salah Rakyat

Secara tidak langsung, presiden ingin mengatakan “rakyat yang salah karena tidak becus menjaga alam, sehingga siswa-siswi perlu dikasih paham tentang spirit menjaga lingkungan agar kelak jadi manusia-manusia yang berbakti kepada alam.”

Padahal, tanpa instruksi untuk memasukkan mata pelajaran pendidikan lingkungan ke dalam silabus, para guru di sekolah sejak dulu juga sudah menerapkannya dalam bentuk praktik langsung. Para guru tidak hanya berteori, mereka mendidik murid dengan keteladanan. Yakni berupa perilaku, sikap, dan nilai positif yang dapat ditiru oleh peserta didik dalam menjaga alam.

Permintaan Prabowo agar Pendidikan Lingkungan dimasukkan di sekolahan, tetap harus kita lihat sebagai upaya memperkuat apa yang sudah guru-guru lakukan. Namun, ada yang luput dari statemen Prabowo, dia sama sekali tidak menyinggung aktor utama di balik kerusakan lingkungan. Kontribusi terbesar dari adanya kerusakan lingkungan, terutama di kawasan hutan, adalah akibat ulah para korporasi dan industri berskala besar, serta para oligarki.

Menurut Kompas.id, Indonesia menyumbang 58,2% kerusakan hutan tropis akibat pertambangan. Angka ini bukan sekadar statistik, namun menjadi cerminan dari perilaku industri yang mengabaikan prinsip keberlanjutan.

Deforestasi Nggak Berbahaya, Tapi jadi Penyebab Bencana

Saya tidak tahu pasti, apakah bapak presiden kita tidak tahu, lupa, atau pura-pura nggak paham? Yang jelas, pada pernyataan sebelumnya di awal tahun, ia menginginkan perluasan perkebunan kelapa sawit di tanah air berlanjut meski harus membabat hutan atau melakukan deforestasi yang ia anggap tidak berbahaya.

Padahal, menurut para aktivis lingkungan, dengan kondisi krisis iklim saat ini, deforestasi sangat berbahaya. Deforestasi inilah yang jadi penyebab utama terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara dan Barat, serta Aceh.

Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara, Rianda Purba, menyebut bahwa kerusakan hutan di kawasan hulu Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan telah berlangsung selama sembilan tahun terakhir. Terdapat tujuh perusahaan industri ekstraktif yang ia nilai bertanggung jawab atas kerusakan masif di kawasan yang bersinggungan dengan Ekosistem Harangan Tapanuli/Batang Toru. Wilayah yang kini menjadi penyangga hidrologis penting dan habitat satwa langka, termasuk Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatra.

Perusahaan yang ia maksud meliputi tambang emas, proyek PLTA, geothermal, hingga perkebunan industri dan sawit. Perusakan lingkungan itulah yang memicu sedimentasi sungai, fluktuasi debit air, dan peningkatan risiko banjir bandang. Dampaknya, masyarakat yang tidak tahu apa-apa yang harus menanggung bencana ini. Mereka tidak hanya kehilangan harta benda, juga orang-orang tersayang.

Jangan lupakan juga, dalam kerusakan lingkungan juga ada andil dari pemerintah. Terutama akibat kebijakan masa lalu yang mengutamakan eksploitasi sumber daya alam untuk keuntungan ekonomi yang dinikmati hanya segelintir orang.

Dwi dan Aprizon dalam artikel berjudul Impact of Damage to Forest Ecosystems by Human Activities yang terbit pada 2022 menyebut, kerusakan lingkungan penyebabnya adalah lemahnya pengawasan pemerintah. Selain itu keengganan masyarakat untuk mengubah perilaku yang tidak berkelanjutan, dan kurangnya penegakan hukum sebagai benteng terakhir untuk menjaga aturan.

Silabus Lingkungan Semestinya untuk Para Pejabat, Oligarki dan Pemilik Modal

Di situasi musibah seperti ini, Prabowo seharusnya memberi statemen yang menenangkan dan memberi harapan masyarakat. Semisal “saya akan tindak tegas dengan memberikan hukuman berat bagi perusahaan-perusahaan yang merusak hutan, dan saya akan tindak tegas pemerintah daerah yang memberi izin tambang ilegal”. Pun, yang semestinya diminta belajar untuk jaga lingkungan adalah para pejabat publik, oligarki, dan pemilik modal, bukan siswa sekolahan.

Sebab, bagaimanapun pejabat, oligarki, dan pemilik modal memegang peranan besar dalam menentukan masa depan lingkungan kita. Silabus menjaga lingkungan, hutan, dan juga laut penting untuk mereka pahami agar keputusan yang diambil mampu mendukung kelestarian alam.

Dengan pemahaman yang tepat, mereka dapat melihat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya soal etika, tapi juga investasi jangka panjang yang menguntungkan bagi bisnis dan stabilitas sosial masyarakat.

Dengan silabus lingkungan ini, harapannya tidak ada lagi pejabat yang seenaknya kalau berbicara di depan publik. Seperti yang sebelumnya dikatakan oleh Pejabat dari Kemenhut, bahwa kayu gelondongan yang terbawa arus banjir itu tumbang alami, bukan akibat pembalakan liar. Statemen tak berdasar ini tentu saja sangat berbahaya, sama berbahayanya ketika Prabowo menyebut praktik deforestasi tidak berbahaya. Sayangnya, masyarakat kita sudah terlanjur pintar, tidak mudah dibodohi lagi.

Yang mesti kita perbaiki dari tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara adalah sikap para pejabat kita. Mereka perlu belajar lagi soal simpati, empati, akhlak, dan gaya komunikasi. Di samping juga wajib mempelajari materi tentang pentingnya menjaga alam. Pejabat dan pemilik modal harus mengerti bahwa eksploitasi berlebihan tanpa mempertimbangkan kelestarian akan merugikan. Tidak hanya bagi manusia, tapi makhluk hidup lain yang tidak berdosa.

Para pengambil kebijakan dan pemilik modal perlu memahami bahwa keberlanjutan ekonomi dan ekologi harus berjalan seiring. Tujuannya agar kehidupan masyarakat dan bisnis dapat terus berkembang. Silabus menjaga lingkungan akan membuka kesadaran bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama.

Peran aktif mereka dalam penegakan regulasi dan pelaksanaan program konservasi menjadi kunci agar pembangunan ekonomi tidak mengorbankan bumi. Dengan menjaga alam, pejabat, oligarki, serta pemilik modal tidak hanya menyelamatkan ekosistem, tetapi juga mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Semoga, anak cucu kita, serta anak cucu para pejabat Indonesia, di masa depan masih dapat menghirup udara segar, masih dapat melihat pepohonan hijau yang menyejukkan pandangan mata, dan masih dapat menikmati keindahan alam yang tak terperi. Dan semoga para pejabat kita mengerti akan hal ini. []

Tags: aktivis lingkunganBencana BanjirDeforestasiMenjaga alamOligarkiPrabowo Subiantopray for sumateratanah longsor
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kemandirian Ekonomi Istri: Hak yang Dijamin Al-Qur’an

Next Post

Al-Qur’an: Membela Perempuan dan Menolak Kekerasan

Khairul Anwar

Khairul Anwar

Dosen, penulis, dan aktivis media tinggal di Pekalongan. Saat ini aktif di ISNU, LTNNU Kab. Pekalongan, GP Ansor, Gusdurian serta kontributor NU Online Jateng. Bisa diajak ngopi via ig @anwarkhairul17

Related Posts

Jihad Konstitusional
Lingkungan

Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

6 Februari 2026
Menjaga Alam
Lingkungan

Manusia sebagai Khalifah Wajib Menjaga Alam

2 Februari 2026
Bencana Aceh Sumatra
Publik

Bencana Aceh Sumatra: Perlindungan Perempuan Saat Banjir Melanda

2 Februari 2026
Korban Bencana
Publik

Ketika Korban Bencana Terpaksa Menjadi Pahlawan

19 Desember 2025
Bencana Alam
Publik

Bencana Alam, Panggung Sandiwara, dan Kesadaran Masyarakat Modern

13 Desember 2025
Kerusakan Ekologi
Kolom

Kerusakan Ekologi dan Tanggung Jawab Agama: Refleksi Tadarus Subuh ke-173

9 Desember 2025
Next Post
Kekerasan Perempuan

Al-Qur'an: Membela Perempuan dan Menolak Kekerasan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”
  • Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi
  • Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an
  • Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan
  • Tokenisme, Ketika Perempuan Selalu Menjadi Biang Keladi Kesalahan Lelaki

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0