Mubadalah.id – Selasa lalu, saya dan adik saya berebut berteriak di antara kerumunan penonton. Kami akhirnya menyaksikan Avatar: Fire and Ash, film yang sejak lama kami tunggu-tunggu setelah Avatar: The Way of Water. Ada semacam antusiasme kanak-kanak yang muncul kembali. Rasa ingin tahu, rasa kagum, dan sedikit harap agar James Cameron tetap setia pada dunianya dan benar saja, ia memang belum pernah mengecewakan.
Seperti biasa, Cameron sangat tahu bagaimana menjerat mata penonton. Pandora kembali mengajak kami berlayar dan bertualang: menyusuri laut, melintasi daratan, dan masuk ke ruang-ruang yang terasa asing sekaligus intim. Visualnya begitu indah hingga nyaris membuat lupa bahwa di balik warna biru, merah, dan abu itu, ada cerita yang jauh lebih gelap.
Sejak film pertamanya, dunia Pandora adalah metafora terang tentang bumi kita sendiri. Tentang tanah yang terampas atas nama pembangunan, laut yang terkeruk tanpa ampun, dan tubuh manusia maupun non-manusia yang terperas demi keuntungan segelintir pihak.
Dalam Avatar: Fire and Ash, lapisan kritik itu terasa semakin tebal dan matang. Konflik tidak lagi hanya soal siapa melawan siapa, melainkan tentang struktur kekuasaan yang memungkinkan perang dan krisis ekologis terus berulang.
Kekerasan tidak Pernah Berdiri Sendiri
Kita diajak melihat bagaimana kekerasan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan beriringan dengan eksploitasi alam, kolonialisme, dan logika rakus yang sama. Api dan abu bukan sekadar elemen visual, melainkan penanda kehancuran yang tertinggalkan. Tanah yang gosong, kehidupan yang tercerabut, dan masa depan yang terpaksa hangus sebelum sempat tumbuh.
Yang paling mengusik, film ini dengan jujur memperlihatkan siapa yang paling membayar mahal dari semua kekacauan itu. Bukan para penguasa perang, bukan pula mereka yang duduk nyaman di balik layar teknologi. Yang paling menanggung dampaknya justru mereka yang selama ini dianggap kuat karena terbiasa bertahan, perempuan. Perempuan yang menjaga kehidupan sehari-hari, yang merawat saat dunia runtuh, yang kehilangan rumah, anak, dan rasa aman, tetapi tetap kita harapkan bertahan tanpa banyak suara.
Di titik inilah Avatar: Fire and Ash terasa relevan dan menyentuh. Ia memaksa kita bercermin: bahwa krisis ekologis dan perang bukan isu netral gender. Di dunia nyata, seperti di Pandora, perempuan sering kali berada di garis depan dampak mengurus air yang semakin langka, tanah yang rusak, dan komunitas yang tercerai-berai. Namun suara mereka kerap kita kesampingkan dalam pengambilan keputusan. Film ini tidak menggurui, tetapi cukup jujur untuk menunjukkan ketimpangan itu apa adanya.
Ronal: Tubuh Perempuan di Tengah Ekstraksi dan Kekerasan
Ronal (Kate Winslet), yang kerap kita sapa Tsahìk, pemimpin spiritual klan Metkayina bukan sekadar figur religius yang hadir dalam ritual dan doa. Ia adalah penjaga pengetahuan ekologis. Tubuh dan ingatannya menyimpan peta laut, musim, arus, serta relasi sakral antara manusia laut dan Tulkun. Dalam kosmologi Metkayina, Ronal adalah penghubung. Ia memastikan laut tidak kita perlakukan sebagai sumber daya, melainkan sebagai kerabat yang hidup.
Karena itu, ketika RDA (Resources Development Administration) kembali datang memburu Tulkun demi cairan bernilai tinggi, Ronal tidak memilih bersembunyi di balik perannya sebagai ibu hamil tua. Ia berdiri di garis depan perlawanan. Dalam kondisi paling rentan secara fisik, ia tetap bersuara lantang, menolak normalisasi pembantaian yang terbungkus bahasa kemajuan dan ilmu pengetahuan. Tubuhnya yang hamil justru menegaskan ironi paling brutal. Kehidupan yang sedang tumbuh harus berhadapan langsung dengan mesin perusak kehidupan.
Kematian Ronal yang tragis saat melahirkan di tengah pertempuran bukan detail dramatis semata. Ia adalah simbol keras tentang bagaimana tubuh perempuan kerap menjadi medan paling kejam dalam konflik sumber daya.
Bicara tentang Ekofeminisme
Perang lingkungan hampir selalu memukul perempuan berlapis-lapis. Sebagai penjaga komunitas, sebagai ibu, sebagai pemikul pengetahuan lokal, dan sebagai tubuh yang terus dituntut bertahan bahkan ketika dunia runtuh di sekelilingnya. Ronal mati bukan karena kelemahan, tetapi karena sistem yang memaksa perempuan berada di titik paling berbahaya dari krisis ekologis.
Namun film ini tidak berhenti pada kematian. Bayi Ronal yang kemudian diasuh oleh Neytiri (Ibu keluarga Sully) menyampaikan satu pesan penting. Perlawanan perempuan tidak selalu selesai bersama jasad. Ia berpindah, terwariskan, dan dirawat dalam relasi kolektif. Pengetahuan ekologis, ingatan tentang laut, dan komitmen untuk melindungi kehidupan tidak lenyap, ia hidup dalam tubuh lain, dalam generasi berikutnya, dalam solidaritas antarperempuan.
Di titik ini, Avatar dengan halus berbicara tentang ekofeminisme. Bahwa perempuan dan alam sama-sama menjadi sasaran eksploitasi, tetapi juga sama-sama menyimpan kekuatan untuk melawan. Ronal menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan tindakan romantis, melainkan kerja politik yang berisiko tinggi.
Ia mempertaruhkan tubuhnya sendiri demi memastikan laut tetap hidup. Ronal mungkin gugur, tetapi perjuangannya tidak. Ia hadir sebagai pengingat bahwa dalam setiap krisis lingkungan, selalu ada perempuan yang berdiri di garis depan. Seringkali tanpa sorotan, sering tanpa perlindungan, namun dengan keberanian yang menopang kehidupan itu sendiri.
Neytiri: Amarah, Duka, dan Hak untuk Melawan
Awalnya saya membaca Neytiri sebagai karakter emosional marah, keras, dan kurang bernegosiasi. Tapi ternyata saya salah telak. Anggapan-anggapan saya di awal justru menunjukkan bahwa di situlah politiknya. Dalam Fire and Ash, kemarahan Neytiri bukanlah ledakan tanpa arah, melainkan respon terhadap kolonialisme yang berulang. Hutan dihancurkan, laut dirusak, keluarga terbunuh, dan kehidupan dianggap sekadar angka.
Film ini menolak narasi perempuan sebagai penjaga damai yang selalu diminta tenang. Neytiri adalah pengingat bahwa amarah perempuan atas kehancuran ekologis adalah rasional. Ia bukan antitesis kemanusiaan, melainkan bagian dari upaya mempertahankannya.
Tulkun dan Etika Relasi dengan Alam
Isu Tulkun makhluk laut cerdas yang dibantai RDA adalah jantung etika lingkungan Avatar. Pembunuhan Tulkun demi ekstraksi cairan mahalnya mencerminkan logika kapitalisme ekstraktif di dunia nyata: alam direduksi menjadi bahan baku, kehidupan diubah menjadi komoditas.
Avatar dengan cerdas memperlihatkan benturan dua dunia: dunia RDA yang memuja efisiensi, keuntungan, dan teknologi, berhadapan dengan dunia Omatikaya dan Metkayina yang menempatkan kehidupan sebagai nilai utama. Benturan ini terasa sangat akrab dengan realitas kita hari ini dari pembantaian satwa liar, perusakan laut, hingga proyek-proyek besar yang mengorbankan komunitas adat demi pertumbuhan ekonomi semu.
Melalui kisah Tulkun, Avatar mengajukan pertanyaan etis yang tajam: sampai kapan manusia merasa berhak menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang layak dikorbankan? Dan dengan harga apa? Film ini mengingatkan bahwa krisis ekologis bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi krisis cara pandang. Selama alam diposisikan sebagai objek, kekerasan akan terus berulang dengan korban yang selalu sama: makhluk hidup, komunitas rentan, dan masa depan yang perlahan terkikis.
Dari Pandora ke Mollo dan Kendeng
Apa yang tergambarkan dari Avatar: Fire and Ash bukan fiksi jauh dari kenyataan. Di Indonesia, Mama Aleta Baun dari Mollo, Nusa Tenggara Timur, berdiri menghadapi tambang marmer yang menghancurkan gunung batu yang bagi komunitas Mollo adalah tubuh ibu. Perlawanan Mama Aleta bukan dengan senjata, tetapi dengan menenun di lokasi tambang, menjadikan tubuh perempuan dan kerja perawatan sebagai bentuk politik.
Di Jawa Tengah, Ibu-ibu Petani Kendeng yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) melawan pabrik semen yang mengancam sumber air dan tanah hidup mereka. Aksi mengecor kaki dengan semen di depan Istana bukan pertunjukan ekstrem, melainkan pesan sederhana dan brutal: jika tanah kami mati, kami ikut mati.
Di berbagai wilayah lain dari perempuan adat Papua yang melawan sawit dan tambang, hingga aktivis perempuan lingkungan dan HAM yang menghadapi kriminalisasi, pola ini berulang. Perempuan berada di garis depan karena merekalah yang pertama merasakan dampak krisis ekologis.
Isu Lingkungan tidak Netral
Avatar: Fire and Ash secara tak langsung berbicara tentang ekofeminisme: gagasan bahwa penindasan terhadap alam berjalan seiring dengan penindasan terhadap perempuan. Ronal, Neytiri, Kiri, Mama Aleta, dan Ibu-ibu Kendeng menunjukkan bahwa perlawanan ekologis bukan romantisme, melainkan kerja keras yang berisiko tinggi.
Film ini penting bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia membuka ruang diskusi: bahwa isu lingkungan bukan isu netral, dan kemanusiaan tidak bisa terpisahkan dari cara kita memperlakukan bumi.
Ketika Ronal gugur dan bayinya tetap hidup, Avatar: Fire and Ash seolah mengatakan: perjuangan mungkin kehilangan tubuh, tapi tidak kehilangan arah. Di Pandora maupun di bumi, perempuan terus merawat kehidupan di tengah api, abu, dan reruntuhan sistem yang rakus.
Dan barangkali, seperti Neytiri, Mama Aleta, dan Ibu-ibu Kendeng, dunia perlu lebih banyak mendengarkan mereka sebelum semuanya benar-benar tinggal abu. Bahwa dunia yang kita kagumi bisa runtuh jika terus kita perlakukan sebagai objek eksploitasi. Bahwa perang selalu meninggalkan luka yang tidak merata. Dan bahwa perempuan, baik di Pandora maupun di bumi, terlalu sering diminta menanggung beban paling berat tanpa pernah benar-benar terlibatkan dalam menentukan arah masa depan. []




















































