Judul: Al-Qur’an Bilang, Kepentingan Bumi Harus Didahulukan
Penulis: AS Rosyid
Ukuran: 14 x 21 cm
Halaman: 162 Halaman
ISBN: 978-623-6529-25-6
Mubadalah.id – Bencana ekologis yang menimpa Indonesia beberapa waktu belakangan menuntut evaluasi dan perenungan terhadap pemahaman relasi manusia dengan alam. Agama – dalam hal ini Al-Qur’an – menempati posisi krusial untuk berbicara mengenai ekologi.
Dalam konteks keislaman, Al-Qur’an sebagai sumber ajaran utama umat Islam juga menggambarkan relasi Tuhan, manusia, dan alam. AS Rosyid dalam buku terbarunya, Al-Qur’an Bilang Alam Harus Didahulukan, menggali kembali ayat-ayat Al-Qur’an untuk melihat bagaimana pola relasi antara manusia dan alam diwahyukan.
Ekosentrisme
AS Rosyid mengemukakan argumen bahwasanya Al-Qur’an memiliki etika lingkungan hidup yang sesuai dengan ekosentrisme. Al-Qur’an, menurutnya, lebih banyak membicarakan kepentingan alam daripada kepentingan manusia. Ia menyatakan bahwa sebetulnya Al-Qur’an lebih ekosentris daripada antroposentris.
Hal ini mengubah paradigma awal yang selama ini kita yakini mengenai kekhalifahan manusia. Dalam banyak kesempatan, “manusia sebagai khalifah di muka bumi” kita manfaatkan sebagai privilese yang menempatkan manusia dalam puncak hierarki ekosistem alam.
Penafsiran AS Rosyid tersebut membongkar keyakinan lama di atas dan menempatkan manusia sebagai bagian dari alam – atau anggota komunitas dalam istilah AS Rosyid.Sebagai anggota komunitas, manusia perlu mematuhi dan menjalankan etika lingkungan hidup.
Dengan menggunakan dharuriyat al-Khamsah dalam Maqashid al-Syari’ah, AS Rosyid menawarkan konsep hifdz al-bi’ah-ekosentris sebagai konteks utama untuk mempertimbangkan nilai-nilai lima daruriyat yang lain.
Abdul Mustaqim, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, menulis kajian serupa. Ia menggunakan tafsir maqashidi metode tematik-kontekstual dan mengedepankan etis-teologis dalam paradigma tafsir ekologi. Mustaqim menyebut relasi antara Tuhan, manusia, dan alam sebagai relasi triadik yang setara.
Sementara itu, Rosyid mengelaborasi berbagai faktor kerusakan lebih luas akibat ulah manusia seperti halnya masifnya konsumsi dan kapitalisme modern yang berujung pada satu akar: logika antroposentrisme.
Berangkat dari latar belakang ini pula, ia mengajukan beberapa poin kewajiban moral manusia terhadap alam, di antaranya, deligitimasi antroposentrisme, penyederhanaan konsumsi dan produksi, kritik terhadap ideologi Pembangunan dan pertumbuhan ala kapitalisme, dan lain-lain.
Ke-khalifah-an Manusia sebagai Penyeimbang
Penafsiran Rosyid atas ke-khalifah-an manusia menuntut tugas lebih untuk menjaga alam di tengah krisis iklim yang kita hadapi sekarang. Bencana ekologis yang terjadi menunjukkan bahwa manusia masih belum cukup baik menjalankan tugas khalifah sebagai mitra alam. Ke- khalifah-an masih bersifat eksploitatif, terutama oleh manusia yang mengeruk alam tanpa batas untuk kepentingan dirinya sendiri.
Quraish Shihab dalam “Ngaji Bareng Prof. Quraish Shihab dan Gus Baha’” di UII Yogyakarta (08/12/2025) memberikan penafsiran mengenai ke-khalifah-an manusia. Beliau menyebutkan, “Khalifah itu adalah petugas, mandataris Tuhan. Petugas yang ditugaskan Allah untuk mengelola bumi ini sesuai dengan nilai-nilai yang dikehendakinya.”
Lebih jauh ia juga menafsirkan “Wa ‘allama ādamal-asmā`a kullahā” sebagai apa yang Allah ajarkan kepada Adam adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kesejahteraan manusia di muka bumi dan berkaitan dengan pemeliharaan alam raya. Pengajaran dalam konteks ini adalah potensi yang Allah beri yang berkaitan dengan manusia dan alam raya serta potensi untuk mengembangkannya.
Quraish Shihab juga menyebut bencana di Aceh di Sumatra terjadi karena ulah manusia. Ia merujuk pada ayat QS. Ar-Rahman (55), ayat 7-8 untuk menjelaskan bahwa manusia dan alam semesta selaras. Bencana terjadi karena tidak ada keseimbangan.
Dari buku AS Rosyid dan tafsir-tafsir tokoh Indonesia lain, kita dapat belajar bahwa tugas utama ke-khalifah-an manusia adalah menjaga dan mengelola alam agar tetap seimbang. Dengan demikian, khalifah bukan saja untuk kepentingan manusia. Melebihi itu, Al-Qur’an mengutamakan alam sebagai amanah yang perlu kita jaga (ekosentrisme). []
.




















































