Mubadalah.id – Disfungsional adalah kata yang baru saya pahami maknanya justru dari pengalaman saya sendiri. Di kelas, ada beberapa anak yang sering membuat ulah. Mereka sulit diatur, mengganggu teman, dan berulang kali dipanggil guru.
Latar belakang anak-anak ini tidak sama. Ada anak yang tinggal bersama orang tua lengkap. Secara ekonomi kebutuhannya terpenuhi. Ia dimanja dan hampir semua keinginannya dituruti. Namun di sekolah, si anak beberapa kali melanggar aturan. Sayangnya, ketika guru menegur, ia tidak tampak takut atau menyesal.
Ada juga anak lain yang tinggal bersama nenek dan kakeknya karena orang tuanya tidak tinggal serumah. Ia sering berulah, mulai dari berpacaran, keluyuran, hingga mengusili teman untuk mencari perhatian dari teman maupun guru. Namanya lebih terkenal karena masalah, bukan prestasi.
Dari berbagai latar itu, saya belajar satu hal penting bahwa perilaku anak di sekolah seringkali bukan soal nakal atau tidak, melainkan pantulan dari relasi keluarga yang disfungsional, meskipun tampak baik-baik saja dari luar.
Keluarga Disfungsional Tidak Selalu Broken Home
Selama ini, keluarga disfungsional sering dibayangkan sebagai keluarga yang penuh konflik, pertengkaran, kekerasan, atau keluarga broken home.
Namun pengalaman di sekolah menunjukkan hal lain. Tidak semua keluarga disfungsional tampak rusak. Sebagian justru terlihat utuh dan baik-baik saja dari luar. Ada keluarga yang lengkap secara struktur, tetapi minim kehadiran emosional. Orang tua ada di rumah, tetapi tidak benar-benar terlibat. Anak dipenuhi secara materi, tetapi tidak didampingi secara batin. Ada pula keluarga yang atas nama kasih sayang justru meniadakan batas.
Dalam kondisi seperti ini, anak tetap tumbuh, tetapi tanpa ruang yang cukup untuk belajar tentang emosi, tanggung jawab, dan relasi yang sehat.
Ketika Sekolah Menjadi Ruang Munculnya Luka Rumah
Anak yang terlalu dimanjakan sering kali tidak belajar tentang batas dan konsekuensi. Ia tidak terbiasa ditolak, diatur, dan menghadapi kekecewaan. Ketika masuk ke sekolah yang penuh aturan, ia bereaksi dengan cara yang menurut kebiasaan dianggap mengganggu.
Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa kedekatan yang cukup sering membawa kebutuhan emosionalnya ke ruang publik. Sekolah menjadi tempat mencari perhatian, pengakuan, bahkan kasih sayang. Berulah atau kenakalan menjadi salah satu cara agar orang lain melihat dan menganggapnya ada.
Dua kondisi ini tampak berbeda, tetapi memiliki kesamaan, yaitu kebutuhan anak tidak terpenuhi secara seimbang. Yang satu kelebihan permisif, yang lain kekurangan kehadiran. Keduanya sama-sama berisiko melahirkan perilaku bermasalah.
Dalam kondisi seperti itu, sekolah seringkali menjadi tempat di mana persoalan rumah muncul ke permukaan. Sayangnya, yang terlihat biasanya hanya perilaku anak, bukan konteks di baliknya. Anak dicatat sebagai pembuat onar atau siswa bermasalah. Label diberikan lebih cepat daripada upaya memahami. Padahal, perilaku anak sering kali bukan masalah itu sendiri, melainkan gejala dari sesuatu yang tidak beres sebelumnya.
Di Balik Label “Anak Bermasalah”
Ada satu pola yang jarang kita sadari dalam memahami perilaku anak. Anak sering dijadikan pusat masalah, sementara relasi di sekitarnya dibiarkan netral dan tak tersentuh.
Ketika seorang anak berulah, pertanyaan yang paling cepat muncul adalah bagaimana karakter, sikap, dan kedisiplinannya. Sebaliknya, relasi yang membentuknya, seperti bagaimana cara ia diasuh, didengar, atau dibatasi, sering dianggap latar belakang yang tidak perlu diuji.
Cara baca ini membuat masalah menjadi personal, bukan relasional. Anak diperlakukan seolah-olah ia gagal mengelola dirinya sendiri, padahal kemampuan itu justru dipelajari dari relasi yang konsisten dan aman.
Dalam kerangka seperti ini, pelabelan menjadi mudah dan terasa wajar. “Anak bermasalah” terdengar seperti fakta, bukan hasil dari kegagalan relasi yang lebih luas. Padahal label tersebut tidak menyelesaikan apa pun, selain memindahkan beban dari orang dewasa ke anak.
Di titik inilah kita perlu berhenti sejenak. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk menggeser cara pandang dari anak sebagai sumber masalah menuju relasi sebagai ruang yang perlu kita perbaiki.
Membaca Disfungsi Keluarga dengan Perspektif Relasional
Dalam perspektif relasional, masalah anak tidak bisa lepas dari relasi yang membentuknya. Anak tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam jaringan relasi antara orang tua, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
Disfungsi keluarga tidak selalu berarti orang tua jahat atau sengaja menyakiti. Banyak orang tua melakukan yang mereka bisa dengan pengetahuan dan sumber daya yang terbatas. Namun, keterbatasan itu tetap berdampak nyata bagi anak.
Karena itu, kita perlu membaca perilaku anak secara adil dengan tidak menyederhanakan, menghakimi, maupun melepaskan tanggung jawab kolektif.
Cara pandang relasional ini sesungguhnya tidak asing dalam nilai-nilai Islam, yang sejak awal memandang keluarga sebagai ruang aman, bukan sekadar struktur formal.
Bagaimana Islam Memandang Keluarga Disfungsional?
Dalam Islam, keluarga tidak semata berdasarkan keutuhannya secara struktur meliputi kelengkapan orang tua, tinggal serumah, atau tampak harmonis dari luar. Al-Qur’an justru menekankan fungsi relasional keluarga berupa ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan kepedulian (rahmah).
Tujuan pernikahan dalam Islam bukan sekadar hidup bersama, tetapi litaskunu ilaiha, yakni agar manusia memperoleh ketenangan. Ketika rumah tidak menjadi ruang aman secara emosional, maka fungsi keluarga sedang terganggu, meskipun secara lahiriah tampak baik-baik saja.
Islam juga memandang anak sebagai amanah, bukan milik mutlak orang tua. Karena itu, pemenuhan kebutuhan anak tidak berhenti pada materi. Kehadiran emosional, bimbingan moral, dan pemberian batas yang adil merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.
Islam tidak memaknai kasih sayang sebagai pembiaran tanpa arah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan relasi yang seimbang dengan anak. Beliau tidak hanya mendengar dan memeluk anak-anak, tetapi juga mengajarkan adab dan batas.
Menariknya, Islam tidak mudah menyalahkan anak atas perilaku bermasalah. Dalam banyak ajaran, justru orang dewasa yang pertama kali harus bercermin. Anak yang berulah adalah bagian dari relasi yang belum sehat, bukan semata kegagalan personal anak itu sendiri.
Karena itu, dalam perspektif Islam, keluarga disfungsional tidak selalu identik dengan perceraian, konflik keras, atau kekerasan fisik. Ia juga bisa hadir dalam keluarga yang tampak religius dan mapan, tetapi gagal menghadirkan keadilan emosional, kedekatan, dan bimbingan yang konsisten.
Dari Menghukum ke Memahami
Sebagai guru, saya belajar bahwa tidak semua perilaku anak bisa kita selesaikan dengan hukuman atau nasihat. Sebagian justru membutuhkan kehadiran orang dewasa yang mau mendengar, memberi batas yang konsisten, dan tidak cepat memberi label. Pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “kenapa anak ini berulah?”, tetapi “apa yang sedang ia butuhkan?” dan “apa yang tidak ia dapatkan?”
Pendekatan seperti ini memang lebih melelahkan. Tetapi ia lebih manusiawi dan adil bagi anak.
Anak-anak tidak selalu mampu menjelaskan kebutuhannya dengan kata-kata. Mereka menyampaikannya lewat perilaku. Berulah sering kali menjadi bahasa yang paling mudah mereka gunakan.
Tugas orang dewasa seperti orang tua, guru, dan masyarakat bukan sekadar membungkam bahasa itu, tetapi belajar membacanya. Tidak semua anak yang berulah sedang nakal. Sebagian sedang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang belum selesai di rumah. []

















































