Mubadalah.id – Sebagian dari kita mungkin seringkali membayangkan rumah tangga sebagai garis finis dari proses panjang bernama cinta. Setelah akad dan resepsi pernikahan, seolah yang tersisa hanyalah kebahagiaan. Namun jika rumah tangga benar-benar hanya berisi keindahan, barangkali profesi konsultan pernikahan tidak akan pernah ada.
Judul “Drama Rumah Tangga” karya Wulan Darmanto mungkin terdengar berlebihan. Akan tetapi, faktanya kita bisa melihat bahwa kehidupan rumah tangga memang jarang berjalan lurus. Ada tawa, emosi, tangis, beban, dan masih banyak lagi.
Wulan membuka bagian awal bukunya dengan dialog yang terdengar ringan dan sederhana.
“Saat ada kawan yang baru saja menikah, saya suka iseng bertanya, ‘Jadi, sudah berapa kali kamu menangis?’”.
Pertanyaan itu biasanya disambut tawa terbahak-bahak, disertai jawaban, “Ih, kamu kok tahu aja sih…”
Ada juga yang menjawab dengan nada santai, “Kok nangis? Seneng kalee…”, tapi ujung-ujungnya curhat juga soal susahnya beradaptasi dengan kebiasaan suami yang suka menaruh handuk di sembarang tempat.
Dari percakapan-percakapan ringan itulah buku ini bergerak. Catatan-catatan yang tampak sederhana justru menjadi cara penulis merekam kehidupan rumah tangga sebagaimana adanya.
Catatan Ibu sebagai Arsip Kehidupan Sehari-hari
Menurut saya, yang menarik dari buku ini adalah posisinya sebagai catatan. Penulis tidak mengklaim tulisannya sebagai teori rumah tangga ataupun panduan moral. Catatan-catatan Wulan Darmanto bekerja seperti arsip yang merekam peristiwa harian, emosi yang naik-turun, serta dinamika relasi dalam keluarga.
Dalam perspektif mubadalah, catatan semacam ini penting karena ia menghadirkan pengalaman perempuan, khususnya ibu, sebagai sumber pengetahuan. Pengalaman-pengalaman ibu yang terus berulang, konsisten, dan penuh penyesuaian, dalam hal ini bukanlah sebagai pelengkap, melainkan sebagai pijakan untuk membaca relasi dan keadilan dalam rumah tangga.
Melalui catatan-catatan tersebut, rumah tangga tampak bukan sebagai ruang yang selesai dan harmonis sejak awal, tetapi sebagai ruang relasi yang terus dinegosiasikan. Ada proses saling memahami, saling mengalah, dan saling belajar yang tidak selalu seimbang. Di titik inilah arsip pengalaman ibu menjadi penting. Ia membuka kemungkinan membaca ulang relasi berkeluarga, bukan dari idealisasi, tetapi dari praktik hidup yang nyata.
Beban Emosi yang Tak Pernah Masuk Daftar Pekerjaan
Salah satu hal yang terasa kuat dalam buku ini adalah kehadiran beban emosi. Ibu tidak hanya mengerjakan pekerjaan domestik yang kasat mata, tetapi juga kerja emosional. Mereka harus menjaga suasana rumah tetap baik-baik saja, memahami perasaan anggota keluarga, mengalah agar konflik tidak membesar, hingga menenangkan diri sendiri ketika lelah tidak punya ruang untuk berekspresi.
Beban emosi ini jarang dihitung sebagai kerja. Ia lebih sering dianggap sebagai kodrat atau naluri keibuan. Padahal, kerja emosional membutuhkan energi, kesadaran, dan pengorbanan yang tidak kecil. Ketika seorang ibu lelah secara emosional, kelelahan itu sering kali tidak dianggap sah, karena ia tidak disertai luka fisik atau jam kerja formal.
Buku ini secara halus memperlihatkan paradoks bahwa dalam banyak narasi rumah tangga, ibu diharapkan kuat tanpa batas. Ketika ia mengeluh, berarti kurang bersyukur, dan ketika ia diam, berarti hebat karena kesabarannya.
Kritik Halus atas Romantisasi Peran Ibu
Rumah tangga berjalan karena ada kerja yang dilakukan terus-menerus, bahkan ketika tidak disadari. Memastikan kebutuhan terpenuhi, membaca situasi emosional pasangan dan anak, semua itu adalah kerja. Namun kerja semacam ini sering tidak mendapat pengakuan sebagai kontribusi nyata.
Di sinilah romantisasi peran ibu bekerja paling efektif. Dengan menyebut kerja tersebut sebagai pengabdian atau ibadah, masyarakat sering lupa bertanya, apakah kerja itu sudah adil? Apakah ada ruang bagi ibu untuk lelah? Atau apakah relasi dalam rumah tangga memungkinkan saling mendukung, bukan hanya satu pihak yang menopang semuanya?
Pendekatan mubadalah mengingatkan bahwa relasi rumah tangga seharusnya berdasar pada prinsip kesalingan. Kerja emosional dan domestik bukan beban satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. Tanpa kesalingan, romantisasi hanya akan melanggengkan ketimpangan.
Buku ini tidak secara eksplisit mengkritik romantisasi peran ibu. Namun justru di situlah kekuatannya. Dengan menceritakan hal-hal kecil, penulis berusaha membuka ruang refleksi mengapa hal-hal ini selalu tampak wajar jika ibu yang melakukan, dan mengapa kelelahan ibu sering tersamarkan dengan pujian.
Romantisasi membuat kerja ibu tampak indah, tetapi sekaligus membuatnya tak terlihat. Ia mendapat pujian, tapi tidak selalu mendapat dukungan. Dalam konteks ini, refleksi atas peran ibu menjadi penting agar rumah tangga tidak hanya menjadi ruang tuntutan, tetapi juga ruang keadilan.
Sebuah Refleksi
Membaca buku “Drama Rumah Tangga” bukan sekadar membaca kisah seorang ibu, melainkan bercermin pada struktur relasi yang lebih luas. Buku ini mengajak kita melihat bahwa rumah tangga tidak selalu penuh drama besar, tetapi penuh kerja kecil yang terus berulang. Kerja yang, jika tidak dibagi secara adil, dapat menjadi sumber kelelahan yang sunyi.
Refleksi ini harus kita pahami jika ingin membangun rumah tangga berbasis mubadalah dengan saling memahami, mendukung, dan merawat. Bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga dalam praktik sehari-hari.
Selain itu, di titik inilah refleksi atas peran ibu juga menjadi penting. Bukan untuk meruntuhkan makna kasih sayang atau ketulusan, melainkan untuk bertanya dengan jujur, sejauh mana rumah tangga kita benar-benar memberi ruang bagi keadilan relasional? Dan sejauh mana pujian atas kesabaran ibu justru menutupi kebutuhan akan dukungan yang nyata? []
















































