Mubadalah.id – Selain diyakini sebagai momentum pengangkatan amal, Malam Nisfu Sya’ban juga dikenal sebagai malam ampunan dan pengabulan doa. Dalam banyak riwayat, disebutkan bahwa pada malam tersebut Allah Swt. melimpahkan ampunan kepada hamba-hamba-Nya, dengan beberapa pengecualian.
Riwayat-riwayat tersebut menyebut bahwa ampunan Allah pada Malam Nisfu Sya’ban tidak hanya Dia berikan kepada orang-orang yang masih menyekutukan Allah, memelihara kebencian dan kedengkian, melakukan sihir, berzina, membunuh. Serta mereka yang masih menyimpan persoalan serius dalam hubungan antarmanusia.
Hal ini menunjukkan bahwa dimensi sosial (hablun minannas) memiliki peran penting dalam meraih ampunan dosa.
Dalam tradisi Islam, Malam Nisfu Sya’ban juga kita kenal dengan berbagai sebutan yang menegaskan kemuliaannya.
Dalam kitab Mādzā fī Sya‘bān, malam ini ia sebut antara lain sebagai al-lailah al-mubārakah (malam penuh berkah), lailatul qismah (malam pembagian rezeki dan ketetapan hidup), lailatut takfīr (malam penghapusan dosa), dan lailatul ijābah (malam pengabulan doa).
Selain itu, terdapat pula sebutan lailatul ghufrān (malam ampunan) dan lailatul barā’ah, yang bisa kita maknai sebagai malam pembebasan dari tanggungan, khususnya ketika seseorang telah menyelesaikan hak-hak sesamanya dan menunjukkan kepedulian sosial.
Makna tersebut menegaskan bahwa ibadah di Malam Nisfu Sya’ban tidak hanya berorientasi pada ritual individual. Tetapi juga menuntut refleksi sosial. Yaitu upaya untuk memperbaiki hubungan dengan sesama, menghilangkan kebencian, dan menunaikan hak orang lain menjadi bagian penting dari persiapan spiritual.
Dengan demikian, Malam Nisfu Sya’ban bisa kita pahami bukan hanya sebagai malam doa dan ampunan. Tetapi juga sebagai momentum evaluasi diri, baik dalam hubungan dengan Allah maupun dengan sesama manusia, menjelang datangnya bulan Ramadan. []
Sumber tulisan: Keistimewaan Bulan Sya’ban















































