Mubadalah.id – Sebagai seorang biarawan dan calon Pastor dalam Gereja Katolik, saya seringkali mendapat pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang Pastor. Salah satu hal yang sering menjadi pertanyaan banyak orang adalah tentang hidup selibat atau hidup dengan tidak menikah.
Banyak orang belum memahami arti dari selibat itu sendiri. Dalam KBBI, selibat merupakan pranata yang menentukan bahwa orang-orang dalam kedudukan tertentu tidak boleh kawin. Dalam konteks Gereja Katolik, gelar ini diberikan kepada mereka yang memutuskan untuk hidup menjadi seorang biarawan, biarawati, dan klerus.
Ketika orang mendengar kata selibat, bayangan yang sering muncul adalah larangan menikah atau hidup tanpa relasi intim. Dalam banyak percakapan publik, hal itu bahkan kerap direduksi menjadi sekadar aturan institusional yang membatasi kebebasan personal seorang pastor. Cara pandang seperti ini membuat panggilan ini tampak kaku, tidak manusiawi, dan jauh dari pengalaman hidup kebanyakan orang.
Dalam iman Katolik, menjadi selibat bukanlah paksaan atau hanya sekadar urusan administrasi, namun merupakan sebuah panggilan suci. Panggilan ini berbicara tentang pilihan hidup, arah kasih, dan komitmen pelayanan. Dalam konteks ini, kemurnian juga tidak bisa dipahami secara sempit sebagai soal moral pribadi, melainkan sebagai cara menghidupi relasi yang jujur, bertanggungjawab, dan menghargai martabat setiap orang.
Memahami Makna Selibat dalam Tradisi Katolik
Dalam beberapa kesempatan, saya berkesempatan untuk memberikan sharing tentag hidup sebagai biarawan. Banyak orang yang menganggap bahwa mereka yang hidup selibat adalah manusia istimewa, namun tak sedikit juga yang memberikan pernyataan bahwa pilihan ini adalah pilihan yang bodoh. Mereka beranggapan bahwa menikah merupakan kewajiban di dunia ini.
Dalam tradisi Katolik, orang-orang yang memilih untuk hidup sebagai seorang biarawan, biarawati, dan klerus memiliki tujuan untuk menyerahkan dirinya secara total bagi Allah dan Gereja. Pilihan ini bukan penolakan terhadap cinta, melainkan bentuk lain dari mencintai.
Seorang selibat tidak berhenti menjadi manusia dengan perasaan, kebutuhan emosional, dan kerinduan akan kedekatan. Justru di sanalah selibat menuntut kedewasaan dan kejujuran yang tinggi.
Selibat mempunyai tanggungjawab untuk membangun relasi yang luas dan inklusif. Ia harus bisa hadir bagi banyak orang tanpa keterikatan eksklusif. Namun, makna ini sering hilang ketika selibat hanya dipahami sebagai simbol kesempurnaan atau jarak suci dari kehidupan manusia biasa. Ideal yang terlalu tinggi justru berisiko menjauhkan panggilan ini dari realitas.
Memilih Bukan Karena Tidak Bisa
Pertanyaan lain yang seringkali muncul dalam diskusi dan sharing adalah apakah seorang biarawan, biarawati, dan klerus tidak bisa menikah? Jawabannya bisa. Sebagai seorang manusia biasa, mereka juga mempunyai rasa untuk membangun relasi. Tetapi, justru inilah panggilan luhur mereka. Mereka memilih untuk tidak menikah demi Kerajaan Allah.
Hal yang mendasari dari hidup selibat adalah udangan Yesus sendiri. Yesus pernah berbicara tentang orang-orang yang memilih hidup tanpa menikah bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran akan sebuah panggilan.
Dalam Injil Matius, Yesus berkata, āAda orang yang tidak dapat kawin karena ia membuat dirinya demikian oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengertiā (Mat. 19:12). Pernyataan ini menunjukkan bahwa hidup tidak menikah merupakan pilihan sadar, bukan kewajiban yang memaksa kepada semua orang.
Ayat ini menegaskan bahwa panggilan selibat tidak menjadi kewajiban bagi setiap orang, melainkan bagi mereka yang merasa mampu dan terpanggil menjalaninya. Dengan demikian, selibat tidak boleh menjadi standar moral yang lebih tinggi daripada hidup berkeluarga.
Panggilan ini adalah jalan hidup yang berbeda, dengan tujuan yang berbeda pula. Seorang pastor yang hidup selibat memilih untuk mengarahkan seluruh hidupnya bagi pelayanan dan relasi yang lebih luas, bukan untuk kepentingan pribadi atau keluarga inti.
Kemurnian sebagai Integritas dan Tanggung Jawab
Hidup selibat sangat berkaitan dengan hidup kemurnian. Kemurnian bukan hanya tentang pengendalian tentang seksualitas. Namun, kemurnian lebih dekat dengan integritas diri. Hal ini menyangkut keselarasan antara niat, sikap, dan tindakan. Kemurnian berarti berani jujur pada diri sendiri, mengenali batas, dan menghormati batas orang lain.
Bagi seorang biarawan, biarawati, dan klerus, kemurnian tercermin dalam cara ia membangun relasi yang tidak manipulatif, menyalahgunakan kepercayaan, dan memanfaatkan posisi. Relasi yang sehat selalu harus jelas, kesadaran akan kuasa, dan tanggung jawab moral. Dalam pengertian ini, kemurnian bukan hidup tanpa relasi, tetapi hidup dalam relasi yang bermartabat.
Selibat merupakan sebuah panggilan dan kepercayaan. Tanggung jawab untuk senantiasa menjaga kemurnian bukanlah hal yang mudah. Para biarawan, biarawati, dan klerus memiliki tugas dan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga api panggilan dan pilihannya ini.
Pada kenyataannya, hidup selibat tidak terlepas dari tantangan. Kesepian, tekanan emosional, dan tuntutan pelayanan yang tinggi menjadi realitas yang kerap menjadi tantangan bagi para biarawan, biarawati, dan klerus. Dalam dunia yang semakin terbuka dan digital, godaan dan risiko relasi yang tidak sehat juga semakin kompleks.
Selibat dan Kemurnian di Tengah Dunia Modern
Dunia sekular memang menghadirkan tantangan baru dalam cara berelasi. Media sosial yang semakin meluas juga membuka peluang sekaligus risiko. Dalam konteks ini, transparansi, akuntabilitas, dan kesadaran akan panggilan menjadi semakin penting.
Selibat dan kemurnian tidak kehilangan relevansinya, tetapi membutuhkan pemaknaan ulang yang kontekstual. Nilai-nilai dasar tetap terjaga, sementara cara menghidupinya harus dengan realitas zaman. Pendekatan yang manusiawi membantu panggilan ini tetap membumi.
Selibat dan kemurnian seorang biarawan, biarawati, dan klerus bukanlah tanda kesempurnaan moral, melainkan jalan hidup yang rapuh sekaligus bermakna. Keduanya membutuhkan kesadaran diri, dukungan komunitas, dan relasi yang sehat. Dalam konteks kesalingan, panggilan ini tidak berjalan sendirian, tetapi menjadi tanggungjawab bersama untuk merawatnya.
Ketika Gereja dan umat membangun budaya saling menghormati, selibat tidak lagi tampak sebagai beban, melainkan sebagai kesaksian hidup yang jujur dan manusiawi. Inilah panggilan yang menemukan keindahannya. Bukan dalam tuntutan tanpa cela, tetapi dalam relasi yang saling menjaga martabat. []




















































