Mubadalah.id – Hingga saat ini, masih terdapat sebagian umat Islam yang membangun relasi antar umat beragama melalui pendekatan konfrontatif. Cara pandang ini berangkat dari semangat ghazawah atau peperangan, yang menempatkan kelompok berbeda agama sebagai musuh secara mutlak.
Pandangan tersebut tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga berkembang menjadi sikap sosial yang melahirkan rasa takut, kecurigaan, serta ketidakpercayaan yang berkelanjutan.
Relasi berbasis konflik ini dibangun melalui narasi historis tentang permusuhan masa lalu yang terus direproduksi hingga hari ini. Akibatnya, muncul generalisasi, stereotip, dan tuduhan berlebihan terhadap kelompok lain. Dalam praktiknya, cara pandang semacam ini kerap menjustifikasi tindakan diskriminatif, bahkan kekerasan.
Secara teologis, pendekatan konfrontatif tersebut sering menjadi rujukan pada ayat-ayat al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad Saw., serta preseden sejarah tertentu, baik dari kehidupan Nabi maupun masa para sahabat. Rujukan ini kemudian diperkuat oleh praktik politik generasi setelahnya yang sarat kepentingan kekuasaan.
Sejarah panjang politik umat Islam, mulai dari Dinasti Umaiyah, Abbasiyah, hingga Utsmaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya terjadi antara umat Islam dan non-Muslim. Tetapi juga di antara sesama Muslim.
Meski merujuk pada kitab suci dan nabi yang sama, konflik internal umat Islam kerap berlangsung dengan semangat saling meniadakan atau zero sum game, di mana kemenangan satu pihak harus membayarnya dengan kehancuran pihak lain.
Namun demikian, sejumlah kalangan menilai bahwa narasi konflik tersebut tidak sepenuhnya merepresentasikan keseluruhan ajaran Islam.
Ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi tidak boleh kita pahami secara parsial. Melainkan harus melihatnya dalam kerangka yang lebih utuh dan kontekstual. Termasuk dalam membaca sejarah kehidupan Nabi Muhammad Saw. secara komprehensif. []
Sumber Tulisan: Ayat-ayat Relasi antar Umat Berbeda Agama dalam Perspektif Mubadalah




















































