Mubadalah.id – Implementasi sikap yang ramah lingkungan penting demi mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan. Relasi manusia dengan alam juga perlu kita pastikan sejalan dengan sudut pandang yang inklusif agar kelompok-kelompok marjinal seperti perempuan dan perempuan adat mendapatkan akses penuh akan sumber daya alam. Keterbatasan ini sayangnya marak terjadi dan mempersulit mereka dalam memberdayakan diri serta keluarga yang bertahan hidup sehari-hari dari kekayaan alam.
Dalam merespons isu tersebut, Program Studi Kajian Gender Universitas Indonesia mengadakan Saparinah Sadli Distinguished Lecture bertajuk “Feminist Political Ecology as A Convening Space in Challenging Times” pada Rabu (04/02) yang lalu.
Menghadirkan narasumber Prof. Rebecca Elmhirst (University of Brighton), acara ini terselenggara dalam rangka menyambut 100 tahun Prof. Saparinah Sadli, salah satu pendiri Prodi Studi Kajian Gender UI dan KOMNAS Perempuan, serta peringatan 36 Tahun Program Studi Kajian Gender Universitas Indonesia. Hariati Sinaga (Prodi Kajian Gender UI) sebagai moderator menekankan bahwa diskusi kali ini akan mengingatkan kita betapa pentingnya relasi kita dengan alam, utamanya perempuan.
Rebecca memulai diskusi dengan tawaran yang dapat Feminist Political Ecology (FPE) berikan dalam menangani permasalahan lingkungan yang seringkali merugikan perempuan. Sehingga, ia tidak hanya memberikan paparan tanpa solusi yang signifikan.
FPE sendiri merupakan sebuah alat untuk menganalisis dan merespons krisis lingkungan dan politik global secara kritis. Rebecca menambahkan bahwa masalah lingkungan adalah isu komunitas. Sehingga sudut pandang yang dapat memberdayakan masyarakat, seperti FPE, sangatlah kita perlukan. Utamanya dalam mengedepankan kepentingan perempuan sebagai kelompok marjinal yang paling terdampak krisis lingkungan.
Implementasi Feminist Political Ecology
Komitmen dalam mengimplementasikan nilai-nilai feminis dan etika kepedulian merupakan tujuan utama dari FPE. Dengan demikian, kelit kelindan kehidupan dan tantangan dalam mengatasi permasalahan lingkungan cepat terakui dan segera tertangani. Menurut Rebecca, dengan implementasi FPE, keadilan lingkungan dan keadilan sosial untuk kelompok marjinal, seperti perempuan, juga dapat terealisasikan.
Menggunakan FPE dapat kita mulai dengan menentukan bagaimana dan siapa yang akan mendukung gerakan pemberdayaan lingkungan di dalam sebuah area. Menggunakan konsep Situated Knowledge milik Donna Haraway, suara mereka yang membutuhkan dapat menjadi sumber pemahaman akan permasalahan lingkungan yang kita hadapi. Dengan demikian, pertanyaan yang tepat dapat kita rancang untuk mempelajari kebutuhan pemberdayaan lingkungan bagi komunitas dan kelompok perempuan yang membutuhkan.
Selain Situated Knowledge, interseksionalitas yang Audre Lorde cetuskan juga tersampaikan oleh Rebecca sebagai salah satu alat yang dapat membantu kerja FPE secara kritis. Bentuk-bentuk kekuasaan seperti patriarki dan rasisme dapat kita bedah oleh interseksionalitas. Perhatian pada kondisi geografis juga dapat membantu menganalisis karakter komunitas yang berbeda-beda. Selain itu, FPE dan interseksionalitas turut meliputi kepedulian sosial dan analisis eksploitasi demi memberikan solusi yang tepat.
Rebecca melanjutkan paparannya dengan kisah ibu Magdalena, seorang perempuan Dayak yang dirugikan oleh sebuah perusahaan sawit di desanya. Menggunakan Situated Knowledge Rebecca memilih ibu Magdalena sebagai subjek penelitian dan memberikannya solusi yang kita dapat melalui FPE. Selain itu, interseksionalitas juga kita terapkan demi menemukan jalan keluar yang tepat untuk masalah ini.
Menganlisis Permasalahan Secara Lebih Luas
Analisis yang pertama berfokus pada bentuk-bentuk kekuasaan perusahaan sawit yang menindas ibu Magdalena. Beban kerja berlebih, akses yang terbatas, dan ancaman kesehatan. Beban kerja yang berlebih diakibatkan oleh upaya yang ibu Magdalena lakukan demi mendapatkan hasil alam untuk melanjutkan hidup.
Akses sumber daya alam yang semakin terbatas, seperti air bersih hingga tanaman obat, membuat ibu Magdalena berupaya menjual beras untuk menyambung hidupnya. Akan tetapi, hasil penjualannya tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Perusahaan sawit juga berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat sekitar, termasuk ibu Magdalena, serta menambah kerusakan alam di Kalimantan.
Kondisi geografis dan sosial menjadi analisis yang dilakukan berikutnya oleh Rebecca. Menurutnya, karakter sebuah komunitas dapat dilihat tidak hanya dari situasi geografisnya tetapi juga dari rumah mereka. Emosi sebuah kelompok masyarakat juga dapat terpancar dari kegiatan sehari-hari.
Layaknya ibu Magdalena, kelompok masyarakat yang menjadi perhatian Rebecca ini memiliki lingkup yang kecil. Akan tetapi, pertahanan dan perlawanan mereka cukup berat. Semua diakibatkan oleh dampak-dampak buruk yang muncul setelah berdirinya perusahaan sawit yang tidak ramah lingkungan. Ibu Magdalena kemudian menyampaikan harapannya secara pribadi yakni pendidikan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Sehingga di kemudian hari mereka dapat bertahan hidup dengan lebih baik daripada ibu mereka.
Analisis kepedulian sosial dan eksploitasi Rebecca kaitkan dengan koneksi kapitalisme dan kuasa negara terhadap lingkungan dan sumber daya alam. Ia juga menekankan bahwa isu ini tidak hanya terjadi secara lokal namun mengglobal secara luas. Sebagai contoh, kekhawatiran ibu Magdalena akan dampak negatif perusahaan sawit terhadap kesehatannya tidak hanya terjadi di lingkup komunitas masyarakat Kalimantan saja.
Secara mendunia, eksploitasi lingkungan menyebabkan ancaman kesehatan bagi masyarakat di sekitarnya. Perempuan, sebagai kelompok rentan, juga mengalami kerugian yang serupa secara global. Sehingga perjuangan FPE kita perlukan untuk menganalisis permasalahan secara lebih meluas.
Harapan dan Optimisme
Rebecca meminjam konsep Counter Topographies oleh Cindi Katz untuk implementasi FPE yang tepat. Metode ini dapat mengaitkan perjuangan-perjuangan isu lingkungan global. Hal ini bertujuan untuk mengedepankan kisah-kisah yang optimis seperti perjuangan ibu Magdalene yang didukung oleh Rebecca dan timnya.
Counter Topographies juga berfokus pada mengembalikan logika pertumbuhan ekonomi ekstraktif yang seringkali mengeksploitasi sumber daya alam. Sehingga perspektif feminis dapat diterapkan demi kesadaran akan pentingnya hidup berdampingan dengan alam dan lingkungan yang berkelanjutan.
Rebecca mengakhiri paparannya dengan menyampaikan harapan-harapan optimis FPE yang dihasilkan oleh pengamatannya di lapangan. Menurutnya, FPE yang dapat mengaitkan perjuangan ekologis secara global dapat membantu aktivisme lingkungan di Indonesia dalam menerapkan sudut pandang feminisme dalam setiap diskusi dan perencanaan. Selain itu, hasil dari perjuangan Indonesia, dan Asia Tenggara, juga dapat terbagikan ke berbagai belahan dunia demi mendapatkan pengakuan serta merebut dan memperbarui wawasan kembali.
Layaknya bunga dandelion yang bisa tumbuh di antara beton, Rebecca melihat aktivisme lingkungan di Indonesia dapat bertahan dan hidup di tengah-tengah tekanan penguasa. Penerapan FPE dalam perjuangan tersebut dapat memajukan pelibatan sudut pandang feminisme demi perawatan lingkungan yang berkelanjutan bagi komunitas, utamanya perempuan, yang membutuhkan. []




















































