Mubadalah.id – Ibadah puasa di bulan Ramadan selalu datang dengan janji. Pengampunan, pelipatgandaan pahala, dan kesempatan menjadi pribadi yang lebih bertakwa. Namun bagi sebagian perempuan, Ramadan sering kali hadir dengan beban yang tak selalu dibicarakan. Dapur yang lebih sibuk, kebutuhan keluarga yang meningkat, ritme domestik yang berlipat, sementara ruang spiritual personal justru menyempit.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Menegaskan bahwa tujuan puasa adalah la‘allakum tattaqun, agar kamu bertakwa. Kata “kamu” dalam ayat ini bersifat kolektif dan setara: laki-laki dan perempuan, yang bekerja di ruang publik maupun domestik. Artinya, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang transformasi kesadaran relasional yang menghadirkan keadilan, empati, dan kebahagiaan bersama.
Puasa dan Kesadaran Diri Perempuan
Dalam pengalaman perempuan, puasa sering menjadi ruang sunyi yang sangat privat: bangun lebih awal, menyiapkan sahur, memastikan anak-anak berpuasa dengan riang, menjaga stabilitas emosi keluarga menjelang magrib. Di titik ini, perempuan sering kali menjalankan ibadah dalam bentuk kerja-kerja yang tak terlihat (unpaid care work).
Namun puasa yang meaningful tidak boleh berhenti pada pengorbanan tanpa refleksi. Ibadah puasa harus menjadi ruang afirmasi diri. Perempuan berhak mengalami kekhusyukan spiritual tanpa harus terjebak pada romantisasi kelelahan. Sebab Islam tidak memuliakan penderitaan, namun mengutamakan kemaslahatan.
Di sinilah perspektif mubadalah menjadi penting. Prinsip mubadalah mengajarkan bahwa nilai-nilai kebaikan dalam Islam bersifat kesalingan. Jika pahala memberi makan orang berbuka begitu besar, maka memastikan perempuan tidak sendirian menyiapkan hidangan juga bagian dari ibadah. Jika menahan amarah adalah hal utama dalam ber-puasa, maka menciptakan pembagian kerja yang adil di rumah adalah wujud konkret ketakwaan.
Membuka Ruang yang Bahagia dan Membahagiakan
Puasa bukan sekadar ritual personal; melainkan ibadah sosial, yang melatih kita merasakan lapar agar peka pada yang masih kekurangan. Mengajarkan sabar agar relasi kita lebih hangat. Maka Ramadan sudah seharusnya menjadi momentum membangun ruang yang membahagiakan bukan ruang yang melelahkan bagi satu pihak.
Ruang bahagia itu bisa dimulai dari hal sederhana, seperti pembagian peran domestik yang lebih adil antara suami-istri, kesepakatan keluarga bahwa ibadah bukan hanya di dapur, tetapi juga di ruang refleksi, dan menghargai perempuan yang sedang haid untuk dapat tetap beribadah spiritual dan produktif sesuai dengan ketentuan agama. Kebahagiaan dalam Islam bukan konsep individualistik, namun bersifat kolektif yang menunjukkan bahwa spiritualitas tidak pernah terpisah dari keadilan relasional.
Puasa sebagai Ruang Pemulihan dan Healing Paling Tenang bagi Perempuan
Bagi perempuan dengan ragam peran, sebagai ibu, aktivis, pekerja, penggerak komunitas, dan lainnya momentum puasa bisa menjadi ruang pemulihan batin. Menahan diri bukan sebatas makanan, minuman, dan emosi, namun juga dari ekspektasi sosial yang berlebihan. Ramadhan memberi izin untuk tidak terburu-buru menikmati hidup, merefleksikan ulang makna peran, dan merayakan keberhargaan diri.
Puasa membahagiakan yang bermakna adalah puasa yang menghadirkan kebahagiaan yang tidak eksploitatif. Membahagiakan diri tanpa melukai yang lain, dan membahagiakan yang lain tanpa menghapus keberadaan diri sendiri sebagai perempuan seutuhnya.
Maka, sebagai perempuan, memaknai puasa membahagiakan secara meaningful memiliki makna, menyadari nilai spiritual dari kerja-kerja perawatan, berani mengupayakan relasi yang lebih adil, menghadirkan empati sosial sebagai praktik nyata, dan menjadikan Ramadan sebagai ruang pertumbuhan, bukan sekadar rutinitas.
Sebab puasa bukan sebatas perjalanan ibadah kepada Tuhan, tetapi juga ibadah sosial dengan sesama. Memaknai puasa dengan lebih meaningful adalag ketika Ramadan menjadi ruang yang membuat kita lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih membahagiakan satu sama lain. Karena pada akhirnya dari ibadah yang kita jalankan sebagai manusia bergantung pada nilai ketaqwaannya. []










































