Mubadalah.id – Dalam beberapa bulan terakhir, keadaan alam di bumi kita tercinta ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak bencana yang terjadi baik di Indonesia sendiri maupun di dunia. Bencana itu mulai dari tanah longsor hingga banjir bandang. Cuaca yang semakin sulit untuk diprediksi juga menjadi masalah internasional. Singkatnya bahwa alam sudah tidak bisa menjadi ruang yang aman lagi bagi kehidupan makhluk hidup.
Keadaan demikian tentu ada sebabnya. Bencana yang terjadi disebabkan oleh kerusakan lingkungan. Tetapi yang menjadi keprihatinan adalah sikap manusia yang menjadi salah satu penghuni bumi.
Sebagai ciptaan yang mempunyai akal dan budi, manusia justru kadang berpikir rasional tentang kerusakan lingkungan ini. Mereka kadangkala hanya memahami bahwa kerusakan bumi merupakan bencana semata-mata. Singkatnya mereka menganggap bahwa kerusakan itu terjadi tanpa campur tangan manusia.
Namun pada kenyataannya, keadaan lingkungan yang rusak ini adalah akibat dari perbuatan manusia yang serakah. Mereka membuat sistem yang hanya menguntungkannya saja tanpa memperhatikan keadaan lingkungan yang semakin hari semakin rusak dan memprihatinkan.
Dalam perspektif Kristiani, keadaan ini mengajak kita sebagai manusia yang memiliki akal dan budi untuk bercermin dan berefleksi. Kita ada bukan untuk menguasai bumi, tetapi untuk menjaganya. Peran inilah yang kadangkala kita tidak menyadarinya sehingga mereka dengan bebas mengesploitasi bumi secara berlebihan.
Tugas Manusia sebagai Penjaga, Bukan Penguasa
Dalam kisah Penciptaan, manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang terakhir. Ini bukan tanpa tujuan. Manusia diciptakan terakhir dengan tujuan bahwa kita mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk merawat dan menjaganya. Tugasnya bukanlah memiliki, tetapi menjaga ciptaan yang lain.
Tetapi dalam perjalanan sejarah manusia, tugas tersebut justru disalahartikan sebagai bentuk kekuasaan. Ada keinginan manusia untuk menguasai ciptaan yang lain dan memanfaatkannya sepuas hati mereka. Cara pandang terhadap alam perlahan mulai berubah. Alam yang seharusnya menjadi rekan kerja dalam memuji Sang Pencipta kini hanya sebagai objek sehingga manusia bebas mengeksploitasinya.
Penggundulan hutan dan penambangan menjadi contoh bagaimana manusia memanfaatkannya hanya sebagai bahan keuntungan pribadi semata. Singkatnya bahwa manusia menempatkan sebagai pemilik mutlak atas semesta sehingga berhak untuk memeras hasil alam tersebut.
Karena keegoisan dan ketamakan, manusia melupakan tugas dan peran utamanya sebagai penjaga semesta. Sebagai pemegang peran penjaga, manusia seharusnya memiliki sikap kerendahan hati. Namun, pada kenyataannya manusia malah mementingkan egonya sendiri dan bersikap sombong.
Manusia tidak lagi menyadari bahwa manusia dan alam memiliki ketergantungan. Manusia membutuhkan alam untuk hidup dan alam juga membutuhkan manusia untuk berkembang. Keadaan ini menjadi kegagalan manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai penjaga.
Pola hidup konsumtif, keinginan untuk selalu lebih, dan sistem yang meminggirkan keberlanjutan membuat peran penjaga semakin kabur. Di sinilah iman dan tanggung jawab ekologis bertemu. Keduanya bukan hanya ada dalam slogan besar, tetapi dalam pilihan hidup sehari-hari yang menghormati kehidupan.
Kerakusan yang Membawa Pada Eksploitasi
Situasi perubahan peran manusia sebagai penjaga menjadi penguasa merupakan hasil dari pola pikir yang rakus akan keuntungan. Manusia menempatkan alam sebagai bahan untuk mencari keuntungan mereka sendiri, tanpa memikirkan keadaan kedepannya. Alam hanya dipandang sebagai pemuas kebutuhan manusia saja.
Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa manusia merusak lingkungan dengan mengatasnamakan pembangunan dan kemajuan. Tetapi dalam praktiknya seringkali ini menjadi cara untuk mengeruk keuntungan pribadi. Dalam pola pikir ini, manusia mengasumsikan bahwa alam bisa pulih dengan sendirinya. Tetapi dalam kenyataannya, bumi tidak bisa memulihkan dirinya sendiri dengan cepat.
Ketika manusia mulai rakus, maka alam juga akan memberikan bentuk dan tanda perlawanannya. Ketika banjir melanda, tanah longsong menimpa, kekeringan, kebakaran hutan karena panas merupakan tanda bahwa alam tidak terima dengan perlakuan manusia yang semakin rakus akan keuntungan.
Dalam hal ini, hukum timbal balik akan terjadi. Ketika manusia memperlakukan alam dengan baik, maka ia juga akan memberikan hasil yang melimpah. Namun, ketika manusia memperlakukan dengan sewenang-wenang, maka alam juga akan memberikan bencana. Situasi demikian mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar masalah teknis, tetapi merupakan masalah moral. Ini lahir dari pilihan-pilihan manusia, baik secara pribadi maupun kolektif.
Pertobatan Ekologis sebagai Tanggung Jawab Bersama
Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si mengingatkan perlunya pertobatan Ekologis. Kata āpertobatanā tidak hanya menunjuk pada satu golongan atau kepercayaan tertentu, melainkan sebuah undangan bagi semua umat manusa yang tinggal di bumi. Pertobatan ekologis merupakan perubahan cara berpikir dan cara hidup.
Pertobatan ekologis bisa mulai dengan kesadaran bahwa manusia mempunyai tanggung jawab untuk menjaga ciptaan. Cara manusia memanfaatkan sumber daya alam akan membentuk bumi hari ini dan masa depan. Tanggungjawab untuk menjaga lingkungan merupakan tugas semua manusia yang mendiami bumi.
Pertobatan ekologis yang menjadi seruan Paus Fransiskus mengajak manusia untuk bekerja sama memulihkan alam yang mulai rusak. Hal ini juga memerlukan adanya perubahan sistem sosial, ekonomi, dan budaya. Pertobatan ekologis mengajak manusia untuk memilih jalan yang bertanggungjawab. Apa yang menjadi seruan dan ajakan Paus Fransiskus akan membawa manusia pada tindakan menyelamatkan alam di masa sekarang dan masa depan. []









































