Mubadalah.id – Beberapa hari terakhir ini, ruang publik kembali terguncang oleh peristiwa kekerasan yang terpicu oleh obsesi dalam relasi personal, ketika seorang mahasiswa diduga menyerang mahasiswi di lingkungan kampus yang ada di Riau karena penyebabnya dorongan perasaan yang tidak terbalas.
Peristiwa ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan cermin dari persoalan psikologis dan sosial yang lebih dalam tentang bagaimana cinta kita pahami, kita maknai, dan terekspresikan. Di tengah budaya yang kerap meromantisasi perjuangan demi cinta, batas antara ketulusan emosional dan obsesi yang destruktif menjadi semakin kabur. Fenomena ini mengajak kita untuk menelaah kembali. Kapan cinta berhenti menjadi ruang afeksi yang sehat, dan mulai berubah menjadi ancaman psikososial yang membahayakan?
Pemahaman Psikologis: Obsesi Cinta dan Distorsi Emosi
Cinta adalah pengalaman emosional yang fundamental dalam kehidupan manusia. Kehadirannya membangun kedekatan, memberi rasa aman, dan memperkuat identitas diri melalui relasi dengan orang lain. Namun, dalam kondisi tertentu, cinta dapat mengalami distorsi.
Ketika afeksi berubah menjadi keterikatan yang tidak proporsional, rasa memiliki menjadi dominasi, dan keinginan untuk dekat berubah menjadi kebutuhan untuk menguasai, maka cinta tidak lagi sehat. Di titik inilah fenomena yang sering kita sebut sebagai Obsessive Love Disorder (OLD) mulai terbicarakan dalam kajian psikologi.
Meskipun istilah ini belum menjadi diagnosis resmi dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), ia digunakan untuk menggambarkan pola hubungan yang tertandai dengan obsesi berlebihan terhadap seseorang. Individu dengan kecenderungan ini sering mengalami kecemasan ekstrem ketika merasa tertolak atau terabaikan. Penolakan dipersepsikan bukan sebagai dinamika wajar dalam relasi, melainkan sebagai ancaman terhadap harga diri dan identitas personal.
Secara psikologis, kondisi ini sering berkaitan dengan insecure attachment, trauma relasi masa lalu, kebutuhan validasi yang tinggi, serta regulasi emosi yang lemah. Individu mungkin merasa bahwa kebahagiaan dan kebermaknaan hidupnya sepenuhnya bergantung pada keberadaan orang lain.
Ketika relasi tidak berjalan sesuai harapan, muncul dorongan untuk mempertahankan atau memaksakan hubungan tersebut dengan cara apa pun. Pada titik tertentu, distorsi kognitif dapat muncul: tindakan agresif ia anggap sebagai bentuk perjuangan cinta, kontrol dianggap sebagai bentuk perhatian, dan paksaan ia anggap sebagai ekspresi kesungguhan.
Ketika Obsesi Berujung pada Kekerasan
Peristiwa yang baru-baru ini viral tentang seorang mahasiswa yang mencoba melukai mahasiswi karena faktor obsesi pribadi. Hal ini memperlihatkan bagaimana dinamika psikologis yang tidak sehat dapat berkembang menjadi tindakan destruktif. Tanpa perlu menyoroti detail kejadian secara spesifik, peristiwa tersebut cukup menjadi cermin bahwa ruang pendidikan sekalipun tidak kebal terhadap eskalasi emosi yang tidak terkendali.
Lingkungan kampus pada dasarnya adalah ruang sosial yang terbangun atas dasar rasionalitas, dialog, dan pengembangan diri. Namun, relasi interpersonal tetap membawa kompleksitas emosional. Ketika perasaan cinta tidak terbalas atau hubungan tidak berjalan sesuai harapan, respons yang sehat seharusnya berupa penerimaan dan pengelolaan emosi. Akan tetapi, dalam kasus tertentu, individu yang mengalami obsesi dapat melihat penolakan sebagai penghinaan, kehilangan kontrol, atau ancaman terhadap identitas diri.
Dalam kerangka psikologi sosial, tindakan agresif semacam ini sering kali terpengaruhi oleh kombinasi faktor personal dan situasional. Faktor personal mencakup regulasi emosi yang buruk, impulsivitas, serta kebutuhan akan pengakuan. Sementara faktor situasional dapat berupa tekanan sosial, rasa malu, atau persepsi bahwa dia dipermalukan di ruang publik. Ketika dua faktor ini bertemu tanpa adanya mekanisme koping yang sehat, risiko perilaku ekstrem meningkat.
Peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa obsesi cinta bukan hanya masalah “perasaan yang terlalu dalam,” melainkan persoalan serius terkait kontrol diri dan pemahaman batasan sosial. Cinta yang sehat selalu mensyaratkan persetujuan, penghormatan, dan kebebasan memilih. Ketika unsur-unsur ini hilang, relasi berubah menjadi arena dominasi dan potensi kekerasan.
Dimensi Sosiologis: Cinta, Identitas, dan Tekanan Sosial
Dari sudut pandang sosiologi, cinta tidak pernah berdiri sebagai pengalaman pribadi semata. Ia terbentuk oleh budaya, norma, dan narasi sosial yang hidup di masyarakat. Budaya populer sering menggambarkan cinta sebagai perjuangan tanpa batas, pengorbanan total, atau kesetiaan yang harus dipertahankan dengan segala cara. Narasi semacam ini, jika tidak kita kritisi, dapat menciptakan persepsi bahwa obsesi adalah bentuk kesungguhan.
Selain itu, konstruksi sosial mengenai maskulinitas dan harga diri juga memainkan peran penting. Dalam sebagian konteks budaya, penolakan cinta bisa kita persepsikan sebagai kegagalan personal yang memalukan. Ketika identitas diri terlalu melekat pada keberhasilan memiliki atau mendapatkan seseorang, maka penolakan terasa seperti ancaman eksistensial. Rasa kehilangan kontrol tersebut dapat memicu tindakan agresif sebagai upaya memulihkan harga diri yang terluka.
Fenomena viral yang terjadi di lingkungan kampus juga menunjukkan bagaimana relasi personal dapat berdampak luas pada ruang sosial. Kekerasan yang berakar pada obsesi bukan hanya melukai korban secara fisik dan psikologis, tetapi juga menciptakan rasa tidak aman dalam komunitas. Ia merusak kepercayaan sosial dan menimbulkan trauma kolektif. Dalam konteks ini, obsesi cinta bukan lagi sekadar gangguan individual, melainkan ancaman psikososial.
Karena itu, pendekatan pencegahan tidak cukup hanya bersifat individual, seperti konseling atau terapi, tetapi juga struktural. Pendidikan tentang kesehatan mental, literasi emosi, serta pemahaman mengenai relasi yang sehat perlu menjadi bagian dari ekosistem sosial, termasuk di lingkungan pendidikan tinggi. Kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembelajaran tentang kedewasaan emosional.
Obsessive Love Disorder memperlihatkan bahwa cinta memiliki dua sisi: ia dapat menjadi sumber kekuatan emosional, tetapi juga berpotensi berubah menjadi ancaman ketika kehilangan keseimbangan. Peristiwa viral yang terjadi baru-baru ini menjadi pengingat bahwa ketidakmampuan mengelola penolakan dan mengendalikan obsesi dapat berujung pada tindakan yang merugikan banyak pihak.
Cinta yang sehat selalu berlandaskan pada kesadaran diri, penghormatan terhadap batasan, dan kemampuan menerima kenyataan. Ketika cinta dipaksakan, ia tidak lagi menjadi ekspresi ketulusan, melainkan refleksi dari kebutuhan untuk menguasai. Di sinilah pentingnya membangun literasi psikologis dan kesadaran sosial agar relasi antarmanusia tidak berubah dari ruang afeksi menjadi ruang ancaman. []








































