Minggu, 15 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Aktual

Bedah Buku #Reset Indonesia: Membongkar Kegagalan Sistemik Negeri Ini

Melalui buku ini, Dandhy mengajak publik terutama anak muda untuk berhenti sejenak dari riuh kesibukan dan perdebatan yang seringkali dangkal. Ia mengajak untuk duduk hening, membaca, dan bertanya ulang: apa esensi dari bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara?

Muflihah by Muflihah
16 November 2025
in Aktual
A A
0
Bedah Buku #Reset Indonesia

Bedah Buku #Reset Indonesia

16
SHARES
824
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubaladalah.id – SALAM Institute menggelar bedah buku #Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia Baru di aula Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, pada Jumat, 14 November 2025. Bedah buku itu menghadirkan langsung penulisnya Dandhy Laksono.

Buku #Reset Indonesia setebal 448 halaman ini merupakan buah perjalanan panjang dan kolaborasi lintas generasi antara Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benayu Harobu—hasil dari ekspedisi selama 15 tahun mengelilingi Indonesia untuk memotret realitas sosial, ekonomi, dan ekologis negeri ini.

Sejak awal, diskusi langsung pada persoalan yaitu mengapa tetap menulis buku, padahal sudah ada film? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk ke pembacaan yang lebih serius mengenai relasi antara pengetahuan, imajinasi dan arah bangsa.

Dandhy secara tegas menjelaskan bahwa film hanya mampu memotret apa yang kasat mata. Visual memberitahu apa yang terjadi, tetapi tidak mampu menampung keresahan, kegelisahan, dan imajinasi masa depan.

“Masalah terbesar Indonesia bukan visual, tetapi paradigmatik,” ujarnya.

Buku, menurutnya, memaksa pembaca masuk pada ruang perenungan yang tak bisa diwakili kamera. Bahkan ruang untuk membayangkan apa yang seharusnya terjadi.

Ia kemudian membacakan prolog buku itu, sebuah gambaran sederhana tentang mimpi yang justru terasa mustahil di Indonesia.

“Pernahkah kita membayangkan minum air langsung dari keran? Bukan dari botol Nestlé, bukan dari galon, tapi cukup buka keran dan minum.” Sebuah hal remeh di banyak negara, namun terasa seperti utopia di negeri ini.

Indonesia, kata Dandhy, masih terjebak dalam paradoks. Yang secara sederhana di tempat lain menjadi mustahil di sini. Sementara hal-hal yang tak masuk akal di negara lain justru dianggap wajar di Indonesia. Misalnya wacana pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional dan terpilihnya Gibran sebagai Wakil Presiden.

“Ada yang salah dan kesalahan itu bukan satu dua, tetapi sistemik,” tegasnya.

Melalui buku ini, Dandhy mengajak publik terutama anak muda untuk berhenti sejenak dari riuh kesibukan dan perdebatan yang seringkali dangkal. Ia mengajak untuk duduk hening, membaca, dan bertanya ulang: apa esensi dari bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara?

Ketika Kemajuan Justru Menjadi Kemunduran

Bagian selanjutnya dari diskusi mengupas pertanyaan krusial: Apa itu maju? Sebuah konsep yang sering digunakan elite politik untuk mengukur keberhasilan pembangunan, namun jarang dipahami secara substansial.

Dandhy mencontohkan ketika warga Cirebon bermimpi memiliki jalan tol seperti Jakarta, itu bukanlah kemajuan melainkan kemunduran.

Negara-negara maju justru menekan penggunaan mobil pribadi, memperkuat transportasi umum, memperluas ruang hijau, dan menciptakan kota yang ramah manusia, bukan menjadikan beton dan aspal sebagai simbol pembangunan.

Indonesia, menurutnya, hanya meniru bagian “manipulatif” dari negara maju, hal-hal yang menguntungkan oligarki dan mengabaikan dimensi pelayanan sosial. Kemajuan sejati menuntut keadilan dan kesetaraan, bukan pembangunan yang hanya mempercantik permukaan.

Untuk memperjelas posisi Indonesia, Dandhy menghadirkan konsep empat kasta negara di dunia:

1. Kasta pertama, negara yang mampu menciptakan kemakmuran tanpa merusak lingkungan. 2. Kasta kedua, negara miskin yang masih memiliki sumber daya alam terjaga—negara yang “pasrah.”

3. Kasta ketiga, negara maju secara industri tetapi merusak lingkungannya, seperti Cina. 4. Kasta keempat, negara yang gagal membangun dan merusak lingkungan—dan di sinilah Indonesia berada.

“Indonesia sungainya habis, hutannya habis, tapi industrinya tidak maju. Ini kombinasi paling buruk dalam sejarah sebuah bangsa,” ungkapnya.

Pertanyaan besar kemudian muncul: Bangsa ini sebenarnya ingin menuju ke mana?

Menuju Arah Baru: Membangun Ulang dari Akar

Buku Reset Indonesia hadir untuk memperkaya imajinasi kolektif bangsa. Arah baru tidak akan lahir dari inisiatif individu semata. Melainkan harus ada dukungan kebijakan publik dan keputusan politik yang serius.

Contoh negara Singapura memang bisa memberikan inspirasi, tetapi Indonesia tidak bisa sekadar meniru. “Kita harus menemukan model kita sendiri,” tegas Dandhy.

Salah satu tawaran paling penting dalam buku ini adalah reforma agraria—jantung dari jantungnya ekonomi rakyat. Data menunjukkan bahwa 60% petani Indonesia hanya memiliki lahan kurang dari setengah hektar.

Lalu, bagaimana mungkin ekonomi rakyat bisa mandiri dan kuat jika fondasi agrarianya begitu timpang?

Reforma agraria bukan hanya persoalan distribusi tanah, tetapi pembenahan total arah pembangunan nasional. Tanpa itu, kemajuan hanya akan menjadi slogan kosong, tidak menyentuh akar permasalahan.

Kritik Sosial

Pada akhirnya, Reset Indonesia bukan sekadar buku laporan perjalanan atau kritik sosial. Ia adalah seruan keras bagi bangsa ini untuk berhenti hidup dalam ilusi kemajuan.

Buku ini mengajak masyarakat untuk melihat realitas dengan jujur, menelusuri kembali akar masalah. Kemudian membangun imajinasi baru tentang Indonesia sebuah bangsa yang tidak menjadikan hal sederhana sebagai kemewahan dan tidak membiarkan hal tak masuk akal menjadi kewajaran.

Diskusi bedah Buku #Reset Indonesia di ISIF Cirebon itu menutup dengan satu pesan besar yaitu perubahan tidak bisa dimulai tanpa keberanian untuk membayangkan ulang. Dan imajinasi yang jernih hanya lahir dari keberanian menatap kenyataan tanpa ilusi. []

Tags: Bedah Buku #Reset IndonesiaKegagalanMembongkarnegeriSistemik
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tumbler: Antara Komitmen Jaga Bumi atau Gaya Hidup Masa Kini

Next Post

Degradasi Nilai Perempuan dalam Tren “10 Ribu Di Tangan Istri yang Tepat”

Muflihah

Muflihah

Saya adalah Mahasantriwa Sarjana Ulama Perempuan (SUPI) Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Related Posts

Kegagalan Perkawinan
Pernak-pernik

Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

11 Februari 2026
ideologi patriarki
Publik

KUPI Hadir untuk Membongkar Ideologi Patriarki

5 Januari 2026
Banjir Aceh
Aktual

Banjir Aceh dan Sumatera Bukan Musibah Alam, Tapi Kegagalan Negara Mengontrol

10 Desember 2025
beragama dan berkeyakinan
Publik

Kegagalan Negara dalam Menjamin Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

18 November 2025
Konflik dalam Keluarga
Keluarga

Konflik dalam Keluarga: Bukan Tanda Kegagalan, Melainkan Ruang Belajar

27 Oktober 2025
an-Nisa ayat 34
Uncategorized

Membongkar Mitos Patriarki dalam Surat an-Nisa 34

22 September 2025
Next Post
10 Ribu Di Tangan Istri yang Tepat

Degradasi Nilai Perempuan dalam Tren “10 Ribu Di Tangan Istri yang Tepat”

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie
  • Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan
  • Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah
  • Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak
  • Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0