Mubadalah.id – Belakangan ini, obrolan soal pernikahan makin terasa panas, dengan definisi peran yang kian kabur. Di linimasa, kita sering disuguhi perdebatan yang melelahkan: siapa yang lebih capek, yang lebih berkorban, dan siapa yang paling “rugi” dalam rumah tangga.
Di tambah lagi, pada zaman sekarang, mencari laki-laki dengan mental provider itu ibarat nyari sinyal di dalam hutan, kadang ada kadang nggak, dan seringnya bikin frustasi. Kayaknya udah usaha naik ke bukit, jungkir balik, tetap aja sinyalnya ilang-ilangan. Banyak perempuan mengeluhkan bahwa laki-laki zaman sekarang kurang bertanggung jawab, lebih suka bersenang-senang, dan cenderung menghindari komitmen serius.
Di sisi lain, laki-laki juga punya alasan, katanya perempuan zaman sekarang maunya cowok yang udah sukses duluan, mereka nggak melirik yang masih dalam proses. Apa iya?
Islam Memandang Laki-laki Provider
Tapi sebelum kita lanjut debat, yuk sepakati dulu apa itu mental provider. Mental provider merujuk pada kesadaran seorang laki-laki untuk bertanggung jawab memenuhi kebutuhan materi keluarganya, terutama istri dan anak-anaknya. Dia bukan sekadar pencari nafkah, tapi juga pelindung dan pemimpin dalam rumah tangga. Ini bukan sekadar norma sosial, tapi juga ada dasarnya dalam Islam. Allah SWT berfirman:
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagaian yang lain (wanita), dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa: 34)
Dalam hadits juga disebutkan:
“Cukuplah seseorang itu dianggap berdosa jika ia menyia-nyiakan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i)
Jadi jelas, laki-laki memang punya tanggung jawab lebih besar dalam rumah tangga. Tapi kalau gitu, kenapa sekarang laki-laki dengan mental provider terasa makin langka? Apakah benar-benar langka, atau kita saja yang tidak menyadarinya?
Kalau dulu laki-laki otomatis menjadi tulang punggung keluarga, sekarang perempuan juga punya peran besar dalam dunia kerja. Banyak perempuan yang mandiri secara finansial, bahkan ada yang penghasilannya jauh lebih besar dibanding laki-laki. Ini bikin sebagian laki-laki berpikir, “Lah, ngapain gue repot-repot sendirian? Kan bisa berjuang bareng.”
Mungkin ini juga yang bikin budaya split bill alias bayar masing-masing makin marak. Kalau dulu laki-laki yang mengajak kencan merasa berkewajiban untuk membayar, sekarang banyak yang memilih berbagi tagihan dengan dalih “emansipasi.” Apakah ini salah? Enggak juga, tapi kalau budaya split bill jadi kebiasaan dalam hubungan serius, lalu di mana mental providernya laki-laki?
Menyoal Makna Suami Provider
Fenomena yang ramai sekarang, ketika suami provider menganggap dirinya babu, dan merasa tidak apple to apple dengan kerjaan istri yang di rumah, sebenarnya berangkat dari kegagalan kita memahami nilai kerja itu sendiri. Kerja tidak selalu soal menghasilkan uang, dan timbangan pengorbanan tidak selalu terlihat dengan logika transaksi. Menafkahi keluarga bukan berarti menjadi budak, sebagaimana mengurus rumah bukan berarti hidup tanpa kontribusi.
Ketika kita memaksa relasi suami-istri masuk ke logika untung-rugi, semua peran akan terasa timpang. Baik yang bekerja atau yang di rumah, sama-sama merasa lelah dan rugi. Padahal masalahnya bukan pada siapa bekerja di mana, tapi pada absennya kesepakatan, penghargaan, dan kesadaran bahwa pernikahan bukan sistem barter, melainkan ikatan saling menjaga.
Pertanyaannya, apakah salah satu penyebab langkanya laki-laki dengan mental provider itu karena perempuan masa kini yang semakin sukses?
Jawabannya, bisa jadi. Ketika perempuan semakin mandiri dan tak lagi bergantung secara finansial pada laki-laki, peran provider dalam rumah tangga menjadi lebih fleksibel. Ada laki-laki yang tetap berpegang teguh pada tanggung jawabnya, tapi ada juga yang akhirnya merasa tidak perlu terlalu bertanggung jawab karena pasangannya sudah mampu menghidupi dirinya sendiri.
Tapi tunggu dulu, bukan berarti semua laki-laki kayak gini. Laki-laki dengan mental provider sejati tentunya masih ada, aku yakin itu. Hanya saja, mereka nggak banyak teriak-teriak di media sosial. Mereka lebih sibuk kerja keras dan bertanggung jawab dibandingkan sibuk rebahan, pamer, atau main game/sosmed.
Dalam bukunya “Men Are from Mars, Women Are from Venus”, John Gray menyebutkan bahwa seorang laki-laki sejati merasa bahagia ketika ia bisa memberikan sesuatu untuk orang yang mereka cintai. Sesimple itu sebenarnya.
Kalau mau mental provider ini kembali kuat, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
Pendidikan dan pembentukan karakter sejak kecil adalah kunci. Biasakan anak laki-laki untuk memahami bahwa perannya bukan cuma bersenang-senang, tapi juga punya tanggung jawab besar di masa depan. Selain itu, perempuan juga perlu menghargai perjuangan laki-laki. Jangan hanya melihat hasil akhirnya, tapi juga proses dan usahanya. Sebab, nggak ada laki-laki yang tiba-tiba sukses tanpa perjuangan panjang.
Laki-laki juga harus berani keluar dari zona nyaman. Hidup itu memang berat, tapi justru dari perjuangan itu datang keberkahan. Jangan terlalu terlena dengan kenyamanan dan kesenangan instan. Sebab, keberhasilan sejati butuh kerja keras dan tanggung jawab.
Kesimpulannya, laki-laki dengan mental provider itu masih ada kok, cuma memang perlu kita cari dengan lebih teliti. Dan, jangan cuma fokus pada laki-laki yang sudah sukses, karena bukan itu yang menentukan ia bertanggung jawab atau tidak. Nyatanya, laki-laki yang sedang berjuang pun mampu memberikan yang terbaik, asalkan ia bertanggung jawab. Sebaliknya, laki-laki yang sudah sukses belum tentu. Jangan sampai salah fokus yaa.
Mungkin yang benar-benar memudar hari ini bukan mental provider, tapi kesabaran kita dalam memahami makna tanggung jawab. Kita terlalu sibuk membandingkan beban, sampai lupa bahwa rumah tangga tidak pernah diciptakan untuk adu lelah.
Selama ada komunikasi, kesepakatan, dan rasa saling menghargai, tidak ada peran yang lebih rendah atau lebih tinggi. Yang ada hanyalah dua orang dewasa yang sepakat berjalan bersama, dengan cara yang mereka anggap paling adil. Dan barangkali, di situlah letak keadilan yang sebenarnya.
Pada akhirnya, pernikahan bukan soal siapa yang lebih unggul, tapi bagaimana kita bisa membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah bersama. Jadi, kalau kamu masih galau soal laki-laki provider, mungkin udah saatnya berhenti scroll medsos kamu, dan mulai lihat dunia nyata! Good Luck! []

















































