Kamis, 29 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Sejarah Disabilitas

    Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

    KUPI 2027

    KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ekonomi Keluarga

    Pahala Ganda bagi Perempuan yang Menanggung Ekonomi Keluarga

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Sejarah Disabilitas

    Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

    KUPI 2027

    KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ekonomi Keluarga

    Pahala Ganda bagi Perempuan yang Menanggung Ekonomi Keluarga

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Cara Paling Sederhana Meneladani Gus Dur: Menulis dan Menyukai Sepakbola

Meneladani sosok Gus Dur, tokoh besar bangsa ini, bisa dilakukan dengan banyak cara. Kalau saya, mencoba aktif menulis dan menonton sepakbola, seperti yang pernah Gus Dur lakukan dulu.

Khairul Anwar by Khairul Anwar
1 Januari 2023
in Pernak-pernik, Rekomendasi
A A
3
Meneladani Gus Dur

Meneladani Gus Dur

866
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah sosok yang dikagumi banyak orang. Bukan saja karena ia pernah menjadi orang nomor satu negeri ini, tapi lebih kepada bagaimana cara kita meneladani Gus Dur, dengan bagaimana ia bersikap memperlakukan manusia selayaknya manusia.

Banyak yang meneladani Gus Dur karena pemikirannya yang luas, karena kewaliannya, karena gaya hidupnya yang sederhana, dan banyak faktor lagi. Gus Dur memang tokoh yang, meskipun raganya sudah tiada, namanya masih tetap terdengar di mana-mana. Bahkan kampus tempat saya menimba ilmu menggunakan nama KH. Abdurrahman Wahid. Ajib!

Gus Dur dan Menulis

Gus Dur seperti yang saya singgung di awal, adalah pejuang kemanusiaan, yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengayomi masyarakat. Selain sikapnya yang sangat peduli terhadap kaum minoritas, Gus Dur ini juga sosok yang menyukai dunia literasi. Kecintaannya kepada dunia literasi, lebih spesifik membaca dan menulis, telah ia mulai sejak kecil.

Tulisan-tulisan Gus Dur telah banyak termuat di media-media nasional, seperti Tempo dan Kompas. Dalam tulisannya, cucu pendiri NU itu menyoroti berbagai isu yang sedang terjadi, mulai dari politik, agama, kebudayaan dan isu-isu sosial lainnya.

Menurut mendiang Syu’bah Asa, redaktur tempo era itu, Gus Dur adalah penulis yang kelewat rajin. Saking rajinnya, belum sampai satu naskahnya terbit, ia sudah setor naskah lagi. Asal ada ide, Gus Dur menulis. Tempo pun memberikan perhatian khusus kepada Gus Dur. Kala itu Tempo menyediakan satu set meja-kursi dan sebuah mesin ketik khusus untuk suami dari Sinta Nuriyah ini.

Gus Dur dan Sepakbola

Banyak hal ditulis oleh Gus Dur, termasuk isu sepakbola. Nah, ngomongin tentang Gus Dur dan sepak bola bukan mengingat apa yang telah Gus Dur lakukan untuk sepak bola (Indonesia), tapi mengenai seorang individu yang benar-benar gemar sepak bola sebagai suatu permainan.

Permainan sebelas lawan sebelas ini memang Gus Dur minati sejak ia masih kecil. Bahkan bersama ayahnya, KH Wahid Hasyim, Gus Dur beberapa kali bermain bola di belakang rumahnya. Hingga ketika ia beranjak dewasa, Gus Dur mulai menulis segala hal tentang sepakbola.

Tak dapat kita pungkiri, Gus Dur gemar mempelajari, menganalisis, membedah permainan serta kekuatan dan kelemahan tim-tim sepakbola berikut strateginya. Tokoh yang pernah menjabat sebagai ketua umum PBNU ini adalah penggemar sepakbola yang benar-benar tertarik pada hal-hal teknis dari permainan paling beken seantero jagat ini. Kecintaan Gus Dur terhadap sepakbola inilah yang membedakan Gus Dur dengan presiden lainnya yang pernah memimpin republik ini.

Kumpulan-kumpulan tulisan Gus Dur tentang sepakbola bahkan terdokumentasikan dengan rapi dalam sebuah buku. Nah, bagi kalian, kalau ingin bernostalgia dengan Gus Dur sebagai pengamat sepakbola, silahkan baca buku ‘Gus Dur dan Sepakbola: Kumpulan Kolom Gus Dur tentang Sepakbola’ yang diterbitkan penerbit Imtiyaz pada 2014 di Surabaya. Buku ini merupakan kumpulan artikel Gus Dur saat mengulas turnamen Euro 1988, 1992 hingga 1996, maupun saat membahas World Cup 1982, 1986, 1990, 1994, hingga 1998.

Meneladani Gus Dur dengan Menulis dan Menyukai Sepakbola

Banyak cara bisa kita lakukan untuk meneladani Gus Dur. Saya, sebagai seorang yang lahir di kalangan NU, tentu sangat bahagia punya tokoh sekaliber Gus Dur yang ternyata hobi menulis dan juga menyukai sepakbola. Tidak hanya menyukainya saja, seperti penonton biasa, tapi Gus Dur jago menganalisis pertandingan sepakbola itu sendiri.

Saya kira, cara paling sederhana untuk meneladani Gus Dur adalah dengan menulis dan menyukai sepakbola. Dua hal ini identik banget sama Gus Dur. Ini hanya pendapat saya saja. Tentu, saya tidak akan memaksa orang untuk menulis atau menyukai sepakbola, agar disebut telah meneladani Gus Dur. Pasalnya, setiap individu punya identitas dan karakter masing-masing.

Jika ada seseorang tidak menulis dan tidak menyukai sepakbola, bukan berarti ia tak meneladani Gus Dur. Bisa jadi, mereka punya cara lain untuk mengekspresikan dirinya sebagai pengagum sosok Gus Dur.

Gus Dur sendiri adalah tokoh yang multidimensi, dengan memiliki banyak kelebihan dan kesukaan. Dia gemar dalam belajar, sederhana, berani, humoris, berjiwa sosial tinggi, dan lain sebagainya. Kita mungkin tak akan pernah bisa sepenuhnya seratus persen mengikuti apa-apa yang pernah Gus Dur lakukan.

Pengagum Gus Dur

K.H Mustofa Bisri, saat penutupan Temu Nasional (Tunas) Jaringan Gusdurian di  Asrama Haji Surabaya, 16 Agustus 2022, menyebutkan bahwa seorang pengikut Gus Dur perlu meneladani beberapa hal yang dilakukan sahabat karibnya itu. Pertama, rahmah atau kasih sayang. Kedua, kemanusiaan. Ketiga, rajin membaca dan belajar. Keempat, istiqamah. Kelima, berani.

Pengagum Gus Dur, menurut saya, dapat mengimplementasikan kelima hal tersebut, tapi bisa juga hanya salah satu atau salah dua. Seperti yang saya bilang tadi, akan sangat sulit meniru bahkan menyamai sikap dan juga akhlak Gus Dur sepenuhnya. Kita hanya bisa melakukan secuil dari segala hal yang ada pada benak Gus Dur. Istiqomah menulis dan menonton sepakbola, misalnya.

Istiqamah menulis, menurut saya adalah bagian dari pembelajaran. Dari menulis kita akhirnya mau tak mau harus membaca. Dan ini Gus Dur banget. Saya yang kualitas tulisannya sangat di bawah Gus Dur, hanya bisa mencoba untuk rutin menulis. Minimal satu minggu satu tulisan berbentuk esai atau opini. Tentu ini tidak mudah. Tapi, saya coba untuk terus melakukannya.

Selain menulis, sepakbola adalah sebuah hal yang saya gemari, meski bukan sebagai pemain. Sejak kecil saya memang menikmati tontonan olahraga ini baik di layar kaca atau di stadion. Perpaduan suka menulis dan suka sepakbola itulah yang pada akhirnya membuat saya dapat melahirkan tulisan-tulisan bertema sepakbola, mirip seperti apa yang dilakukan Gus Dur dulu. Bedanya, jika Gus Dur menulis sepakbola dari banyak perspektif dan analisisnya sangat tajam, saya tidak.

Begitulah cara sederhana saya meneladani sosok Gus Dur. Saya bukan orang yang berjiwa sosial tinggi atau orang yang hobi membela hak-hak kaum minoritas. Saya hanya mencoba rutin menulis, apa pun itu. Dan tak lupa, saya tetap menonton sepakbola sebagai bagian dari kehidupan yang fana ini.

By the way, bicara tentang Gus Dur saya jadi teringat kalau bulan ini adalah haul Gus Dur yang ke-13. Sebaiknya mari kita beri hadiah Al-fatihah untuk tokoh panutan kita semua. Al-fatihah. []

 

Tags: 9 Nilai Gus Durbulan gus durhaul gus durmenulisSepakbolateladan gus dur

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Khairul Anwar

Khairul Anwar

Dosen, penulis, dan aktivis media tinggal di Pekalongan. Saat ini aktif di ISNU, LTNNU Kab. Pekalongan, GP Ansor, Gusdurian serta kontributor NU Online Jateng. Bisa diajak ngopi via ig @anwarkhairul17

Related Posts

Haul Gus Dur
Publik

Membaca Nilai Asasi Agama dari Peringatan Haul Gus Dur dan Natal

29 Desember 2025
Isu Disabilitas
Aktual

Zahra Amin: Mari Menulis dan Membumikan Isu Disabilitas

25 Oktober 2025
Gus Dur dengan Rakyat Papua
Publik

Melihat Matahari Terbit di Timur Indonesia: Dialog Gus Dur dengan Rakyat Papua

12 September 2025
Indonesia Rumah Bersama
Pernak-pernik

Gus Dur Mengajarkan Indonesia Rumah Bersama

4 September 2025
Sejarah Ulama Perempuan
Aktual

Menulis Ulang Sejarah Ulama Perempuan: Samia Kotele Usung Penelitian Relasional, Bukan Ekstraktif

9 Januari 2026
Menulis
Pernak-pernik

Menulis, Sebuah Pilihan Bagi Kita yang Bukan Anak Raja atau Anak Ulama Besar

21 Februari 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Aku Jalak Bukan Jablay

    Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Islam Mengakui Kerja Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Pahala Ganda bagi Perempuan yang Menanggung Ekonomi Keluarga
  • Broken Strings: Bersuara Tak Selalu Menyembuhkan, Tapi Diam-diam Menyakitkan
  • Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama
  • Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya
  • Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0