Selasa, 3 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    Aurat sebagai Kerentanan

    Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    Aurat sebagai Kerentanan

    Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Cerpen; Rumahku Surgaku

Mubadalah by Mubadalah
14 November 2022
in Sastra
A A
0
Cerpen; Rumahku Surgaku

Cerpen; Rumahku Surgaku

35
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.Id- Salah satu cerpen terbaik adalah yang berjudul Rumahku Surgaku. Dalam cerpen Rumahku Surgaku bercerita tentang rumah, yang seharusnya menjadi surga bagi seseorang. Berikut versi lengkap cerpen; rumahku surgaku.

Be it ever so humble, it’s more than just a place.
It’s also an idea—one where the heart is.

(Verlyn Klinkenborg)

Kuningan, 23 Desember 2011

Matahari belum lagi sempurna pancarkan sinarnya. Sementara, penghancuran telah sempurna berlangsung di rumah saya. Ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga dan juga ruang kerja, tak lagi pantas disebut ruang tamu. Tak ada titik yang tersisa bagi tamu macam apa pun untuk duduk. Aneka mainan terserak berantakan memenuhi seluruh ruang.

Gadis cantik berambut pirang teronggok begitu saja tanpa tangan dan kaki. Ada juga gadis dengan tubuh semampai tergeletak di sisi televisi tanpa kepala. Tubuh gadis lain terjuntai di atas ranjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Tetapi, kaki gadis itu tinggal satu.

Genangan air dengan warna beraneka akibat campuran cat warna, lipstik, bedak, dan juga bubuk pacar tersebar membuat becek ruang tamu hingga dapur. Kertas gambar, kertas tisu, dan sobekan-sobekan kertas koran berserakan di antara kereta dan mobil-mobilan.

Pagi ini rumah kami seperti diterjang badai topan. Aneka barang dan perabotan terserak berantakan. Boneka-boneka barbie dengan gaya rambut dan warna kulit beraneka terserak di mana-mana dengan tubuh yang nyaris semuanya tidak utuh.

Malam tadi, Aisyi, cucu saya nginap di rumah kami. Usianya baru tujuh tahun. Tubuhnya mungil. Gerak-geriknya lincah. Ia jadi kawan bermain yang paling akur untuk anak saya, Hagia, yang berusia lima tahun. Meski usianya lebih tua, Aisyi manggil anak saya dengan panggilan bibi, “bibi kecil”. Ya, seperti itulah tradisi kami, orang Sunda, mungkin juga suku-suku lain di Indonesia.

Begitu saja, saat seorang bayi dilahirkan, ia telah menjadi ayah, juga sekaligus kakek, paman, dan lain-lain. Aisyi manggil saya “aki” karena neneknya adalah kakak saya. Maka, ia manggil Hagia “bibi”. Kadang-kadang saya merasa risih ketika orang yang berumur jauh lebih tua bersalaman dan mencium tangan saya, semata-mata karena bapak atau ibunya adalah adik bapak atau ibu saya.

Karena sudah lama mentradisi, sering kali saya berjumpa orang yang saat bersalaman ingin agar tangannya dicium. Mencium tangan saat bersalaman menandakan penghormatan, penghargaan, ketundukan, ketaatan, dan lain-lain. Karena itulah kita sering melihat orang yang dicium tangannya saat bersalaman menunjukkan pandangan yang bangga—karena dirinya merasa terhormat.

Aisyi, cucu saya itu, berlibur di kampung kami, di rumah neneknya, kakak perempuan saya. Pagi-pagi, Hagia telah bermain bersama Aisyi di ruang tamu, kamar tidur, hingga dapur dan kamar mandi. Semua ruang yang kering dan datar mereka jelajahi. Bekas-bekas permainan tadi malam belum lagi diberesi.

Pagi ini, kehancuran menjadi-jadi. Anteng bermain, tiba-tiba seekor burung Gereja, yang tampaknya masih sedang belajar terbang, masuk ruang tamu kami dari pintu depan yang terbuka. Meski berumah di atas masjid atau di atas rumah naib, mereka tetap disebut burung gereja.

Terbang mengitari ruang beberapa saat, burung itu sadar, ia tersesat. Ia sadar, ini bukan rumahnya. Ini bukan tempatnya sehingga ia berusaha mencari lubang keluar. Beberapa kali ia nabrak kaca jendela—dikiranya lubang besar tanpa penghalang.

Ilusi. Aisyi dan Hagia, yang melihat burung itu masuk ruangan, bergegas menutup pintu depan sehingga burung itu terjebak di dalam. Meski rumah saya ini jauh lebih besar dari sarangnya, burung itu merasa ia tak layak dan tak semestinya berada di sini. Ia tidak betah berada di rumah kami.

Kini, gerak dan lintasan terbangnya terlihat semakin panik. Tabrak sana tabrak sini. Aisyi dan Hagia teriak-teriak mengejar burung itu. Keduanya lalu memanggil seraya menarik tangan saya.

“Akiiii… itu ada burung masuk….” teriak Aisyi.

“Iya, aki tahu,” huh… rada berat nyebut diri sendiri “aki” meski telah banyak rambut kelabu tumbuh di kepala saya.

“Paa… tangkap burungnya…” timpal Hagia.

Bagi anak kecil, burung adalah barang langka yang lucu dan menarik untuk dijadikan mainan, sama halnya ketika mereka melihat ikan-ikan kecil, atau mempermainkan kumang. Mereka ingin agar burung gereja yang tersesat itu ditangkap.

Saya bergegas mengejar burung itu. Saya berusaha memojokkannya di sudut ruang, juga di daun jendela, antara kaca dan tirai. Akhirnya, setelah beberapa lama, burung itu terpojok di bawah lemari pakaian. Saya berhasil menangkapnya, lalu membuka pintu dan berniat melepaskannya.

Tetapi kedua gadis kecil itu berteriak melarang. Mereka ingin menjamah, menyentuh, bermain-main dengan burung itu. Akhirnya, saya letakkan burung itu pada sebuah tempat sampah berongga. Bagian atas tempat sampah itu saya tutup dengan plastik transparan sehingga anak-anak bisa bermain-main dengan burung itu. Mereka memberinya beras, nasi, juga secangkir air.

Meski sarang itu dipenuhi makanan dan minuman, burung itu tak pernah diam. Ia tak mau mematuki beras yang terserak. Ia berusaha mencari jalan keluar. Ia ingin lari melepaskan diri dari sarang yang sarat makanan.

“Pa, kenapa burung itu tidak mau makan?”

“Tidak tahu, mungkin ia merasa tidak betah meskipun banyak makanan di sini. Ini bukan rumahnya, dan Gia bukan ibunya.”

“Ya udah, biarin aja, nanti juga kalau kelaparan, dia makan,” ujar Gia sambil berlalu meninggalkan tempat sampah yang jadi sangkar burung.

Puas mempermainkan burung itu, anak-anak kembali pada permainan awal, boneka barbie. Burung malang itu loncat dan terbang dalam tabung kecil tempat sampah tertutup plastik transparan. Kasihan melihat burung itu, saya berkata kepada anak-anak, “Gia, Aisyi, burungnya dilepas saja ya …”

“Jangan!!” keduanya teriak serempak sambil berlari mendekati.

“Tapi, kasian burung itu masih kecil. Ibu-bapaknya pasti sedih nyariin dia,” saya mencoba membujuk.

“Ya udah, tangkep aja ibu-bapaknya, jadi gak ada yang sedih…” Hagia berujar kalem.

Saya tersenyum dengar ujarannya, juga terhenyak hingga tak bisa berkata apa-apa. Saya merasa, jawaban anak saya itu sangat logis. Mungkin jika burung ini hidup bersama ibu dan bapaknya, ia mau makan beras atau biji-bijian lain yang diberikan anak-anak. Cukup lama burung itu dibiarkan loncat-loncat di dalam sangkar-dari-tempat-sampah.

Akhirnya, setelah membujuk cukup lama, mereka mau melepaskan burung itu. Bersama-sama kami melepasnya ke alam bebas. Burung itu terbang bebas, mengitari pucuk pohon mangga, hinggap di salah satu rantingnya, lalu terbang lagi.

Mungkin dia harus terbang jauh, atau berebut dengan burung lain untuk mendapatkan satu atau dua biji beras atau seekor ulat, tidak seperti di tempat sampah kami yang penuh biji beras. Meski begitu, ia senang karena dapat terbang bebas. Ia senang meski sarangnya kecil dan basah di saat hujan.

Rumah, sejatinya, meski kecil, jelek, dan sempit, akan selalu menjadi tempat yang paling dirindukan. Meki kita mengembara jauh, melintasi ribuan kilometer, menyeberangi samudera, dan menyambangi tempat-tempat yang jauh lebih indah, hati kita akan selalu terpaut ke rumah.

Meskipun kita menginap beberapa malam atau pekan di sebuah kamar presidential hotel bintang enam dengan segala kelengkapan dan fasilitasnya yang supermewah, kita akan selalu merindukan tidur di rumah kita sendiri. Sejatinya, seperti itulah makna rumah: tempat kita mendapatkan ketenangan, kedamaian, dan kesenangan. Mungkin karena itulah Rasulullah Saw. pernah bilang bahwa rumahnya adalah surganya (baytî jannatî).

Padahal, rumah Rasulullah dan keluarga beliau (menurut riwayat) sangatlah sederhana, kecil, dan sempit. Mungkin keadaannya seperti rumah-rumah bedeng yang dokontrakkan, atau kos-kosan. Beberapa kotak seukuran kurang lebih 3 X 6 meter berderet di samping Masjid Nabawi.

Rumah yang paling dekat dan berdampingan dengan Masjid adalah rumah Aisyah r.a. Perabotannya pun sangat jauh dari lengkap. Hanya ada perlengkapan masak, perangkat untuk makan, dan perlengkapan tidur. Ranjang Nabi saw. hanya dialasi anyaman pelepah kurma sehingga ketika bangun tidur, tampak bekas-bekas anyaman itu pada pipi dan bagian tubuh beliau yang lain. Keadaan itulah yang pernah membuat Umar ibn al-Khatthab menangis.

Namun, Rasulullah Saw. dengan bangga menyebut rumah beliau sebagai surga. Sebab, rumah semestinya menjadi tempat ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan. Bahkan, pada beberapa orang, rumah juga menjadi sumber kesehatan.

Sebagai contoh, dalam bahasa Inggris dikenal istilah “homesick”, yang berarti keadaan seseorang yang tidak nyaman, tidak tenang, tidak betah, karena berada di tempat yang bukan rumahnya. Situasi psikologis itu kerap terwujud dalam bentuk sakit fisikal, seperti sakit perut, sakit kepala, dan lain-lain.

Mungkin karena itulah dalam bahasa Arab rumah disebut “maskan”. Kata maskan merupakan ism makân (kata benda menunjukkan tempat) yang berasal dari kata kerja sakana-yaskunu yang berarti merasa tenang dan nyaman.

Dengan demikian, seharusnya rumah menjadi sumber ketenangan bagi para penghuninya. Meskipun sangat sederhana, kecil, dan semmpit, rumah selalu menjadi pilihan kita untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan. Ada satu ayat Alquran yang sering dikutip dalam khutbah nikah dan ceramah tentang pernikahan, yaitu surah al-Rûm ayat 21:

Dan di antara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah Dia menciptakan dari diri (jenis) kalian pasangan untuk kalian supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih (mawaddah) dan rasa sayang (rahmah).

Sungguh dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpikir. Dalam surah al-Nahl ayat 80, Allah berfirman, “Dan Allah menjadikan dari rumah-rumah kalian (buyûtikum) sebagai tempat tinggal (sakanâ)”. Ayat itu, dengan kata lain, menunjukkan bahwa ada pula rumah (bayt) yang tidak menjadi tempat tinggal (sakanâ), atau tempat ketenangan. Banyak pula rumah yang menjadi sumber kemarahan, konflik, dan pertengkaran.

Ibn Katsir, dalam kitab tafsirnya, mengatakan, “Allah ta’ala menyebutkan kesempurnaan nikmat-Nya atas hamba-Nya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung, dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat.”

Jadi, tujuan adanya pasangan dan hidup berpasangan adalah untuk mendapatkan dan meraih ketenangan. Jika setelah menikah dan berrumah tangga kita justru kehilangan rasa tenang dan damai, berarti ada yang keliru dalam pernikahan itu. Bisa jadi, modal yang telah dinaugerahkan oleh Allah berupa mawaddah dan rahmah telah hilang atau berkurang sehingga sakînah tak kita rasakan.

Maka, agar kita kembali mendapatkan sakinah, kita harus berusaha menumbuhkan dan menjaga mawaddah serta rahmah agar tidak menipis, berkurang, apalagi menghilang. Tanpa mawaddah dan rahmah, bukan sakînah yang akan kita dapatkan, melainkan saqîmah, yang berarti derita, rasa sakit, atau kepedihan.

Persis seperti burung yang saya tangkap dan disimpan di sangkar dari tempat sampah. Meski berlimpah makanan dan minuman, juga aman dari angin atau hujan badai, burung itu terus mencari jalan keluar agar terbebas dari kurungan yang bukan rumahnya.

Demikian bunyi cerpen; rumahku surgaku. Semoga cerpen rumahku surgaku bermanfaat. (Baca juga: Cerpen Cinta Perlu Dijaga)

Tags: keluargapasanganRumahku syurgakuSuami istr
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Sahabat Perempuan di Sekitar Nabi

Next Post

Kepemimpinan Perempuan pada Era Sultanah di Aceh

Mubadalah

Mubadalah

Portal Informasi Popular tentang relasi antara perempuan dan laki-laki yang mengarah pada kebahagiaan dan kesalingan dalam perspektif Islam.

Related Posts

Bapak Rumah Tangga
Keluarga

Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?

27 Februari 2026
Mendidik Rasa Aman
Keluarga

Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

25 Februari 2026
Perspektif Mubadalah
Keluarga

Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

23 Februari 2026
Child Protection
Keluarga

Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

22 Februari 2026
Anas Fauzie
Keluarga

Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

15 Februari 2026
Visi Keluarga
Pernak-pernik

Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

13 Februari 2026
Next Post
Kepemimpinan Perempuan

Kepemimpinan Perempuan pada Era Sultanah di Aceh

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan
  • Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!
  • Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19
  • Antara Perintis dan Pewaris: Dualisme di Panggung Kabuki dalam Film Kokuho (2025)
  • Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0