Selasa, 27 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Fenomena Eldest Daughter Syndrome dalam Drakor When Life Gives You Tangerines, Mungkinkah Kamu Salah Satunya?

Anak sulung perempuan yang memiliki ibu sebagai anak pertama, rentan menanggung beban trauma antar generasi.

Rezha Rizqy Novitasary by Rezha Rizqy Novitasary
17 Juli 2025
in Personal
0
eldest daughter syndrome

eldest daughter syndrome

1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam drakor When Life Gives You Tangerines, fenomena eldest daughter syndrome diangkat dengan apik. Tokoh utama, Aesun, adalah putri sulung perempuan penyelam atau Hanyeo. Saat Aesun kecil kembali hidup dengan ibunya, ia membantu hampir semua pekerjaan rumah.

Begitu pula saat ibunya meninggal. Aesun kecil berkali-kali berniat keluar dari rumah ayah tirinya untuk mengejar mimpi. Tapi rasa ketidaktegaan melihat adik-adiknya yang masih kecil serta bujukan dari ayah tirinya menggagalkan niat baiknya.

Aesun kecil memasakkan makanan untuk keluarga itu. Menyuapi kedua adiknya sebelum atau bersamaan dengan waktu makannya. Ia juga merawat kebun kubis sebagai sumber penghasilan keluarga. Ia tumbuh remaja hingga dewasa dengan beban yang selalu ada di pundaknya.

Setelah menikah, anak pertama perempuan Aesun, Yang Geum Young, juga tumbuh dengan melihat ibunya yang selalu mengalahkan dirinya sendiri demi orang lain. Geum Young menuangkan kuah sisa soup yang tersisa ke dalam mangkoknya setelah membaginya kepada calon suami, mertua, dan orang tuanya. Persis seperti yang dilakukan Aesun muda ketika ia hanya mendapat kuah sop setelah membagikan isinya kepada seluruh anggota keluarga.

Lelah Menjadi Anak Pertama

Suatu kali ketika orang tua Geum Young tertimpa masalah keuangan, ia berinisiatif mencari pinjaman untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebagai anak pertama, Geum Myoung merasa punya beban lebih untuk membantu keluarganya. Namun, bukannya merasa lega setelah membantu, Geum Myoung justru mengeluarkan tumpukan gunung es emosi yang selama ini ia pendam.

Ia merasa lelah menjadi anak pertama. Ia merasa terbeban dengan sebutan pilar keluarga dan naga dari sungai. Ia muak dengan semua sebutan tersebut. Ia menyadari ibunya tulus memberi apapun yang ia inginkan, namun diam-diam ia memendam rasa bersalah sebab telah membuat orang tuanya kehilangan rumah demi keinginannya kuliah di luar negeri.

Scene tersebut tentu amat mudah dipahami oleh kita yang berstatus anak sulung perempuan. Ketika ada hal sulit yang dihadapi keluarga, segera kita memutar otak, mencari cara untuk menyelamatkan keluarga. Kita mengerahkan segala yang kita miliki asal keluarga kita selamat. Namun, begitu masalah terlewati, tiba-tiba kita merasa lelah dan sedih.

Apa itu Eldest Daughter Syndrome?

Melansir dari artikel Eldest Daughter Syndrome: The Invisible Load No One Talks About, Eldest Daughter Sindrome merujuk pada beban tak kasat mata yang tertanggung oleh anak pertama perempuan. Meski terasa tak adil, memang kebanyakan anak sulung perempuan menanggung beban yang lebih berat dari adik-adiknya yang lain.

Hal ini salah satunya penyebabnya karena pola pengasuhan di masa kanak-kanak. Umumnya anak sulung perempuan mendapat tugas lebih dari orang tuanya. Ia diminta menjaga adik-adiknya dan berupaya membantu ibunya mengerjakan tugas domestik.

Anak sulung perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap adik-adiknya. Ia merasa harus jadi contoh yang baik, tidak boleh gagal, dan harus mencapai cita-citanya. Ia juga selalu memaksa diri sendiri untuk mengalah dalam perdebatan kecil maupun pertengkaran besar sebab ia lebih tua. Dan memang itulah yang dunia ajarkankepadanya.

Pada keluarga yang mengalami disfungsi fisik atau psikis, seringkali seorang ibu membagi bebannya kepada anak sulung perempuan. Ibu menganggap putri sulungnya sebagai teman dekat yang bisa jadi tempat berbagi beban domestik yang ia tanggung.

Kondisi lingkungan yang ia hadapi mendidiknya menjadi pribadi yang selalu menuntut diri sendiri untuk melakukan sesuatu untuk orang lain. Bahkan jika itu mengorbankan kepentingannya sendiri.

Pengalaman Serupa sebagai Anak Sulung Perempuan

Saya pun pernah mengalami pengalaman serupa. Saat keluarga mengalami masalah finansial, sebagai kakak perempuan pertama yang saat itu sudah bekerja, spontan saya merasa perlu mengambil alih tanggung jawab biaya sekolah adik-adik saya.

Tentu ini tidak menjadi masalah besar sebab saya hanya perlu mengorbankan sedikit tabungan demi pendidikan adik saya. Namun, pola mengambil tanggung jawab lebih ini terbawa hingga saya menjalani hidup dan kegagalan di fase berikutnya.

Saat relasi romantis gagal dan kucing kesayangan mati, saya sibuk menyalahkan diri sendiri. Suara-suara di kepala saya berandai-andai, jika saja saya tak memilih langkah kemarin mungkin kucing saya masih selamat. Jika saya berusaha lebih keras mungkin hasilnya akan berbeda.

Karena berlangsung amat lama dan menganggu aktivitas sehari-hari, saya memutuskan mengunjungi psikolog. Setelah ngobrol panjang lebar termasuk riwayat dan latar belakang keluarga, psikolog menemukan pola yang sama pada diri saya.

Saya memiliki kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri saat semuanya tidak terjadi sesuai yang diharapkan. Hal ini salah satunya berdasarkan karena peran saya sebagai anak sulung perempuan di keluarga. Saya terbiasa memiliki tanggung jawab lebih banyak daripada saudara yang lain.

Padahal ada banyak sekali hal di luar kendali kita. Merawat hubungan pun juga butuh tanggung jawab kedua belah pihak. Dan jika semuanya berakhir berbeda dengan yang kita harapkan, itu tidak berarti bahwa kita gagal.

Meskipun benang merahnya ketemu, tak lantas saya benar-benar bisa mentas dari pergumulan batin yang saya alami. Perlu latihan kesadaran lebih banyak sembari belajar melepas sesuatu yang di luar kendali kita. Serta menyadari bahwa tidak semua masalah itu menjadi tanggung jawab kita.

Intergenerational Trauma

Selain berpotensi menanggung beban yang lebih berat, anak sulung perempuan yang memiliki ibu sebagai anak pertama juga rentan menanggung beban trauma antar generasi.

Trauma dari ibu sebagai anak pertama perempuan yang memiliki luka pengasuhan dapat dengan mudahnya terwariskan kepada anak pertama perempuan. Jika ibu pernah mengalami kekerasan verbal, fisik, maupun pengabaian emosi secara tidak sadar ia akan mengulang pola yang sama saat mengasuh anaknya.

Selain itu, ibu yang tumbuh dalam keluarga patriarki dan selalu meminggirkan perempuan juga cenderung menjadi contoh utama bagi anak perempuannya. Bagaimana tidak, dengan mata kepalanya sendiri, anak perempuan merekam bagaimana cara ibunya memprioritaskan orang lain dan menomorduakan diri dia sendiri.

Akhirnya ia akan tumbuh dengan keyakinan untuk bisa diterima ia harus siap kehilangan diri sendiri. Baginya menjadi perempuan dewasa artinya selalu mengorbankan diri demi orang lain.

Memiliki trauma yang terwariskan dari ibu sebagai anak pertama perempuan tentu bukan salah kita. Namun, mengelola trauma dan menyembuhkan diri dari pengulangan rasa yang sama adalah tanggung jawab kita. []

Tags: Anak Pertamabeban gandaDrama Koreaeldest daughter syndromekeluargaRelasiWhen Life Gives You Tangerines

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Rezha Rizqy Novitasary

Rezha Rizqy Novitasary

Guru Biologi SMA, tertarik dengan isu perempuan dan kesetaraan gender. Rezha merupakan peserta Kepenulisan Puan Menulis Vol. 1.

Related Posts

Tadarus Subuh
Keluarga

Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

27 Januari 2026
Relasi tidak Sehat
Keluarga

Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

25 Januari 2026
Dialog Lintas Iman
Publik

Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

23 Januari 2026
Skincare
Keluarga

Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

23 Januari 2026
Nyadran Perdamaian 2026
Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

22 Januari 2026
Ketaatan Istri pada Suami
Keluarga

Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

20 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mitos Menopause, Menikah Bukan Hanya tentang Masalah Seksual

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kerja Perempuan Bernilai Sedekah
  • Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam
  • Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID