Jumat, 12 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    Kondom

    Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS

    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    Kondom

    Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS

    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Filosofi Pendidikan ala Ki Hajar Dewantara

Dalam konsepsi Ki Hajar, pendidikan harusnya seperti taman bermain yang mengasikkan, untuk melatih jelajah eksplorasi dengan belajar sambil bermain

Ali Yazid Hamdani by Ali Yazid Hamdani
7 November 2023
in Featured, Figur
A A
0
Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara

20
SHARES
992
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id –  Ki Hajar Dewantara merupakan tokoh besar yang tersohor dengan gagasan-gagasannya dalam bidang pendidikan. Akhirnya beliau pun membangun sekolah-sekolah demi mewujudkan cita adiluhung dari gagasannya yang unik dan nyentrik.

Konteks historis pendirian sekolah yang Ki Hajar inisiasi adalah upaya memperluas pendidikan dan pengajaran, sebab sekolah yang pemerintah Belanda sediakan juga sangat terbatas. Tidak hanya itu, tapi bagaimana pendidikan menjadi wadah untuk memupuk patriotisme dan nasionalisme dengan spirit anti-kolonial.

Bahkan sejak ia terpilih sebagai menteri pendidikan pertama dalam kabinet Soekarno, beberapa bulan setelah proklamasi kemerdekaan, ia mengeluarkan instruksi umum yang isinya berupa “seruan kepada guru agar membuang sistem pendidikan kolonial dan mengutamakan patriotisme. Dan anak yang berusia 8 tahun wajib memperoleh pendidikan sekolah dasar”.

Semangat antikolonialisme setelah lepas dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang terejawantah dalam spirit membangun sosialisme sebagaimana Soekarno cita-citakan, termasuk dalam pendidikan. Tidak ada halangan bagi mereka yang kesulitan secara ekonomi untuk menikmati bangku perkuliahan atau sekolah. Sebab segala bentuk diskriminasi tidak jauh berbeda dengan tindakan penjajah.

Dengan kata lain, wacana-wacana pendidikan Ki Hajar beserta implementasinya merupakan wacana tandingan, sekolah perlawanan atau kritik atas pendidikan-pendidikan khas kolonial model pendidikan yang hanya untuk merogoh keuntungan semata untuk direkrut menjadi pegawainya di kemudian hari.

Keunikan di Balik Kata Taman

Sangat menarik dan perlu kita garisbawahi di sini bahwa Ki Hajar memberikan nama sekolah yang dia bangun menggunakan kata “taman”. Mulai dari jenjang usia anak dini-nya dengan nama Taman Kanak-kanak (TK), untuk setingkat SD bernama Taman Muda, yang setara SMP bernama dengan Taman Dewasa, dan untuk tingkat SMA bernama Taman Madya. Sementara untuk tingkat perguruan tinggi bernama Taman Guru (Sarjana Wiyata).

Berbeda halnya dengan sekolah-sekolah sekarang, istilah taman hanya untuk pendidikan usia anak-anak, tapi untuk tingkatan selanjutnya tidak lagi menggunakannya. Pemakaian istilah taman di sini berkonotasi pada keindahan, kegembiraan, alamiah, dan memperoleh kebebasan bermain dalam memilih permainan.

Maksud dari kata ‘taman’ di sini memberikan hak istimewa kepada anak dalam bermain sesuai keinginannya. Sementara tugas dan tanggungjawab orang tua hanya untuk mengawasi dan mengarahkan anak agar tidak melakukan permainan dan tindakan yang berbahaya. Dengan kata lain, anak bebas melakukan dan bermain apa saja sesuai kehendaknya. Sementara orang tua membiarkan anak seraya mengawasi keselamatan dan memberikan arahan-arahan berupa hal-hal yang berpotensi mencederai dirinya.

Gagasan ini sama persis dengan  konsep pendidikan Shantiniketan yang Tagore dirikan di India. Dan mengembangkan konsep-konsep pendidikan dari Maria Montessori, seorang pemikir pendidikan yang berasal dari Italia. (Toto Raharjo, p. 6) Mereka mencita-citakan sekolah seperti halnya taman bermain yang asyik dan menawarkan keindahan. Bukan terjejali kemumetan layaknya sebuah penjara yang menjemukan dan tidak membebaskan. Belajar bukan lagi karena paksaan, tapi benar-benar murni karena keinginan dan kesadaran.

Merdeka Belajar cum Belajar Merdeka

Ki Hajar Dewantara menggaungkan kemerdekaan dalam belajar anak, sehingga peran guru hanya seperti halnya menjadi fasilitator, yang memperhatikan segala apa yang dapat dikembangkan dari anak didiknya. Mana yang harus didorong dan mana  yang mesti dikuatkan. Sehingga sang anak diarahkan menjadi dirinya sendiri dengan berkembang sesuai bakat dan minatnya masing-masing. Maka dari itu, kata Ki Hajar untuk bisa merdeka belajar, maka perlu belajar merdeka.

Terdapat sebuah tulisan menarik dari Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto beberapa waktu lalu, yang sangat menarik untuk kita cermati. Untuk membaca ini, tentu saja harus menggunakan akal pikiran yang jernih dan hati yang tenang sebagai pra-syaratnya.

Pernah tidak kita mempertanyakan mengapa Ki Hajar disebut dengan Bapak Pendidikan Indonesia? Apa lantaran pernah menjabat menteri pendidikan yang pertama? Atau memang murni karena gagasan fenomenalnya? Intinya ia hendak mengetengahkan siapa sih sebenarnya bapak pendidikan nasional kita? Kira-kira begitu pertanyaan menggelitiknya.

Sejujurnya tulisan tersebut kuat akan sindiran, yaitu Ki Hajar Dewantara itu sebenarnya bukan bapak pendidikan nasional kita. Sebab gagasan fenomenal yang Ki Hajar kenalkan sama sekali tidak tergubris Pemerintah Republik Indonesia dari rezim ke rezim.

Prinsip taman siswa secara jujur hanya sampai dalam pidato-pidato, tapi kenyataannya tidak pernah menjadi indikator penting dalam perencanaan serta pelaksanaan pendidikan nasional kita, bahkan kurikulum pendidikan taman siswa tidak pernah menjadi basis dalam sistem pedagogi kita.

Kita hanya lebih senang mengunggul-unggulkan simbol tapi gagap pada substansi. Ki Hajar kita agung-agungkan sebagai bapak pendidikan, tapi di saat yang sama, Taman Siswa sendiri hidup tak mau, dan matipun enggan.

Seharusnya secara realistis gelar bapak pendidikan kita berikan kepada Daendels. Sebab dia lah penguasa di Nusantara yang menciptakan sistem sekolah rakyat. Sekolah yang menjadi cikal bakal dari sekolah yang dia bangun kali pertama dengan nama “Sekolah Ronggeng”, yang memadukan sistem pendidikan Barat dengan sistem pendidikan Timur di mana anak didik dikenalkan pada lingkungannya dengan melek huruf.

Momong, Among, Ngemong

Ini juga perlu kita catat tebal-tebal bahwa gagasan-gagasan pendidikan Ki Hajar berpijak pada sistem pendidikan progresif yang menjadikan anak berkembang sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Ki Hajar menyebutnya dengan sistem Among, yang terdiri atas “Momong”; merawat dengan penuh kasih sayang dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik.

”Among”; memberi contoh baik dan buruk tanpa mengambil hak anak. Dan “Ngemong”; menjaga dan mengamati anak agar mampu mengembangkan diri, bertanggungjawab, dan disiplin berdasarkan nilai-nilai yang mereka miliki sesuai kodratnya masing-masing. Singkatnya mengoptimalkan potensi anak agar potensinya terealisasi.

Seperti halnya Tagore, bagi Ki Hajar pendidikan bukan sekedar transfer informasi dan kristalisasi pengetahuan semata. Tapi juga harus bisa meningkatkan daya cipta / ngerti (kognitif), daya rasa / ngrasa (afektif), dan daya karsa / nglakoni (psikomotorik), yang nantinya akan membuahkan manusia yang humanis dan berbudaya, yang bangga dengan identitasnya dengan menjadi diri-nya sendiri dengan ragam keunikan dan keistimewaan yang mereka miliki.

Oleh karena itu, dalam konsepsi Ki Hajar, pendidikan harusnya seperti taman bermain yang mengasikkan, untuk melatih jelajah eksplorasi dengan belajar sambil bermain, menumbuh-kembangkan potensi-potensi yang mereka miliki secara optimal sesuai kodrat (minat)nya masing-masing. Sebab bagi Ki Hajar “Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanya guru yang tidak tahu cara mengajar.” Wallahu a’lam bi al-shawab. []

Tags: guruKi Hajar DewantaraKurikulumMerdeka Belajarpendidikansekolah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Sayyidah Nafisah, Guru Imam Asy-Syafi’i

Next Post

Kenali 5 Ciri Pasangan Manipulatif

Ali Yazid Hamdani

Ali Yazid Hamdani

Ia aktif menulis esai, suka beropini, dan sesekali berpuisi.

Related Posts

Keadilan Hakiki
Publik

Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

11 Juni 2026
Teach You a Lesson
Film

Teach You a Lesson dan Krisis Empati di Dunia Pendidikan

11 Juni 2026
Raden Ayu Lasminingrat
Aktual

Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

25 Mei 2026
Prof. Siti Baroroh Baried
Profil

Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

21 Mei 2026
Nyai Siti Walidah
Profil

Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

21 Mei 2026
Fatimah al-Banjari
Profil

Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

17 Mei 2026
Next Post
Pasangan

Kenali 5 Ciri Pasangan Manipulatif

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS
  • Film Pesta Babi: Saat Pembangunan Merampas Identitas Masyarakat Adat
  • Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS
  • Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi
  • Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0