Mubadalah.id – Pernikahan sering kali kita pahami sebagai momen sakral yang terpenuhi kebahagiaan, senyum, dan janji suci. Namun di balik akad yang singkat, tersimpan makna panjang tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan kesinambungan cinta. Hal inilah yang kerap tersampaikan oleh Penghulu viral, KH Anas Fauzie, dalam wejangan pernikahannya yang sederhana tetapi menghunjam ke relung hati. Gaya tutur yang lembut, jujur, dan penuh empati membuat nasihat beliau tidak hanya kita dengar, tetapi benar-benar kita rasakan.
Wejangan Anas Fauzie bukan sekadar formalitas acara pernikahan. Ia menyuguhkan filosofi mendalam tentang bagaimana pernikahan seharusnya dimaknai: bukan sebagai awal menerima, melainkan awal memberi. Dari sinilah pesan-pesan beliau menjadi viral dan terus dikenang banyak pasangan.
Menyambung Kasih Sayang Orang Tua
Salah satu inti filosofi pernikahan yang paling kuat dalam wejangan Anas Fauzie adalah konsep menyambung kasih sayang. Dalam setiap pernikahan, seorang anak—terutama seorang putri—tidak pernah hidup tanpa cinta. Sejak lahir hingga dewasa, ia dibesarkan dengan kasih sayang orang tua yang nyaris tanpa syarat. Dalam hitungan menit setelah akad, tanggung jawab besar itu berpindah tangan.
Anas Fauzie kerap mengingatkan calon suami bahwa pernikahan bukanlah soal memiliki, tetapi soal melanjutkan cinta. Ia menegaskan bahwa seorang suami diminta untuk meneruskan kasih sayang yang selama ini ayah dan ibu berikan kepada putrinya. Bukan menggantikan, tetapi menyambung dan menjaga agar cinta itu tidak putus.
Filosofi ini mengajarkan bahwa pernikahan adalah amanah, bukan kemenangan. Tidak ada ruang untuk bersikap semena-mena atau merasa paling berhak. Justru di sanalah seorang suami diuji: apakah ia mampu memperlakukan istrinya dengan kelembutan yang sama seperti keluarganya dulu, atau bahkan lebih baik.
Dengan bahasa yang sederhana, wejangan ini menggugah kesadaran bahwa cinta dalam pernikahan tidak lahir dari ego, melainkan dari tanggung jawab. Ketika seorang pasangan menyadari bahwa cinta yang ia terima adalah titipan, maka ia akan lebih berhati-hati dalam bersikap, berbicara, dan mengambil keputusan.
Pernikahan sebagai Amanah, Bukan Sekadar Janji
Akad nikah sering terucapkan dalam satu tarikan napas. Namun maknanya berlaku seumur hidup. Inilah yang menjadi penekanan kuat dalam filosofi pernikahan ala Anas Fauzie. Beliau mengingatkan bahwa pernikahan bukan sekadar janji di hadapan manusia, melainkan amanah di hadapan Allah.
Amanah berarti ada tanggung jawab yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Bukan hanya soal nafkah, tetapi juga soal menjaga perasaan, martabat, dan keselamatan batin pasangan. Pernikahan menuntut kesiapan mental untuk sabar, mengalah, dan memaafkan—hal-hal yang sering kali tidak romantis, tetapi justru paling menentukan keutuhan rumah tangga.
Dalam wejangan beliau, tersirat pesan bahwa cinta sejati dalam pernikahan tidak selalu berbentuk kata manis. Ia hadir dalam kesetiaan saat lelah, dalam kesabaran saat emosi, dan dalam kesanggupan bertahan ketika keadaan tidak sesuai harapan. Pernikahan bukan panggung kebahagiaan tanpa jeda, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen.
Filosofi ini menempatkan pernikahan sebagai proses pendewasaan. Dua pribadi yang sebelumnya berjalan sendiri, kini belajar berjalan bersama. Tidak ada yang sepenuhnya benar, tidak ada yang sepenuhnya menang. Yang ada hanyalah usaha untuk saling menjaga agar amanah itu tidak gugur di tengah jalan.
Doa Orang Tua sebagai Pondasi Rumah Tangga
Bagian paling mengharukan dari wejangan Anas Fauzie adalah ketika beliau mengajak pengantin dan hadirin untuk mengingat orang tua, khususnya ibu. Dalam banyak kesempatan, beliau meminta semua yang hadir menundukkan kepala dan menengadahkan tangan, mendoakan ibu yang telah melahirkan, merawat, dan membesarkan dengan penuh cinta.
Filosofi ini menegaskan bahwa pernikahan yang kokoh tidak hanya berdiri di atas cinta pasangan, tetapi juga di atas doa orang tua. Ridho Allah sangat dekat dengan ridho orang tua, dan keberkahan rumah tangga sering kali berawal dari restu mereka.
Dengan cara yang sederhana namun penuh makna, Anas Fauzie mengingatkan bahwa sehebat apa pun cinta suami istri, ia akan rapuh jika melupakan jasa orang tua. Doa ibu adalah pelindung yang tidak terlihat, penenang saat badai datang, dan penguat saat harapan terasa jauh.
Pesan ini mengajarkan kerendahan hati dalam pernikahan. Bahwa kebahagiaan bukan hasil usaha sendiri semata, melainkan buah dari doa, air mata, dan pengorbanan orang-orang yang mencintai kita sejak awal kehidupan.
Filosofi pernikahan dalam wejangan Penghulu viral Anas Fauzie mengajak setiap pasangan untuk memandang pernikahan secara lebih dalam dan manusiawi. Pernikahan bukan sekadar seremoni, bukan pula sekadar status sosial. Ia adalah amanah, kesinambungan cinta, dan perjalanan spiritual yang panjang.
Melalui kata-kata sederhana, Anas Fauzie mengingatkan bahwa cinta sejati tidak terukur dari seberapa besar rasa memiliki, tetapi dari seberapa kuat kesanggupan menjaga. Dan pada akhirnya, pernikahan yang bahagia bukanlah yang bebas masalah, melainkan yang terpenuhi kesadaran untuk saling menyambung kasih sayang, menjaga amanah, dan tidak pernah melupakan doa orang tua. []













































