Mubadalah.id – Sejak kecil kita diajarkan bahwa buku adalah jendela dunia, dan bahwa dengan membaca buku kita bisa menjadi manusia yang lebih baik. Namun, seorang filsuf Inggris, Francis Bacon, punya pandangan yang cukup pragmatis, tajam, dan sinis mengenai apa yang ia maksud dengan belajar dan membaca.
Dalam esai ringkasnya, ‘Of Studies’, Bacon menilai bahwa membaca bukanlah sekadar aktivitas pasif, melainkan seni pengelolaan diri yang jika salah dosis, justru bisa menjadi racun bagi jiwa.
Menurut Bacon, setidaknya ada tiga keutamaan belajar. Yaitu: untuk kesenangan pribadi (delight), untuk perhiasan dalam percakapan (ornament). Lalu untuk mengasah kemampuan dalam penilaian serta bisnis (ability). Ia mengingatkan bahwa nikmatnya membaca terasa dalam kesendirian. Sementara penggunaanya sebagai ornamen dalam percakapan hanya relevan dalam diskursus sosial.
Terlepas dari itu, Bacon mengatakan bahwa menghabiskan terlalu banyak waktu untuk belajar adalah bentuk kemalasan (sloth). Menggunakan pengetahuan secara berlebihan dalam percakapan hanyalah sebuah kepura-puraan (affectation). Baginya membaca seharusnya tidak kita jadikan sebagai pelarian dari tanggung jawab kita di dunia nyata, juga tidak boleh menjadi alat untuk pamer intelektual (narsistik).
Kritik terhadap Buku
Francis Bacon juga mengkritik mereka yang menjadikan buku sebagai satu-satunya pedoman hidup. Ia menyebut sikap ini sebagai “humor of a scholar” atau kekakuan akademisi. Mengapa? Karena ia tahu bahwa teori yang tertulis di atas kertas sering kali steril dan kaku. Membaca, menurutnya, bukanlah tentang menimbun teori, melainkan tentang dialektika terus-menerus antara teks dan konteks. Antara halaman buku dan kehidupan nyata.
Buku tidak mengajarkan cara bagaimana ia digunakan. Cara menggunakan ilmu hanya ada di luar buku. Ia adalah hal yang hanya bisa terpahami melalui pengalaman langsung.
Ini merupakan tamparan Bacon kepada mereka yang merasa superior hanya karena sudah melahap habis ribuan halaman tetapi gagal menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Menurut Bacon, kebijaksanaan sejati bukanlah apa yang kita baca, melainkan bagaimana kita menerapkan apa yang telah kita baca ke dalam realitas.
Lantas, bagaimana seharusnya sikap seorang pembaca ketika berhadapan dengan teks?
Di era di mana orang sering membaca hanya untuk mencari pembenaran atas opini-opini mereka sendiri, Bacon mengatakan bahwa kita harus membaca. “… Bukan untuk menyangkal dan membantah; tidak juga untuk percaya dan menerima begitu saja; tidak pula untuk mencari bahan obrolan; melainkan untuk menimbang dan mempertimbangkan.”
Bacon meminta agar kita tidak langsung menyerang mereka yang berbeda atau yang tidak tahu hanya karena kita banyak membaca. “Menimbang dan mempertimbangkan” (to weigh and consider) adalah aktivitas yang menuntut pembaca untuk menahan ego dan membiarkan ide-ide bertarung secara adil di dalam benaknya.
Tentu saja, Bacon sadar bahwa tidak semua buku tercipta setara. Ia membagi buku berdasarkan cara kita mencernanya. Ada buku yang cukup “dicicipi” (tasted), ada yang bisa “ditelan” (swallowed), dan hanya sedikit yang harus “dikunyah dan dicerna” (chewed and digested).
Sederhananya, bagi Bacon, beberapa buku hanya perlu kita baca sebagian, yang lain bisa terbaca utuh namun tanpa rasa ingin tahu yang dalam. Sementara buku-buku terbaik menuntut ketekunan dan perhatian penuh.
Lebih dari itu, Bacon bahkan menyebutkan bahwa beberapa buku bisa terbaca lewat ringkasan orang lain. Meskipun ia menggarisbawahi bahwa buku hasil penyulingan (distilled books) itu ibarat air sulingan biasa karena rasanya hambar.
Belajar, tidak Cukup Hanya dengan Membaca
Dampak belajar terhadap pembentukan karakter manusia juga tidak luput dari perhatian Bacon. Ia mengatakan bahwa dalam belajar, membaca saja tidak cukup. Aspek belajar lain yang juga perlu kita perhatikan adalah berdiskusi dan menulis. Sebab, jika membaca membuat kita punya wawasan yang luas (full man). Maka berdiskusi dan menulis akan membuat kita sigap (ready man) dan presisi (exact man).
Francis Bacon memandang belajar bukan hanya sebagai asupan gizi, tetapi juga obat bagi penyakit pikiran. Sama seperti olahraga fisik yang melatih organ tubuh tertentu. Bowling untuk melatih ginjal, menembak untuk melatih paru-paru, berjalan untuk melatih perut. Cabang ilmu tertentu juga punya khasiat penyembuhan bagi penyakit mental.
Sejarah membikin kita bijaksana, puisi melatih kepekaan kita, matematika melatih kelembutan dan ketelitian kita, filsafat memperdalam pikiran kita, moral membuat kita lebih berhati-hati, serta logika dan retorika melatih kemampuan kita dalam berdebat. Di sini, frasa Latin “Abeunt studia in mores”—belajar berubah menjadi karakter—menjadi inti argumen Bacon. Pengetahuan tidak mengendap sebagai data, katanya, melainkan melebur menjadi perilaku.
Francis Bacon mendorong kita untuk menjadi kutu buku yang aktif dan tidak terasing dari dunia. Ia mengajarkan bahwa etika membaca bukan terletak pada seberapa banyak buku yang kita lahap, melainkan pada seberapa bijak kita memilih. Seberapa kritis kita menimbang, dan seberapa baik kita mengubah teks yang mati menjadi sebuah tindakan dan karakter. []




















































