Mubadalah.id – Sebagai orang muda yang belum menikah, rasanya agak lucu ketika saya menulis tema pernikahan. Namun, bukan berarti tidak patut bukan? Oleh sebab itu, saya masih menyematkan tanda tanya di akhir tajuk yang saya gunakan. Saya menulis ini murni sebagai catatan digital atas pengalaman belajar konsep pernikahan setelah mengikuti forum Over Think Club. Sebuah forum diskusi dalam jaringan yang konsentrasi pada isu pernikahan married is scary, disabilitas, child grooming hingga kesehatan mental.
Bagi sebagian besar gen-z, momen idulfitri sering kali menjadi momok yang ingin dihindari. Bukan karena tidak bahagia dengan hari raya, namun pertanyaan kapan A, kapan B, kapan C terkadang menjadi penyebab lahirnya ketidaknyamanan. Terutama pertanyaan “kapan nikah”, menjadi satu pertanyaan yang paling sering terlontar dari masyarakat.
Bukan satu atau dua kali, namun pertanyaan “kapan nikah” ini menjadi semacam tekanan. Tekanan ini kemudian berlanjut menjadi pikiran berlebih. Karena dengan status belum menikah dilihat sebagai orang yang belum mentas (mandiri) dalam proses hidupnya. Pertanyaan ini terkesan bukan basa basi semata. Namun, menikah menjadi semacam penanda keberhasilan individu serta tahapan ideal dalam kehidupan.
Membedah Penyebab Takut Menikah
Melalui materi Uswah Syauqie, penulis buku Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian, saya seperti membedah benang kusut dalam kepala. Sebagai Gen-Z yang setiap detik terpapar dengan konten-konten married is scary di media sosial, secara otomatis otak saya terinternalisasi bahwa pernikahan itu fase hidup yang menakutkan. Namun, setelah mendengarkan pemaparan materi dalam forum tersebut, perlahan saya belajar mengurainya.
Uswah Syauqie menyebutkan, setidaknya ada empat penyebab ketakutan akan pernikahan. Pertama, tekanan sosial. Salah satu bentuk tekanan sosial yang kuat adalah budaya patriarki. Bagi perempuan, misalnya, budaya patriarki telah menciptakan standar ‘istri yang baik’. Yakni ketaatan, pelayanan domestik, hingga kepatuhan mutlak istri kepada suami.
Standar ini kemudian diperkuat dengan adanya konten-konten yang sekilas terlihat memuliakan perempuan, namun justru melahirkan tekanan. Seperti konten quote yang berisi “Setinggi apapun karir perempuan di luar sana, prestasi terbaiknya adalah berdiam diri di rumah”.
Standar ini menjadi satu dari sekian penyebab ketakutan untuk menikah. Terlebih bagi para perempuan yang keluarganya mendorong untuk sekolah tinggi, mandiri, dan membangun karir cemerlang. Namun, gambaran yang terbentuk adalah pernikahan seperti sekat yang mengecilkan pergerakannya. Bayangan bahwa ‘istri baik’ adalah yang berdiam diri di rumah menjadi beban tersendiri. Bahkan berpotensi menghilangan jati diri.
Kedua, attachment wound. Yaitu trauma mendalam sebab rusaknya kepercayaan, pengabaian, eksploitasi, maupun trauma relasional, hingga pengasuhan yang inkonsisten. Attachment wound adalah luka yang sunyi dan dalam. Luka ini terpatri dalam sanubari karena ‘menyerang’ psikologis dan emosional.
Ketiga, ketakutan akan kegagalan pernikahan. Penyebab ketiga ini semakin menguat sejak adanya media sosial. Pengguna media sosial akan dengan gampang mengakses berita-berita seputar rumah tangga. Kasus perceraian, perselingkuhan, hingga KDRT yang berseliweran dalam linimasa melahirkan ketakutan yang sedemikian rupa. Banyak sekali ketakutan yang terekam dan menjadi residu dalam pikiran saya. Bahwa pernikahan akan begitu berat dan sulit menemukan pasangan yang tepat.
Keempat, kecemasan akan kerentanan. Contoh dari kecemasan akan kerentanan ini misalnya ketika mempertanyakan “kalau dia tau kekuranganku, apakah dia tetap mencintaiku”. Artinya kecemasan ini tumbuh karena ada perasaan kurang.
Membangun Ulang Kesadaran Akan Pernikahan
Dari keempat penyebab ketakutan di atas, sering kali memunculkan pertanyaan “bagaimana jika”. Bagaimana jika nanti sifat pasangan berubah? Bagaimana jika cinta tidak seindah dalam cerita-cerita? Ketakutan ini akhirnya saling silang dengan kelindan perfeksionisme, seolah hubungan harus terus ideal. Namun, setlah mendengarkan paparan para pemantik tentang pengalaman menjalani pernikahan, saya menjadi berpikir ulang, bahwa hubungan bukanlah tentang sempurna, melainkan tentang belajar terus menerus dan beradaptasi.
Pesan yang dalam dari Ibu Nyai Umdah, pengasuh pesantren Tambak Beras, terselip juga di tengah forum diskusi. Bahwa zaman beliau akan menikah pun ketakutan itu telah ada. Artinya, rasa takut ini memang maklum adanya. bukan untuk dihilangkan, tetapi untuk dikelola dengan sedemikian cara agar menjadi jembatan refleksi. Beliau kemudian memberi amalan jalur langit sebagai ikhtiar agar dipertemukan dengan jodoh yang tepat. Yaitu berdzikir asmaul husna setiap selesai salat lima waktu. Aku dengan kesadaran penuh langsung meng-qobiltu ijazah itu.
Dalam titik ini, saya mengamini bahwa pernikahan memang menjadi ibadah terpanjang. Karena ketika membangun komitmen dengan seseorang, harus dibarengi dengan kesadaran. Bahwa nantinya akan ada dua kepala yang berbeda sama sekali pola pikirnya. Membangun pengetahuan bahwa manusia selalu bertransformasi juga tidak kalah penting. Karena hal ini akan melahirkan pemahaman bahwa manusia akan berubah seiring waktu, baik sifat maupun pemikirannya. Di sinilah kemampuan untuk beraptasi akan terus teruji.
Menikah dengan Pemaknaan Utuh = Married is a Blessing?
Pada akhirnya keputusan untuk menikah harus diambil dengan kesadaran penuh. Dengan pemahaman utuh akan tujuan dan pemaknaan pernikahan. Bukan karena tertekan dengan pertanyaan kapan, kapan, dan kapan. Bukan juga karena keterpaksaan. Sebagai individu yang kelak menjalani pernikahan, wajib hukumnya hadir penuh dalam proses pembuatan keputusan.
Ketakutan akan pernikahan bukanlah sebuah kesalahan. Justru dapat diposisikan sebagai pintu untuk berefleksi. Menjadi ruang untuk berjeda dan memastikan bahwa keputusan yang final adalah benar-benar lahir dari kesadaran. Dalam konteks ini saya kemudian berpikir, bahwa ketika saya menyadari adanya ketakutan, nantinya pilihan untuk menikah akan berakar dari kesiapan, bukan tuntutan. Memaknai relasi pernikahan tidak lagi sebagai pintu kehilangan diri, namun ruang bahagia untuk tumbuh bersama.
Namun, sekali lagi, sebagai seseorang yang belum menikah, saya masih memaknai pernyataan married is a blessing sebagai sebuah pertanyaan. []









































