Kamis, 5 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    ODGJ

    ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan

    Difabel dalam Sejarah Yunani

    Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    Dr. Fahruddin Faiz

    Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    Board of Peace

    Board of Peace dan Kegelisahan Warga Indonesia

    Kader Ulama Perempuan

    Penguatan Agensi Perempuan lewat Beasiswa LPDP Kader Ulama Perempuan

    Disabilitas dan Dunia Kerja

    Disabilitas dan Dunia Kerja: Antara Regulasi dan Realita

    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Membela Perempuan

    Islam Membela Perempuan

    Haji Wada'

    Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    Sujud

    Hadits Sujud sebagai Bahasa Penghormatan dalam Relasi Suami-Istri

    Sujudnya Istri

    Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    Malam Nisfu Sya’ban

    Tradisi Malam Nisfu Sya’ban di Indonesia

    Malam Nisfu Sya’ban

    Ampunan Dosa di Malam Nisfu Sya’ban

    Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban, Momentum Evaluasi dan Laporan Amal Umat Islam

    Amalan Nisfu Sya'ban

    Nisfu Sya’ban dan Ragam Amalan Utama Menjelang Ramadhan

    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Isra’ Mi’raj : Melintasi Jagat Membangun Peradaban

Isra' Mi'raj dan salat mengajarkan bahwa manusia hidup itu melakukan perjalanan dan relasi horizontal, fisikal, sekaligus vertikal, dan spiritual. Pasca Isra' Mi'raj Nabi membangun peradaban berbasis salat

Badriyah Fayumi by Badriyah Fayumi
30 Januari 2024
in Featured, Hikmah
A A
0
Membangun Peradaban

Membangun Peradaban

23
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam dua kesempatan acara peringatan Isra’ Mi’raj tahun ini, bertepatan dengan peringatan satu Abad NU. Yakni di Sokaraja Purwokerto yang diadakan oleh Fatayat NU Sokaraja pada 19 Februari 2023, dan di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia pada 26 Februari 2023. Saya menyampaikan spirit Isra’ Mi’raj dalam melintas jagat membangun peradaban.

Dengan ilustrasi yang saya sesuaikan dengan jamaahnya, yakni perempuan dan ibu muda di Sokaraja, dan mahasiswa putra putri di UII, inilah spirit Isra’ Mi’raj dalam melintas jagat dan membangun peradaban dalam refleksi saya :

Isra’ Mi’raj itu perjalanan antar ruang yang melipat waktu, melintasi jagat untuk membangun peradaban. Jika kini NU berkomitmen untuk merawat jagat karena bumi memang sudah rapuh dan mengalami krisis ekologi yang parah, sehingga harus ada usaha keras dan maksimal dari semua penghuninya untuk merawat jagat. Maka dulu Isra’ Mi’raj mengajarkan penduduk bumi untuk berwawasan lintas benua, lintas waktu, bahkan lintas dunia.

Perjalanan mu’jizat Isra’ Mi’raj mengandung spirit membangun peradaban. Dengan menerapkan spirit ini insya Allah dunia akan damai,  maju, lestari. Peradaban yang bagaimanakah?

Pertama, peradaban yang menempatkan perempuan sebagai manusia seutuhnya dan subyek kehidupan sepenuhnya.

Perempuan tidak hanya kita pandang sebagai makhluk fisik biologis seksual, melainkan juga makhluk intelektual, spiritual, dan sosial sebagaimana laki-laki. Perempuan menjadi subyek primer kehidupan sebagai Khalifah Allah di muka bumi bersama laki-laki. Bukan subyek sekunder, apalagi menjadi obyek.

Apa kaitan peradaban ini dengan Isra’ Mi’raj? Kaitannya jelas. Isra’ Mi’raj terjadi saat Nabi sangat bersedih karena kehilangan perempuan luar biasa yang mendukungnya dari dalam. Yakni Siti Khadijah Ra. Kesedihan makin mendalam karena orang yang menjadi benteng pelindungnya dari serangan luar juga meninggal. Yakni sang paman Abu Thalib.

Di tahun kesedihan itulah (Amul Khuzni, 10 kenabian) Isra’ Mi’raj terjadi. Dengan perjalanan itu Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaanNya, seolah berkata, “jangan berlarut sedih dan kecil hati. Ada Aku yang Mahabesar.” Perjalanan Isra’ Mi’raj mengkonfirmasi arti penting perempuan dalam peradaban Islam.

Oleh karena itu jika ingin membangun peradaban, jangan pernah lupakan, pinggirkan apalagi tinggalkan perempuan. Nabi Muhammad Saw. sendiri dengan tulus dan lugas selalu menyebut peran dan arti penting Khadijah: orang yang pertama kali beriman saat yang lain ragu, orang yang mengorbankan hartanya setiap saat. Terutama saat 4 tahun kaum muslimin minoritas Mekkah diboikot ekonomi dan sosial oleh kuffar Mekkah, dan orang yang dari rahimnya Allah berikan Nabi keturunan, sedangkan dari istri yang lain tidak.

Maka, umat Islam hari  jika ingin membangun peradaban, laki-laki dan perempuan harus bersama saling tolong menolong dalam amar ma’ruf, nahi munkar, mendirikan salat (ibadah ritual ketuhanan), menunaikan zakat (ibadah sosial kemanusiaan), taat kepada Allah dan RasulNya. Ketika laki-laki dan perempuan berkolaborasi membangun peradaban dengan tolong menobolong melakukan hal tersebut, Rahmat Allah akan datang. (QS at Taubah 71).

Kedua, peradaban yang memberi tempat luas dan menantang manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi

Semua tahu, bahwa Isra’ Mi’raj terjadi dengan kendaraan yang bernama Buraq. Moda transportasi visioner yang belum terpikir oleh nalar penduduk Mekkah, dan bahkan semua manusia saat itu. Perjalanan Makkah- Masjidil Aqsha sejauh 1500 km-an dalam nalar umum saat itu ditempuh dalam waktu 40 hari perjalanan unta.

Lha, ini semalam bisa bolak balik Mekkah-Palestina-Mekkah. Mustahil! Kata nalar yang menghukumi sesuatu berdasarkan kemampuan otaknya yang terbatas. Padahal nalar rasional bisa menjangkau, bahwa modal transportasi yang canggih mampu memperjalankan makhluk berkali lipat lebih cepat. Semut yang merambat Jakarta-Surabaya entah butuh waktu berapa tahun untuk sampai. Tapi dengan naik pesawat, dua jam sudah bisa pulang pergi. Apanya yang mustahil?

Isra’ Mi’raj menantang manusia untuk berpikir, melakukan riset, penemuan dan inovasi untuk kemajuan IPTEK yang berpangkal dari Allah dan bermuara kepada Allah. Surah Ar Rahman ayat 33 telah dengan jelas mengisyaratkan hal tersebut.

Ketiga, peradaban yang menghargai sejarah agama, sejarah kemanusiaan, serta kesatuan dan persatuan agama-agama dan umat manusia

Isra’ Mi’raj menghubungkan agama-agama samawi, agama hanif yang nasabnya bertemu di Nabi Ibrahim. Sebelum Nabi Muhammad, tradisi kenabian berpusat di Bani Israil (anak cucu Nabi Ya’kub). Tidak terpikir oleh Bani Israil akan ada Nabi dari kalangan Arab, meskipun Nabi Muhammad Saw. juga keturunan Nabi Ibrahim.

Perjalanan ke Masjidil Aqsha, tempat suci pusat agama para Nabi Bani Israil dari Masjidil Haram adalah perjalanan yang menyambungkan silsilah kenabian, kesatuan ajaran (tauhid), sekaligus satunya kemanusiaan. Nabi Muhammad Saw. bertemu dengan arwah Nabi-nabi Bani Israil dalam damai dan bersahabat. Itu adalah tonggak peradaban yang dibangun di atas kesatuan agama dan kemanusiaan yang sangat penting.

Dari Isra’ umat Muhammad patut belajar bahwa ikhtiar untuk mempertemukan titik-titik kesamaan keyakinan akan Allah dan tauhid,  kebersambungan sejarah, dan kesatuan kemanusiaan adalah modal penting membangun peradaban. Dialog dan silaturrahim antara umat, antar agama, antar ras, antar bangsa  adalah cara penting membangun peradaban.

Keempat, peradaban yang mengedepankan persaudaraan antar manusia, persaudaraan antar generasi

Dalam peristiwa itu, ada penghormatan kepada senior dan penerimaan kepada yunior dengan tulus. Bahkan yang senior memberikan saran demi kebaikan yuniornya. Perjalanan Mi’raj Nabi dari langit pertama hingga ke langit ketujuh menunjukkan itu semua.

Di setiap langit, Nabi Muhammad Saw mengucapkan salam kepada para Nabi. Para Nabi menjawab salam sambil menyambut hangat Nabi Muhammad Saw. Nabi Adam As di langit ke-1 menyambutnya dengan ucapan Marhaban bil Ibni as Shalih wan Nabiyy as-Shalih (selamat datang anak saleh dan Nabi yang saleh).

Selanjutnya, Nabi Yahya dan Isa di langit ke-2, Nabi Yusuf di langit ke-3, Nabi Idris di langit ke-4, Nabi Harun di langit ke-5, Nabi Musa di langit ke-6, dan Nabi Ibrahim -alaihimussalam- di langit ke-7, menyambut Nabi Muhammad Saw. dengan kalimat hangat bersahabat “marhaban bil akhir as Shalih wan Nabiy as Shalih” (selamat datang saudara yang saleh dan Nabi yang saleh).

Semua sambutan itu menyatakan persaudaraan dan pengakuan  kesalehan dan kenabian Muhammad Saw. dari para Nabi tersadulu. Nabi Musa as sebagai senior bahkan memberikan perhatian yang besar kepada Nabi Muhammad agar meminta diskon kepada Allah, dari salat 50 waktu menjadi hanya 5 waktu, karena sayang dan peduli kepada umat Nabi yuniornya.

Mi’raj telah mengajarkan bahwa persaudaraan, saling menebar salam, menghadirkan perdamaian, dan ucapan-ucapan yang mengakui kebaikan adalah modal penting membangun peradaban.

Kelima, peradaban yg menekankan pentingnya penghambaan hanya kepada Allah, ketaatan kepada perintahNya, dan pengasahan spiritualitas manusia hingga ke titik tertinggi

Mi’raj adalah simbol bahwa titik tertinggi eksistensi manusia terletak pada ketinggian spiritualitasnya, karena manusia selain makhluk fisik (dan psikis), intelektual, juga makhluk spiritual. Dengan Mi’raj Nabi bertemu Allah. Dengan Mi’raj Nabi mendapat titah langsung dariNya berupa salat 5 waktu yang membantu manusia menjadi makhluk spiritual, baik dalam hubungannya dengan Allah (vertikal) maupun sesama manusia (horizontal).

Secara vertikal salat  merupakan wujud keikhlasan penghambaan manusia kepadaNya, sarana mengingatNya, media untuk meminta pertolonganNya, dan sekaligus menjadi cara spiritual agar setiap hamba bisa mi’raj (naik derajat menjadi makhluk spiritual yang “bertemu” dengan Yang Maha spiritual). Secara horizontal salat merupakan benteng yang mencegah perbuatan keji dan munkar. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh manusia yang memiliki spiritualitas.

Isra’ Mi’raj dan salat mengajarkan bahwa manusia hidup itu melakukan perjalanan dan relasi horizontal, fisikal, sekaligus vertikal, dan spiritual. Pasca Isra’ Mi’raj Nabi membangun peradaban berbasis salat. Dengan salat umat ia ajak bertemu dengan Allah, bersyukur, mengingat, menghamba. Dengan salat umat diajak ngumpul berjamaah di masjid, yang dengan masjid itu banyak hal dilakukan untuk membangun peradaban.

Salat menyatukan dan mengonsolidasikan umat sekaligus menghubungkannya dengan Allah. Ini adalah cara yang sangat penting dan luar biasa dalam membangun peradaban. Peradaban yang menjadikan Allah (melalui aktualisasi spiritualitas manusia) sebagai titik mula, dan titik akhir, rujukan hubungan horizontal dan vertikal.

Inilah peradaban yang membedakan Islam dengan peradaban atau isme-isme lain yang tidak menjadikan spiritualitas sebagai bagian penting. Pastinya beda, peradaban yang kita bangun di atas spiritualitas dan nilai-nilai yang abadi, samawi, keseimbangan duniawi ukhrawi dan adiluhung, dengan peradaban yang hanya berorientasi pada fisik, material dan duniawi.

Inilah renungan membangun peradaban dengan mengambil pelajaran dari Isra’ Mi’raj yang terjadi di bulan Rajab. Di mana ini adalah bulan yang sama dengan bulan lahir NU, versi saya. Semoga bermanfaat. Bagaimana versi Anda? []

Tags: HikmahislamIsra mi'rajKupimembangun PeradabanNahdlatul UlamaSatu Abad NUsejarahulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Badriyah Fayumi

Badriyah Fayumi

Ketua Alimat/Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Bekasi

Related Posts

Membela Perempuan
Pernak-pernik

Islam Membela Perempuan

4 Februari 2026
Difabel dalam Sejarah Yunani
Disabilitas

Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

5 Februari 2026
Harlah 100 Tahun
Aktual

Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

2 Februari 2026
Perempuan ke Masjid
Pernak-pernik

Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

31 Januari 2026
Hannah Arendt
Publik

Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

31 Januari 2026
Novel Katri
Buku

Novel Katri: Bertahan dalam Luka dari Penjara ke Penjara

30 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Guru Honorer

    Nasib Miris Guru Honorer: Ketika Negara Menuntut Dedikasi, Tapi Abai pada Keadilan

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Membaca Hadits Sujudnya Istri kepada Suami dengan Perspektif Mubadalah

    11 shares
    Share 4 Tweet 3

TERBARU

  • ODGJ Bukan Aib; Ragam Penanganan yang Memanusiakan
  • Islam Membela Perempuan
  • Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali
  • Posisi Perempuan dalam Wasiat Nabi di Haji Wada’
  • Menilik Kuasa Normalisme Difabel dalam Sejarah Yunani

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0