Mubadalah.id — Direktur Rumah Kitab, Lies Marcoes mengungkap bahwa kekuatan utama KUPI terletak pada kerja kolektif yang menggerakkannya.
Dalam tulisannya di Kupipedia.id, ia menjelaskan bahwa KUPI tidak dibangun di atas figur tunggal atau ketokohan individual. Melainkan oleh konvergensi berbagai kelompok perempuan dengan latar belakang yang beragam.
Jaringan tersebut mencakup ibu nyai pimpinan pesantren, perempuan ormas Islam, akademisi dan peneliti, hingga aktivis pendamping perempuan di komunitas miskin dan terpinggirkan.
Menurut Lies, perjumpaan lintas latar inilah yang membuat KUPI memiliki perspektif yang kaya dan membumi.
“Mereka datang dari pengalaman yang berbeda, tetapi disatukan oleh keyakinan yang sama bahwa Islam harus berpihak pada keadilan,” tulis Lies.
Ia menekankan bahwa kerja kolektif ini memungkinkan terjadinya perdebatan tingkat tinggi sebelum sebuah rumusan fatwa mereka sepakati. Tidak ada dominasi satu suara atau otoritas tunggal. Semua argumen diuji secara metodologis dan etis.
Lies menilai, pola kerja semacam ini menjadi pembeda utama KUPI dengan banyak lembaga keulamaan lain yang masih sangat bergantung pada figur karismatik tertentu. Dalam KUPI, otoritas ia bangun melalui proses.
Ia juga menyoroti peran penting aktivis perempuan non-santri yang selama ini bekerja di lapangan. Pengalaman mereka mendampingi korban kekerasan, buruh migran, dan komunitas miskin memberi perspektif konkret tentang dampak tafsir keagamaan terhadap kehidupan perempuan.
Menurut Lies, tanpa kehadiran mereka, fatwa keagamaan berisiko menjadi abstrak dan jauh dari kenyataan sosial.
“Kerja-kerja keulamaan tidak boleh berhenti di ruang teks, tetapi harus berakar pada kehidupan nyata umat,” tulisnya.
Melalui jaringan ini, KUPI menunjukkan bahwa otoritas keagamaan dapat mereka bangun secara partisipatif, inklusif, dan bertanggung jawab secara sosial. []



















































