Sabtu, 14 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Idulfitri Bertemu Nyepi

    Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi

    Pendidikan Inklusif

    Pendidikan Inklusif: Hak yang Dikesampingkan

    Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Cinta yang Saling Menguatkan: Belajar dari Relasi Vidi Aldiano dan Sheila Dara

    Merayakan IWD

    Perempuan dan Kesaksian Magdalena dalam Merayakan IWD

    Kesehatan Mental

    Over Think Club: Seni Ngaji Kesehatan Mental Perspektif Mubadalah

    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Keadilan

    Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan

    Akhlak

    Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah

    Kesehatan Sosial Perempuan

    Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

    Kesehatan Keluarga Perempuan

    Kesehatan Perempuan Menjadi Fondasi Penting Kehidupan Keluarga dan Masyarakat

    Keadilan Mubadalah

    Keadilan Menjadi Prinsip Utama dalam Perspektif Mubadalah

    Maslahah

    Maslahah sebagai Tujuan dalam Perspektif Mubadalah

    Perspektif Mubadalah

    Prinsip Keadilan dalam Perspektif Mubadalah

    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Khutbah Iduladha: Teladan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail tentang Tauhid dan Pengorbanan

Perayaan yang  terkait erat dengan Nabi Ibrahim, istrinya Bunda Siti Hajar, dan anak mereka berdua, Nabi Ismail ‘alaihimussalam. Pertanyaanya: kita bisa belajar apa dari teladan tiga orang mulia ini?

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
2 Juni 2025
in Featured, Hikmah, Rujukan
A A
0
Khutbah Iduladha, Teladan

Khutbah Iduladha, Teladan

39
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

السلام عليكوم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر- الله أكبر- الله أكبر – ألله اكبر- الله أكبر- الله أكبر- الله أكبر- الله أكبر-الله أكبر-ولله الحمد

الحمد لله  ذِ ى الجلالِ والاكرامِ، الذي هدانا باالقُرْانِ سُبُل السّلامِ، أشهدان لااله الا الله وحده لاشريك له الملك العَلّامُ ـ واشهد ان محمدًا رسول الله شفِيعُنا يوم الزِّحامِ وعلى اله وأصحابه اْلبَرَرَةِ اْلكِرامِ ـ

أما بعد، أوصيكم ونفسي بتقوى الله وطا عته لعلكم ترحمون، واُذَكِّرُكم قوله تعالى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

 

Mubadalah.id – Alhamdulillah, kepada-Nya semata kita persembahkan segala puji dan puja atas segala rahmat-Nya yang kita nikmati selama ini. Selawat serta salam kita panjatkan ke haribaan teladan kita, Nabi Muhammad Saw.

Hadirin sidang Idul Adha yang dirahmati Allah Swt…

Hari ini adalah hari yang penuh berkah bagi kita umat Islam. Kita berkumpul di pelataran Masjid Mu’amalah ini untuk merayakan Iduladha. Perayaan yang  terkait erat dengan Nabi Ibrahim, istrinya Bunda Siti Hajar, dan anak mereka berdua, Nabi Ismail ‘alaihimussalam. Pertanyaanya: kita bisa belajar apa dari teladan tiga orang mulia ini?

Pada kesempatan khutbah Iduladha ini, setidaknya ada tiga teladan yang bisa kita petik dari masing-masing tiga orang mulia ini. Pertama, Nabi Ibrahim AS, bapak ketauhidan, pendiri Ka’bah, rumah Allah Swt di kota Mekkah, yang menjadi kiblat umat Islam, yang saat ini sedang dikunjungi jutaan jama’ah haji dari seluruh penjuru dunia.

Kita tahu, Nabi Ibrahim AS menemukan Allah Swt, sebagai Tuhan Yang Esa, setelah mengalami perjalanan panjang dengan berbagai tuhan di sekelilingnya.

Nabi Ibrahim memulai perjalanan pencariannnya itu ketika dia dikenalkan dengan tuhan-tuhan dalam bentuk berhala-berhala. Ketika dia menguji dan menemukan kenyataan bahwa berhala-berhala itu adalah benda mati, yang tidak memiliki daya, dan sesungguhnya adalah ciptaan manusia, maka  dia menyimpulkan bahwa pasti itu bukan Tuhan. Karena itu dia meninggalkan keyakinan yang sia-sia itu.

Selanjutnya dia mengamati bintang. Pada awalnya dia kagum dan menyangkanya sebagai Tuhan. Tetapi kemudian setelah melihat kenyataan bahwa bintang-bintang itu menghilang, maka diapun meninggalkan kepercayaan itu.

Demikian seterusnya dia melihat bulan, dan matahari yang lebih besar,  benda bergantung   di langit,  bercahaya atau bersinar. Dia pun kagum dan menyangka Tuhan. Tetapi ketika bulan dan matahari  juga menghilang, maka diapun kecewa. Kesimpulannya  Tuhan pastilah tidak memiliki karakter seperti itu.

Proses itu pada akhirnya memberikannya pencerahan, menuntunnya menemukan Tuhanya, Allah SWT, yang tidak memiliki permulaan dan tidak memiliki akhir. Tuhan yang mutlak keberadaannya. Allahu Rabbul Alamin, bukan tuhan suku dan bangsa tertentu, tapi Tuhan seru sekalian alam.

‌وَكَذَلِكَ ‌نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (٧٥) فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ (٧٦) فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (٧٧) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَاقَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (٧٨) إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (٧٩)

Setelah Nabi Ibrahim AS bertemu dan menganggap berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan, lalu beralih pada bintang gemintang. Lalu beralih pada  bulan, lalu beralih pada matahari. Baru terakhir meyakini dengan sepenuh hati bahwa yang Tuhan hanyalah Allah Swt.

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Aku hadapkan wajahku, sepenuh hatiku, pada Tuhan Pencipta segala langit dan bumi, dengan penuh ketundukan, dan tanpa beralih, menuhankan pada yang lain, sama sekali.”

Sudahkah kita meneladani Nabi Ibrahim AS?

Mengenali berhala-berhala dalam kehidupan kita, bintang gemintang, bulan, dan matahari dalam pengalaman kita yang kita agungkan dan kita tuhankan? Dalam bentuk harta benda, nafsu syahwat, jabatan, populeritas, kesombongan, yang kita agung-agungkan dan kita anggap seperti tuhan-tuhan?

Sudahkah kita mengenali? Sebagaimana Nabi Ibrahim AS, bahwa ini semua, sehebat apapun, sebesar apapun, sementerang apapun, adalah nyatanya ciptaan yang tidak patut kita tuhankan. Lalu dengan penuh keyakinan, hati dan jiwa kita menyatakan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Aku hadapkan diriku, sepenuh hatiku, pada Allah semata, dengan penuh ketundukan, dan tanpa beralih, menuhankan pada yang lain, sama sekali, baik pada harta, syahwat, tahta, dan apapun dari gemerlap dunia.”

Kita tetap hidup bersama harta, syahwat, dan tahta ini. Sebagaimana Nabi Ibrahima AS dan kita semua tetap hidup bersama bintang, bulan, dan matahari. Tetapi, sebagai orang yang bertauhid, yang kita anggap penting dan utama dalam hidup kita, adalah Allah Swt. Sehingga tidak risau, galau, apalagi stress, karena hal-hal menyangkut kehidupan dunia ini.

Hadirin sidang Idul Adha yang dirahmati Allah Swt…

Kedua adalah sosok Bunda Siti Hajar AS, yang merawat bayi Ismail as sendirian sampai dia besar tumbuh menjadi dewasa. Merawat, mengasuh, menafkahi, membesarkan dan mendidiknya. Saat Nabi Ismail AS masih bayi, Bunda Hajar pernah panik karena tidak menemukan air. Berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwa, mencari air untuk sang bayi.

Dari jerih payah Siti Hajar as ini, Allah Swt kemudian mengeluarkan sumber mata air Zamzam sebagai mujizat yang sampai sekarang terus memancar. Kewajiban Sai antara Shafa dan Marwa, yang dilakukan semua orang yang haji dan umrah, adalah untuk mengenang napak tilas usaha gigih Ibunda Hajar as.

Kisah ini dan penghormatan Allah Swt kepada Siti Hajar menandakan bahwa peran laki-laki tidak ada apa-apanya tanpa peran perempuan. Begitupun sebaliknya. Karena itu, keduanya harus saling menghormati, menghargai, dan saling menolong satu sama lain. Para suami wajib mengenang dan mensyukuri peran dan kerja-kerja istri mereka.

Para istri juga wajib mengenang dan mensyukuri peran dan kerja-kerja suami mereka. Suami dan istri, bahu membahu, saling menolong dan menopang, untuk memastikan seluruh anggota keluarga, termasuk diri mereka (para suami dan istri), untuk selalu bahagia dan membahagiakan.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (التوبة، 9: 71).

Sudahkah kita para laki-laki, para pejabat dari tingkat pusat sampai daerah yang terkecil, mengenang jasa-jasa perempuan, sebagaimana Allah Swt mengenang jasa Bunda Hajar AS?

Allahu Akbakr 3X walillahil Hamd

Hadirin sidang Idul Adha yang dirahmati Allah Swt…

Yang ketiga adalah sosok Nabi Isma’il, yang dengan teguh menyerahkan diri, ketika ayahnya, Nabi Ibrahim AS bermimpi memperoleh perintah wahyu untuk mengorbankannya. Tentu saja, ketika perintah itu turun, terjadi pegolakan batin yang luar biasa dalam diri Nabi Ibrahim AS. Ada godaan untuk menolak perintah itu.

Nabi  Ismail A.S. adalah  anak satu-satunya pada saat itu, anak yang diidam-idamkan sejak lama. Nabi Ismail A. S. juga tumbuh menjadi anak yang sabar, ulet, dan cerdas. Dia pun memiliki fondasi keimanan yang kokoh.  Nabi Ismail A.S.  memenuhi segala syarat untuk menjadi kecintaan keluarga.

Bisa dibayangkan: betapa berat beban Nabi Ibrahim A.S, ketika dia diperintahkan menyembelih anaknya yang sangat dicintainya itu. Tetapi Nabi Ibrahim A.S. berhasil mengatasi semua godaan, dan dengan teguh, dia siap menjalankan perintah itu. Sang anak, Nabi Ismail A.S,  juga sepenuhnya mendukung perintah itu.

Pada akhirnya, yang benar-benar kita korbankan adalah domba, sebagai simbol pelepasan kemelakatan kita pada cinta dunia di satu sisi, dan memberikan sesuatu yang bermanfaat pada orang lain.

Pertanyaannya: setiap kita pasti memiliki sosok seperti Ismail, seseorang atau sesuatu yang paling kita cintai. Siapkah kita mengorbankannya?

Sebagaimana Nabi Ibrahim AS siap mengorbankan Nabi Ismail AS. Bukan dengan menyembelih atau membuangnya, tetapi dengan membuang kemelekatan kita padanya, sehingga kita tetap teguh menuhankan Allah Swt dan dengan berbuat baik kepada orang lain, sebagaimana ibadah kurban yang kita lakukan.

Mungkin bisa refleksikan pada tahun politik ini, dimana kita sebentar lagi menghadapi pemilihan presiden dan anggota legislatif. Kita mungkin memiliki calon presiden yang amat kita cintai. Apakah cinta ini membuat kita kalap: sehingga tidak lagi menjalankan perintah Allah Swt, lalu berani menghujat, memfitnah, menyebar berita bohong, merusak, menzalimi, dan bermain curang?

Cinta kalap seperti inilah yang harus kita sembelih dan kita korbankan. Kita tetap bisa memilih capres atau caleg yang kita cintai, tetapi dengan tanpa berbuat buruk dan tetap berbuat baik orang-orang yang mungkin berbeda pilihan dari kita. Syahwat cinta yang berdampak buruk harus kita korbankan, agar cinta kita tetap berada pada jalur Allah Swt, dengan menjadi pribadi yang rahmatan lil ‘alamin dan berakhlak mulia pada semua orang.

Dengan demikian, kita bisa memetik pelajaran dari peristiwa utama dalam Idul Adha ini, melalui tiga sosok Nabi Ibrahmin, Bunda Siti Hajar, dan Nabi Isma’il alaihimussalam.

Semoga kita semua bisa meneladani mereka dalam kehidupan kita masing-masing, untuk tetap kokoh hanya menuhankan Allah Swt semata, bukan pada harta, syahwat, tahta, atau yang lain, sekaligus terus menjadi pribadi mulia yang menebarkan kebaikan pada keluarga, masyarakat, dan semesta.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. انه غفور رحيم

 الله أكبر – ألله اكبر- الله أكبر- الله أكبر- الله أكبر- الله أكبر-الله أكبر-ولله الحمد.

الحمد لله رب العالمين الذى ارسل رسوله رحمة للعالمين، وأنزل عليه القرآن هدى للمتقين. أما بعد، فاتقواالله عباد الله أيْنَمَا كنتم فى كل حين. وأطيعوا الله ورسوله واستقموا على الصّراط االمستقيم، وعلى سنة نبٍي حريصٍ عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم. قال الله تعالى في القرآن  العظيم: الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَاب (البقرة، 197).

وقال أيضا: إن الله وملأكته يصلون على النبي يايها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليمًا.

اللهم صل وسلم علي سيدنا محمدٍ وعلى آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم وعلى آل سيدنا إبراهيم  اللهم بارك على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبرا هيم وعلي آل سيدنا إبراهيم إنك حميد مجيد. وارض اللهم عن الخلفاء الرا شدين وجميع الصحابة البررة المبشرين، رجالا ونساء، وعلى من تبعهم باحسا ن الى يوم الدين.

Pada mimbar khutbah Iduladha yang mulia ini, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh hadirin sekalian: mari kita memetik pelajaran baik dari setiap momen ibadah kita, termasuk Ibadah shalat Idul Adha dan berkurban. Kita doakan semua yang berkorban di Masjid Mu’amalah ini, dan di tempat lain, dan ibadah-ibadah kita semua, diterima oleh Allah Swt.

Dengan pelajaran baik dari ibadah, dan khutbah Iduladha ini, kita pulang ke rumah masing-masing dengan membawa senyum keceriaan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Suami kepada istri. Istri kepada suami. Orang tua kepada anak-anak, begitupun anak-anak kepada orang tua. Juga antara saudara dan tetangga. Mari kita hadirkan kebaikan setiap saat, kepada diri kita, handai taulan, umat manusia, dan semesta.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الآحياء منهم والآموات إنك سميعٌ قزيبٌ مجيب الداعوات

اللهم  اجعل بلد تنا هذه بلدةً طيبةً امنةً يآ تيها رزقها رغدًا من كل مكانٍ. اللهم ول علينا خيارنا ولاتول علينا شرارنا يا أرحم الرحمين. ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلامٌ على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

 [] .والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tags: Hari Raya Iduladha 1444 HIbadah HajiIbadah KurbanKeluarga Nabi IbrahimKhutbah IduladhaSayyidah Hajar
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Pergaulan Nabi Muhammad Saw Bersama Sahabat Laki-laki dan Perempuan

Next Post

Kurban: Countering Fatherless Parenting dalam Kisah Nabi Ibrahim dan Spirit Ketauhidan Sayyidah Hajar

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Haramain
Publik

Haramain dan Wacana Gender: Menimbang Batasan, Akses, dan Partisipasi

11 Desember 2025
Rumah Ibadah
Publik

Rumah Ibadah Belum Memberikan Ruang Aman untuk Perempuan

7 November 2025
Semangat Haji
Hikmah

Merawat Semangat Haji Sepanjang Hayat: Transformasi Spiritual yang Berkelanjutan

11 Juni 2025
Haji yang
Publik

Perempuan yang Terlupakan di Balik Ritual Agung Haji

9 Juni 2025
Hari Raya Iduladha
Pernak-pernik

Refleksi Hari Raya Iduladha: Setiap Kita Adalah Ibrahim, Setiap Ibrahim punya Ismail

9 Juni 2025
Narasi Hajar
Personal

Pentingnya Narasi Hajar dalam Spiritualitas Iduladha

6 Juni 2025
Next Post
Kisah Nabi Ibrahim

Kurban: Countering Fatherless Parenting dalam Kisah Nabi Ibrahim dan Spirit Ketauhidan Sayyidah Hajar

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Relasi Perempuan dan Laki-laki dalam Prinsip Keadilan
  • Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa
  • Akhlak sebagai Dasar dalam Perspektif Mubadalah
  • Takbir dan Sunyi: Ketika Idulfitri Bertemu Nyepi
  • Kesehatan Perempuan Dipengaruhi Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0