Senin, 9 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Kisah-kisah Tak Terungkap Perempuan Pemberani dalam Sejarah Islam yang Terlupakan

Ketidakseimbangan mengakibatkan pemahaman tentang sejarah dan peran penting perempuan dalam membentuk peradaban Islam menjadi tidak utuh

Yayat Hidayat by Yayat Hidayat
15 Juni 2024
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Sejarah Islam

Sejarah Islam

25
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Perjalanan panjang sejarah Islam kerap menempatkan peran perempuan di bawah bayang-bayang kisah-kisah besar yang didominasi oleh laki-laki. Padahal, banyak perempuan luar biasa yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang seperti agama, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan politik.

Sayangnya, kisah-kisah mereka sering kali tidak terkenal atau bahkan kita abaikan, tertutupi oleh narasi-narasi patriarki yang dominan. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan pemahaman kita tentang sejarah dan peran penting perempuan dalam membentuk peradaban Islam menjadi tidak utuh.

Artikel ini bertujuan mengangkat kembali kisah-kisah perempuan pemberani dan luar biasa dalam sejarah Islam yang kurang kita kenal. Mengungkap perjalanan hidup dan kontribusi mereka bukan hanya untuk menghargai jasa-jasa mereka, tetapi juga untuk mendapatkan inspirasi dan pemahaman baru tentang pentingnya kesetaraan gender dalam Islam.

Kisah-kisah ini mengajarkan kita tentang keberanian, dedikasi, dan semangat juang yang menginspirasi dari perempuan-perempuan yang telah berperan penting dalam sejarah, namun seringkali terlupakan.

Menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya berperan sebagai pendamping atau pendukung, tetapi juga sebagai pemimpin, ilmuwan, pejuang, dan inspirator. Mereka adalah contoh nyata bahwa kesetaraan gender bukanlah konsep asing dalam Islam, melainkan bagian integral dari ajaran yang mendasar.

Nusaybah binti Ka’ab (Umm Umarah)

Nusaybah binti Ka’ab, juga terkenal sebagai Umm Umarah, adalah salah satu sahabat perempuan Nabi Muhammad ﷺ yang kita kenal karena keberaniannya di medan perang. Pada Pertempuran Uhud, yang terjadi pada tahun 625 M, Nusaybah menunjukkan keberanian luar biasa yang menginspirasi banyak orang.

Pertempuran Uhud adalah salah satu pertempuran penting dalam sejarah Islam, di mana kaum Muslim menghadapi pasukan Quraisy dari Mekah. Meskipun awalnya kaum Muslim unggul, perubahan taktik dari pasukan Quraisy membuat situasi menjadi kacau. Dalam kekacauan ini, Nusaybah tampil sebagai pahlawan yang tidak terduga.

Ketika pasukan Muslim mulai terdesak, Nusaybah berada di garis depan, tidak hanya membawa air untuk para prajurit yang terluka tetapi juga mengambil senjata untuk melindungi Nabi Muhammad ﷺ. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ terkepung oleh musuh, Nusaybah berdiri di samping beliau, menggunakan pedang dan busur untuk melindungi Nabi dari serangan musuh.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengakui keberanian Nusaybah dan menyebutkan bahwa di setiap arah beliau berbalik, beliau melihat Nusaybah bertarung untuk melindunginya. Dalam satu insiden, Nusaybah terluka parah ketika melindungi Nabi dari serangan musuh, namun dia tetap bertahan di medan perang hingga akhir pertempuran.

Keberanian dan dedikasi Nusaybah binti Ka’ab di Pertempuran Uhud memiliki dampak yang signifikan terhadap persepsi perempuan dalam sejarah militer Islam. Tindakannya menunjukkan bahwa perempuan juga dapat menjadi prajurit yang berani dan tangguh di medan perang, mematahkan stereotip bahwa hanya laki-laki yang bisa bertarung. Kisah Nusaybah menginspirasi banyak perempuan Muslim untuk mengambil peran aktif dalam perjuangan dan kepemimpinan, baik di medan perang maupun dalam berbagai bidang kehidupan.

Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan yang luar biasa dalam sejarah Islam. Lahir dalam keluarga terhormat di Mekah, Khadijah terkenal sebagai pebisnis sukses jauh sebelum bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dia mengelola bisnis perdagangan yang luas, yang melibatkan ekspor dan impor barang dari berbagai daerah, termasuk Yaman, Suriah, dan Ethiopia. Reputasinya sebagai pengusaha jujur dan handal membuatnya mendapat julukan “At-Tahira” atau “Yang Suci.”

Khadijah adalah janda dua kali ketika dia pertama kali bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ. Menyadari integritas dan keterampilan bisnis Muhammad, Khadijah mempekerjakannya untuk mengelola beberapa urusan perdagangannya. Pengelolaan yang sukses dan etika kerja Muhammad membuat Khadijah terkesan, dan tidak lama kemudian, dia melamarnya untuk menikah.

Khadijah adalah orang pertama yang memeluk Islam dan selalu menjadi pendukung setia Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Nabi menerima wahyu pertama di Gua Hira, Khadijah adalah orang pertama yang dia temui dan ceritakan tentang pengalaman luar biasanya. Khadijah tidak hanya menenangkannya tetapi juga meyakinkan dan mendukungnya bahwa Allah telah memilihnya sebagai Rasul-Nya.

Khadijah menggunakan kekayaannya untuk mendukung misi Nabi Muhammad ﷺ. Dia membantu membiayai kegiatan dakwah awal dan memberikan perlindungan bagi para pengikut Islam yang pertama. Khadijah juga memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam dengan menjadi teladan dalam praktik agama baru ini.

Khadijah adalah contoh kepemimpinan dan kekuatan perempuan yang patut kita teladani. Keberaniannya dalam memeluk Islam pada masa-masa awal yang penuh tantangan menunjukkan dedikasi dan iman yang kuat. Sebagai pengusaha sukses, dia menunjukkan bahwa perempuan dapat berperan aktif dalam ekonomi dan bisnis, mematahkan stereotip gender yang ada pada masa itu.

Aisyah binti Abu Bakar: Penjaga Hadits dan Pendidik Umat

Aisyah binti Abu Bakar, yang juga terkenal sebagai Ummul Mu’minin (Ibu Orang-orang Beriman), adalah salah satu istri Nabi Muhammad ﷺ yang paling dikenal. Setelah menikah dengan Nabi pada usia muda, Aisyah tinggal bersama Nabi dan menyaksikan secara langsung banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Berkat kedekatannya dengan Nabi, Aisyah menjadi salah satu sumber utama dalam penyebaran hadits (perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad ﷺ).

Aisyah kita kenal sebagai salah satu perawi hadits yang paling produktif, dengan lebih dari 2.200 hadits yang diriwayatkannya. Hadits-hadits ini mencakup berbagai aspek kehidupan Nabi, termasuk ritual ibadah, akhlak, dan berbagai hukum Islam. Kemampuannya untuk mengingat dan menyampaikan hadits ini menjadikannya sosok yang sangat dihormati dan berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam.

Selain perannya sebagai perawi hadits, Aisyah juga dikenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang hukum Islam (fiqh). Dia sering menjadi rujukan bagi banyak sahabat dan umat Muslim dalam menyelesaikan masalah-masalah hukum dan ritual keagamaan. Keilmuan Aisyah mencakup berbagai bidang, termasuk tafsir Al-Quran, fiqh, dan sejarah Islam.

Rumah Aisyah Menjadi Pusat Pembelajaran

Aisyah juga sering mengajar dan memberikan ceramah kepada para sahabat dan umat Muslim. Rumahnya menjadi pusat pembelajaran, di mana banyak sahabat datang untuk belajar darinya. Melalui ajarannya, Aisyah memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman umat Islam tentang ajaran-ajaran Nabi dan membantu menyebarluaskan ilmu pengetahuan Islam.

Pengaruh Aisyah dalam sejarah Islam tidak hanya terbatas pada perannya sebagai istri Nabi dan perawi hadits. Dia juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang aktif dalam berbagai peristiwa politik setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu peristiwa paling terkenal adalah keterlibatannya dalam Perang Jamal, di mana dia memimpin pasukan untuk menuntut keadilan bagi terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Meskipun peristiwa ini kontroversial, keterlibatan Aisyah menunjukkan keberaniannya dan kepeduliannya terhadap keadilan.

Kehidupannya mengajarkan kita banyak tentang keteguhan iman, keberanian, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan. Aisyah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran dan pemahaman ajaran Islam. Kisah hidupnya menginspirasi kita untuk terus mencari pengetahuan, mengajarkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan.

Fatimah al-Fihri

Fatimah al-Fihri, pendiri Universitas Al-Qarawiyyin, merupakan seorang wanita Muslim yang lahir pada abad ke-9 di Kairouan, Tunisia. Dia berasal dari keluarga yang kaya dan terpelajar. Setelah pindah ke Fes, Maroko, Fatimah dan keluarganya memutuskan untuk membangun sebuah masjid dan pusat pembelajaran Islam yang kemudian berkembang menjadi Universitas Al-Qarawiyyin.

Dedikasi Fatimah terhadap pendidikan tercermin dalam upayanya untuk membangun sebuah pusat pembelajaran yang terbuka untuk umum. Universitas Al-Qarawiyyin didirikan pada tahun 859 M, menjadikannya salah satu universitas tertua yang masih beroperasi hingga hari ini. Universitas ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum seperti matematika, astronomi, dan bahasa.

Peran perempuan dalam pengembangan intelektual dan sosial masyarakat yang ditunjukkan oleh Fatimah al-Fihri sangatlah penting. Melalui pendiriannya terhadap Universitas Al-Qarawiyyin, ia membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan dan intelektual. Universitas ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan yang perempuan selenggarakan dapat bertahan dan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

Fatimah al-Fihri memberikan contoh yang kuat tentang pentingnya memberdayakan perempuan dalam bidang pendidikan. Beliau menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan masyarakat. Kesuksesan Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatimah al-Fihri juga menegaskan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin yang efektif dalam bidang pendidikan dan sosial.

Rabi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang tokoh sufi perempuan yang hidup pada abad ke-8 Masehi di Basra, Irak. Dia terkenal karena kedalaman spiritualitasnya dan ajarannya yang penuh dengan cinta dan kepasrahan kepada Tuhan. Meskipun sedikit yang kita ketahui tentang kehidupan pribadinya, cerita-cerita tentang kebijaksanaan dan kebaikan hatinya tersebar luas dalam tradisi sufi.

Ajaran Rabi’ah terutama berfokus pada konsep cinta ilahi (mahabbah) yang murni dan tanpa pamrih. Bagi Rabi’ah, cinta kepada Tuhan haruslah menjadi motivasi utama dalam ibadah, bukan karena takut akan siksaan atau berharap akan pahala. Ia juga mengajarkan tentang kehendak Tuhan yang absolut dan pentingnya menerima segala ketentuan-Nya dengan lapang dada.

Pengaruh Rabi’ah terhadap tasawuf sangat besar. Ajarannya tentang cinta ilahi dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan mempengaruhi banyak sufi dan pemikir Islam selanjutnya. Konsep cinta ilahi yang diajarkannya menjadi inti dari banyak karya sastra sufi, dan kebijaksanaannya dalam menerima ujian hidup dipandang sebagai contoh yang patut diteladani dalam menghadapi cobaan.

Sejarah Islam menghormati Rabi’ah sebagai salah satu tokoh sufi paling suci dan berpengaruh. Dia dianggap sebagai contoh utama dari seorang hamba yang sepenuhnya mencintai Tuhan dan mampu meleburkan diri dalam cinta yang tidak tergoyahkan kepada-Nya. Meskipun hidup dalam kesederhanaan dan sering kali berhadapan dengan cobaan, Rabi’ah tetap teguh dalam imannya. Dia menjadi simbol keberanian spiritual dalam menghadapi segala rintangan.

Epilog

Mengungkap kisah-kisah perempuan ini tidak hanya memperluas wawasan tentang sejarah Islam, tetapi juga memberikan penghormatan kepada para pionir yang sering kali kita lupakan. Kisah-kisah mereka memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana perempuan telah berperan secara signifikan dalam mendukung dan membangun masyarakat Islam yang beragam.

Kisah Nusaybah binti Ka’ab, Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Fatimah al-Fihri, dan Rabi’ah al-Adawiyah menginspirasi kita untuk melihat peran perempuan dengan cara yang lebih inklusif.

Mereka adalah contoh nyata bagaimana kekuatan, keteguhan, dan cinta kepada Allah dapat membentuk sejarah dan mempengaruhi masa depan. Bagaimana kita, dalam kehidupan sehari-hari, dapat belajar dari nilai-nilai yang mereka anut dan menerapkannya dalam menjaga kesetaraan gender?

Mari kita refleksikan, bagaimana kita dapat lebih menghargai peran perempuan dalam masyarakat dan mempromosikan kesetaraan gender. Dalam tindakan sederhana sehari-hari, kita dapat memperjuangkan nilai-nilai yang mereka perjuangkan, memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang, dan mengakui kontribusi mereka dalam membangun dunia yang lebih adil dan harmonis.

Meneladani kisah-kisah perempuan pemberani dalam sejarah Islam memperkaya pemahaman kita tentang kontribusi mereka yang sering kali terlupakan. Kisah-kisah ini mengajarkan kita tentang keberanian, keteguhan, dan komitmen terhadap keadilan dan kesetaraan.

Melalui penghargaan dan apresiasi terhadap peran perempuan dalam sejarah, kita dapat menginspirasi generasi masa kini dan masa depan untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan dalam segala aspek kehidupan.

Setiap langkah yang kita ambil seharusnya mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya milik mereka yang terdokumentasi. Tetapi juga milik mereka yang kisahnya tersembunyi di balik bayang-bayang. Menggali dan mengangkat kisah-kisah tersebut memberikan tempat yang layak bagi perempuan-perempuan pemberani dalam sejarah Islam, dan dengan demikian, turut membangun dunia yang lebih inklusif dan adil bagi semua. []

Tags: inspiratifistri nabikhadijahsahabat nabiSejarah Islamulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Sikap Pakar dan Aktivis Lingkungan Jaringan Ulama Perempuan Terkait Bahaya Ormas Keagamaan Mengelola Tambang

Next Post

Akan Gelar Shalat Idul Adha Khusus Perempuan Di Masjid Ulul Abab UIN Malang, Ini Respon Ulama Perempuan

Yayat Hidayat

Yayat Hidayat

Perantau-Santri-Abdi Negara

Related Posts

Relasi tidak Sehat
Keluarga

Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

2 Februari 2026
Literacy for Peace
Publik

Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

23 Januari 2026
What Is Religious Authority
Buku

Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama

21 Januari 2026
Persoalan Sosial
Publik

Ulama Perempuan Hadirkan Perspektif Baru dalam Merespons Persoalan Sosial

2 Februari 2026
Fatwa Perempuan
Uncategorized

Ulama Perempuan dan Sejarah Baru Fatwa di Indonesia

10 Januari 2026
Konsolidasi Ulama Perempuan
Publik

KUPI Ruang Strategis Konsolidasi Ulama Perempuan

6 Januari 2026
Next Post
Shalat Idul Adha

Akan Gelar Shalat Idul Adha Khusus Perempuan Di Masjid Ulul Abab UIN Malang, Ini Respon Ulama Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak
  • Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?
  • Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi
  • Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan
  • Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0