Senin, 23 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Kisah-kisah Tak Terungkap Perempuan Pemberani dalam Sejarah Islam yang Terlupakan

Ketidakseimbangan mengakibatkan pemahaman tentang sejarah dan peran penting perempuan dalam membentuk peradaban Islam menjadi tidak utuh

Yayat Hidayat by Yayat Hidayat
15 Juni 2024
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Sejarah Islam

Sejarah Islam

25
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Perjalanan panjang sejarah Islam kerap menempatkan peran perempuan di bawah bayang-bayang kisah-kisah besar yang didominasi oleh laki-laki. Padahal, banyak perempuan luar biasa yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang seperti agama, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan politik.

Sayangnya, kisah-kisah mereka sering kali tidak terkenal atau bahkan kita abaikan, tertutupi oleh narasi-narasi patriarki yang dominan. Ketidakseimbangan ini mengakibatkan pemahaman kita tentang sejarah dan peran penting perempuan dalam membentuk peradaban Islam menjadi tidak utuh.

Artikel ini bertujuan mengangkat kembali kisah-kisah perempuan pemberani dan luar biasa dalam sejarah Islam yang kurang kita kenal. Mengungkap perjalanan hidup dan kontribusi mereka bukan hanya untuk menghargai jasa-jasa mereka, tetapi juga untuk mendapatkan inspirasi dan pemahaman baru tentang pentingnya kesetaraan gender dalam Islam.

Kisah-kisah ini mengajarkan kita tentang keberanian, dedikasi, dan semangat juang yang menginspirasi dari perempuan-perempuan yang telah berperan penting dalam sejarah, namun seringkali terlupakan.

Menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa perempuan dalam sejarah Islam tidak hanya berperan sebagai pendamping atau pendukung, tetapi juga sebagai pemimpin, ilmuwan, pejuang, dan inspirator. Mereka adalah contoh nyata bahwa kesetaraan gender bukanlah konsep asing dalam Islam, melainkan bagian integral dari ajaran yang mendasar.

Nusaybah binti Ka’ab (Umm Umarah)

Nusaybah binti Ka’ab, juga terkenal sebagai Umm Umarah, adalah salah satu sahabat perempuan Nabi Muhammad ﷺ yang kita kenal karena keberaniannya di medan perang. Pada Pertempuran Uhud, yang terjadi pada tahun 625 M, Nusaybah menunjukkan keberanian luar biasa yang menginspirasi banyak orang.

Pertempuran Uhud adalah salah satu pertempuran penting dalam sejarah Islam, di mana kaum Muslim menghadapi pasukan Quraisy dari Mekah. Meskipun awalnya kaum Muslim unggul, perubahan taktik dari pasukan Quraisy membuat situasi menjadi kacau. Dalam kekacauan ini, Nusaybah tampil sebagai pahlawan yang tidak terduga.

Ketika pasukan Muslim mulai terdesak, Nusaybah berada di garis depan, tidak hanya membawa air untuk para prajurit yang terluka tetapi juga mengambil senjata untuk melindungi Nabi Muhammad ﷺ. Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad ﷺ terkepung oleh musuh, Nusaybah berdiri di samping beliau, menggunakan pedang dan busur untuk melindungi Nabi dari serangan musuh.

Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengakui keberanian Nusaybah dan menyebutkan bahwa di setiap arah beliau berbalik, beliau melihat Nusaybah bertarung untuk melindunginya. Dalam satu insiden, Nusaybah terluka parah ketika melindungi Nabi dari serangan musuh, namun dia tetap bertahan di medan perang hingga akhir pertempuran.

Keberanian dan dedikasi Nusaybah binti Ka’ab di Pertempuran Uhud memiliki dampak yang signifikan terhadap persepsi perempuan dalam sejarah militer Islam. Tindakannya menunjukkan bahwa perempuan juga dapat menjadi prajurit yang berani dan tangguh di medan perang, mematahkan stereotip bahwa hanya laki-laki yang bisa bertarung. Kisah Nusaybah menginspirasi banyak perempuan Muslim untuk mengambil peran aktif dalam perjuangan dan kepemimpinan, baik di medan perang maupun dalam berbagai bidang kehidupan.

Khadijah binti Khuwailid

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan yang luar biasa dalam sejarah Islam. Lahir dalam keluarga terhormat di Mekah, Khadijah terkenal sebagai pebisnis sukses jauh sebelum bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dia mengelola bisnis perdagangan yang luas, yang melibatkan ekspor dan impor barang dari berbagai daerah, termasuk Yaman, Suriah, dan Ethiopia. Reputasinya sebagai pengusaha jujur dan handal membuatnya mendapat julukan “At-Tahira” atau “Yang Suci.”

Khadijah adalah janda dua kali ketika dia pertama kali bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ. Menyadari integritas dan keterampilan bisnis Muhammad, Khadijah mempekerjakannya untuk mengelola beberapa urusan perdagangannya. Pengelolaan yang sukses dan etika kerja Muhammad membuat Khadijah terkesan, dan tidak lama kemudian, dia melamarnya untuk menikah.

Khadijah adalah orang pertama yang memeluk Islam dan selalu menjadi pendukung setia Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Nabi menerima wahyu pertama di Gua Hira, Khadijah adalah orang pertama yang dia temui dan ceritakan tentang pengalaman luar biasanya. Khadijah tidak hanya menenangkannya tetapi juga meyakinkan dan mendukungnya bahwa Allah telah memilihnya sebagai Rasul-Nya.

Khadijah menggunakan kekayaannya untuk mendukung misi Nabi Muhammad ﷺ. Dia membantu membiayai kegiatan dakwah awal dan memberikan perlindungan bagi para pengikut Islam yang pertama. Khadijah juga memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam dengan menjadi teladan dalam praktik agama baru ini.

Khadijah adalah contoh kepemimpinan dan kekuatan perempuan yang patut kita teladani. Keberaniannya dalam memeluk Islam pada masa-masa awal yang penuh tantangan menunjukkan dedikasi dan iman yang kuat. Sebagai pengusaha sukses, dia menunjukkan bahwa perempuan dapat berperan aktif dalam ekonomi dan bisnis, mematahkan stereotip gender yang ada pada masa itu.

Aisyah binti Abu Bakar: Penjaga Hadits dan Pendidik Umat

Aisyah binti Abu Bakar, yang juga terkenal sebagai Ummul Mu’minin (Ibu Orang-orang Beriman), adalah salah satu istri Nabi Muhammad ﷺ yang paling dikenal. Setelah menikah dengan Nabi pada usia muda, Aisyah tinggal bersama Nabi dan menyaksikan secara langsung banyak peristiwa penting dalam sejarah Islam. Berkat kedekatannya dengan Nabi, Aisyah menjadi salah satu sumber utama dalam penyebaran hadits (perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad ﷺ).

Aisyah kita kenal sebagai salah satu perawi hadits yang paling produktif, dengan lebih dari 2.200 hadits yang diriwayatkannya. Hadits-hadits ini mencakup berbagai aspek kehidupan Nabi, termasuk ritual ibadah, akhlak, dan berbagai hukum Islam. Kemampuannya untuk mengingat dan menyampaikan hadits ini menjadikannya sosok yang sangat dihormati dan berpengaruh dalam penyebaran ajaran Islam.

Selain perannya sebagai perawi hadits, Aisyah juga dikenal karena pengetahuannya yang mendalam tentang hukum Islam (fiqh). Dia sering menjadi rujukan bagi banyak sahabat dan umat Muslim dalam menyelesaikan masalah-masalah hukum dan ritual keagamaan. Keilmuan Aisyah mencakup berbagai bidang, termasuk tafsir Al-Quran, fiqh, dan sejarah Islam.

Rumah Aisyah Menjadi Pusat Pembelajaran

Aisyah juga sering mengajar dan memberikan ceramah kepada para sahabat dan umat Muslim. Rumahnya menjadi pusat pembelajaran, di mana banyak sahabat datang untuk belajar darinya. Melalui ajarannya, Aisyah memainkan peran penting dalam membentuk pemahaman umat Islam tentang ajaran-ajaran Nabi dan membantu menyebarluaskan ilmu pengetahuan Islam.

Pengaruh Aisyah dalam sejarah Islam tidak hanya terbatas pada perannya sebagai istri Nabi dan perawi hadits. Dia juga dikenal sebagai seorang pemimpin yang aktif dalam berbagai peristiwa politik setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ.

Salah satu peristiwa paling terkenal adalah keterlibatannya dalam Perang Jamal, di mana dia memimpin pasukan untuk menuntut keadilan bagi terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Meskipun peristiwa ini kontroversial, keterlibatan Aisyah menunjukkan keberaniannya dan kepeduliannya terhadap keadilan.

Kehidupannya mengajarkan kita banyak tentang keteguhan iman, keberanian, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan. Aisyah menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam penyebaran dan pemahaman ajaran Islam. Kisah hidupnya menginspirasi kita untuk terus mencari pengetahuan, mengajarkan kebenaran, dan memperjuangkan keadilan.

Fatimah al-Fihri

Fatimah al-Fihri, pendiri Universitas Al-Qarawiyyin, merupakan seorang wanita Muslim yang lahir pada abad ke-9 di Kairouan, Tunisia. Dia berasal dari keluarga yang kaya dan terpelajar. Setelah pindah ke Fes, Maroko, Fatimah dan keluarganya memutuskan untuk membangun sebuah masjid dan pusat pembelajaran Islam yang kemudian berkembang menjadi Universitas Al-Qarawiyyin.

Dedikasi Fatimah terhadap pendidikan tercermin dalam upayanya untuk membangun sebuah pusat pembelajaran yang terbuka untuk umum. Universitas Al-Qarawiyyin didirikan pada tahun 859 M, menjadikannya salah satu universitas tertua yang masih beroperasi hingga hari ini. Universitas ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum seperti matematika, astronomi, dan bahasa.

Peran perempuan dalam pengembangan intelektual dan sosial masyarakat yang ditunjukkan oleh Fatimah al-Fihri sangatlah penting. Melalui pendiriannya terhadap Universitas Al-Qarawiyyin, ia membuktikan bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam dunia pendidikan dan intelektual. Universitas ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan yang perempuan selenggarakan dapat bertahan dan memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

Fatimah al-Fihri memberikan contoh yang kuat tentang pentingnya memberdayakan perempuan dalam bidang pendidikan. Beliau menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama dengan laki-laki dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan masyarakat. Kesuksesan Universitas Al-Qarawiyyin yang didirikan oleh Fatimah al-Fihri juga menegaskan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin yang efektif dalam bidang pendidikan dan sosial.

Rabi’ah al-Adawiyah

Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang tokoh sufi perempuan yang hidup pada abad ke-8 Masehi di Basra, Irak. Dia terkenal karena kedalaman spiritualitasnya dan ajarannya yang penuh dengan cinta dan kepasrahan kepada Tuhan. Meskipun sedikit yang kita ketahui tentang kehidupan pribadinya, cerita-cerita tentang kebijaksanaan dan kebaikan hatinya tersebar luas dalam tradisi sufi.

Ajaran Rabi’ah terutama berfokus pada konsep cinta ilahi (mahabbah) yang murni dan tanpa pamrih. Bagi Rabi’ah, cinta kepada Tuhan haruslah menjadi motivasi utama dalam ibadah, bukan karena takut akan siksaan atau berharap akan pahala. Ia juga mengajarkan tentang kehendak Tuhan yang absolut dan pentingnya menerima segala ketentuan-Nya dengan lapang dada.

Pengaruh Rabi’ah terhadap tasawuf sangat besar. Ajarannya tentang cinta ilahi dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan mempengaruhi banyak sufi dan pemikir Islam selanjutnya. Konsep cinta ilahi yang diajarkannya menjadi inti dari banyak karya sastra sufi, dan kebijaksanaannya dalam menerima ujian hidup dipandang sebagai contoh yang patut diteladani dalam menghadapi cobaan.

Sejarah Islam menghormati Rabi’ah sebagai salah satu tokoh sufi paling suci dan berpengaruh. Dia dianggap sebagai contoh utama dari seorang hamba yang sepenuhnya mencintai Tuhan dan mampu meleburkan diri dalam cinta yang tidak tergoyahkan kepada-Nya. Meskipun hidup dalam kesederhanaan dan sering kali berhadapan dengan cobaan, Rabi’ah tetap teguh dalam imannya. Dia menjadi simbol keberanian spiritual dalam menghadapi segala rintangan.

Epilog

Mengungkap kisah-kisah perempuan ini tidak hanya memperluas wawasan tentang sejarah Islam, tetapi juga memberikan penghormatan kepada para pionir yang sering kali kita lupakan. Kisah-kisah mereka memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana perempuan telah berperan secara signifikan dalam mendukung dan membangun masyarakat Islam yang beragam.

Kisah Nusaybah binti Ka’ab, Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Fatimah al-Fihri, dan Rabi’ah al-Adawiyah menginspirasi kita untuk melihat peran perempuan dengan cara yang lebih inklusif.

Mereka adalah contoh nyata bagaimana kekuatan, keteguhan, dan cinta kepada Allah dapat membentuk sejarah dan mempengaruhi masa depan. Bagaimana kita, dalam kehidupan sehari-hari, dapat belajar dari nilai-nilai yang mereka anut dan menerapkannya dalam menjaga kesetaraan gender?

Mari kita refleksikan, bagaimana kita dapat lebih menghargai peran perempuan dalam masyarakat dan mempromosikan kesetaraan gender. Dalam tindakan sederhana sehari-hari, kita dapat memperjuangkan nilai-nilai yang mereka perjuangkan, memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang, dan mengakui kontribusi mereka dalam membangun dunia yang lebih adil dan harmonis.

Meneladani kisah-kisah perempuan pemberani dalam sejarah Islam memperkaya pemahaman kita tentang kontribusi mereka yang sering kali terlupakan. Kisah-kisah ini mengajarkan kita tentang keberanian, keteguhan, dan komitmen terhadap keadilan dan kesetaraan.

Melalui penghargaan dan apresiasi terhadap peran perempuan dalam sejarah, kita dapat menginspirasi generasi masa kini dan masa depan untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan dalam segala aspek kehidupan.

Setiap langkah yang kita ambil seharusnya mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya milik mereka yang terdokumentasi. Tetapi juga milik mereka yang kisahnya tersembunyi di balik bayang-bayang. Menggali dan mengangkat kisah-kisah tersebut memberikan tempat yang layak bagi perempuan-perempuan pemberani dalam sejarah Islam, dan dengan demikian, turut membangun dunia yang lebih inklusif dan adil bagi semua. []

Tags: inspiratifistri nabikhadijahsahabat nabiSejarah Islamulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Sikap Pakar dan Aktivis Lingkungan Jaringan Ulama Perempuan Terkait Bahaya Ormas Keagamaan Mengelola Tambang

Next Post

Akan Gelar Shalat Idul Adha Khusus Perempuan Di Masjid Ulul Abab UIN Malang, Ini Respon Ulama Perempuan

Yayat Hidayat

Yayat Hidayat

Perantau-Santri-Abdi Negara

Related Posts

Fiqh Menstruasi
Hukum Syariat

Saatnya Fiqh Menstruasi Ditulis dari Pengalaman Perempuan

17 Februari 2026
Relasi tidak Sehat
Keluarga

Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

2 Februari 2026
Literacy for Peace
Publik

Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

23 Januari 2026
What Is Religious Authority
Buku

Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama

21 Januari 2026
Persoalan Sosial
Publik

Ulama Perempuan Hadirkan Perspektif Baru dalam Merespons Persoalan Sosial

2 Februari 2026
Fatwa Perempuan
Uncategorized

Ulama Perempuan dan Sejarah Baru Fatwa di Indonesia

10 Januari 2026
Next Post
Shalat Idul Adha

Akan Gelar Shalat Idul Adha Khusus Perempuan Di Masjid Ulul Abab UIN Malang, Ini Respon Ulama Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam
  • Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0