Jumat, 13 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    Sejarah Difabel

    Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

    Krisis Lingkungan

    Perempuan, Alam, dan Doa: Tafsir Fikih Ekoteologis atas Krisis Lingkungan

    Kehilangan Tak Pernah Mudah

    Kehilangan Tak Pernah Mudah: Rasul, Duka, dan Etika Menjenguk yang Sering Kita Lupa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    Kegagalan Perkawinan

    Kegagalan Adaptasi dan Pentingnya Kafa’ah dalam Perkawinan

    Relasi Suami-Istri

    Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Makna Harapan Tahun Baru dalam Perspektif Psikoanalisis dan Tasawuf

Begitulah sekiranya gambaran manusia modern abad ini, kebanyakan kita memiliki harapan yang besar di kehidupan namun tidak bisa memaknai harapan dengan benar.

Rizki Eka Kurniawan by Rizki Eka Kurniawan
29 Desember 2024
in Featured, Hikmah
A A
0
Harapan

Harapan

7
SHARES
339
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saat kita sedang mengalami cobaan dalam kehidupan, seringkali kita akan menjadi sedih, putus asa, dan merasa menjadi satu-satunya orang yang paling menderita di dunia. Seolah hidup tanpa harapan lagi. Cobaan yang dihadapi seakan tak sebanding dengan kemampuan yang kita miliki. Sehingga kita menjadi pesimis dan beranggapan bahwa kita tidak mungkin bisa melewatinya. Pertanyaan demi pertanyaan datang memasuki kepala kita bagai musuh yang mengajak berperang di setiap harinya.

Kepala kita menjadi bising, ramai dengan bisikan suara-suara yang meragukan, menggelisahkan, mencemaskan dan menakutkan kita. Harapan hilang, timbul, tenggelam. Meskipun kita sedang sendirian, mendekam sepi di pojok kamar tapi kebisingan tersebut tetap terdengar. Seakan kita terkena gangguan mental. Merasa seperti pengidap penyakit bipolar ataupun skizofrenia.

Begitu sakit kepala kita sehingga kita menjadi sering terjaga di malam hari karena terlalu sering memikirkan banyak hal (overthingking). Ingin sekali berteriak “Kenapa dunia ini tidak adil? Kenapa aku selalu menderita? Kenapa? Kenapa aku tak bisa merasakan bahagia?”. Jiwa kita tergoncang, bak jatuh ke dalam jurang kegelapan, diri kita gemetaran menghadapi ketidakpastian, merasa sendiri, sunyi, sepi karena harapan-harapan kita tak terwujud di dunia.

Begitulah sekiranya gambaran manusia modern abad ini, kebanyakan kita memiliki harapan yang besar di kehidupan namun tidak bisa memaknai harapan dengan benar. Kesalahan dalam memaknai harapan akan menimbulkan banyak kesalahan saat memutuskan suatu tindakan sosial, baik secara kolektif ataupun personal.

Sebagaimana Erich Fromm tuliskan dalam bukunya yang berjudul Revolusi Harapan di bab 2: “Harapan adalah unsur penentu dalam sembarang upaya untuk membawa perubahan sosial ke arah sifat hidup, kesadaran diri, dan akal yang lebih besar. Tetapi sifat asal harapan seringkali disalahpahami dan dicampuradukkan dengan sikap-sikap yang tidak ada kaitannya dengan harapan, bahkan faktanya justru bertentangan.”

Dalam buku tersebut Fromm juga menjelaskan secara detail perbedaan antara harapan dengan nafsu. Harapan bisa kita definisikan sebagai suatu hasrat atau keinginan untuk mewujudkan, mengada dan memiliki sesuatu di kehidupan, namun apakah orang yang berhasrat untuk memiliki mobil, rumah, dan harta benda yang melimpah bisa disebut sebagai orang yang penuh harap? Atau mereka hanya sekedar orang yang penuh dengan nafsu duniawi?

Untuk mengetahui hal ini, kita harus bisa mengenali sifat-sifat harapan lebih dekat. Suatu hal bisa kita katakan sebagai harapan apabila memiliki kualitas kepasifan untuk “menunggu” sampai harapan tersebut menjadi fakta. Kepasifan tersebut akan mendorong manusia untuk segera mewujudkan harapannya, ini adalah proses di mana manusia akan mengada suatu yang tidak ada dan memastikan suatu yang tidak pasti—dalam kondisi ini harapan menjadi sangat berkaitan dengan keimanan dan ketabahan.

Harapan juga tak terlepas kaitannya dengan nafsu, dalam beberapa teori ilmiah Sigmund Freud menganggap bahwa semua tindakan manusia didasari oleh nafsu seksual. Namun dalam Islam kita mengenal nafsu dengan banyak macam, tidak hanya nafsu seksual saja.

Secara umum nafsu yang kita kenal dalam Islam ada nafsu mutmainnah, yang mendorong manusia untuk melakukan kebaikan, lalu ada nafsu lawwamah yang mendorong manusia untuk memenuhi keinginan-keinginan namun masih ada pengontrolan dan memiliki kesadaran untuk lebih mengutamakan sesuatu yang dibutuhkan, dan yang terakhir ada nafsu amarah yang mendorong manusia untuk memenuhi keinginan-keinginan tanpa pengontrolan sehingga menimbulkan banyak keserakahan, kerusakan dan kehancuran bagi pelakunya.

Abu Hamid Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa nafsu tidak semuanya buruk, nafsu tidak harus kita binasakan sebab ia merupakan bagian dalam diri kita yang tidak mungkin bisa kita binasakan. Hanya saja perlu adanya pengontrolan atas nafsu tersebut agar manusia tak dikendalikan oleh nafsunya namun ia sendiri yang mengendalikan nafsunya sesuai dengan kehendaknya.

Jika Freud menganggap bahwa nafsu seksual merupakan akar dari segala perbuatan manusia, di Islam kita bisa mengenal nafsu dengan level yang berbeda, dan akar dari tindakan manusia bukanlah nafsu melainkan kehendak manusia sendiri atas nafsu.

Nafsu menjadi bagian penting dalam perwujudan harapan, ia adalah bahan bakar yang mendorong manusia untuk bergerak mewujudkan harapannya. Harapan bisa menjadi buruk apabila ia didorong oleh nafsu yang buruk dan hanya memfokuskan pada kepuasan-kepuasan sementara dan konsumsi tanpa batas untuk mempertahankan kenikmatan dunia yang fana.

Harapan juga akan menjadi baik apabila didorong oleh nafsu yang baik, memungkinkan seseorang untuk bersikap altruis, suka menolong sesama, toleran dan berbelas kasih. Al-Qur’an menyebutkan dalam Surat Al-Fajr bahwa nafsu mutmainah akan mendorong kita menuju surga, tempat yang damai, tenang, nyaman dan penuh kebahagiaan.

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۖ

“Wahai jiwa yang tenang!” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 27)

ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)

فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى ۙ

fadkhulii fii ‘ibaadii

“Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,”

(QS. Al-Fajr 89: Ayat 29)

وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى

wadkhulii jannatii

“dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(QS. Al-Fajr 89: Ayat 30)

Surga di sini bisa kita maknai menjadi dua macam, yaitu pemaknaan surga sebagai sebuah tempat setelah kematian dan pemaknaan surga sebagai kondisi jiwa seseorang yang masih hidup. Dalam beberapa literatur dunia menyatakan bahwa surga bersifat transenden (tak mampu digapai oleh akal manusia) keberadaannya sulit sekali untuk dibuktikan sehingga beberapa orang mengingkari keberadaannya.

Namun keberadaan surga bisa kita rasakan sebelum kematian datang. Angin-angin surga selalu berhembus pada setiap jiwa manusia dan meneduhkan hati orang-orang yang beriman kepada-Nya. Hembusan angin surga tersebut yang membuat hati kita menjadi tenang, bahagia, nyaman setiap siang dan malam. Ini merupakan satu kenikmatan surga yang bisa kita rasakan selama kita masih hidup di dunia, surga yang kita maknai sebagai kondisi jiwa manusia.

Akar kata dari surga adalah bahasa sansekerta, berasal dari kata “svar” dan “ga”. Svar berarti cahaya dan ga berarti pergi. Jadi surga dalam artian lengkap adalah perjalanan menuju cahaya. Dalam perjalanan menuju cahaya, seorang pejalan akan diterangi pancaran dari cahaya-Nya, atau melihat kemerlip sinar yang akan menghantarkannya menuju sumber cahaya sejati.

Surga adalah tempat di mana cahaya selalu terpancar, penuh dengan penerangan. Pencaran, percikan, kilatan ataupun kemerlip cahaya yang kita lihat tersebut yang bisa kita maknai sebagai salah satu dari sedikit kenikmatan surga yang bisa kita nikmati di dunia sebagai suatu kondisi jiwa yang tenang.

Problematika manusia abad-21 adalah kesalahan mereka dalam memaknai harapan, sehingga mereka tak bisa menikmati kenikmatan surga selama hidupnya. Harapan masyarakat modern seakan tak punya kualitas pasif-nya. Ketiadaan kualitas pasif tersebut memungkinkan manusia untuk kehilangan sifat-sifat religiusnya dan tak lagi memiliki lebih banyak waktu untuk berkontemplasi dengan kehidupan.

Manusia lebih memilih tinggal di antara tumpukan beton dan aspal ketimbang dengan alam, kemajuan teknologi juga telah memanjakan manusia dan membuat mereka terbiasa untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat tanpa harus menunggu. Keimanan dan ketabahan menjadi terkikis, sebab manusia telah berpikir secara praktis dan mengabaikan rasa emosionalnya dalam menjalani kehidupan.

Manusia menjadi terlalu ambisius, optimis yang berlebihan dan tak jarang bersikap arogan untuk mewujudkan harapannya. Harapan mereka tidak lagi memiliki tujuan yang berarti di kehidupan. Manusia modern kehilangan esensi dari harapannya, tujuan dari harapan yang seharusnya adalah ketenangan jiwa sehingga kita bisa hidup lebih bahagia malah beralih kepada hal-hal yang bersifat materi.

Kenyataannya kita menjadi terlalu sibuk akan pekerjaan kita namun tidak lagi produktif sebagai manusia. Kita terlalu bergantung pada data-data komputer dan hasil produksi untuk bisa menikmati kebahagiaan. Harapan kita menjadi bersifat materialis yang mana kita beransumsi bahwa pencapaian harapan adalah ketika kita bisa menumpuk harta benda sebanyak-banyaknya sehingga kita bisa menguasai dunia.

Terlalu banyak orang yang berambisi untuk menguasai dunia tapi ia sendiri tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Hal ini membuat banyak orang terjatuh pada jurang keputusasaan, kehancuran, kekecewaan dan kesedihan. Segala hal yang membuat kehidupan manusia tak lagi tampak cerah bercahaya, wajahnya menjadi suram dan gelap.

Kondisi batin seperti ini bisa kita sebut sebagai kondisi di mana seseorang berada dalam dunia bawah (neraka), dunia yang gelap, tak ada cahaya sehingga ia tak mampu melihat sebenar-benarnya realita, langkahnya tak terarah, jalannya tersesat dan dipenuhi kecemasan.

Adakah yang bisa manusia lihat di kegelapan? Tak ada!

Mata perlu cahaya untuk bisa memandang jalan. Lalu bagaimana manusia bisa melangkah di kehidupan jika kedua bolanya tak mampu menangkap cahaya? Dalam kegelapan, kehidupan adalah sebuah kefanaan yang tak bermakna. Ada salah satu kalimat di kitab al-Hikam karya Ibnu Atha’illah yang berbunyi “Al-kaunu kulluhu zhulmatun wa innamaa anaarahu zhuhuurul haqqi fihi”  (Seluruh alam raya adalah kegelapan. Yang membuatnya bercahaya dan terang ialah terbitnya Yang Maha Benar di dalamnya).

Tapi bagaimana cahaya-Nya bisa terbit dalam hati kita, sedangkan diri kita terhijab oleh tembok keinginan-keinginan dan menjadikan materi sebagai tujuan. Bagaimana Allah tidak cemburu? Kalau kita menduakan-Nya dengan harta benda, kekuasaan, titel, dan jabatan.

Seluruh keinginan kita di dunia menghalang-halangi kita untuk mencicipi kenikmatan surga. Padahal pintu surga telah dibuka lebar-lebar setiap harinya, angin surga dibiarkan berhembus keluar oleh malaikat Ridwan agar bisa menyejukkan hati para penghuni dunia.

Untuk bisa menuju surga kita harus bisa mengurangi beban kita di dunia, kurangi bagasi kita agar perjalanan akan lebih ringan untuk mendaki tangga kehidupan. Dalam Zen kita akan mengenal bahwa gelas yang telah terisi penuh tak akan bisa terisi lagi.

Dalam Tao dan Konfusius kita akan mengenal bahwa kosong adalah isi. Sedang dalam Islam kita akan mengenal hakekat kehidupan dengan lebih sederhana “Apa yang kamu berikan, itu yang akan kamu dapatkan”. Kamu harus mengurangi isi pikiran dan hatimu agar bisa menerima cahaya-Nya, setiap hal yang kamu miliki memiliki sedekahnya sendiri-sendiri.

Jangan biarkan dirimu terisi sesak oleh dunia, lepaskanlah, sedikit demi sedikit agar langkahmu menjadi ringan untuk melangkah di kehidupan, agar kamu tak menjadi seperti Atlas yang dibebani dunia di pundaknya. Sehingga nantinya kamu bisa berjalan menuju cahaya.

Sebab perjalanan manusia sejatinya adalah perjalanan menuju cahaya, bukan perjalanan untuk menguasai dunia. Harapan manusia seharusnya adalah untuk bisa mencapai kenikmatan surga bukan sekedar kenikmatan dunia semata. []

 

 

Tags: Erich FrommharapanmanusiaTahun Barutasawuf
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mencari Jejak Mulan dalam Narasi Srikandi Aceh

Next Post

Mempertemukan Islam dengan Feminisme

Rizki Eka Kurniawan

Rizki Eka Kurniawan

Lahir di Tegal. Seorang Pembelajar Psikoanalisis dan Filsafat Islam

Related Posts

Kehormatan
Pernak-pernik

Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

10 Februari 2026
Dr. Fahruddin Faiz
Lingkungan

Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

4 Februari 2026
Gotong-royong
Lingkungan

Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

2 Februari 2026
Labiltas Emosi
Personal

Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

26 Januari 2026
reproduksi Manusia
Pernak-pernik

Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

25 Januari 2026
Seks
Pernak-pernik

Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

25 Januari 2026
Next Post
Feminisme

Mempertemukan Islam dengan Feminisme

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh
  • Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural
  • Konsep Keluarga dalam Islam
  • Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan
  • Makna Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0