Selasa, 3 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    MBG

    Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    Aurat sebagai Kerentanan

    Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial

    rahmatan lil ‘alamin sebagai

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

    rahmatan lil ‘alamin

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    Perempuan Salihah

    Mendefinisikan Ulang Perempuan Salihah di Era Kesetaraan

    Obsessive Love Disorder

    Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

    MBG

    Dear Pemerintah: Zakat itu untuk Korban Kekerasan Seksual, Bukan MBG

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    Aurat sebagai Kerentanan

    Perspektif Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Kerentanan Sosial

    rahmatan lil ‘alamin sebagai

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Landasan Perdamaian dan Tanggung Jawab Ekologis

    rahmatan lil ‘alamin

    Rahmatan lil ‘Alamin sebagai Prinsip Universal Ajaran Islam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Memahami Fase Kesadaran Beragama Anak-anak

Mengenal kesadaran beragama pada anak adalah langkah pola asuh yang wajib dipelajari orang tua dan guru manapun.

Lenni Lestari by Lenni Lestari
6 Februari 2021
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
Kesadaran Beragama

Kesadaran Beragama

10
SHARES
515
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Suatu hari, saat melipat sajadah, anak saya yang berusia tiga tahun bertanya, “Kalau kita shalat, Allah sayang ya sama kita?”. Saya mengiyakan pertanyaan itu dan memberikan penjelasan-penjelasan yang mudah dipahaminya. Konsep ini memang sengaja kami ajarkan agar dia memahami pentingnya shalat. Konsep ini tidak lahir begitu saja. Ini adalah salah satu ikhtiar kami dalam memahami fase kesadaran beragamanya.

Dari kejadian ini, saya juga belajar bahwa menanamkan konsep Ke-Tuhanan dan ibadah itu perlu disampaikan secara hati-hati, agar sesuai dengan fase perkembangan kesadaran beragama pada anak dan tidak menciderai citra Tuhan di mata anak.

Membangun kesadaran beragama sering hanya berfokus pada prilaku. Orang tua menuntut anak untuk melakukan ibadah A, B, dan C. Orang tua rentan lupa bahwa prilaku agama yang baik adalah cerminan pemahaman agama yang baik.

Begitu juga dalam memahami hadis perintah mengajarkan shalat kepada anak di usia 7 tahun dan memukulnya di usia 10 tahun. Perintah tersebut harus dipahami sebagai tahap lanjutan dalam membangun kesadaran beragama kepada anak.

Sebelumnya, orang tua perlu memahami karakter kesadaran beragama pada anak dan menanamkan nilai-nilai agama sesuai usianya. Adalah hal yang tidak adil, jika menuntut anak memiliki prilaku agama yang baik, tanpa memberikan perhatian yang proporsional kepada kemampuannya memahami agama. Di sinilah konsep mubadalah (kesalingan) berperan penting, agar anak memahami apa yang diperintahkan orang tua.

Lalu, apa sebenarnya kesadaran beragama itu?

Menurut Abdul Aziz Ahyadi, kesadaran beragama adalah sinergitas antara rasa keagamaan, pengalaman ke-Tuhanan, keimanan, sikap, dan tingkah laku keagamaan, yang terorganisasi dalam kepribadian seseorang. Kesadaran agama ini mencakup beberapa aspek yaitu aspek afektif (perasaan akan pengalaman ke-Tuhanan), konatif (kecenderungan bersikap), kognitif (proses berfikir yang mengarah pada keimanan dan kepercayaan), dan motorik (gerak, prilaku keagamaan).

Semua aspek ini akan berkembang seiring bertambahnya usia. Maka dari itu, para ahli psikologi agama membagi fase kesadaran beragama menjadi 4 fase, yaitu ; fase anak-anak, fase remaja, fase usia dewasa, dan fase manula.

Tulisan ini akan fokus pada fase pertama, yaitu fase anak-anak. Fase ini terhitung sejak usia 0-12 tahun.

Seperti yang ditanyakan oleh anak saya, hal itu muncul dari pengalaman emosionalnya sehari-hari dengan kami, orang tuanya. Ia mengerti rasanya disayang oleh Allah, karena ia mengerti bagaimana disayang oleh orang tuanya. Inilah yang disebut dengan sifat keagamaan antropomorfis, yaitu menganggap Tuhan itu seperti manusia, dan sifat afektif, yaitu hubungan perasaan dengan orang tua yang berpengaruh pada penggambaran Tuhan dalam diri seorang anak.

Saat fase keagamaan anak berada di karakter antropomorfis, seperti “Kalau kita shalat, Allah sayang sama kita”, maka konsekuensi lanjutannya adalah orang tua perlu mewujudkan keluarga yang penuh kasih sayang dan mewujudkan pengalaman yang nyata tentang kasih sayang.

Pendekatan afektif dan antropomorfis tentang kasih sayang Allah, sulit terwujud jika anak tidak memiliki pengalaman kasih sayang dari orang tuanya. Dengan kata lain, pendekatan ini membutuhkan dukungan sosial yang nyata sebagai sumber pengalaman bagi anak.

Di sisi lain, anak kami juga pernah berdo’a dengan menengadahkan tangan dan mulutnya berkomat-kamit, layaknya orang dewasa berdo’a. Setelah selesai berdo’a, kami bertanya tentang apa yang ia minta dalam doanya. Ia menjawab, “Minta Mobil”.

Jawaban sederhana ini adalah cerminan dari sifat keagamaan pada anak, yaitu sifat egosentris dan magis. Anak menghayati Tuhan sebagai sosok yang dapat memberikan kebutuhan pribadinya (egonya), seperti mainan, mobil-mobilan, boneka, kue, permen, buah, dan lain-lain. Jika ia berdoa, maka ia akan meminta hal-hal tersebut. Semua kebutuhan diarahkan untuk memenuhi egosentrisnya.

Sedangkan sifat magis tampak dari cara berfikirnya bahwa Tuhan adalah pemberi kekuatan magis, layaknya kisah-kisah Nabi terdahulu. Contohnya, jika Allah bisa memberikan tongkat ajaib untuk Nabi Musa, maka ia juga bisa mendapatkan benda-benda yang ia inginkan dari Allah.

Semua sifat keagamaan di atas, akan mengarah pada sifat terakhir, yaitu imitatif (peniruan). Anak akan menjalankan perilaku keagamaan dari hasil meniru lingkungan sekitarnya, baik itu berupa pembiasaan ataupun pengajaran yang intensif.

Ia bisa menunjukkan perilaku berdo’a karena ia melihat orang tuanya berdo’a. Padahal ia masih balita, yang belum memahami apa itu berdo’a dan mengapa harus menengadahkan kedua tangan. Di sinilah letak relasi antara dukungan sosial (keluarga) dan perilaku keagamaan pada anak. Dengan kata lain, children see children do.

Jika orang tua atau guru telah memahami sifat-sifat keagamaan anak di atas, seperti afektif, antropomorfis, egosentris, magis, dan imitatif, maka akan semakin mudah merancang aktifitas dan menanamkan afirmasi positif tentang Tuhan kepada anak. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, seperti ;

Pertama, internalisasi nilai-nilai agama sesuai usia. Internalisasi nilai ini adalah bagian dari metode pembelajaran secara implisit, yaitu dimana pengetahuan, kecakapan, penguasaan pada suatu bidang diperoleh menyatu dalam aktivitas kesehariannya, tanpa disadari, tanpa usaha, dan tanpa dikontruksi oleh dirinya. Metode ini membiarkan anak-anak mengembangkan pemahaman mereka sendiri mengenai konsep-konsep kehidupan, termasuk konsep tentang Tuhan, agama, dan akhlak yang luhur.

Untuk menanamkan aqidah, anak bisa dikenalkan tentang ciptaan dan sifat-sifat Tuhan dalam analogi sifat-sifat manusia yang difigurkan, seperti figur ayah atau ibunya yang penyayang, dengan menggunakan bahasa yang sederhana yang dapat dipahami anak, jelas, dan kongkrit.

Selain itu, orang tua juga dianjurkan untuk mengucapkan kata-kata yang positif, afirmasi dan sugesti positif di waktu-waktu anak bisa menerima tanpa penolakan dan masuk dalam alam bawah sadarnya. Dalam dunia hypnoparenting, tahap ini berada saat gelombang otak anak berada di tahap alpha-theta.

Gelombang alpha (8-12Hz) terjadi saat rileks, istirahat, mengantuk, atau mata mulai tertutup. Sedangkan gelombang theta (4-8Hz) adalah ketika tertidur lelap. Internalisasi nilai ini diharapkan dapat diterima oleh anak dengan lunak, tanpa pemaksaan dan penolakan.

Kedua, dukungan sosial. Ini adalah lanjutan dari langkah pertama. Dukungan sosial memberikan pengaruh positif dan siginifikan dalam meningkatkan kesadaran beragama seseorang. Menurut Cairns dan Neckerman, dukungan sosial merupakan sumber referensi bagi seseorang untuk mentaati kaidah aturan moral yang berlaku di lingkungan sosialnya.

Orang tua bisa menunjukkan suasana yang agamis dari dalam rumah atau luar rumah, seperti shalat berjamaah, puasa, sedekah, silaturrahmi, berpakaian yang sesuai tuntunan agama, dan lain-lain. Pada akhirnya, anak akan bisa menerima aturan agama dengan baik, taat dan patuh dalam menjalankan ajaran agamanya.

Ketiga, pembiasaan yang baik (habituation), yaitu peniruan berulang yang dilakukan oleh anak-anak karena dikondisikan oleh orang dewasa terhadap suatu tingkah laku tertentu. Dalam metode ini, orang tua menjadi pemandu untuk mengarahkan anak untuk menirukan perilaku-perilaku yang diharapkan, seperti ibadah shalat, kebiasaan yang baik saat makan dan minum, perilaku hidup bersih dan sehat, berdo’a, dan lain-lain.

Mengenal kesadaran beragama pada anak adalah langkah pola asuh yang wajib dipelajari orang tua dan guru manapun. Jika dilakukan tanpa didasari ilmu yang benar, maka akan memberikan dampak yang negatif pada anak tentang Tuhan dan agama.

Akibatnya, bagi anak, agama adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan penuh beban. Melalui tulisan ini, diharapkan akan semakin banyak orang tua yang memahami tahapan kesadaran beragama pada anak, agar kelak akan tumbuh generasi yang religius dan penuh tanggung jawab. Wallahu a’lam bi al-shawab. []

 

 

Tags: keberagamankeluargaKesadaran Beragamaparentingtoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pentingnya Pendidikan Seks Pada Anak

Next Post

Keberangkatan: Hakikat Menjadi Perempuan

Lenni Lestari

Lenni Lestari

Pencinta buku yang suka belajar tentang isu-isu perempuan dan keluarga

Related Posts

Bapak Rumah Tangga
Keluarga

Bagaimana Jika Suamimu adalah Bapak Rumah Tangga Hari Ini?

27 Februari 2026
Mendidik Rasa Aman
Keluarga

Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

25 Februari 2026
Perspektif Mubadalah
Keluarga

Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

23 Februari 2026
Child Protection
Keluarga

Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

22 Februari 2026
Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
Anas Fauzie
Keluarga

Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

15 Februari 2026
Next Post
Keberangkatan

Keberangkatan: Hakikat Menjadi Perempuan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Antara Perintis dan Pewaris: Dualisme di Panggung Kabuki dalam Film Kokuho (2025)
  • Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil
  • Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan
  • “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad
  • Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0