Jumat, 2 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

    Gender KUPI

    Julia Suryakusuma Apresiasi Peran KUPI dalam Mendorong Islam Berkeadilan Gender

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ulama Perempuan menurut KUPI

    Apa yang Dimaksud Ulama Perempuan Menurut KUPI?

    Pengharapan

    Pengharapan Sebagai Cara Katolik Menyambut Tahun Baru 2026

    Ulama Perempuan pada

    Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

    Pembangunan

    Pembangunan yang Melukai Perempuan

    Pengalaman Perempuan

    Ulama KUPI Harus Berpihak pada Pengalaman Perempuan

    Ulama Perempuan Tidak Jenis Kelamin

    Ulama Perempuan Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin

    Tahun Baru

    Tahun Baru dan Mereka yang Tidak Ikut Merayakan

    Bencana Aceh Sumatra

    Bencana Aceh Sumatra: Perlindungan Perempuan Saat Banjir Melanda

    Banyak Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Banyak Jalankan Fungsi Keulamaan, Namun Minim Pengakuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

    Gender KUPI

    Julia Suryakusuma Apresiasi Peran KUPI dalam Mendorong Islam Berkeadilan Gender

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ulama Perempuan menurut KUPI

    Apa yang Dimaksud Ulama Perempuan Menurut KUPI?

    Pengharapan

    Pengharapan Sebagai Cara Katolik Menyambut Tahun Baru 2026

    Ulama Perempuan pada

    Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan

    Pembangunan

    Pembangunan yang Melukai Perempuan

    Pengalaman Perempuan

    Ulama KUPI Harus Berpihak pada Pengalaman Perempuan

    Ulama Perempuan Tidak Jenis Kelamin

    Ulama Perempuan Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin

    Tahun Baru

    Tahun Baru dan Mereka yang Tidak Ikut Merayakan

    Bencana Aceh Sumatra

    Bencana Aceh Sumatra: Perlindungan Perempuan Saat Banjir Melanda

    Banyak Ulama Perempuan

    Ulama Perempuan Banyak Jalankan Fungsi Keulamaan, Namun Minim Pengakuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    Surga Perempuan

    Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Menilik Avatar: Fire and Ash dari Kacamata Perempuan Pejuang Lingkungan dan HAM

Avatar: Fire and Ash secara tak langsung bicara tentang ekofeminisme: gagasan bahwa penindasan terhadap alam berjalan seiring dengan penindasan terhadap perempuan.

Fatwa Amalia Fatwa Amalia
2 Januari 2026
in Film, Rekomendasi
0
Avatar: Fire and Ash

Avatar: Fire and Ash

5
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Selasa lalu, saya dan adik saya berebut berteriak di antara kerumunan penonton. Kami akhirnya menyaksikan Avatar: Fire and Ash, film yang sejak lama kami tunggu-tunggu setelah Avatar: The Way of Water. Ada semacam antusiasme kanak-kanak yang muncul kembali. Rasa ingin tahu, rasa kagum, dan sedikit harap agar James Cameron tetap setia pada dunianya dan benar saja, ia memang belum pernah mengecewakan.

Seperti biasa, Cameron sangat tahu bagaimana menjerat mata penonton. Pandora kembali mengajak kami berlayar dan bertualang: menyusuri laut, melintasi daratan, dan masuk ke ruang-ruang yang terasa asing sekaligus intim. Visualnya begitu indah hingga nyaris membuat lupa bahwa di balik warna biru, merah, dan abu itu, ada cerita yang jauh lebih gelap.

Sejak film pertamanya, dunia Pandora adalah metafora terang tentang bumi kita sendiri. Tentang tanah yang terampas atas nama pembangunan, laut yang terkeruk tanpa ampun, dan tubuh manusia maupun non-manusia yang terperas demi keuntungan segelintir pihak.

Dalam Avatar: Fire and Ash, lapisan kritik itu terasa semakin tebal dan matang. Konflik tidak lagi hanya soal siapa melawan siapa, melainkan tentang struktur kekuasaan yang memungkinkan perang dan krisis ekologis terus berulang.

Kekerasan tidak Pernah Berdiri Sendiri

Kita diajak melihat bagaimana kekerasan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berjalan beriringan dengan eksploitasi alam, kolonialisme, dan logika rakus yang sama. Api dan abu bukan sekadar elemen visual, melainkan penanda kehancuran yang tertinggalkan. Tanah yang gosong, kehidupan yang tercerabut, dan masa depan yang terpaksa hangus sebelum sempat tumbuh.

Yang paling mengusik, film ini dengan jujur memperlihatkan siapa yang paling membayar mahal dari semua kekacauan itu. Bukan para penguasa perang, bukan pula mereka yang duduk nyaman di balik layar teknologi. Yang paling menanggung dampaknya justru mereka yang selama ini dianggap kuat karena terbiasa bertahan, perempuan. Perempuan yang menjaga kehidupan sehari-hari, yang merawat saat dunia runtuh, yang kehilangan rumah, anak, dan rasa aman, tetapi tetap kita harapkan bertahan tanpa banyak suara.

Di titik inilah Avatar: Fire and Ash terasa relevan dan menyentuh. Ia memaksa kita bercermin: bahwa krisis ekologis dan perang bukan isu netral gender. Di dunia nyata, seperti di Pandora, perempuan sering kali berada di garis depan dampak mengurus air yang semakin langka, tanah yang rusak, dan komunitas yang tercerai-berai. Namun suara mereka kerap kita kesampingkan dalam pengambilan keputusan. Film ini tidak menggurui, tetapi cukup jujur untuk menunjukkan ketimpangan itu apa adanya.

Ronal: Tubuh Perempuan di Tengah Ekstraksi dan Kekerasan

Ronal (Kate Winslet), yang kerap kita sapa Tsahìk, pemimpin spiritual klan Metkayina bukan sekadar figur religius yang hadir dalam ritual dan doa. Ia adalah penjaga pengetahuan ekologis. Tubuh dan ingatannya menyimpan peta laut, musim, arus, serta relasi sakral antara manusia laut dan Tulkun. Dalam kosmologi Metkayina, Ronal adalah penghubung. Ia memastikan laut tidak kita perlakukan sebagai sumber daya, melainkan sebagai kerabat yang hidup.

Karena itu, ketika RDA (Resources Development Administration) kembali datang memburu Tulkun demi cairan bernilai tinggi, Ronal tidak memilih bersembunyi di balik perannya sebagai ibu hamil tua. Ia berdiri di garis depan perlawanan. Dalam kondisi paling rentan secara fisik, ia tetap bersuara lantang, menolak normalisasi pembantaian yang terbungkus bahasa kemajuan dan ilmu pengetahuan. Tubuhnya yang hamil justru menegaskan ironi paling brutal. Kehidupan yang sedang tumbuh harus berhadapan langsung dengan mesin perusak kehidupan.

Kematian Ronal yang tragis saat melahirkan di tengah pertempuran bukan detail dramatis semata. Ia adalah simbol keras tentang bagaimana tubuh perempuan kerap menjadi medan paling kejam dalam konflik sumber daya.

Bicara tentang Ekofeminisme

Perang lingkungan hampir selalu memukul perempuan berlapis-lapis. Sebagai penjaga komunitas, sebagai ibu, sebagai pemikul pengetahuan lokal, dan sebagai tubuh yang terus dituntut bertahan bahkan ketika dunia runtuh di sekelilingnya. Ronal mati bukan karena kelemahan, tetapi karena sistem yang memaksa perempuan berada di titik paling berbahaya dari krisis ekologis.

Namun film ini tidak berhenti pada kematian. Bayi Ronal yang kemudian diasuh oleh Neytiri (Ibu keluarga Sully) menyampaikan satu pesan penting. Perlawanan perempuan tidak selalu selesai bersama jasad. Ia berpindah, terwariskan, dan dirawat dalam relasi kolektif. Pengetahuan ekologis, ingatan tentang laut, dan komitmen untuk melindungi kehidupan tidak lenyap, ia hidup dalam tubuh lain, dalam generasi berikutnya, dalam solidaritas antarperempuan.

Di titik ini, Avatar dengan halus berbicara tentang ekofeminisme. Bahwa perempuan dan alam sama-sama menjadi sasaran eksploitasi, tetapi juga sama-sama menyimpan kekuatan untuk melawan. Ronal menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan tindakan romantis, melainkan kerja politik yang berisiko tinggi.

Ia mempertaruhkan tubuhnya sendiri demi memastikan laut tetap hidup. Ronal mungkin gugur, tetapi perjuangannya tidak. Ia hadir sebagai pengingat bahwa dalam setiap krisis lingkungan, selalu ada perempuan yang berdiri di garis depan. Seringkali tanpa sorotan, sering tanpa perlindungan, namun dengan keberanian yang menopang kehidupan itu sendiri.

Neytiri: Amarah, Duka, dan Hak untuk Melawan

Awalnya saya membaca Neytiri sebagai karakter emosional marah, keras, dan kurang bernegosiasi. Tapi ternyata saya salah telak. Anggapan-anggapan saya di awal justru menunjukkan bahwa di situlah politiknya. Dalam Fire and Ash, kemarahan Neytiri bukanlah ledakan tanpa arah, melainkan respon terhadap kolonialisme yang berulang. Hutan dihancurkan, laut dirusak, keluarga terbunuh, dan kehidupan dianggap sekadar angka.

Film ini menolak narasi perempuan sebagai penjaga damai yang selalu diminta tenang. Neytiri adalah pengingat bahwa amarah perempuan atas kehancuran ekologis adalah rasional. Ia bukan antitesis kemanusiaan, melainkan bagian dari upaya mempertahankannya.

Tulkun dan Etika Relasi dengan Alam

Isu Tulkun makhluk laut cerdas yang dibantai RDA adalah jantung etika lingkungan Avatar. Pembunuhan Tulkun demi ekstraksi cairan mahalnya mencerminkan logika kapitalisme ekstraktif di dunia nyata: alam direduksi menjadi bahan baku, kehidupan diubah menjadi komoditas.

Avatar dengan cerdas memperlihatkan benturan dua dunia: dunia RDA yang memuja efisiensi, keuntungan, dan teknologi, berhadapan dengan dunia Omatikaya dan Metkayina yang menempatkan kehidupan sebagai nilai utama. Benturan ini terasa sangat akrab dengan realitas kita hari ini dari pembantaian satwa liar, perusakan laut, hingga proyek-proyek besar yang mengorbankan komunitas adat demi pertumbuhan ekonomi semu.

Melalui kisah Tulkun, Avatar mengajukan pertanyaan etis yang tajam: sampai kapan manusia merasa berhak menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang layak dikorbankan? Dan dengan harga apa? Film ini mengingatkan bahwa krisis ekologis bukan hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi krisis cara pandang. Selama alam diposisikan sebagai objek, kekerasan akan terus berulang dengan korban yang selalu sama: makhluk hidup, komunitas rentan, dan masa depan yang perlahan terkikis.

Dari Pandora ke Mollo dan Kendeng

Apa yang tergambarkan dari Avatar: Fire and Ash bukan fiksi jauh dari kenyataan. Di Indonesia, Mama Aleta Baun dari Mollo, Nusa Tenggara Timur, berdiri menghadapi tambang marmer yang menghancurkan gunung batu yang bagi komunitas Mollo adalah tubuh ibu. Perlawanan Mama Aleta bukan dengan senjata, tetapi dengan menenun di lokasi tambang, menjadikan tubuh perempuan dan kerja perawatan sebagai bentuk politik.

Di Jawa Tengah, Ibu-ibu Petani Kendeng yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) melawan pabrik semen yang mengancam sumber air dan tanah hidup mereka. Aksi mengecor kaki dengan semen di depan Istana bukan pertunjukan ekstrem, melainkan pesan sederhana dan brutal: jika tanah kami mati, kami ikut mati.

Di berbagai wilayah lain dari perempuan adat Papua yang melawan sawit dan tambang, hingga aktivis perempuan lingkungan dan HAM yang menghadapi kriminalisasi, pola ini berulang. Perempuan berada di garis depan karena merekalah yang pertama merasakan dampak krisis ekologis.

Isu Lingkungan tidak Netral

Avatar: Fire and Ash secara tak langsung berbicara tentang ekofeminisme: gagasan bahwa penindasan terhadap alam berjalan seiring dengan penindasan terhadap perempuan. Ronal, Neytiri, Kiri, Mama Aleta, dan Ibu-ibu Kendeng menunjukkan bahwa perlawanan ekologis bukan romantisme, melainkan kerja keras yang berisiko tinggi.

Film ini penting bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia membuka ruang diskusi: bahwa isu lingkungan bukan isu netral, dan kemanusiaan tidak bisa terpisahkan dari cara kita memperlakukan bumi.

Ketika Ronal gugur dan bayinya tetap hidup, Avatar: Fire and Ash seolah mengatakan: perjuangan mungkin kehilangan tubuh, tapi tidak kehilangan arah. Di Pandora maupun di bumi, perempuan terus merawat kehidupan di tengah api, abu, dan reruntuhan sistem yang rakus.

Dan barangkali, seperti Neytiri, Mama Aleta, dan Ibu-ibu Kendeng, dunia perlu lebih banyak mendengarkan mereka sebelum semuanya benar-benar tinggal abu. Bahwa dunia yang kita kagumi bisa runtuh jika terus kita perlakukan sebagai objek eksploitasi. Bahwa perang selalu meninggalkan luka yang tidak merata. Dan bahwa perempuan, baik di Pandora maupun di bumi, terlalu sering diminta menanggung beban paling berat tanpa pernah benar-benar terlibatkan dalam menentukan arah masa depan. []

 

Tags: Avatar: Fire and AshEkofeminismePejuang Lingkunganperlawanan perempuanReview Film
Fatwa Amalia

Fatwa Amalia

Fatwa Amalia, pengajar juga perempuan seniman asal Gresik Jawa Timur. Karya-karyanya banyak dituangkan dalam komik dan ilustrasi digital dengan fokus isu-isu perempuan dan anak @komikperempuan. Aktif di sosial media instagram: @fatwaamalia_r. Mencintai buku dan anak-anak seperti mencintai Ibu.

Terkait Posts

Anak Pertama
Film

Film In Your Dream: Apakah Benar Anak Pertama Dilahirkan untuk Selalu Kuat?

20 Desember 2025
Transisi Energi
Publik

Ekofeminisme dan Tanggung Jawab Moral di Balik Transisi Energi Nasional

22 November 2025
Novel Dendam
Buku

Perempuan dalam Luka Sejarah: Membaca Novel Dendam Karya Gunawan Budi Susanto

7 November 2025
Diplomasi Iklim
Publik

Ekofeminisme dalam Diplomasi Iklim

14 Oktober 2025
Film PK
Film

Menyoal Esensi Beragama, Film PK Mengajarkan Soal Cinta dan Kemanusiaan

1 Oktober 2025
Film Taare Zameen Par
Film

Film Taare Zameen Par: Setiap Anak Istimewa

19 September 2025
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pengalaman Perempuan

    Ulama KUPI Harus Berpihak pada Pengalaman Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tahun Baru dan Mereka yang Tidak Ikut Merayakan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bencana Aceh Sumatra: Perlindungan Perempuan Saat Banjir Melanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ulama Perempuan Tidak Ditentukan oleh Jenis Kelamin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan yang Melukai Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Menilik Avatar: Fire and Ash dari Kacamata Perempuan Pejuang Lingkungan dan HAM
  • Apa yang Dimaksud Ulama Perempuan Menurut KUPI?
  • Pengharapan Sebagai Cara Katolik Menyambut Tahun Baru 2026
  • Komitmen Ulama Perempuan pada Keadilan dan Kemaslahatan
  • Pembangunan yang Melukai Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID