Sabtu, 24 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Musik untuk Semua

    Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan Reproduksi diabaikan

    Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Musik untuk Semua

    Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

    Ocan

    Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!

    Relasi tidak Sehat

    Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga

    Pendidikan Perempuan Disabilitas

    Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    Dialog Lintas Iman

    Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    Literacy for Peace

    Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

    Skincare

    Skincare, Kewajiban Suami atau Investasi Bersama?

    Disabilitas

    Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kesehatan Reproduksi diabaikan

    Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan

    reproduksi Manusia

    Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Perempuan

    Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    Seks

    Seks dan Seksualitas sebagai Bagian dari Kehidupan Manusia

    Seksualitas dalam Islam

    Seksualitas dalam Islam: Dari Fikih hingga Tasawuf

    Seksualitas sebagai

    Seksualitas sebagai Konstruksi Sosial dan Budaya

    Seksualitas

    Bagaimana Agama Mengonstruksikan Seksualitas sebagai Hal yang Tabu?

    Seksualitas

    Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

Hari Tuli Nasional seharusnya mendorong perluasan kesadaran ini. Masyarakat tidak boleh menjadikan inklusivitas sebagai tren sesaat atau strategi pencitraan.

arinarahmatika by arinarahmatika
24 Januari 2026
in Publik
0
Musik untuk Semua

Musik untuk Semua

254
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setiap 11 Januari, masyarakat Indonesia memperingati Hari Tuli Nasional. Sayangnya, banyak dari kita masih menjadikan peringatan ini sebagai ritual simbolik yang cepat berlalu.

Ucapan selamat memenuhi linimasa media sosial, poster kampanye beredar, lalu keesokan harinya orang kembali menjalani hidup seperti biasa. Padahal, Hari Tuli Nasional mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya. Sejauh mana ruang-ruang publik di Indonesia benar-benar ramah bagi teman-teman Tuli?

Pertanyaan ini penting karena persoalan utama yang komunitas Tuli hadapi bukan sekadar soal pendengaran, melainkan soal akses. Masyarakat sering membatasi akses informasi, akses komunikasi, dan akses ke ruang publik lainnya. Ketika akses itu tidak tersedia, masyarakat menempatkan teman-teman Tuli sebagai penonton kehidupan sosial, bukan sebagai bagian utuh di dalamnya. Di sinilah kesadaran publik memegang peran penting.

Musik dan Imajinasi tentang Kenormalan

Selama ini, kita sering membayangkan musik untuk semua sebagai sesuatu yang hanya bisa dinikmati lewat telinga. Bahkan, kita mengaitkan musik dengan suara, irama, dan kemampuan mendengar. Cara pandang ini secara tidak sadar mendorong anggapan bahwa konser musik menjadi ruang yang “paling pas” bagi orang awam atau orang dengar. Akibatnya, banyak dari kita tidak memasukkan teman-teman Tuli dalam bayangan mereka ketika membicarakan pengalaman menikmati musik untuk semua.

Tanpa kita sadari, anggapan ini menciptakan batas yang tidak terlihat. Batas ini muncul bukan karena teman-teman Tuli tidak menyukai musik, melainkan karena masyarakat tidak merancang ruang musik untuk mereka. Kita sering memperlakukan musik seolah-olah hanya milik kelompok tertentu, sementara mereka mendorong teman-teman Tuli ke pinggir ruang pengalaman itu.

Padahal, musik tidak sesempit itu. Musik tidak hanya berbicara tentang bunyi. Musik menghadirkan getaran yang bisa dirasakan tubuh, lirik yang menyentuh perasaan dan kebersamaan yang muncul ketika orang menikmatinya bersama. Ketika kitamembatasi musik hanya sebagai suara, mereka justru menghilangkan maknanya sebagai pengalaman manusia yang utuh.

Konser sebagai Ruang Publik

Hal yang sama berlaku pada konser. Kita sering menganggap konser sekadar acara hiburan atau pertunjukan di atas panggung. Padahal, konser berfungsi sebagai ruang sosial. Di sanalah orang berkumpul, berbagi emosi, dan merayakan momen bersama. Dalam ruang seperti ini, masyarakat secara sadar atau tidak membangun nilai-nilai tertentu: siapa yang mereka anggap penting, siapa yang mereka perhitungkan, dan siapa yang mereka abaikan.

Ketika penyelenggara konser tidak menyediakan akses bagi teman-teman Tuli, mereka menyampaikan pesan yang sangat jelas, meskipun tidak mereka ucapkan secara langsung. Pesan itu menyatakan bahwa konser hanya ditujukan untuk kelompok tertentu.

Sebaliknya, ketika penyelenggara konser secara sadar menyediakan aksesibilitas—seperti bahasa isyarat atau dukungan lain—mereka menyampaikan pengakuan. Mereka mengakui bahwa musik menjadi milik semua orang dan setiap orang berhak menikmati karya seni dengan caranya masing-masing.

Bahasa Isyarat sebagai Jembatan

Konser URUP 2026 yang digelar Kunto Aji di Yogyakarta menunjukkan secara nyata bagaimana penyelenggara bisa merancang konser yang lebih ramah bagi semua orang. Sejak awal, panitia URUP menyampaikan niat mereka untuk menghadirkan ruang inklusif, tidak hanya bagi penonton umum, tetapi juga bagi teman-teman dengan kebutuhan khusus serta pengunjung yang datang bersama anak-anak. Panitia menyediakan layanan aksesibilitas dan membuka pendataan khusus agar setiap pengunjung dapat menikmati rangkaian acara dengan lebih nyaman.

Langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi langkah ini memuat makna yang dalam. Panitia tidak sekadar mengurus aspek teknis acara, tetapi juga menunjukkan sikap dan cara pandang. Mereka menempatkan inklusivitas sebagai bagian dari perencanaan sejak awal, bukan sebagai tambahan di akhir. Konser tidak lagi hanya membicarakan panggung megah dan tata suara yang baik, tetapi juga membicarakan bagaimana semua orang bisa hadir tanpa merasa tertinggal.

Langkah Kunto Aji ini sejalan dengan praktik yang sebelumnya juga dilakukan Yura Yunita dalam beberapa konsernya. Ia menghadirkan juru bahasa isyarat di atas panggung. Kehadiran bahasa isyarat perlahan mengubah cara orang memandang konser musik. Lagu tidak hanya terdengar, tetapi juga terlihat. Lirik tidak hanya dinyanyikan, tetapi juga diterjemahkan melalui gerak tangan, ekspresi wajah, dan ritme tubuh yang penuh makna.

Bahasa isyarat bukan sekadar alat bantu komunikasi. Bahasa isyarat hidup sebagai bahasa dengan tata bahasa dan kekayaan ekspresi yang kuat. Ketika bahasa isyarat hadir di panggung konser, musisi dan penyelenggara tidak sekadar menerjemahkan lagu, tetapi memperluas cara orang menikmati musik. Musik menjadi lebih visual, lebih terasa, dan lebih dekat dengan pengalaman manusia yang beragam. Pada titik inilah konser berubah menjadi ruang bersama yang benar-benar inklusif.

Inklusivitas Bukan Pilihan, tetapi Keharusan

Sering kali masyarakat memandang inklusivitas sebagai bentuk kebaikan hati, seolah-olah setiap orang bebas memilih untuk peduli atau tidak. Padahal, inklusivitas bukan soal kemurahan hati. Inklusivitas menyangkut keadilan. Ruang publik—termasuk konser musik—harus terbuka bagi semua orang tanpa pengecualian.

Selama ini, banyak perancang ruang publik menggunakan gambaran “pengguna ideal”: orang yang bisa melihat, mendengar, dan bergerak tanpa hambatan. Tanpa disadari, gambaran ini menyingkirkan teman-teman Tuli dan kelompok difabel lainnya. Bukan karena mereka tidak ingin terlibat, tetapi karena masyarakat tidak menyiapkan ruang untuk mereka. Karena itulah, inklusivitas harus hadir sejak awal perencanaan, bukan sebagai tambahan belakangan.

Bagi teman-teman Tuli, aksesibilitas di konser bukanlah fasilitas istimewa. Aksesibilitas merupakan bentuk pengakuan atas hak mereka. Kehadiran juru bahasa isyarat, informasi yang mudah dipahami, dan pengaturan ruang yang ramah menegaskan bahwa mereka berhak hadir, menikmati musik, dan menjadi bagian dari pengalaman budaya yang sama. Ketika akses ini tersedia, masyarakat menyampaikan pesan yang jelas: teman-teman Tuli bukan tamu, melainkan bagian dari masyarakat itu sendiri.

Mengapa Ini Penting?

Dampak inklusivitas tidak hanya dirasakan oleh teman-teman Tuli. Penonton dengar dan masyarakat luas juga belajar dari pengalaman tersebut. Mereka mulai menyadari bahwa dunia tidak hanya dirancang untuk masyarakat non-difabel. Manusia berinteraksi dengan musik, ruang, dan sesama melalui banyak cara. Kesadaran ini perlahan mengubah cara pandang terhadap perbedaan—bukan sebagai hambatan, tetapi sebagai bagian alami dari kehidupan bersama.

Konser yang inklusif membuka ruang perjumpaan yang jarang terjadi. Teman-teman Tuli dan penonton dengar berada di tempat yang sama, berbagi momen yang sama, dan merasakan emosi yang sama, meskipun melalui cara yang berbeda. Tidak ada yang lebih utama. Semua hadir sebagai manusia yang setara.

Dari perjumpaan inilah empati tumbuh. Empati muncul bukan karena kewajiban moral, melainkan karena pengalaman langsung. Orang melihat bagaimana teman-teman Tuli mengekspresikan kegembiraan lewat bahasa isyarat, merespons musik dengan tubuh dan ekspresi, serta membangun kebersamaan tanpa suara. Pengalaman seperti ini jarang tumbuh melalui ceramah atau kampanye formal. Musik, dalam konteks ini, menjadi jembatan yang kuat karena ia bekerja langsung di ranah rasa.

Harapan yang Bisa Kita Rawat Bersama

Pengalaman inklusif di ruang konser seharusnya tidak berhenti di sana. Pengalaman ini dapat menjadi cermin bagi ruang publik lainnya: sekolah, kampus, layanan kesehatan, tempat ibadah, dan berbagai acara kebudayaan. Prinsipnya sederhana: mau mendengar kebutuhan, mau belajar, dan mau melibatkan teman-teman Tuli sejak awal perencanaan.

Hari Tuli Nasional seharusnya mendorong perluasan kesadaran ini. Masyarakat tidak boleh menjadikan inklusivitas sebagai tren sesaat atau strategi pencitraan. Masyarakat perlu menjadikannya sebagai cara berpikir dan cara bekerja yang terus diupayakan secara konsisten.

Pada akhirnya, musik mengajarkan nilai kemanusiaan. Keindahan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberagaman cara manusia merasakan dunia. Ketika bahasa isyarat dan musik hadir berdampingan di satu panggung, kita menyadari bahwa tidak ada satu cara pun yang paling normal atau paling benar.

Semoga peringatan Hari Tuli Nasional tidak hanya menjadi pengingat tahunan, tetapi juga memicu perubahan nyata. Semoga semakin banyak musisi, penyelenggara acara, dan pengelola ruang publik yang berani berpihak pada inklusivitas. Karena musik seharusnya menjadi ruang bersama—tempat semua orang bisa hadir merayakan apapun perbedaannya. []

Tags: Akses SetaraHak Penyandang DisabilitasHari Tuli NasionalInklusi SosialMusik untuk SemuaTeman Tuli

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
arinarahmatika

arinarahmatika

Related Posts

Pendidikan Perempuan Disabilitas
Publik

Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

24 Januari 2026
Disabilitas
Publik

Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

23 Januari 2026
Kebijakan Publik
Publik

Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

21 Januari 2026
Jurnalisme
Publik

Menulis dengan Empati: Wajah Jurnalisme yang Seharusnya

20 Januari 2026
Caregiver Disabilitas
Publik

Caregiver Disabilitas Menjadi Pahlawan yang Tak Terlihat

17 Januari 2026
Disabilitas
Publik

Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

15 Januari 2026
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Pejabat Beristri Banyak

    Menyoal Pejabat Beristri Banyak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kesehatan Reproduksi Perempuan Masih Menghadapi Berbagai Persoalan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Minimnya Pengetahuan Membuat Perempuan Rentan dalam Kesehatan Reproduksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dialog Lintas Iman dan Spiritualitas Kepemimpinan Katolik (Part 2)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Ketika Kesehatan Reproduksi Masih Banyak Diabaikan
  • Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser
  • Itu Namanya Apa, Ocan? Berbagi Peran!
  • Memutus Rantai Relasi Tidak Sehat Keluarga
  • Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan Manusia

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID