Mubadalah.id – Disabilitas adalah pengalaman hidup yang cair. Aku, kamu, kita, mereka, di manapun berada, bisa masuk dalam kategori ini akibat penuaan, kecelakaan, atau penyakit. Maka berbicara tentang disabilitas berarti berbicara tentang tema yang sangat dekat dengan hidup kita sendiri.
Di era modern, kita kerap membanggakan pembangunan yang mengusung label inklusif. Kita melihat ramp di berbagai gedung, lift dengan tombol braille, toilet khusus, dan trotoar yang ramah kursi roda. Pemerintah dan swasta mengalokasikan anggaran besar untuk infrastruktur yang disebut ramah disabilitas. Masyarakat pun merasa lega, seolah kewajiban moral telah tertunaikan.
Namun, di tengah kebanggaan itu, sebuah pertanyaan mendasar jarang kita ajukan secara jujur, “apakah semua pembangunan ini benar-benar menjawab kebutuhan hakiki penyandang disabilitas, atau justru lebih banyak menenangkan rasa bersalah masyarakat non-disabilitas?”
Pertanyaan inilah yang melahirkan perspektif post-disabilitas : sebuah cara pandang kritis yang tidak berhenti pada akomodasi, tetapi berani mempertanyakan arah perjuangan kita bersama.
Ilusi Inklusivitas: Ketika Akses Tidak Selalu Berarti Kebebasan
Selama ini, logika yang kita gunakan terdengar sederhana: “Mereka tidak bisa berjalan, maka kita sediakan jalur untuk kursi roda.” Logika ini tampak manusiawi dan masuk akal. Namun, perspektif post-disabilitas mengajak kita mendengar suara yang lebih sunyi, tetapi lebih jujur.
Banyak penyandang disabilitas tidak bermimpi tentang kursi roda yang lebih canggih. Mereka bermimpi tentang berjalan dengan kaki mereka sendiri. Pernyataan ini bukan penolakan terhadap alat bantu, melainkan ungkapan hasrat manusiawi yang paling dasar: keinginan untuk pulih, mandiri, dan bebas dari ketergantungan.
Ketika kita fokus membangun infrastruktur pendukung, tanpa komitmen serius pada riset medis, terapi regeneratif, dan teknologi pemulihan, kita sebenarnya sedang merawat kondisi disabilitas, bukan berusaha mengakhirinya. Kita menyediakan tongkat, tetapi jarang memperjuangkan pemulihan penglihatan. Kita bangga mencetak buku braille, tetapi lupa bahwa banyak tunanetra merindukan satu hal sederhana: melihat wajah orang yang mereka cintai.
“Kandang Emas”: Nyaman, Namun Tetap Membatasi
Metafora kandang emas menggambarkan situasi ini dengan jujur. Bayangkan seekor burung yang tidak bisa terbang. Alih-alih menyembuhkan sayapnya, kita membangunkan sangkar mewah, lengkap dengan makanan terbaik. Padahal, seindah apa pun sangkar itu, burung tetap ingin terbang.
Begitu pula dengan penyandang disabilitas. Dunia yang kita bangun sering kali ramah terhadap keterbatasan, tetapi lupa dengan harapan akan pemulihan. Kita menciptakan ruang yang nyaman, namun secara tidak sadar menutup pintu menuju kemungkinan untuk pulih. Dalam perspektif post-disabilitas, ini adalah bentuk kekerasan yang halus: meminta seseorang menerima nasib, sambil pelan-pelan menyerah pada harapan mereka sendiri.
Mendengarkan Hasrat untuk Pulih, Bukan Meromantisasi Penderitaan
Salah satu argumen yang sering dilontarkan oleh gerakan disabilitas konvensional adalah bahwa disabilitas bagian dari identitas, dan mengobati disabilitas berarti menghapus identitas tersebut. Namun, perspektif post-disabilitas menolak romantisasi penderitaan. Ketika seseorang berkata, “Saya ingin berjalan,” atau “Saya ingin melihat,” ia tidak sedang membenci dirinya. Ia sedang menyuarakan kebutuhan biologis yang paling murni.
Menutup telinga terhadap keinginan untuk sembuh demi narasi penerimaan diri yang kaku justru berpotensi menjadi kekejaman baru. Kepedulian sejati tidak berhenti pada penerimaan, tetapi berani memperjuangkan pemulihan.
Karena itu, alokasi sumber daya seharusnya tidak hanya berhenti pada trotoar yang rata dan gedung yang aksesibel, tetapi juga pada penguatan riset stem cell, neuroteknologi, dan terapi medis inovatif. Infrastruktur bersifat penting, tetapi pemulihan memberi harapan yang lebih panjang.
Post-disabilitas hadir sebagai ajakan untuk jujur pada diri sendiri. Disabilitas bukan kondisi yang diidamkan. Ia adalah keadaan yang jika memungkinkan, pantas untuk diakhiri melalui penyembuhan, bukan hanya diakomodasi.
Paradigma perlu bergeser: dari “bagaimana hidup berdampingan dengan disabilitas” menuju “bagaimana membuka jalan agar disabilitas tidak lagi harus diwariskan sebagai nasib.”
Melampaui Aksesibilitas: Menuju Human Restoration
Tulisan ini bukan ajakan menghentikan pembangunan infrastruktur ramah disabilitas. Selama disabilitas masih ada, aksesibilitas adalah hak yang tidak boleh ditawar. Namun, kita tidak boleh berhenti di sana.
Jangan biarkan ramp dan lift menjadi alasan untuk berhenti berharap. Jangan biarkan kandang emas menjelma monument sebagai kepasrahan kolektif. Banyak penyandang disabilitas tidak menginginkan dunia yang sekadar memanjakan alat bantu. Kita menginginkan dunia yang memberi kesempatan untuk meninggalkan alat bantu itu suatu hari nanti.
Dan tugas kita bukan sekadar membangun ruang yang nyaman, tetapi membuka jalan menuju kemungkinan itu melalui empati, keberanian ilmiah, dan komitmen pada penyembuhan yang hakiki.
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Purwokerto, kerjasama Media Mubadalah dengan LP2M Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.










































