Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Rihlah Qahirah Part III : Sayyidah Nafisah adalah Wali Perempuan

Bagi kami, Sayyidah Nafisah adalah teladan sejati, bukan hanya bagi perempuan-perempuan di Indonesia, tetapi juga bagi para ulama dan cendekiawan di dunia

Nurul Bahrul Ulum by Nurul Bahrul Ulum
10 September 2024
in Pernak-pernik
A A
0
Sayyidah Nafisah adalah Wali Perempuan

Sayyidah Nafisah adalah Wali Perempuan

21
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kunjungan ke tanah para ulama di Mesir tentu saja bukan kunjungan biasa. Di sana, saya dan para guru panutan: Nyai Nur Rofiah, Nyai Lilik Fuady, Nyai Umma Farida, Nyai Iffah Ismail, Nyai Mimin Mu’minah, dan Kiai Faqih Abdul Kodir berkesempatan untuk ziarah ke makam Sayyidah Nafisah, keturunan Rasulullah SAW yang lahir di Mekkah pada pertengahan Rabi’ul Awwal 145 Hijriah.

Di dalam masjid Sayyidah Nafisah, kami merasakan aura keulamaan perempuan yang begitu kuat. Meskipun terbatasi pintu yang tertutup, kami bisa merasakan koneksi mendalam dengan keilmuannya.

Saat kami datang, tampak sejumlah perempuan berjubah hitam di depan pintu makam tengah berdo’a kepada Allah dan memohon berkah dari Sayyidah Nafisah. Ini membuatku merinding, hingga tidak terpikir untuk mengambil foto dengan HPku.

Sebagai pengikut Aswaja, tak luput kami pun tahlilan di maqbarah Sayyidah Nafisah. Tahlil yang dipimpin oleh Nyai Iffah Ismail mengisi ruangan keharuan dan kekhusyuan. Kami berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon berkah dari seorang ulama perempuan yang kami banggakan Sayyidah Nafisah.

Bagi kami, Sayyidah Nafisah adalah teladan sejati, bukan hanya bagi perempuan-perempuan di Indonesia, tetapi juga bagi para ulama dan cendekiawan di dunia.

Sayyidah Nafisah adalah perempuan ulama sekaligus ulama perempuan yang melekat dalam sejarah

Sebagai perempuan ulama, beliau mempunyai pengetahuan dan keahlian yang otoritatif dalam ilmu-ilmu keislaman. Sebagai ulama perempuan, beliau menggunakan pengetahuan itu untuk memperjuangkan hak-hak orang-orang yang tertindas, termasuk perempuan.

Karena kealimannya, beliau dijuluki nafisah al-‘ilm wa karamah ad-darain, sang ulama perempuan dan perempuan mulia di dunia dan akhirat. Julukan ini tidak berlebihan, karena beliau memang hafal sejumlah keilmuan pokok, mulai dari hadis, al-Qur’an, tafsir, hingga fiqh. Begitu mumpuninya, Imam Syafi’i pernah berguru kepada beliau dan meminta untuk dishalatkan oleh Sayyidah Nafisah jika beliau wafat duluan.

Tidak hanya Imam Syafi’i, sejumlah ulama besar seperti Abu Bakar ad-Daqqaiq, Imam Ismail al-Muzani asy-Syafi’i, Imam Abu Ya’qub al-Buwaithi, dan banyak lainnya juga pernah menimba ilmu dari beliau. Ini membuktikan bahwa ulama perempuan yang mempuni bisa menjadi guru bagi  ulama laki-laki. Bukan karena jenis kelaminnya, tapi karena kualitas dan kapabilitas keilmuannya.

Saya punya kekaguman lain tentang Sayyidah Nafisah

Bukan hanya kecerdasan dan pengetahuannya, tetapi keberaniannya untuk berpihak kepada kelompok tertindas. Beliau tidak hanya bergulat dalam kajian teks-teks agama dan ibadah, tapi juga berperan aktif dalam memperjuangkan hak-hak rakyat yang tertindas. Beliau bahkan pernah memimpin demonstrasi rakyat dan menulis surat kepada penguasa Ibnu Thulun untuk menghentikan penindasan.

Peran Sayyidah Nafisah ini membuktikan bahwa ulama perempuan terlibat penuh dalam proses perubahan sosial. Suratnya kepada penguasa menunjukkan sikap nyata melawan ketidakadilan dan kezaliman.

Hasilnya, penguasa Ibnu Thulun akhirnya menghentikan tindakan-tindakannya yang menyakiti rakyat. Perubahan terjadi dari kalimat dan tindakan Sayyidah Nafisah.

Oleh karena itu, saya memosisikan Sayyidah Nafisah bukan hanya ulama perempuan yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama, tapi juga seorang pemimpin dan pejuang hak asasi manusia. Dia adalah perempuan pemimpin yang berani dan bijaksana dalam penegakan ajaran agama yang adil dan maslahat.

Bagi saya dan teman-teman KUPI, Sayyidah Nafisah adalah sumber inspirasi

Kita semua harapannya bisa meneladani beliau dalam mengajarkan agama yang berpihak kepada kelompok tertindas, baik laki-laki maupun perempuan.

Pelajaran yang bisa kita petik dari kehidupan Sayyidah Nafisah, bahwa keberanian dan pengetahuan adalah dua pedang kemajuan. Tanpa keberanian, pengetahuan tidak akan memiliki arti. Tanpa pengetahuan, keberanian tidak akan memiliki arah. Semoga kita semua dapat selalu menjunjung dua hal ini, sebagaimana telah diteladankan ulama perempuan Sayyidah Nafisah.

Selama perjalanan ke Mesir, saya sangat beruntung karena ditemani anak muda yang luar biasa, Muhammad Fariz Baity. Dia adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas al-Azhar Kairo, Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Ulumul Qur’an. Anak muda keren yang berasal dari Malang, Jawa Timur, ini sudah mengabdikan hidupnya dalam menimba ilmu di negara bengawan Nil selama tujuh tahun.

Dengan gelar Lc yang ia sandang, tak heran dia punya pengetahuan luas tentang sejarah dan peradaban Mesir. Dia sangat antusias membagikan pengetahuan itu saat kita menjelajahi keindahan Mesir.

Kewalian Sayyidah Nafisah

Salah satu cerita paling menarik yang dia bagikan adalah tentang kewalian Sayyidah Nafisah. Menurut Fariz, Sayyidah Nafisah tidak hanya dihormati sebagai ulama, tetapi juga terpandang sebagai seorang wali perempuan yang dikaruniai banyak karomah atau keajaiban.

Beberapa karomah ini akan saya tuliskan di sini. Pertama, Sayyidah Nafisah adalah wali perempuan yang berhasil memulihkan aliran air Sungai Nil yang pernah mengering.

Fariz mengisahkan bahwa sebelum Islam datang, aliran air Sungai Nil tidak tentu. Terkadang meluap hingga banjir, tapi pada waktu yang lain kering berkepanjangan. Salah satu periode kekeringan terpanjang terjadi pada masa Sayyidah Nafisah.

Sebagai seorang tokoh yang dihormati dan dikeramatkan, masyarakat yang penghidupannya bergantung pada sungai Nil meminta tolong kepada Sayyidah Nafisah agar sungai Nil kembali mengalir.

Lalu, Sayyidah Nafisah berdoa dan memohon kepada Allah agar air Sungai Nil dapat kembali mengalir menjadi sumber penghidupan masyarakat. Dari doanya, beliau mendapat petunjuk untuk melemparkan selendangnya ke dalam sungai Nil.

Dengan bantuan dari para ajudannya, selendang tersebut berhasil ia lemparkan ke dalam Sungai Nil. Tak lama setelah itu, aliran air Sungai Nil pulih dan kehidupan masyarakat yang sangat bergantung pada air sungai itu kembali normal.

Ini adalah salah satu karomah Sayyidah Nafisah. Kekuatan doanya bisa memengaruhi alam.

Guru dari Imam Syafi’i

Tidak hanya itu, Fariz pun mengungkapkan bahwa Sayidah Nafisah juga seorang tabib sekaligus guru dari Imam Syafi’i. Sayyidah Nafisah bukan hanya membantu Imam Syafi’i dalam hal keilmuan, tetapi juga sebagai seorang psikolog yang menenangkannya saat ia merasa cemas dan ragu, khususnya ketika dimintai fatwa oleh masyarakat.

Dalam pengakuannya, setiap kali habis bertemu dengan Sayyidah Nafisah, Imam Syafi’i merasa pulih, tenang, dan mendapat pencerahan. Suatu ketika Imam Syafi’i sakit parah, lalu Sayyidah Nafisah memberikan isyarat bahwa usianya di dunia ini hampir berakhir. Atas isyarat itu, Imam Syafi’i  mempersiapkan diri sebaik-baiknya, dan akhirnya benar beliau wafat. Ini karomah lain dari Sayyidah Nafisah.

Ketiga, Sayyidah Nafisah juga memiliki kemampuan mengetahui hal-hal yang gaib, termasuk tentang kematian dirinya sendiri. Masih kata Fariz saat kami  mengunjungi makamnya di daerah Fustat, Sayyidah Nafisah sebelum wafat, beliau menggali liang lahatnya dengan tangannya sendiri.

Karomah Sayyidah Nafisah

Sebelum dimasukkan ke dalam liang lahat tersebut, Sayyidah Nafisah sudah memandikan dan mengkafani diri sendiri, serta berwudlu. Sebelumnya, setiap kali masuk ke dalam liang lahat, beliau selalu melantunkan hafalan al-Quran. Bahkan, konon beliau telah mengkhatamkan al-Quran puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali di dalam liang lahat tersebut.

Selain ini pun bentuk karomahnya, hal ini dilakukan sebagai kesiapsiagaannya untuk menghadapNya kapanpun. Pun pula menunjukkan betapa beliau tidak ingin menyusahkan orang lain, bahkan dalam urusan kematian.

Percaya tidak percaya, nyawanya malaikat cabut pada saat beliau berada di dalam liang lahat, senilai dengan persiapan yang ia lakukan. Akhirnya, masyarakat hanya menimbun tanah di liang lahat tersebut.

Semua kejadian luar biasa ini menunjukkan karomah-karomah yang Sayyidah Nafisah miliki.

Jelaslah, sebagai seorang ulama dan wali, Sayidah Nafisah membuktikan bahwa perempuan memiliki kapasitas intelektual dan spiritual yang luar biasa, dan dapat berkontribusi secara signifikan dalam bidang keagamaan dan sosial.

Pentingnya Pengakuan Ulama Perempuan dalam Sejarah

Kisah ini membawa refleksi mendalam pentingnya pengungkapan dan pengakuan kekuatan dan kontribusi ulama perempuan dalam sejarah. Anggapan masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan berposisi di bawah laki-laki terbantahkan dengan kisah Sayyidah Nafisah ini.

Ini juga adalah bukti kuat bahwa perempuan tidak hanya berdaya, tetapi juga dapat menjadi pemimpin dan figur inspiratif dalam masyarakat.

Hubungan antara Sayidah Nafisah dan Imam Syafi’i menegaskan bahwa  perempuan juga bisa mendidik dan membimbing ulama laki-laki. Perempuan tidak saja menjadi sumber dukungan spiritual, intelektual, dan kebijaksanaan, tetapi juga mampu memengaruhi dan membentuk pemikiran keagamaan laki-laki ulama.

Sekali lagi, kisah Sayyidah Nafisah harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menghargai, mendukung, dan mendorong perempuan di sekitar kita untuk mengejar ilmu dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk keagamaan.

Kita harus menyadari bahwa kekuatan dan kebijaksanaan bisa diwujudkan perempuan. Sayidah Nafisah adalah bukti nyata dalam sejarah.

Terima kasih Fariz atas cerita berharganya. Berkatmu, perjalananku ke Mesir menjadi sangat bermakna. Semoga cerita ini bisa menginspirasi kita semua. (bersambung)

Tags: KupiMesirSayyidah Nafisahulama perempuanwali perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Seluruh Tradisi Islam Bersifat Dinamis

Next Post

Kaidah Fiqh dapat Menjadi Rujukan dalam Membaca Realitas

Nurul Bahrul Ulum

Nurul Bahrul Ulum

Related Posts

RUU PPRT
Aktual

KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

14 Februari 2026
Literacy for Peace
Publik

Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

23 Januari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

25 Januari 2026
What Is Religious Authority
Buku

Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama

21 Januari 2026
Lingkungan
Lingkungan

KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

2 Februari 2026
Ulama KUPI
Publik

KUPI: Ruang Kolektif Ulama Perempuan

18 Januari 2026
Next Post
Fiqh

Kaidah Fiqh dapat Menjadi Rujukan dalam Membaca Realitas

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak
  • Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal
  • Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja
  • Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah
  • Metode Tafsir Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0