Kamis, 26 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Sampah Makanan

    Menekan Rakus, dan Tidak Menjadi Sampah Makanan di Ramadan

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    Motor Roda Tiga

    Lelucon Motor Roda Tiga

    Married Is Scary

    Married is Scary (No), Married is a Blessing (Yes?)

    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Mubadalah dalam

    Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Sampah Makanan

    Menekan Rakus, dan Tidak Menjadi Sampah Makanan di Ramadan

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita

    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    Motor Roda Tiga

    Lelucon Motor Roda Tiga

    Married Is Scary

    Married is Scary (No), Married is a Blessing (Yes?)

    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Mubadalah dalam

    Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat

    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Saya Kehilangan Kak Lian Padele

Kesedihan tiada tara ini mungkin bisa hilang, nantinya. Namun, kehilangan ini belum akan tergantikan. Dalam waktu yang lama. Karena saya berterimakasih atas kehidupan yang pernah dijalani, dipersembahkan kak Lian yang bukan hanya untuk dirinya tapi banyak orang.

Lian Gogali by Lian Gogali
3 Januari 2021
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Saya Kehilangan

Saya Kehilangan

1
SHARES
71
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Mengawali 2021 ini dengan cerita duka. Menulis ini saat masih gemetar dan berlinang air mata sambil menahan sakit gigi. Saya kehilangan Kak Lian Padele. Tepatnya, banyak orang kehilangan. Punya nama panggilan yang sama,  baik saya dan Kak Lian punya beberapa kisah lucu.

Kami berdua pernah salah dikirimi email. email ke saya kirimnya ke kak Lian, email ke ke kak Lian terkirim ke saya. Pernah disalah sangka saat diminta jadi narasumber. Termasuk saat mengirimkan karangan bunga. Saya dan kak Lian pernah sambil tertawa bersepakat memastikan nama belakang kami disebutkan saat seseorang menyampaikan kebutuhan.

Apalagi kami sama-sama orang Mori, lahir bertetangga kampung Taliwan dan Tomata, tinggal bersama di Tentena, Kabupaten Poso. Kak Lian memimpin Gereja Kristen Sulawesi Tengah lalu memimpin STT GKST  Tentena, sementara saya memimpin organisasi kecil di Institut Mosintuwu. Lian yang besar atau Lian yang kecil, kadang orang-orang paling mudah membedakan secara fisik, dan kami berdua tidak keberatan.

Saya memang lebih dulu kembali ke Poso, sementara kak Lian masih menyelesaikan program studi doktoralnya . Saya sangat bahagia ketika Kak Lian memutuskan kembali ke Poso. Saya tidak lagi sendirian.  Sebelum kembali, kak Lian menelpon saya dan kami bicara soal bagaimana kami bekerja di Tana Poso. Telepon itu mengikat janji kami untuk saling mendukung dan saling percaya.

Perjalanan saya di Institut Mosintuwu mendapatkan banyak dukungan, ide-ide dari cerita bersama dengan kak Lian. Saya belajar banyak dari bagaimana kak Lian menghadapi seluruh dinamika di masa kepemimpinannya di dua organisasi keagamaan. Pilihan kak Lian untuk fokus suatu tema atau topik, ketekunan dan kesabarannya menghadapi semua orang bahkan yang berbeda pendapat dengannya.

Di tengah kesibukannya yang sangat luar biasa, kak Lian sering menyempatkan diri ke rumah saya. Kami bercerita panjang kali lebar, berbagi rahasia pribadi, lebih banyak juga curhatnya. Saat kak Lian menjadi ketua Sinode GKST, kami mengandalkan telepon genggam untuk saling menanyakan kabar.

Saya sering bercanda “kak, itu pagar sinode pendek tapi sulit sekali ditembus lebih mudah ba isi pulsa, jadi kak Lian jo yang ke Dodoha karena kami tidak punya pagar”. Dodoha adalah sebutan untuk tempat tinggal saya. Saat kak Lian menjadi ketua STT GKST Tentena, saya selalu ringan kaki jika mengunjungi ruangan kak Lian di STT.

Kak Lian juga lebih sering ke kantor Institut Mosintuwu, termasuk untuk rapat bersama. Ide-ide bekerja bersama menjadi lebih terstruktur, melahirkan konsep sekolah keberagaman yang memikirkan cara berteologi yang bukan hanya kontekstual tapi juga berpihak pada masyarakat. Dalam banyak percakapan, kak Lian selalu menyiratkan kepeduliannya pada mahasiswa/i STT GKST untuk bisa menjadi pelayan yang membumi pada masyarakatnya.

Diantara semua itu, kami juga berjanji setiap hari minggu, kak Lian akan datang beristirahat di Dodoha, menikmati angin danau dan keheningan. Seringkali saya yang memaksa, bahkan mengirimkan pesan berulangkali mengingatkan untuk melepaskan diri sejenak dari tanggungjawab pada yang lain.

Hanya sesekali bisa dilakukan kak Lian karena kesibukannya yang melampaui kemampuan fisik dan usianya. Napas panjang kak, kata saya sambil mengingatkan betapa kami membutuhkan kak Lian dengan semua konsep pemikirannya yang cemerlang sehingga kesehatan menjadi penting.

Dalam jalin kelindan kepeduliannya pada semua isu kemanusiaan, lingkungan hidup, keadilan dan kesetaraan pada perempuan kak Lian selalu melakukan analisis yang kritis dengan perspektif teologi. Seperti soal pengerukan sungai Danau Poso oleh PT. Poso Energy, kak Lian mengemukakan perspektifnya tentang teologi semesta.

Kak Lian dalam perspektif tentang teologi semesta mengatakan bahwa ketergangguan daripada seluruh semesta di danau itu berarti juga ketergangguan sosial.  Perspektif yang menguatkan advokasi lingkungan dengan pendekatan kebudayaan. Kutipan pembicaraan saya dengan kak Lian tentang teologi semesta bisa disimak di sini. 

Ketika orang mentertawakan mitos Danau Poso sebagai landasan perjuangan menjaga lingkungan Danau Poso, kak Lian dengan jelas mengatakan  ( saya kutip dari wawancara saya dengan kak Lian ) : “Mitos sebagai bagian dari teologi. Saya kira dengan mitos itulah masyarakat masa lalu kita, nenek moyang kita memelihara dengan begitu berhati-hati terhadap air atau sungai yang diberi itu, sungai yang begitu indah. Cara mereka menjaga, yaitu dengan membangun mitos.

Jadi mitos adalah salah satu cara nenek moyang untuk melindungi supaya kekeramatan suatu tempat yang memberi sumber kehidupan tidak diganggu semesta yang ada didalamnya. Justru dengan mitos itu adalah cara untuk memelihara, cara untuk mewariskan, cara untuk melihat dan memahami, dan cara untuk memperlakukan diri dari mitos atau subyek mitos itu.

Saya kira mengapa danau yang mengalirkan sungai Poso itu, mengapa begitu terpelihara hingga saat ini saya kira itu bagian dari warisan mitologi yang diwariskan dari nenek moyang sampai pada kita hari ini. Jadi menurut saya, mitologi itu adalah cara paham teologi dari nenek moyang kita pada masa lalu.

Ini nilai kultur dari mitologi itu bukan sekedar mitos atau karangan atau khayalan-khayalan tapi sebenarnya mitologi itu hidup pada masa lalu dan memiliki efek dalam kehidupan, dalam perilaku, dalam keseharian orang-orang yang hidup dengan mitologi pada masa lalu. Saya kira jika kita tidak lagi perhatikan mitologi itu maka sesungguhnya kita membunuh mitologi itu.”

Oooh, betapa saya merindukan percakapan yang bernas dengan kak Lian. Saya masih banyak belajar dari perspektif yang disampaikan kak Lian. Saat memberikan pendapat, kak Lian memiliki intonasi yang sangat jelas, membuat siapa saja yang mendengarnya tersihir menyimak berusaha memahami.

Kak Lian selalu punya inisiatif awal. Saat peristiwa pembunuhan keji di Sigi terjadi, pagi-pagi sekali kak Lian menelpon saya menceritakan rencana bersama dengan Jaringan Perempuan Indonesia Timur ( JPIT ) untuk melakukan pendampingan psikososial. Mengajak saya ikut berpikir dan menyusun bersama. Kata kak Lian “kita tahu bagaimana duka itu bukan hanya soal kehilangan nyawa tapi meneror kemanusiaan kita dengan masif”.

Saat saya melakukan kajian ekonomi politik, kak Lian memberikan  catatan penting dengan kajian sosio teologis. Sesungguhnya bahkan saat beristirahatpun, kak Lian terus memikirkan banyak orang.  Awal Desember, di tengah kesibukannya melakukan rapart-rapat akhir semester di STT GKST Tentena, melakukan ujian skripsi, persiapan wisuda mahasiswa/i STT, melakukan pelayanan di beberapa kelompok, kak Lian datang ke Dodoha bertemu saya.

Kata kak Lian ke saya  “saya bisa saja telpon, tapi ini penting untuk kita bicara langsung saja.”  Kak Lian menyampaikan kegelisahannya tentang sikap gereja terhadap nasib para nelayan dan petani yang terdampak pengerukan sungai Danau Poso. Mengajak kerjasama agar bisa melakukan seri diskusi kajian teologi yang mendorong sikap gereja untuk berpihak pada yang miskin. Kami lalu melakukan rencana bersama.

Setelah kurang lebih 45 menit berbicara, sebelum pamit kak Lian berkata “semangat ya Lian” Saya tertawa dan bilang “ kak Lian juga , tapi jangan lupa itu kesehatan kak”. Itu pertemuan terakhir saya dengan kak Lian.  Kak Lian menggunakan baju batik dengan bunga-bunga yang besar.

Memikirkan orang lain bahkan saat jadwal kesibukan mau mengkhianati jam yang berputar 24 jam saja. Kak Lian kelelahan fisik, gula darah naik sampai 570 setelah menempuh perjalanan Tentena – Manado bolak balik demi pelayanan. Dibawa ke puskesmas Tomata kurang dari dua jam sebelum 2021 menjadi tahun baru. Kak Lian pergi. Raganya.

Di antara rencana-rencana yang kami bicarakan, baru sebagian kecil yang dilakukan. Saya kehilangan. Kehilangan yang sungguh mendalam. Kehilangan kawan berbagi kegelisahan tentang dinamika di Tana Poso, pemimpin yang dengan rendah hati berbagi pikiran, sosok yang kritis menganalisis tajam, tokoh yang berperspektif keadilan bagi masyarakat yang terdiskriminasi, perempuan yang mendukung setiap langkah melawan ketidakadilan tanpa ragu.  Tempat saya belajar dan berefleksi.

Suatu saat, saya pernah bertanya “ kak, bahagia toh?” Pertanyaan yang dijawab dengan ketawa yang khas menggelegar. Ah, saya merindukan tawa kak Lian yang selalu membuat kami ikut tertawa. Tidak ada yang bisa tertawa seperti kak Lian, lantang menggema mengajak semua orang turut merasakan tawa itu, dan bahagia.

Kesedihan tiada tara ini mungkin bisa hilang, nantinya. Namun, kehilangan ini belum akan tergantikan. Dalam waktu yang lama. Karena saya berterimakasih atas kehidupan yang pernah dijalani, dipersembahkan kak Lian yang bukan hanya untuk dirinya tapi banyak orang. Karena itu akan terus hidup di barisan mimpi dan cita-cita tentang keadilan sosial, tentang kedaulatan rakyat. Terimakasih kak Lian. []

Tags: IndonesiaKehilanganLian PadelePahlawan KemanusiaanperempuanposoSigiTokoh Inspiratif
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mukena Milik Maymunah

Next Post

Isi Perjanjian Aelia: Relasi Kesalingan untuk Membangun Peradaban

Lian Gogali

Lian Gogali

Founder di Institut Mosintuwu Poso

Related Posts

hak perempuan
Pernak-pernik

Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

25 Februari 2026
Penindasan
Pernak-pernik

Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

24 Februari 2026
Penegakan Hukum
Publik

Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

24 Februari 2026
sistem patriarki
Pernak-pernik

Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

24 Februari 2026
Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Sejarah Perempuan atas
Aktual

Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

23 Februari 2026
Next Post
Perjanjian Aelia

Isi Perjanjian Aelia: Relasi Kesalingan untuk Membangun Peradaban

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Metodologi Dakwah Mubadalah dan Relevansinya bagi Kehidupan Masyarakat
  • Menekan Rakus, dan Tidak Menjadi Sampah Makanan di Ramadan
  • Kemaslahatan (Maslahah) dalam Paradigma Mubadalah
  • Jika Nabi Berbuka di Rumah Kita
  • Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0