Sabtu, 10 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Aktivis Perempuan

    Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

    Kecanggihan AI

    Online Gender-Based Violence di Balik Kecanggihan AI

    Islam

    Islam, Perubahan Sosial, dan tantangan Aktivis Perempuan

    Islam Indonesia

    Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

    Bulan Rajab

    Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman

    Gerakan Perempuan

    Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

    Tahun Baru 2026

    Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan

    Pemberdayaan Perempuan

    Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

    Gerakan Perempuan di Indonesia

    Kekhasan Gerakan Perempuan di Indonesia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Aktivis Perempuan

    Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

    Kecanggihan AI

    Online Gender-Based Violence di Balik Kecanggihan AI

    Islam

    Islam, Perubahan Sosial, dan tantangan Aktivis Perempuan

    Islam Indonesia

    Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

    Bulan Rajab

    Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman

    Gerakan Perempuan

    Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

    Tahun Baru 2026

    Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan

    Pemberdayaan Perempuan

    Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

    Gerakan Perempuan di Indonesia

    Kekhasan Gerakan Perempuan di Indonesia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan

Di tengah euforia tahun baru, inilah pertanyaan yang perlu terus kita ajukan: bagaimana cara menjadi perempuan tanpa kehilangan kemanusiaan kita?

Nadhira Yahya Nadhira Yahya
9 Januari 2026
in Personal
0
Tahun Baru 2026

Tahun Baru 2026

1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya: kenapa kata perempuan sering kali terasa berat?

Ironisnya, pertanyaan ini masih relevan kita ajukan di tahun baru 2026. Tahun baru, kalender baru, tapi beban lama tak pernah berlalu. Kita tahu, selalu ada segudang ekspektasi, aturan, dan standar yang otomatis melekat pada label perempuan.

Sejak kecil, rasanya semua selalu mengajarkan kita untuk “menjadi perempuan yang baik.” Tapi pertanyaannya: siapa yang menentukan standar “baik” itu?

Renungan yang Tak Pernah Usai

Mari kita jujur, hampir di setiap tahap kehidupan, selalu ada syarat tambahan yang diam-diam terselip pada kata perempuan. Saat masih kecil, ada tuntutan untuk selalu sopan, lembut, tidak boleh terlalu keras tertawa. Saat remaja, mereka mengawasi tubuh kita: jangan terlalu kurus, jangan terlalu gemuk, jangan pakai rok terlalu pendek, jangan terlalu terbuka.

Masuk usia dewasa, standar itu bukan berkurang, tapi justru bertambah panjang: kapan menikah, kapan punya anak, bagaimana menjadi istri, bagaimana menjadi ibu, seolah hidup perempuan adalah daftar periksa yang tak pernah selesai, bahkan di era yang katanya serba progresif.

Dan ketika akhirnya memenuhi sebagian standar itu, muncul standar baru: apakah kita bisa mengurus rumah dengan sempurna, apakah kita bisa tetap “cantik” di usia yang menua, apakah kita bisa mendidik anak sambil tetap produktif di pekerjaan. Seakan tanda bintang kecil, catatan kaki selalu mengikuti kata perempuan. Dan entah kenapa ini tak pernah direvisi meski zaman terus berganti.

Gloria Steinem pernah berkata, “The truth will set you free, but first it will piss you off.” Dan mungkin, kebenaran yang membuat kita kesal di tahun 2026 ini adalah satu hal sederhana: standar sosial itu dibuat bukan untuk membebaskan perempuan, tapi untuk mengatur mereka, dan kita masih berpura-pura terkejut setiap kali dampaknya terasa.

Standar yang Tak Pernah Netral

Banyak orang bilang, standar itu berlaku untuk semua. Laki-laki juga punya beban kok. Tapi kenyataannya, beban sosial pada perempuan tidak pernah netral. Iya, kan? Anehnya, klaim “netral” ini masih terdengar cukup percaya diri, seolah pengalaman perempuan selama puluhan tahun terakhir belum cukup menjadi bukti.

Contohnya, soal tubuh. Laki-laki gemuk sering kita anggap lucu atau santai, tapi perempuan gemuk sering kita bilang dia gagal merawat diri. Laki-laki yang belum menikah di usia tiga puluhan tidak masalah, mereka masih punya banak waktu. Namun, perempuan di usia yang sama akan dianggap “terlambat” atau “terlalu pemilih.” Tahun boleh berganti, istilah boleh berbeda, tapi penilaiannya tetap condong ke arah yang sama.

Faktanya, standar ganda ini bukan kebetulan. Ia lahir dari budaya yang berabad-abad menempatkan perempuan sebagai objek penilaian, bukan sebagai subjek yang bebas menentukan jalannya. Dan anehnya, pola lama ini masih selalu bertahan dengan dalih tradisi, norma, atau bahkan “kodrat,” seolah pertanyaan kritis adalah ancaman.

Simone de Beauvoir menulis, “Representation of the world, like the world itself, is the work of men, they describe it from their own point of view, which they confuse with the absolute truth.” Bahwa pada akhirnya, mereka yang berkuasa-lah yang akhirnya mendefinisikan standar perempuan. Dan hingga hari ini, perempuan sendiri jarang ikut mendefinisikannya.

Perempuan di Persimpangan Ekspektasi

Yang membuat beban ini semakin berat adalah kontradiksi di dalamnya. Mereka ingin perempuan “cantik”, tapi tidak boleh “terlalu” memperhatikan diri sendiri karena itu tandanya narsis. Perempuan harus mandiri, tapi juga tidak boleh membuat pasangan merasa “kecil.”

Mereka menuntut perempuan cerdas, tapi jangan sampai melampaui laki-laki di ruang publik karena khawatir mengancam. Daftarnya panjang, dan entah kenapa selalu terdengar masuk akal bagi banyak orang, selain bagi mereka yang harus menjalaninya. Akhirnya, banyak perempuan hidup di persimpangan: tidak pernah cukup di mata masyarakat. Karena apa pun yang kita lakukan, selalu ada yang kurang, selalu ada yang perlu “diperbaiki.”

Yang lebih menyedihkan, standar itu tidak hanya datang dari luar. Lambat laun, ia menyusup ke dalam batin kita. Kita mulai mempercayainya, lalu menilai diri sendiri dengan kacamata orang lain. Sering merasa bersalah ketika tidak bisa memenuhi semua peran.

Kita cemas ketika tubuh kita tidak sesuai dengan citra ideal. Akhirnya, menunduk bukan karena ingin rendah hati, tapi karena takut dianggap berlebihan. Bahkan ketika dunia mengaku lebih terbuka, suara-suara lama itu masih bergema di kepala kita.

Audre Lorde pernah menulis, “If I didn’t define myself for myself, I would be crunched into other people’s fantasies for me and eaten alive.” Inilah yang sering terjadi: kita terjebak dalam fantasi orang lain tentang perempuan yang ideal, sampai lupa, atau tidak sempat, mendefinisikan diri kita sendiri.

Melepaskan Beban, Menulis Ulang Standar

Apakah mungkin melepaskan beban ini? Saya percaya, iya, meski jelas tidak semudah mengubah angka tahun di kalender.

Mungkin, langkah pertama adalah menyadari bahwa standar itu bukan kebenaran mutlak. Ia adalah konstruksi sosial yang bisa kita pertanyakan, tolak, bahkan tulis ulang. Kita bisa bertanya: apakah saya benar-benar ingin seperti ini, atau hanya merasa harus? Apakah ini pilihan saya, atau paksaan yang dibungkus norma?

Langkah berikutnya adalah membangun standar yang lebih manusiawi. Bukan hanya sebagai perempuan, tapi sebagai manusia. Bahwa kita boleh gagal. Kita boleh lelah. Kita boleh memilih jalan yang berbeda, tanpa harus terus-menerus meminta maaf.

Kata perempuan seharusnya tidak menjadi beban, tapi identitas yang bisa kita rayakan. Namun kenyataannya, perjalanan menuju ke sana masih penuh rintangan. Standar sosial yang mengekang sering membuat kita lupa bahwa di balik semua label, kita tetap manusia, dengan kompleksitas, kerentanan, dan kebebasan untuk memilih, bahkan di zaman yang mengaku paling modern.

Dan mungkin, di tengah euforia tahun baru, inilah pertanyaan yang perlu terus kita ajukan: bagaimana cara menjadi perempuan tanpa kehilangan kemanusiaan kita? Bagaimana cara berdiri bukan sebagai objek penilaian, tapi sebagai subjek penuh yang berhak menulis kisahnya sendiri? []

 

Tags: Beban Perempuanlabel perempuanperempuanresolusi perempuanstandar ganda
Nadhira Yahya

Nadhira Yahya

Gender Equality Enthusiast. Menyimak, menulis, menyuarakan perempuan.

Terkait Posts

Islam
Publik

Islam, Perubahan Sosial, dan tantangan Aktivis Perempuan

9 Januari 2026
Islam Indonesia
Publik

Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

9 Januari 2026
Gerakan Perempuan
Publik

Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

9 Januari 2026
Pemberdayaan Perempuan
Publik

Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

9 Januari 2026
Gerakan Perempuan di Indonesia
Publik

Kekhasan Gerakan Perempuan di Indonesia

8 Januari 2026
Pembaruan
Publik

Peran KUPI dalam Pembaruan Islam Berbasis Pengalaman Perempuan

6 Januari 2026
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Tahun Baru 2026

    Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sukun Cikalahang: Ketika Riset Aksi Mengubah Buah yang Diabaikan Jadi Rupiah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender
  • Online Gender-Based Violence di Balik Kecanggihan AI
  • Islam, Perubahan Sosial, dan tantangan Aktivis Perempuan
  • Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan
  • Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID