Mubadalah.id – Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya: kenapa kata perempuan sering kali terasa berat?
Ironisnya, pertanyaan ini masih relevan kita ajukan di tahun baru 2026. Tahun baru, kalender baru, tapi beban lama tak pernah berlalu. Kita tahu, selalu ada segudang ekspektasi, aturan, dan standar yang otomatis melekat pada label perempuan.
Sejak kecil, rasanya semua selalu mengajarkan kita untuk “menjadi perempuan yang baik.” Tapi pertanyaannya: siapa yang menentukan standar “baik” itu?
Renungan yang Tak Pernah Usai
Mari kita jujur, hampir di setiap tahap kehidupan, selalu ada syarat tambahan yang diam-diam terselip pada kata perempuan. Saat masih kecil, ada tuntutan untuk selalu sopan, lembut, tidak boleh terlalu keras tertawa. Saat remaja, mereka mengawasi tubuh kita: jangan terlalu kurus, jangan terlalu gemuk, jangan pakai rok terlalu pendek, jangan terlalu terbuka.
Masuk usia dewasa, standar itu bukan berkurang, tapi justru bertambah panjang: kapan menikah, kapan punya anak, bagaimana menjadi istri, bagaimana menjadi ibu, seolah hidup perempuan adalah daftar periksa yang tak pernah selesai, bahkan di era yang katanya serba progresif.
Dan ketika akhirnya memenuhi sebagian standar itu, muncul standar baru: apakah kita bisa mengurus rumah dengan sempurna, apakah kita bisa tetap “cantik” di usia yang menua, apakah kita bisa mendidik anak sambil tetap produktif di pekerjaan. Seakan tanda bintang kecil, catatan kaki selalu mengikuti kata perempuan. Dan entah kenapa ini tak pernah direvisi meski zaman terus berganti.
Gloria Steinem pernah berkata, “The truth will set you free, but first it will piss you off.” Dan mungkin, kebenaran yang membuat kita kesal di tahun 2026 ini adalah satu hal sederhana: standar sosial itu dibuat bukan untuk membebaskan perempuan, tapi untuk mengatur mereka, dan kita masih berpura-pura terkejut setiap kali dampaknya terasa.
Standar yang Tak Pernah Netral
Banyak orang bilang, standar itu berlaku untuk semua. Laki-laki juga punya beban kok. Tapi kenyataannya, beban sosial pada perempuan tidak pernah netral. Iya, kan? Anehnya, klaim “netral” ini masih terdengar cukup percaya diri, seolah pengalaman perempuan selama puluhan tahun terakhir belum cukup menjadi bukti.
Contohnya, soal tubuh. Laki-laki gemuk sering kita anggap lucu atau santai, tapi perempuan gemuk sering kita bilang dia gagal merawat diri. Laki-laki yang belum menikah di usia tiga puluhan tidak masalah, mereka masih punya banak waktu. Namun, perempuan di usia yang sama akan dianggap “terlambat” atau “terlalu pemilih.” Tahun boleh berganti, istilah boleh berbeda, tapi penilaiannya tetap condong ke arah yang sama.
Faktanya, standar ganda ini bukan kebetulan. Ia lahir dari budaya yang berabad-abad menempatkan perempuan sebagai objek penilaian, bukan sebagai subjek yang bebas menentukan jalannya. Dan anehnya, pola lama ini masih selalu bertahan dengan dalih tradisi, norma, atau bahkan “kodrat,” seolah pertanyaan kritis adalah ancaman.
Simone de Beauvoir menulis, “Representation of the world, like the world itself, is the work of men, they describe it from their own point of view, which they confuse with the absolute truth.” Bahwa pada akhirnya, mereka yang berkuasa-lah yang akhirnya mendefinisikan standar perempuan. Dan hingga hari ini, perempuan sendiri jarang ikut mendefinisikannya.
Perempuan di Persimpangan Ekspektasi
Yang membuat beban ini semakin berat adalah kontradiksi di dalamnya. Mereka ingin perempuan “cantik”, tapi tidak boleh “terlalu” memperhatikan diri sendiri karena itu tandanya narsis. Perempuan harus mandiri, tapi juga tidak boleh membuat pasangan merasa “kecil.”
Mereka menuntut perempuan cerdas, tapi jangan sampai melampaui laki-laki di ruang publik karena khawatir mengancam. Daftarnya panjang, dan entah kenapa selalu terdengar masuk akal bagi banyak orang, selain bagi mereka yang harus menjalaninya. Akhirnya, banyak perempuan hidup di persimpangan: tidak pernah cukup di mata masyarakat. Karena apa pun yang kita lakukan, selalu ada yang kurang, selalu ada yang perlu “diperbaiki.”
Yang lebih menyedihkan, standar itu tidak hanya datang dari luar. Lambat laun, ia menyusup ke dalam batin kita. Kita mulai mempercayainya, lalu menilai diri sendiri dengan kacamata orang lain. Sering merasa bersalah ketika tidak bisa memenuhi semua peran.
Kita cemas ketika tubuh kita tidak sesuai dengan citra ideal. Akhirnya, menunduk bukan karena ingin rendah hati, tapi karena takut dianggap berlebihan. Bahkan ketika dunia mengaku lebih terbuka, suara-suara lama itu masih bergema di kepala kita.
Audre Lorde pernah menulis, “If I didn’t define myself for myself, I would be crunched into other people’s fantasies for me and eaten alive.” Inilah yang sering terjadi: kita terjebak dalam fantasi orang lain tentang perempuan yang ideal, sampai lupa, atau tidak sempat, mendefinisikan diri kita sendiri.
Melepaskan Beban, Menulis Ulang Standar
Apakah mungkin melepaskan beban ini? Saya percaya, iya, meski jelas tidak semudah mengubah angka tahun di kalender.
Mungkin, langkah pertama adalah menyadari bahwa standar itu bukan kebenaran mutlak. Ia adalah konstruksi sosial yang bisa kita pertanyakan, tolak, bahkan tulis ulang. Kita bisa bertanya: apakah saya benar-benar ingin seperti ini, atau hanya merasa harus? Apakah ini pilihan saya, atau paksaan yang dibungkus norma?
Langkah berikutnya adalah membangun standar yang lebih manusiawi. Bukan hanya sebagai perempuan, tapi sebagai manusia. Bahwa kita boleh gagal. Kita boleh lelah. Kita boleh memilih jalan yang berbeda, tanpa harus terus-menerus meminta maaf.
Kata perempuan seharusnya tidak menjadi beban, tapi identitas yang bisa kita rayakan. Namun kenyataannya, perjalanan menuju ke sana masih penuh rintangan. Standar sosial yang mengekang sering membuat kita lupa bahwa di balik semua label, kita tetap manusia, dengan kompleksitas, kerentanan, dan kebebasan untuk memilih, bahkan di zaman yang mengaku paling modern.
Dan mungkin, di tengah euforia tahun baru, inilah pertanyaan yang perlu terus kita ajukan: bagaimana cara menjadi perempuan tanpa kehilangan kemanusiaan kita? Bagaimana cara berdiri bukan sebagai objek penilaian, tapi sebagai subjek penuh yang berhak menulis kisahnya sendiri? []















































