Jumat, 13 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    Akhir Ramadan

    Menuju Akhir Ramadan: Menghidupkan Malam dan Menyempurnakan Amal

    Menstruasi

    Panggilan bagi Ulama Perempuan untuk Menulis Fiqh Menstruasi

    Esensi Salat

    Esensi Salat sebagai Dialog Ekslusif Antara Hamba dengan Tuhannya

    Relasi Suami Istri Mubadalah

    Mubadalah Dorong Relasi Suami Istri yang Saling Menguatkan

    Ketaatan Suami Istri

    Ketaatan dalam Relasi Suami Istri Harus Berlandaskan Keadilan

    Ketaatan Suami Istri

    Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Imlek

    Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi

    Skandal Kekuasaan

    Topeng Religiusitas dan Skandal Kekuasaan

    Aturan Medsos 2026

    Jangan Biarkan Ibu Berjuang Sendiri Melawan Algoritma: Catatan untuk Ayah pasca Aturan Medsos 2026

    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Relasi Mubadalah

    Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

    Menstruasi

    Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi

    Akhir Ramadan

    Menuju Akhir Ramadan: Menghidupkan Malam dan Menyempurnakan Amal

    Menstruasi

    Panggilan bagi Ulama Perempuan untuk Menulis Fiqh Menstruasi

    Esensi Salat

    Esensi Salat sebagai Dialog Ekslusif Antara Hamba dengan Tuhannya

    Relasi Suami Istri Mubadalah

    Mubadalah Dorong Relasi Suami Istri yang Saling Menguatkan

    Ketaatan Suami Istri

    Ketaatan dalam Relasi Suami Istri Harus Berlandaskan Keadilan

    Ketaatan Suami Istri

    Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Ternyata Begini Etika Memandikan Mayat Perempuan

Ternyata masih kita temukan fenomena di mana mayat perempuan yang memandikan Mudin laki-laki. Antara percaya dan tidak percaya, tapi ini adalah realita yang terjadi

Aspiyah Kasdini RA by Aspiyah Kasdini RA
30 Januari 2026
in Hikmah
A A
0
Memandikan Mayat Perempuan

Memandikan Mayat Perempuan

8
SHARES
378
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Salingers, selama kalian hidup, udah pernah berapa kali nih ikut berpartisipasi memandikan mayat perempuan? Pasti bervariasi ya, mungkin banyak yang sudah terbiasa. Atau ada juga yang masih bisa kita hitung dengan jari, atau bahkan belum pernah sama sekali. Umumnya, hampir di setiap kampung sudah terbentuk tim pemulasaraan mayat, sehingga kewajiban kifayah ini telah terwakilkan oleh mereka.

Di sisi lain, karena status hukum mengurus mayat adalah fardlu kifayah, tidak sedikit masyarakat yang telah kita wakilkan ini enggan untuk ikut serta. Hanya sekedar ingin tahu, atau memiliki kemampuan tersebut, sehingga pengetahuan khusus ini hanya orang tertentu saja yang memilikinya, tidak oleh masing-masing mukallaf.

Ironisnya, ketidakmampuan dalam mengurus (khususnya memandikan) mayat oleh masyarakat umum ternyata dapat menimbulkan diskriminasi gender, terlebih pada mayat perempuan. Ya, sebagaimana yang Bu Nyai Khoruin Nikmah sampaikan pada Musyawarah Pra-Halaqah KUPI di Semarang pada awal Agustus kemarin.

Fenomena Mudin Laki-laki Memandikan Mayat Perempuan

Ternyata masih kita temukan fenomena di mana mayat perempuan yang memandikan Mudin laki-laki. Antara percaya dan tidak percaya, tapi ini adalah realita yang terjadi. Jika kita pernah mendengar berita mayat perempuan dimandikan oleh petugas rumah sakit laki-laki di Pematang Siantar, maka berita itu bukanlah satu-satunya, nyatanya masih banyak realita serupa yang tidak tampak oleh publik.

Tentunya banyak faktor yang melatarbelakangi fenomena ini, akan tetapi untuk mencegah hal tersebut terus terjadi, kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Ya, kita sendiri, terutama kaum perempuan. Agar jangan sampai tubuh yang kita jaga ini dikendalikan oleh orang-orang yang tidak seharusnya melakukannya. Baik saat kita masih hidup maupun saat kita sudah meninggal.

Sebagaimana yang menjadi pengetahuan dasar dalam mengurus mayat, setidaknya ada empat kewajiban umat muslim kepada saudaranya yang telah tiada, yakni memandikan, mengafani, mensalati, dan mengebumikannya sebagaimana ajaran syariat (Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi dalam Tanwir Al-Qulub menuliskan lima kewajiban, dengan menjadikan menggotong mayat/membawa jenazah menuju pemakaman menjadi salah satunya).

4 Kewajiban Muslim pada Saudaranya yang telah Tiada

Di antara empat kewajiban tersebut dapat kita klasifikasikan menjadi dua berdasarkan sifatnya, yakni kewajiban yang bersifat umum dan bersifat khusus. Yang menjadi kewajiban umum adalah kewajiban yang dapat laki-laki dan perempuan lakukan tanpa pengecualian. Seperti mensalati dan menguburkan jenazah.

Adapun kewajiban yang bersifat khusus adalah kewajiban mengurus mayat yang hanya dapat mereka lakukan. Yakni yang memiliki jenis kelamin sama dengan mayat,  juga pada mahram dan pasangan nikah (suami/istri)) si mayat. Berupa kewajiban untuk memandikan dan mengkafani jenazah. Pengkhususan ini tidak saja berlaku untuk mayat perempuan, tetapi juga mayat laki-laki.

Mengapa harus dilakukan secara khusus? Karena hal tersebut merupakan hak bagi si mayat. Si mayat tidak dapat menyatakan hak yang harus ia terima setelah ia tiada, namun kewajiban bagi para kerabatnya yang masih hidup untuk dapat menjaga hak-hak tersebut. Tidak lain untuk menjaga kehormatan yang dimiliki masing-masing bani Adam, bagaimanapun kondisinya.

Hak Kehormatan Manusia

H. Sulaiman Rasjid, melalui karya fenomenalnya Al-Fiqh Al-Islam yang terdapat hampir di setiap rak buku masyarakat muslim Indonesia, menuliskan bahwa untuk memandikan mayat laki-laki hendaknya oleh laki-laki juga, kecuali istri dan muhrimnya, demikian pula sebaliknya.

Bahkan beliau menegaskan, bagi mayat perempuan. Apabila tidak kita temukan perempuan yang masih hidup yang dapat memandikannya, tidak juga mahram dan pasangan nikahnya. Maka mayat perempuan tersebut hendaknya kita tayamumkan saja. Tidak boleh laki-laki lain yang memandikan, demikian pula yang berlaku sebaliknya.

Sedemikian detail dan hati-hatinya syariat dalam menjaga hak kehormatan tiap manusia, walaupun ruh sudah tidak ada lagi dalam raga. Maka dapat kita katakan, pengkhususan ini adalah bagian teknis dari maqashid syariah itu sendiri.

Melalui hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah juga menganjurkan untuk menjaga kepercayaan pada saat memandikan mayat, serta tidak membuka apa-apa yang ia lihat pada saat memandikan, maka orang tersebut akan diganjar dengan dihapusnya dosa baginya sebersiah saat ia baru dilahirkan.

Seistimewa itu perbandingannya lho! Dalam lanjutan hadis itupun ada anjuran untuk para keluarga yang lebih kita dahulukan untuk memandikan mayat. Jika tidak mahir, maka diperbolehkan orang lain dengan catatan orang tersebut memiliki kriteria amanah/dapat kita percaya serta wara’. Lagi-lagi ini bertujuan untuk menjaga marwah si mayat.

Teknis Memandikan Mayat Perempuan

Teknis memandikan mayat sesuai tertibnya, mayat memenuhi syarat untuk kita mandikan. Secara Islam, ada tubuhnya walaupun sedikit, bukan mati syahid; mayat kita letakkan di tempat yang tinggi, seperti bayang. Atau meja memandikan mayat yang bisa kita temukan di banyak tempat.

Prosesnya kita lakukan di tempat yang tidak banyak orang dapat melihat. Yakni dengan menggunakan satirpenutup, lalu mayat kita pakaikan kain penutup agar auratnya tidak terlihat.

Kemudian mayat kita dudukkan dan usap perlahan perutnya untuk membersihkan kotorannya, dengan kita aliri air wangi/sabun dan juga barus. Setelah itu mayat kita telentangkan kembali dan kita bersihkan organ intimnya dengan menggunakan sarung tangan sekali pakai; dengan sarung tangan berbeda

Lalu kita bersihkan pula mulutnya dengan menggunakan jari-jari tangan kiri. Diwudlukan; anggota tubuh dari atas dibasuh perlahan dengan mendahulukan bagian tubuh sebelah kanan kemudian kiri, juga dengan cara membasuh hingga bersih dimiringkan.

Kita lakukan satu kali cukup. Namun disunnahkan tiga sampai lima kali; basuhan akhir dari bagian atas hingga ujung jari kaki dengan air wangi-wangian; jenazah diwudlukan. Kemudian kita lap dengan lembut supaya tubuhnya kering untuk kemudian kita kafani. Secara umum demikian.

Yuk mulai sekarang jangan takut, malu, dan enggan untuk ikut memandikan mayat perempuan. Walaupun hanya melihat sebagai proses belajar. Maka tidak mengapa. Karena sejatinya, menjaga hak sesama perempuan adalah menjaga hak diri sendiri. Baik ketika perempuan itu masih hidup maupun saat ia sudah mati. []

 

Tags: Fikih IndonesiaHukum SyariatjenazahkemanusiaankematianmanusiaSalat Jenazah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kesaksian Perempuan dan Laki-laki Diukur dari Kapabilitas dan Integritas

Next Post

Kesaksian Perempuan dan Laki-laki Tidak Diukur dari Jenis Kelamin

Aspiyah Kasdini RA

Aspiyah Kasdini RA

Alumni Women Writers Conference Mubadalah tahun 2019

Related Posts

Relasi Mubadalah
Pernak-pernik

Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia

13 Maret 2026
Vidi Aldiano
Aktual

Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

9 Maret 2026
Perang Iran
Publik

Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

8 Maret 2026
Kesetaraan Gender
Publik

Kesetaraan Gender: Bukan Kemurahan Hati, Melainkan Mandat Peradaban

5 Maret 2026
Alam dan Manusia
Lingkungan

Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

27 Februari 2026
sistem patriarki
Pernak-pernik

Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

24 Februari 2026
Next Post
kesaksian perempuan

Kesaksian Perempuan dan Laki-laki Tidak Diukur dari Jenis Kelamin

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Muslimah yang Diperdebatkan; Antara Simbol Kesalihan dan Sunyi Keadilan
  • Relasi Mubadalah Berangkat dari Prinsip Martabat Manusia
  • Musim Semi Perayaan Imlek, Masihkah Ilusi untuk Cina Indonesia: Sebuah Refleksi
  • Kolaborasi Ulama Perempuan dan Ilmu Medis dalam Menulis Fiqh Menstruasi
  • Menuju Akhir Ramadan: Menghidupkan Malam dan Menyempurnakan Amal

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0