Senin, 2 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    "Azl

    ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri

    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    "Azl

    ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri

    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Yu Marni

Ghufron Ibnu Masud by Ghufron Ibnu Masud
3 Agustus 2020
in Sastra
A A
0
Yu, Marni

(sumber foto piqsels.com)

20
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sudah menjadi semacam rutinitas bagi warga kampung Kajen, tiap Jum’at sore mendengarkan pengajian keagamaan di kediaman Kyai Shadiq. Rumah joglo yang hampir seluruh dindingnya terbuat dari kayu dengan ruangan yang cukup luas di tambah teras yang lumayan lebar akan senantiasa dijejali jemaah ibu-ibu.

Mereka sangat antusias mengikuti ceramah Kyai Shadiq karena ia satu-satunya tokoh agama di desa itu. Tak heran bila warga sangat menyanjung dan menghormatinya.

Namun sore itu lain. Sebagian jamaah yang masih ngobrol di teras dikejutkan kehadiran sesosok perempuan. Yu Marni namanya. Mereka mempelototi Yu Marni yang mengenakan pakaian kebaya muslimah lengkap. Salah seorang, Bu Karti menghampirinya.

“Sepertinya Yu Marni salah alamat, atau sampean sudah tidak punya malu lagi, lebih baik cepat angkat kaki dari sini!”

“Benar, jangan paksa kami mengusirmu…..,” seorang lagi menimpali.

“Dasar pelacur…”

“Dasar wanita murahan…”

“Dasar najis….’

“Dasar wanita tak tahu diri…..”

“Dasar laknat, perusak rumah tangga orang lain….”

Segala cibiran yang menyakitkan itu kontan muntah dari mulut mereka. Belum lagi mereka yang ada di dalam, mendengar ada keributan di luar, tak pelak mereka langsung terkejut dan mengeluarkan berbagai cibiran pedas lainnya.

Yu Marni hanya menunduk. Segala caci maki terhadapnya terpaksa diterima, meskipun hati kecilnya meronta sakit. Dengan gugup, ia beranikan diri untuk bicara.

“Biarkan aku bertemu Kyai…”

“Heh, asal tahu saja ya, Kyai kita itu orang suci, bukan lelaki hidung belang yang mudah kau rayu untuk tidur denganmu, “ hardik Bu Harti saking sewotnya.

‘Masyaallah, bukan, bukan itu maksudku, aku…”, sela Yu Marni yang kemudian di potong.

“…Halah pakai nama Tuhan segala pelacur ini. Bagaimana kalau kita usir aja perempuan laknat ini.’

“Ya usir saja…,” gemuruh jamaah menyetujui.

Kini Yu Marni benar-benar terjepit.Tubuhnya gemetar. Keringatnya mulai mengucur. Matanya terlihat mulai menitikkan kristal bening. Dan perlahan mengalir membasahi pipinya yang sepi dari jerawat. Mendengar ada keributan Kyai Shodiq bergegas keluar, memecah keramaian dan sebentar menyulapnya suasana menjadi tenang.

“Tenang ibu-ibu, tenang,” ucapnya penuh karisma seraya mengangkat jari telunjuknya ke arah bibir, isyarat agar semua jamaah diam. Melihat Kyai Shodiq, Yu Marni langsung menghampirinya.

“Assalamu’alaikum, Kyai.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Kyai Shodiq terkejut melihat Yu Marni.

“Saya minta ijin ikut ngaji disini, Kyai,” ucapnya memelas sambil menyeka air matanya yang belum juga mengering. Mendengar hal itu jamaah terheran-heran, saling pandang tak percaya, sambil memonyong-monyongkan bibir mereka.

“Sudah tobat, sudah tobat,” bisik-bisik kecil jamaah. “Kalau Yu Marni punya tekad bulat, ya rumah ini masih terbuka untukmu Yu,” kata Kyai Shodiq meyakinkan.

Para jamaah saling berbisik. Ada nada kecewa dari mereka atas keputuan Kyai. Tempat ini akan tercemari oleh kehadiran pelacur. Jangan-jangan ia hanya ingin buat keributan. Semua hal negatif keluar dari bisik-bisik jamaah.

“Maaf pak Kyai, bukan kami lancang terhadap Kyai, tapi kalau Yu Marni ikut ngaji di sini jelas kami tidak terima,” tegaas Bu Harti memprotes.

“Iya, tapi dia kan sudah bertobat. Apa salahnya jika memberi kesempatan baginya untuk memperbaiki jalannya yang keliru,” sahut Kyai.

“Sudahlah Kyai, saya memang kotor, tak pantas di tempat ini.”

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Yu Marni bergegas pergi dengan air mata berlinang dan sesenggukan. Kesedihan seorang yang tak berdaya di tengah hinaan dan cercaan. Kyai Shodiq pun hanya menghela nafaas.

Kyai Shodiq jadi serba salah. Krentek hatinya ingin menuntun seorang pelacur pada jalan yang lurus, tapi desakan dari jamaahnya yang menolak Yu Marni terpaksa disetujui.

Kejadian sore itu langsung menjadi buah bibir warga. Di rumah-rumah, warung-warung, masjid maupun musholla. Seperti berita aktual di media massa. Yu Marni ada dalam setiap obrolan mereka. Dan yang pasti, kata-kata tak sedap juga terlontar dari mulut-mulut mereka.

******

Yu Marni,adalah seorang dari sekian banyak perempuan yang terjerembab dalam lereng kegelapan pelampiasan nafsu laki-laki yang hanya sekedar iseng-iseng saja, atau pelarian dari suami yang sudah bosan terhadap istrinya. Ya.. barangkali dianggap tidak cantik lagi, gembrot atau kurang puas dengan pelayanan sang isteri.

Keadaan ekonomilah yang memaksa Yu Marni menyandang status seperti itu. Status yang membawa aib dan luka bagi ia dan anak-anaknya. Memang, semenjak kematian suaminya, ia yang menanggung kebutuhan keluarga sehari-hari. Ia buka warung kecil-kecilan. Tapi Yu Marni tetap tercekik dalam memenuhi kebutuhan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Ya maklum di desa.

“Lalu siapa yang aku mintai pertolongan. Apa hanya dengan doa semuanya akan terselesaikan?” keluhnya dalam hati setiap setiap menjelang tutup warung. Kedua orang tuannya sudah meninggal sejak ia masih kecil, sedangkan sanak familinya kebanyakan mencari nafkah di daerah lainnya.

Katanya ikut transmigrasi. Ada yang menjadi buruh migran di luar negerilah. Tapi entah dimana sekarang mereka. Yang ada hanya ia sendiri dan tanggungan ketiga anaknya. Kemiskinan memang sangat menyakitkan, mempermainkan nasib seorang kapan saja. Dan manusia hanya bisa meratapinya.

Lalu ia mengambil jalan pintas, jalan penuh kegelapan dan bertabur kemaksiatan. Ya, ia serahkan tubuhnya untuk ditukar dengan rupiah. Sebuah perjalanan pahit dalam mengarungi kehidupan.

Senja baru saja berlalu. Kini giliran malam menggelar selimut kegelapan. Perlahan kerlip bintang-gemintang muncul bersamaan dengan bulan merah. Kyai Shodiq terlihat berjalan menyibak keremangan malam. Ia menuju rumah Yu Marni.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawab Yu Marni dari dalam sambil bergegas meraih pintu. “Kyai!,” ia terkejut. Tak mengira kalau temunya Kyai Shodiq. Lalu ia mempersilakan Kyai masuk.

“Ada apa Kyai, kok sepertinya penting?,” tanya Yu Marni.

“Ah kebetulan saya tadi dari rumah kang Trimo, mau saya suruh memperbaiki pagar belakang, nggak ada salahnya kan Yu, kalau saya mampir ke sini?.”

“Terima kasih Kyai, ternyata Kyai masih peduli dengan kami.”

“Dalam menjaga silaturohmi kita mesti saling mengasihi, tidak perlu mempersoalkan status, kedudukan, pangkat, bahkan agama sekalipun. Karena pada hakekatnya Islam itu mengajarkan perdamaian, silaturohmi, persaudaraan dan kasih sayang .” tandas Kyai.

“Begini Yu, mengenai sikap warga kemarin sore itu, saya juga memakluminya, tapi sampeyan jangan patah semangat dulu. Yakinlah bahwa Allah mengetahui perbuatan setiap hamba-Nya, jika niat kita tulus, pasti Allah akan menunjukkan hidayah-Nya.”

“Saya mengerti, Kyai,” sela Yu Marni seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Syukurlah kalau begitu, tapi maaf lho Yu, bukan maksud saya mengingatkan masa lalu Yu Marni, apa sih sebenarnya yang membuat Yu Marni kembali kepada jalan Agama?” selidik Kyai.

“Eee…begini ceritanya Kyai, ketika pergi ke pasar saya bertemu bekas langganan saya, namanya pak Bronto. Ia seorang duda yang lumayan kaya. Tapi sekarang sudah beristri wanita yang solikhah. Bahkan tahun lalu dia dan istrinya sudah sempat naik Haji.

Dia berusaha menyadarkan saya akan hidup yang terhormat, tidak menjadi sampah masyarakat. Nasihatnya itu yang mengingatkan saya akan masa depan keluarga, maksud saya nasib anak-anak saya. Kemarin ia menawari saya pekerjaan sebagai penjaga tokonya di pasar tersebut.

Dan sekarang malah tokonya itu diserahkan saya. Dari situ, setelah sampai di rumah saya memikirkan kembali ucapannya. Saya pikir mungkin inilah waktu yang tepat untuk merubah kehidupan saya dan keluarga, mencoba kembali hidup layak di masyarakat,” papar Yu Marni.

Kyai Shodiq merasa terharu dengan kisah Yu Marni. Ia berpikir bahwa Yu Marni adalah seorang yang sangat tabah dan berhasil melawan kesesatan yang selama ini menyelimutinya.

“Maha besar Allah atas kuasa-Nya,telah membuka hati hamba-Nya untuk kembali ke jalan-Nya, jalannya orang-orang yang bertaubat dan berserah diri,” ucap Kyai Shodiq lega.

*****

Hati Yu Marni semakin mantap. Meskipun banyak suara sumbang, ia tetap mengikuti pengajian Jum’at sore itu dan pada setiap kesempatan pengajian itu Kyai Shodiq selalu menceramahi jamaahnya agar mau menerima seorang yang sudah taubat . Tapi sikap jamaah tetap sama, menolak kehadiran bekas pelacur.

Sebulan kemudian warga kampung Kajen dikejutkan dengan adanya berita bahwa Jum’at depan Kyai Shadiq, duda tanpa anak itu hendak memperistri Yu Marni. []

Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Ghufron Ibnu Masud

Ghufron Ibnu Masud

Related Posts

Perempuan Shalat Subuh
Pernak-pernik

Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

2 Februari 2026
Disabilitas Psikososial
Disabilitas

Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

2 Februari 2026
Perempuan ke Masjid
Disabilitas

Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

2 Februari 2026
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Buku

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

2 Februari 2026
Melarang Perempuan
Pernak-pernik

Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

2 Februari 2026
Golek Garwo
Disabilitas

Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

2 Februari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    24 shares
    Share 10 Tweet 6

TERBARU

  • Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi
  • Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah
  • Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini
  • Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental
  • Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0