Mubadalah.id – Positif Kanker. Dua kata yang tidak pernah saya bayangkan akan dokter sampaikan. Sontak, tubuh ini terasa terhantam batu pasak. Tiba-tiba lemas, tangan saya lalu menggenggam tangan suami yang coba menguatkan meski kemudian kami berjalan pulang dari rumah sakit seperti zombie, pucat tak berjiwa.
Hari cerah di Amsterdam yang banyak orang nantikan bak hari kiamat kecil bagi kami. Taman depan rumah sakit, di mana anak-anak semarak menyambut cuaca hangat dengan bermain air dan makan es krim mendadak tak berwarna sama sekali. Saya dan suami berdua memutuskan tetap melenggang ke sana meski kami tak tahu akan berbuat apa. Di dekat pohon rindang, kami berdua memutuskan duduk di atas rumput, melepaskan anak kami yang semangat untuk berlari-lari.
Sementara putri kami melenggang lepas, kami hanya bisa berpelukan erat. Berbagai asumsi negatif melihat sakit kanker, dan tanda tanya berkeliaran di kepala kami. Bagaimana bisa kami menghadapi ujian ini? Kami tinggal jauh dari Indonesia dan tidak punya sanak famili di sini? Bagaimana kami bisa mengasuh anak dengan kondisi seperti ini? Bagaimana kuliah S3 saya?
Semua tanda tanya berkecamuk dalam kepala. Masih gundah gulana, kami memutuskan segera pulang dan mencoba mencerna ujian yang baru saja kami terima. Sehari semalam kami lebih banyak diam, tak tahu harus berkata apa. Saya terus mencoba meyakinkan suami bahwa saya akan baik-baik saja. Tapi, ia tahu bahwa kami berdua sebenarnya pun sama-sama menyimpan ketakutan yang tak kami utarakan.
Esoknya, suami diminta untuk menyampaikan istighasah di masjid komunitas Indonesia di Amsterdam, ia meminta izin apakah diperbolehkan untuk bercerita tentang sakit yang saya alami dan memohon doa kepada jamaah. Saya mengangguk mengiyakan dan menyilakan.
Sesampainya di masjid, setelah doa bersama dan acara istigosah selesai, suami akhirnya menyampaikan ujian yang baru saja melanda keluarga kecil kami. Dengan penuh kehangatan, baik jamaah laki-laki dan perempuan mendoakan kami dengan tulus. Seorang ibu penyintas kanker bahkan memeluk saya erat, “InsyaAllah sembuh.”
Tak hanya mendoakan, kami juga menerima banyak tawaran bantuan jika sewaktu-waktu kami memerlukan. Banyak nasihat dan saran kami tampung, menandakan kami pulang dari masjid dengan hati dan jiwa yang lebih penuh.
Saling Jaga dan Mengubah Perspektif tentang Sakit
Di awal menerima diagnosa, berat sekali perasaan saya. Namun, langkah kami ke masjid meruntuhkan segalanya. Kami dipeluk, dikuatkan juga mendapatkan banyak harapan. Tanpa banyak tanda kenapa dan mengapa. Kami tak pernah merasa dihakimi. Hati saya begitu lega. Pulang dari masjid, kami mendapatkan pelajaran berharga: dimanapun kami berada, Allah selalu jaga.
Dua bulan semenjak penyakit kanker disampaikan ke saya, kami menerima begitu banyak kasih sayang dari tetangga hingga teman. Bentuknya bahkan sesederhana menanyakan kabar, mengirim makanan hingga menjaga putri kami semalaman, dan itu terus menyalakan api harapan dalam keluarga kecil kami.
Mendapati banyaknya dukungan dari lingkungan sekitar, membuat saya kemudian terus bersemangat ikhtiar. Selain sudah menjalani serangkaian tindakan medis seperti terapi hormon dan operasi, saya juga mencoba menguatkan mental dengan melakukan konseling psikologis, serta mengubah pola makan dengan tidak lagi mengonsumsi junk food dan mengonsumsi makanan yang lebih sehat.
Menilik Makna Sakit
Dari sini, saya melihat sakit dari berbagai perspektif. Awalnya, sebagai bentuk ujian Allah terhadap hambanya, namun dalam perjalanannya saya justru melihat bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang begitu nyata. Bagaimana tidak, ketika sakit Allah tak hanya berjanji menggugurkan dosa, tapi juga Allah akan angkat derajatnya.
“Tidaklah seorang mukmin terkena duri atau yang lebih menyakitkan darinya kecuali Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan.” (HR. Tirmidzi, Hadits No.888)
Selain itu, sakit juga merupakan alarm yang Allah kirimkan untuk kita memperbaiki diri secara fisik, mental dan rohani. Di masa sakit ini, saya terus diberikan kesempatan untuk berefleksi: apa yang selama ini saya abaikan dari hak tubuh saya? Apa yang bisa saya perbaiki pada kesempatan sekarang?
Pada akhirnya, makna sakit ini tidak berhenti pada ruang personal saya saja. Jika ditarik ke dalam ranah yang lebih luas, keindahan dari rasa sakit yang Allah berikan adalah kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar ditinggalkan, melainkan sedang dirangkul dengan cara yang berbeda. Lewat sakit, saya menyadari bahwa ada energi kolektif yang mengakar kuat dalam karakter masyarakat Muslim Indonesia: karakter saling jaga.
Ketika satu bagian tubuh umat merasakan sakit, bagian tubuh lainnya ikut terjaga dan merawat. Melalui jalinan kepedulian inilah, kasih sayang Allah yang awalnya bersifat personal, meluas menjadi rahmat sosial yang menguatkan kita semua untuk bangkit dan bertahan bersama. []








































