Mubadalah.id – Massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API) melakukan long march menuju kawasan Istana Negara sebagai bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah. Para peserta berjalan secara berkelompok sambil membawa spanduk, poster, dan berbagai atribut aksi yang berisi tuntutan terkait persoalan ekonomi rakyat
Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan
Di tengah cuaca Jakarta yang terik, suara-suara dari dapur rumah tangga menggema hingga ke jalanan. Bukan bunyi panci atau wajan yang terdengar, melainkan teriakan dan yel-yel ratusan perempuan yang tergabung dalam Aliansi Perempuan Indonesia (API). Pada Kamis, 18 Juni 2025, mereka menggelar aksi besar untuk menyuarakan keresahan ekonomi yang selama ini mereka rasakan di rumah.
Para peserta aksi mengenakan pakaian berwarna merah muda dan daster. Mereka sengaja memilih pakaian tersebut sebagai simbol perlawanan perempuan dari ranah domestik. Dengan mengenakan daster, mereka menunjukkan bahwa perempuan yang sehari-hari mengurus rumah tangga juga memiliki hak untuk menyuarakan persoalan ekonomi nasional.
Selain itu, para peserta membawa berbagai peralatan dapur seperti panci, wajan, centong, dan talenan. Mereka menggunakan benda-benda tersebut sebagai alat orasi sekaligus simbol beban ekonomi yang mereka hadapi. Spanduk dan poster yang mereka bawa berisi tuntutan terkait harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perempuan dan Beban Ekonomi Rumah Tangga
Perempuan sering menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok. Mereka berhadapan langsung dengan harga beras, minyak goreng, telur, dan cabai yang terus meningkat. Ketika pendapatan keluarga tidak bertambah, mereka harus mencari berbagai cara agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Kondisi tersebut mendorong banyak perempuan untuk turun ke jalan. Mereka ingin pemerintah memahami bahwa persoalan ekonomi tidak hanya terlihat dalam data statistik, tetapi juga dirasakan langsung oleh keluarga di tingkat rumah tangga.
Tuntutan yang Disampaikan
Dalam aksi tersebut, Aliansi Perempuan Indonesia menyampaikan beberapa tuntutan utama. Mereka meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok yang terus membebani masyarakat. Mereka juga mendesak pemerintah membuka lebih banyak lapangan kerja dengan upah yang layak.
Selain itu, para peserta aksi meminta pemerintah menghentikan sementara program Makan Bergizi Gratis dan melakukan evaluasi menyeluruh. Menurut mereka, program tersebut masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kualitas makanan hingga distribusi yang belum merata.
Sorotan terhadap Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis awalnya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Namun, sebagian peserta aksi menilai pelaksanaannya belum optimal. Mereka mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran yang sangat besar jika manfaat yang diterima masyarakat belum maksimal.
Banyak peserta berpendapat bahwa pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi harga pangan. Mereka menilai langkah tersebut akan memberikan dampak yang lebih langsung terhadap pemenuhan gizi keluarga sehari-hari.
Seruan untuk Melindungi Hak Berdemokrasi
Selain isu ekonomi, peserta aksi juga menyoroti perlindungan hak demokrasi. Mereka meminta pemerintah dan aparat menghentikan tindakan represif terhadap gerakan masyarakat. Menurut mereka, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat tanpa rasa takut terhadap intimidasi, kriminalisasi, maupun kekerasan.
Selama aksi berlangsung, para peserta terus menyuarakan tuntutan melalui yel-yel dan orasi. Beberapa peserta bahkan membawa anak-anak mereka sebagai simbol harapan bagi masa depan yang lebih baik.
Respons Masyarakat dan Harapan ke Depan
Aksi “Jeritan Dapur” mendapat perhatian luas dari masyarakat. Warganet ramai membahas aksi tersebut melalui berbagai platform media sosial. Banyak pengguna media sosial menyampaikan dukungan karena mereka merasakan tekanan ekonomi yang serupa.
Bagi para perempuan yang terlibat dalam aksi ini, perjuangan mereka tidak hanya bertujuan menyampaikan keluhan tentang kenaikan harga kebutuhan pokok. Mereka ingin menunjukkan bahwa persoalan ekonomi yang terjadi saat ini telah menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan masyarakat, yaitu ketahanan keluarga. Karena itu, mereka memandang aksi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab sosial untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat yang terdampak oleh tingginya biaya hidup.
Dalam pandangan para peserta aksi, dapur bukan lagi sekadar ruang domestik tempat memasak dan menyiapkan makanan bagi keluarga. Dapur telah berubah menjadi simbol perjuangan masyarakat kecil dalam menghadapi berbagai tekanan ekonomi.
Dari dapurlah para ibu rumah tangga merasakan secara langsung dampak kenaikan harga beras, minyak goreng, telur, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Ketika pengeluaran rumah tangga terus meningkat sementara pendapatan keluarga tidak bertambah, dapur menjadi cerminan nyata kondisi ekonomi yang dialami masyarakat.
Melalui aksi “Jeritan Dapur”, para perempuan berharap pemerintah dapat lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi rakyat sehari-hari. Mereka menginginkan kebijakan yang mampu menjaga stabilitas harga, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.
Dengan demikian, suara yang lahir dari dapur tidak hanya menjadi bentuk protes, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan publik pada akhirnya akan dirasakan dampaknya oleh keluarga-keluarga di seluruh Indonesia. []












































