Mubadalah.id – Nyi Mas Pakungwati dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah awal Kesultanan Cirebon. Sosok yang juga dikenal dengan nama Nyi Mas Ratu Pakungwati atau Dewi Pakungwati itu memiliki peran besar dalam perkembangan Islam, sosial, politik, hingga ekonomi masyarakat pesisir Cirebon pada abad ke-15 hingga abad ke-16.
Nyi Mas Pakungwati lahir di wilayah Caruban, yang kini dikenal sebagai Cirebon, sekitar pertengahan abad ke-15 atau diperkirakan sekitar tahun 1450. Ia merupakan putri pertama pasangan Pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang dengan Nyimas Endang Geulis atau Nyimas Endang Ayu.
Dalam sejarah Cirebon, Nyi Mas Pakungwati tidak hanya dikenal sebagai permaisuri utama Sunan Gunung Jati, tetapi juga sebagai perempuan yang aktif terlibat dalam pembangunan peradaban Islam di wilayah pesisir utara Jawa Barat.
Berbagai sumber sejarah menyebutkan bahwa Nyi Mas Pakungwati terkenal sebagai perempuan yang cerdas, teguh dalam menjalankan ajaran Islam, serta memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat. Perannya tidak terbatas di lingkungan keraton, tetapi juga menjangkau kehidupan sosial dan dakwah masyarakat pesisir.
Warisan sejarahnya masih dapat terlihat hingga kini melalui keberadaan Keraton Kasepuhan yang dahulu terkenal sebagai Keraton Pakungwati. Serta Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang menjadi salah satu masjid tertua dan bersejarah di Cirebon.
Dalam sejumlah catatan sejarah, Nyi Mas Pakungwati sering terlibat dalam diskusi bersama para ulama. Ia juga memiliki pemahaman agama yang cukup mendalam dan turut mendukung berbagai kebijakan yang berkaitan dengan syiar Islam di Cirebon.
Belajar Kepemimpinan
Meski hidup pada masa ketika pendidikan formal belum berkembang seperti sekarang, Nyi Mas Pakungwati memperoleh pendidikan agama dan kepemimpinan langsung dari keluarganya.
Ayahnya, Pangeran Cakrabuana, mengajarkan dasar-dasar kepemimpinan, tata negara, serta nilai-nilai Islam. Sementara ibunya membimbingnya mengenai budi pekerti dan pendidikan agama.
Kedua orang tuanya terkenal sebagai tokoh Muslim yang taat serta murid dari Syekh Datuk Kahfi. Selain belajar dari keluarganya, Nyi Mas Pakungwati juga memperdalam ilmu agama dari Sunan Gunung Jati. Terutama dalam bidang tasawuf dan dakwah.
Pada akhir abad ke-15, Nyi Mas Pakungwati menikah dengan Sunan Gunung Jati yang saat itu baru datang dari Mesir untuk melanjutkan penyebaran Islam di Cirebon.
Meski tidak memiliki keturunan, Nyi Mas Pakungwati terkenal memiliki peran penting sebagai ibu negara di lingkungan kesultanan. Ia turut mengasuh dan membimbing putra-putri Sunan Gunung Jati serta menjadi pelindung bagi masyarakat dan para pengikut kesultanan.
Sebagai permaisuri utama Kesultanan Cirebon, pengaruh Nyi Mas Pakungwati meluas hingga wilayah pesisir Cirebon dan Banten. Ia tidak hanya menjalankan peran sebagai penasihat kesultanan, tetapi juga aktif turun langsung ke tengah masyarakat untuk melakukan dakwah dan kegiatan sosial.
Penguatan Ekonomi Pesisir
Perannya mencakup bidang pendidikan Islam, kehidupan sosial masyarakat, hingga penguatan ekonomi pesisir. Karena itu, Nyi Mas Pakungwati kerap dipandang sebagai salah satu perempuan yang turut membangun fondasi awal perkembangan Kesultanan Cirebon.
Nama “Pakungwati” sendiri memiliki makna unik dalam bahasa Cirebon, yakni “udang betina”. Nama tersebut berkaitan dengan sejarah perkembangan ekonomi pesisir Cirebon yang terkenal sebagai penghasil terasi dan hasil laut.
Sejarah mencatat bahwa Pangeran Cakrabuana memberikan nama tersebut untuk mengenang keberhasilan masyarakat pesisir dalam mengolah hasil laut. Terutama terasi yang kemudian menjadi identitas ekonomi Cirebon hingga sekarang.
Karena itu, Nyi Mas Pakungwati menjadi simbol kedaulatan ekonomi masyarakat pesisir Cirebon. Salah satu warisan pentingnya ialah berkembangnya tradisi pengolahan hasil laut seperti terasi dan petis yang masih bertahan di masyarakat hingga kini.
Selain itu, keterlibatannya dalam pembangunan kesultanan juga sangat besar. Dalam sejarah pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Nyi Mas Pakungwati turut mendanai dan mengawasi proses pembangunannya bersama para Wali Songo.
Masjid tersebut hingga kini menjadi salah satu simbol penting perkembangan Islam di Cirebon dan sering pula disebut sebagai Masjid Pakungwati karena erat kaitannya dengan peran sang permaisuri.
Posisi Penting
Para sejarawan menilai sosok Nyi Mas Pakungwati menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam sejarah Islam Nusantara. Perannya sangat luas termasuk dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, dan dakwah.
Melalui kontribusinya, Kesultanan Cirebon berkembang menjadi salah satu pusat peradaban Islam penting di wilayah pesisir Jawa.
Karena itu, sosok Nyi Mas Pakungwati dinilai penting untuk terus dikenalkan kepada generasi muda. Terutama sebagai teladan perempuan Muslim yang memiliki peran strategis dalam membangun masyarakat dan peradaban.
Tokoh perempuan seperti Nyi Mas Pakungwati juga menunjukkan bahwa sejarah Islam Nusantara tidak hanya dibangun oleh laki-laki. Tetapi juga oleh perempuan yang memiliki kecerdasan, kepemimpinan, dan pengaruh besar dalam kehidupan sosial masyarakat. []










































