Mubadalah.id – Upacara adat Seren Taun Cigugur 1959 Saka kembali digelar dengan khidmat di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan. Tradisi syukuran masyarakat agraris Sunda yang telah berlangsung lebih dari satu abad itu tahun ini mengusung tema “Merawat Prasasti Peradaban Budaya untuk Masa Depan Bangsa”.
Ketua Panitia Seren Taun, Dewi Kanti, mengatakan rangkaian kegiatan Seren Taun berlangsung sejak 3 hingga 8 Juni 2026. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan tradisi tersebut merupakan bentuk komitmen masyarakat adat dalam merawat warisan budaya yang diwariskan para leluhur.
“Dengan bangga kami terus melestarikan dan merawat tali paranti tradisi upacara syukuran masyarakat agraris Jawa Barat yang diinisiasi oleh leluhur kami, Pangeran Sadewa Madrais Kusuma Wijayaningrat sebagai pendiri Paseban Tri Panca Tunggal,” ujar Dewi Kanti dalam sambutannya pada puncak acara Seren Taun.
Menurutnya, perjalanan panjang pelestarian Seren Taun bukanlah hal yang mudah. Berbagai tantangan telah dihadapi oleh para penerus tradisi. Namun, keberlangsungan upacara adat tersebut selama lebih dari 100 tahun menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Cigugur tetap teguh menjaga warisan budaya leluhur.
“Tradisi ini telah teruji oleh waktu. Lebih dari satu abad Seren Taun tetap berjalan dan itu menjadi kebanggaan sekaligus kebahagiaan bagi kami sebagai penyelenggara,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Dewi Kanti menegaskan bahwa Seren Taun tidak hanya sebagai seremoni adat tahunan. Melainkan memiliki visi dan misi yang lebih luas dalam merespons berbagai dinamika sosial yang berkembang di masyarakat.
Bulan Pancasila
Menurutnya, tema yang diangkat tahun ini memiliki keterkaitan erat dengan momentum Bulan Pancasila yang diperingati setiap Juni. Pancasila, kata dia, merupakan fondasi sekaligus prasasti peradaban bangsa Indonesia yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Seren Taun tidak sekadar tradisi seremonial, tetapi juga menjadi ruang untuk menyampaikan konteks sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Bulan Juni adalah Bulan Pancasila. Saatnya kita merayakan dan menghormati nilai-nilai Pancasila sebagai prasasti peradaban bangsa Indonesia,” tuturnya.
Penyelenggaraan Seren Taun tahun ini juga kehadiran tamu dari berbagai daerah, termasuk dari teman-teman Bali. Dewi Kanti menilai kehadiran mereka menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi antarbudaya di Indonesia.
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan sejumlah tokoh dan perwakilan masyarakat Bali mengenai kemungkinan kerja sama kebudayaan di masa mendatang. Menurutnya, hubungan budaya Sunda dan Bali memiliki potensi besar untuk saling memperkuat upaya pemajuan kebudayaan nasional.
“Kehadiran saudara-saudara kami dari Pulau Dewata membuka ruang sinergi dan kolaborasi. Kami berharap dapat membangun kerja sama yang semakin meneguhkan pelestarian dan kemajuan kebudayaan yang kita cita-citakan bersama,” ujarnya.
Dewi Kanti menjelaskan bahwa tradisi Seren Taun tidak hanya dilaksanakan di Cigugur, tetapi juga dijumpai di berbagai wilayah Tatar Sunda. Namun, Seren Taun Cigugur memiliki kekhasan tersendiri karena dilaksanakan tepat pada penghujung tahun Sunda menjelang pergantian tahun baru Sunda.
Menyambut Tahun Baru
Dalam perayaan tersebut, masyarakat menyerahkan hasil bumi sebagai simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang diperoleh selama setahun. Di saat yang sama, masyarakat juga memanjatkan harapan dan doa untuk menyambut tahun yang baru.
“Seren Taun merupakan penyerahan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa untuk menutup tahun yang akan berlalu sekaligus menyambut tahun yang baru,” katanya.
Ia juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas kehadiran para sesepuh adat dan perwakilan keraton dari berbagai wilayah Tatar Sunda. Menurutnya, para pemuka adat dan budaya memiliki peran penting sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan yang berakar dari tradisi dan kearifan lokal.
“Kehadiran para sesepuh dan pemuka adat menjadi kekuatan besar bagi bangsa ini. Mereka adalah pondasi yang menjaga nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.
Ketua Yayasan Tri Mulya Triwikrama itu menyampaikan bahwa dalam rangkaian Seren Taun tahun ini masyarakat juga dapat menyaksikan berbagai pameran artefak koleksi Paseban Tri Panca Tunggal. Pameran tersebut menjadi sarana edukasi dan literasi sejarah kepada masyarakat luas.
Menurutnya, keberadaan Paseban Tri Panca Tunggal tidak lahir dari ruang hampa. Melainkan memiliki jejak sejarah panjang yang terkait perjalanan peradaban dan perjuangan para leluhur.
“Melalui pameran ini kami ingin menunjukkan bahwa di balik keberadaan Paseban Tri Panca Tunggal terdapat jejak perjuangan dan sejarah yang menorehkan bukti-bukti peradaban,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini pelestarian warisan budaya tersebut telah memasuki generasi keempat. Meskipun demikian, komitmen untuk menjaga amanat leluhur tetap menjadi pegangan utama bagi keluarga dan masyarakat adat Cigugur.
“Kami terus menjaga konsistensi dan komitmen bahwa menjaga tradisi berarti menjaga jati diri bangsa serta menjaga harkat dan martabat Indonesia,” katanya.
Koleksi Wayang Pusaka
Dalam pameran tersebut, masyarakat juga dapat melihat koleksi wayang pusaka yang berasal dari Pangeran Gebang, leluhur keluarga Paseban. Koleksi tersebut untuk kedua kalinya ditampilkan kepada publik sebagai bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat luas.
Menurutnya, benda-benda pusaka tersebut tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah semata. Tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan literasi yang dapat generasi masa kini pelajari.
“Kami tidak memandangnya sekadar pusaka. Tetapi juga sebagai pustaka yang dapat menjadi bahan bacaan dan pembelajaran bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan Cigugur dan berbagai warisan budaya yang ia miliki dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi bangsa Indonesia. Warisan budaya tersebut, kata dia, bukan hanya milik masyarakat Cigugur, Kabupaten Kuningan, atau Jawa Barat semata, melainkan bagian dari kekayaan budaya nasional.
“Cigugur bukan hanya milik Cigugur. Cigugur bukan hanya milik Kuningan dan Jawa Barat. Ini adalah persembahan kami untuk bangsa Indonesia, warisan yang kami terima dari para leluhur,” katanya.
Penyelenggaraan Seren Taun tahun ini juga menunjukkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat adat. Berbagai rangkaian kegiatan terlaksana melalui partisipasi aktif warga yang secara bersama-sama terlibat dalam persiapan maupun pelaksanaan acara.
Bagi masyarakat Cigugur, gotong royong bukan sekadar cara bekerja bersama, melainkan bagian dari nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Semangat tersebut dinilai sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang menempatkan kebersamaan dan persatuan sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
“Kami masih terus mengoptimalkan upaya gotong royong bersama masyarakat adat. Apa yang kami lakukan hari ini merupakan cerminan kepribadian budaya yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” tukasnya. []












































