Mubadalah.id – Saya akan bercerita tentang seorang mahasiswa disabilitas netra Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang mendapat tawaran langsung dari rektor antara beasiswa S-2 atau bekerja. Namanya Elpanta Tarigan yang sempat memenuhi berbagai pemberitaan media pada April 2026.
Namun, di balik sorotan publik, ada cerita lain bagaimana perjuangan Elpanta beradaptasi dengan dunia kerja sebagai penyandang disabilitas netra.
Ledih dekat dengan Elpanta
“Ordal kampus ini mbak, udah kerja di rektorat dia,” candaan Zul, teman sesama disabilitas netra ketika saya bertanya kesibukan Elpanta.
Mahasiswa asal Medan, Sumatera Utara itu berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3, 3 tahun atau tujuh semester dengan IPK 3,86 dan predikat cum laude. Saat rektor sedang berpidato, Elpanta tiba-tiba dipanggil untuk naik ke panggung. Kemudian rektor memberikan tawaran kepada Elpanta. Tidak lama berfikir ia memilih untuk bekerja.
“Aku mikir bentar. Terus aku bilang ya saya mau bekerja di Unesa gitu,” jawab Elpanta dengan semangat.
Bisa lulus kuliah dan bekerja baginya merupakan sebuah pembuktiannya kepada keluarga dan lingkungan. Akhirnya ia bisa melawan orang-orang yang pernah meremehkannya.
“Salah satu perlawananku ya ini. Bukan dengan kejahatan atau menghina, enggak,” ujar Elpanta.
Elpanta mulai netra saat berumur 12 tahun akibat tumor otak dan memiliki tinggi badan menjulang (215 cm). ia sempat terpuruk dan lingkungan meremehkannya. Hingga ia melanjutkan Pendidikan Sekolah Luar Biasa. Beberapa bulan kemudian mengikuti ia turnamen catur di Olimpiade Olahraga Seni Nasional (02SN) yang membuat pikirannya terbuka, ia bertemu dengan banyak teman disabilitas yang berprestasi.
“Terbuka lah mbak pikiranku, mulailah fokus latihan atletik di tolak peluru,” kenangnya
Belajar Berdaptasi di Dunia Kerja
Pada 2 Juni 2026, ia resmi mulai bekerja di Unit Layanan Terpadu (ULT) Unesa. Lokasinya berada di Gedung Rektorat lantai 1. ULT ini memberikan pelayanan kepada pihak yang memiliki keperluan ke rektorat. El bertugas pada bagian komunikasi eksternal yakni memfilter dan meneruskan surat sesuai dengan kebutuhan misalkan ke Rektor, WR 1, WR 2 atau ke dekan.
Selain meneruskan surat, El juga menjadi petugas call center kepada pihak yang telah mengirimkan surat ke Unesa. Mulai cari telepon atau chat WhatshApp.
Awalnya El akan ditempatkan pada bagian sekretariat rektorat lantai delapan, ia merasa terlalu berat jika langsung pada bagian tersebut. El kemudian mencoba berdialog supaya berada pada posisi yang ringan dulu akhirnya di bagian komunikasi eksternal.
Dalam kesehariannya bekerja ia masih meggunakan device pribadi. Hal ini karena device yang disediakan kampus NVDA (NonVisual Desktop Acces) baru terpasang. NVDA membantu disabilitas netra dalam mengoperasikan laptop, karena mengubah teks menjadi suara. El masih perlu memahami sistem NVDA pada device kampus.
Terlebih el yang berasal dari jurusan Pendidikan Luar Biasa perlu berusaha lebih untuk beradaptasi kerja-kerja administrasi.
Dukungan yang Membuat Bertahan
Elpanta memaparkan bahwa seorang disabilitas netra harus bekerja lebih keras untuk memahami sistem yang digunakan. Jika sebagian orang awas (bisa melihat) dapat mempelajari sistem administrasi dalam hitungan hari, penyandang disabilitas netra membutuhkan waktu lebih lama karena harus mengakses informasi melalui teknologi pembaca layar.
“Tapi kami bisa apa mbak? Kami yang butuh yang harus terus beradaptasi, “ ujar Elpanta.
Lingkungan yang respect dengan kondisi Elpatan, membuatnya semangat untuk terus berusaha beradaptasi. Ketika datang ke kampus rekan kerja menyapa, kemudian saat awal bekerja terdapat pengarahan dan penjelasan juga saat bertanya atau ketika ia sedang merasa kebingungan.
“Itu merupakan bentuk dukungan, terutama bagi aku yang masih baru,” ujar Elpanta.
Bagi Elpanta, mendapatkan pekerjaan sebelum wisuda bukan berarti perjalanan telah selesai. Setiap hari ia masih belajar memahami sistem kerja, menyesuaikan diri dengan teknologi, dan membangun relasi di lingkungan baru. Di tengah berbagai tantangan tersebut, dukungan dari orang-orang di sekitarnya menjadi alasan untuk terus bertahan dan berkembang. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan Mubadalah Goes to Campus. Kerjasama Media Mubadalah dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Ampel Surabaya, Pada 18-19 Mei 2026 di GreenSA Inn Surabaya











































