Mubadalah.id – Asih Widyowati atau biasa disapa Asih merupakan akademisi dan juga aktivis perempuan yang konsisten menyuarakan isu kesehatan seksual dan reproduksi serta pencegahan kekerasan seksual.
Bersama suaminya, Abdul Rosyidi, ia mendirikan komunitas Umah Ramah pada tahun 2020 dengan dukungan awal dan berkelanjutan dari National Organization of Asian and Pacific Islanders Ending Sexual Violence (NAPIESV).
Di tengah masyarakat yang masih menganggap isu seksualitas sebagai hal tabu, Asih hadir untuk menyebarkan pengetahuan tersebut lewat pendekatan yang berpihak pada korban.
Melalui penelitian, pendampingan, pendidikan, dan kampanye sosial, ia berupaya membangun kesadaran bahwa korban kekerasan seksual tidak boleh disalahkan ataupun dikucilkan.
Selain aktif di komunitas, Asih juga merupakan dosen di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon. Ia kerap menjadi narasumber dalam berbagai forum akademik maupun sosial untuk membicarakan persoalan kesehatan reproduksi, relasi gender, hingga pencegahan kekerasan seksual.
Tidak hanya berbicara di ruang diskusi, Asih juga terlibat langsung mendampingi para korban yang mengalami trauma akibat kekerasan seksual. Baginya, mendengarkan dan menemani korban merupakan bagian penting dalam proses pemulihan.
Melalui Umah Ramah, Asih dan para penggiatnya aktif melakukan edukasi ke kampung-kampung, pesantren, sekolah, hingga kampus. Mereka juga membangun ruang belajar bernama Sekolah Sudhamala yang berfokus pada pendidikan mengenai kekerasan seksual, trauma healing, serta keberanian untuk melanjutkan hidup setelah mengalami kekerasan.
Biodata Singkat
Asih Widyowati lahir di Brebes, Jawa Tengah, pada 23 Januari 1985. Ia merupakan anak kesepuluh dari 14 bersaudara. Masa kecilnya tumbuh di lingkungan keluarga sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat desa.
Sejak muda, Asih memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Keinginan tersebut muncul karena ia melihat banyak perempuan di sekitarnya menikah di usia anak dan kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.
Beruntung, kedua orang tuanya mendukung pilihan tersebut meski kondisi ekonomi keluarga terbatas. Dukungan itu membuat Asih terus melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi.
Asih menempuh pendidikan di SDN 1 Pandansari Brebes, SMPN 1 Wanasari Brebes, dan SMAN 2 Brebes. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, yang kini menjadi UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dengan mengambil jurusan Tadris Biologi.
Selain pendidikan formal, Asih juga pernah belajar di pesantren selama tujuh tahun. Pengalaman hidup di pesantren inilah yang menjadi salah satu titik awal kegelisahannya terhadap persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.
Kesadaran tersebut semakin tumbuh ketika ia kuliah pada 2006. Mata kuliah biologi yang ia pelajari membuatnya mulai memahami tubuh, kesehatan reproduksi, dan bentuk-bentuk kekerasan seksual yang sebelumnya jarang dibicarakan secara terbuka.
Ia juga melihat banyak perempuan di kampungnya mengalami kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan seksual dari pasangan sendiri. Situasi itu membuat Asih merasa bahwa perempuan membutuhkan ruang aman untuk didengar dan diberdayakan.
Perjumpaannya dengan para aktivis gender di Fahmina Institute seperti Buya Husein Muhammad dan Dr. Faqihuddin Abdul Kodir semakin memperluas cara pandangnya tentang keadilan gender dan hak-hak perempuan.
Dari Ruang Akademik hingga Pendampingan Korban
Sebelum mendirikan Umah Ramah, Asih telah aktif melakukan berbagai kerja sosial. Setelah lulus kuliah, ia pernah mengadvokasi persoalan tanah petani di kampungnya selama hampir satu tahun.
Pilihan itu sempat dipandang aneh oleh sebagian kerabatnya. “Perempuan kok demo. Mau jadi apa?” begitu komentar yang pernah ia dengar. Namun hal tersebut tidak membuatnya mundur. Asih justru semakin yakin bahwa perempuan memiliki hak untuk bersuara dan memperjuangkan keadilan.
Pada 2010, Asih menerima beasiswa “Health Reproductive Youth and Leadership” dari Ashoka. Ia juga aktif belajar di Yayasan Kesehatan Perempuan serta mengikuti kegiatan Institut Pelangi Perempuan hingga ke Malaysia.
Pada 2007, ia merintis Bayt al Hikmah sebagai ruang belajar mengenai perempuan dan anak. Dari sana, aktivitas pendampingan dan edukasinya terus berkembang.
Bersama Abdul Rosyidi, Asih kemudian secara resmi mendirikan Umah Ramah pada 2020 sebagai yayasan nirlaba yang fokus pada isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi.
Komunitas ini berkembang menjadi ruang aman bagi banyak perempuan, laki-laki muda. Hingga ragam gender yang ingin belajar mengenai kesetaraan gender dan pencegahan kekerasan seksual.
Selain melakukan pendampingan korban, para penggiat Umah Ramah juga aktif menjadi pembicara, melakukan penelitian, menerbitkan buku, menggelar pelatihan, hingga berkampanye melalui media sosial.
Menghadirkan Ruang Aman dan Kasih bagi Penyintas
Bagi Asih, kekerasan seksual bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan sosial yang berakar dari relasi kuasa dan ketidaksetaraan gender.
Karena itu, ia percaya bahwa korban tidak seharusnya disalahkan atas kekerasan yang mereka alami. Sebaliknya, masyarakat perlu menciptakan ruang yang aman dan mendukung proses pemulihan korban.
Melalui Sekolah Sudhamala, Asih dan tim Umah Ramah membantu para penyintas mengenali trauma, memahami diri sendiri, serta membangun keberanian untuk kembali menjalani hidup.
Atas dedikasinya dalam isu perempuan dan anak, Asih menerima penghargaan Perempuan Pemerhati Masalah Perempuan dan Anak dari Bupati Cirebon pada tahun 2022.
Melalui kerja-kerja pendampingan, pendidikan, dan kampanye sosial yang ia lakukan, Asih menunjukkan bahwa gerakan mennyuarakan keadilan dan ksetaraan bagi korban kekerasan seksual tidak bisa dilakukan sendiri. Tetapi harus menjadi kerja kolektif. []











































