Selasa, 14 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Tokoh Profil

Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

Bersama Ahmad Dahlan, Nyai Walidah mendirikan kursus dan sekolah perempuan melalui wadah Sopo Tresno. Pada 1917, organisasi itu berubah nama menjadi Aisyiyah.

Redaksi by Redaksi
21 Mei 2026
in Profil
A A
0
Nyai Siti Walidah

Nyai Siti Walidah

44
SHARES
2.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam rangkaian Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia ke-20, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menghadirkan dua sosok penting dalam sejarah perempuan Muslim Indonesia: Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan dan Prof. Siti Baroroh Baried.

Forum yang berlangsung pada Kamis malam, 21 Mei 2026, itu sebagai upaya membaca kembali bagaimana perempuan Muslim membangun sejarah bangsa melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan gerakan sosial.

Dalam paparannya, Dr. Debbie Afianty, M.Si menegaskan bahwa Nyai Siti Walidah tidak bisa hanya dilihat sebagai “istri pendiri Muhammadiyah”. Menurutnya, Siti Walidah adalah ulama perempuan yang ikut mengubah arah sejarah Indonesia pada masa ketika perempuan bahkan belum dianggap layak memperoleh pendidikan yang memadai, apalagi memiliki otoritas di ruang publik dan keagamaan.

“Justru di situlah letak keistimewaannya,” ujar Debbie dalam diskusi tersebut.

Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1872, di lingkungan keluarga yang cukup mapan dan religius. Ayahnya, KH. Muhammad Fadil, merupakan penghulu keraton sekaligus saudagar batik yang dikenal terpandang. Namun seperti kebanyakan perempuan pada zamannya, Walidah tidak memperoleh pendidikan formal. Ruang gerak perempuan ketika itu masih dibatasi pada urusan domestik: mengurus rumah, melayani keluarga, dan menjaga tradisi.

Meski demikian, keluarga tetap memberikan ruang baginya untuk belajar agama, bahasa Arab, dan Al-Qur’an langsung dari sang ayah. Lingkungan keluarga inilah yang kemudian membentuk fondasi intelektual dan spiritual Nyai Walidah. Sejak kecil, ia dikenal berbeda dibanding teman-teman sebayanya: berani berbicara, memiliki rasa percaya diri, dan menunjukkan perhatian besar terhadap kondisi perempuan.

Perjalanan hidupnya kemudian berubah ketika pada usia 17 tahun ia menikah dengan Muhammad Darwis, yang kelak dikenal sebagai KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Keduanya hidup di lingkungan Kauman yang sangat dekat dengan tradisi keagamaan Kesultanan Yogyakarta.

Mitra Perjuangan

Namun Debbie menegaskan, hubungan mereka bukan sekadar relasi domestik antara suami dan istri. Dalam banyak hal, Nyai Walidah menjadi mitra perjuangan Ahmad Dahlan. Ketika Muhammadiyah berdiri pada 1912, Siti Walidah turut membangun ruang-ruang pendidikan dan pengajian perempuan di berbagai kampung seperti Kauman, Lempuyangan, Karangkajen, hingga Pakualaman.

Pengajian itu dikenal dengan nama Sopo Tresno, sebuah forum sederhana yang berlangsung selepas Asar. Dari ruang kecil itulah lahir kesadaran baru perempuan Muslim tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan keberanian hadir di ruang publik.

“Sesekali beliau bahkan menggantikan suaminya untuk menyampaikan pengajian,” tutur Debbie.

Apa yang dilakukan Nyai Walidah pada masa itu sesungguhnya sangat revolusioner. Ia tidak hanya mengajarkan perempuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca realitas sosial. Ia mendorong perempuan belajar membaca, menulis, dan memahami kehidupan di luar batas-batas domestik.

Perhatian Nyai Walidah juga tertuju pada buruh-buruh perempuan di industri batik Kauman. Pada masa itu, Kauman berkembang menjadi pusat industri batik sehingga banyak perempuan dari luar daerah datang untuk bekerja. Mereka tinggal di sekitar kawasan Muhammadiyah, bahkan sebagian menumpang di area dekat kantor organisasi.

Di tangan Nyai Walidah, ruang itu berubah menjadi tempat perlindungan sekaligus pembinaan. Seusai bekerja, para buruh perempuan mengikuti pengajian malam yang kemudian dikenal dengan nama Maghribi School. Di sana mereka belajar agama, membaca, menulis, sekaligus membangun rasa percaya diri.

Menurut Debbie, Nyai Walidah memahami bahwa keterbelakangan perempuan bukan persoalan kodrat, melainkan persoalan akses terhadap pengetahuan. Ketika perempuan kehilangan akses terhadap ilmu, sesungguhnya masyarakat sedang kehilangan separuh potensi kemanusiaannya.

Karena itulah perjuangannya dimulai dari pendidikan.

Membangun Pendidikan Karakter

Nyai Walidah juga membangun pendidikan karakter bagi murid-muridnya. Ia berpesan agar perempuan tidak hidup dalam mentalitas rendah diri dan tidak terjebak pada simbol-simbol kemewahan. Ia menanamkan semangat agar perempuan memiliki jiwa Srikandi: kuat, mandiri, dan tidak menggantungkan hidup sepenuhnya kepada laki-laki.

Pesan-pesan itu membekas kuat di kalangan murid-muridnya. Dari ruang pengajian sederhana itulah kemudian lahir kader-kader perempuan yang kelak menjadi pelopor organisasi Aisyiyah.

Bersama Ahmad Dahlan, Nyai Walidah mendirikan kursus dan sekolah perempuan melalui wadah Sopo Tresno. Pada 1917, organisasi itu berubah nama menjadi Aisyiyah. Menariknya, ketua pertama organisasi tersebut bukan Nyai Walidah, melainkan Siti Bariyah. Menurut Debbie, hal itu menunjukkan bahwa sejak awal Aisyiyah dibangun dengan semangat kepemimpinan modern dan profesional, bukan berdasarkan kedekatan keluarga.

Nyai Walidah sendiri baru terpilih menjadi Ketua Hoofdbestuur Aisyiyah pada 1921. Di bawah kepemimpinannya, Aisyiyah berkembang sangat cepat. Organisasi ini mengirim mubaligat ke berbagai kampung, menyelenggarakan kursus agama bagi perempuan pekerja, hingga membangun pendidikan anak usia dini melalui pendirian Frobel School pada 1922.

Warisan penting lain dari Nyai Walidah adalah pembentukan budaya baru perempuan Muslim, termasuk penguatan tradisi berkerudung di lingkungan perempuan Muhammadiyah.

Namun perjuangan mereka tidak mudah. Muhammadiyah pada masa awal sering mengalami kesulitan keuangan. Debbie menuturkan bahwa Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah bahkan rela melelang barang-barang milik pribadi demi membiayai sekolah dan kegiatan dakwah.

“Muhammadiyah perlu uang, perlu harta untuk mendirikan sekolah dan bertabligh,” kata Ahmad Dahlan kala itu.

Pengorbanan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan pembaruan Islam tidak dibangun di atas kemewahan, melainkan ketulusan dan keberanian berkorban.

Melanjutkan Dakwah

Ketika Ahmad Dahlan wafat pada 1923, perjuangan itu tidak berhenti. Nyai Walidah melanjutkan dakwah dan pengorganisasian perempuan hingga ke berbagai daerah. Bahkan di usia lebih dari 50 tahun, ia masih melakukan perjalanan jauh dengan menunggang kuda untuk mengunjungi cabang-cabang Aisyiyah.

Menjelang akhir hayatnya, kondisi kesehatan Nyai Walidah mulai menurun. Namun semangatnya tetap hidup. Dalam sebuah pertemuan Muhammadiyah pasca kemerdekaan, ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga perjuangan persyarikatan.

Tidak lama setelah itu, pada 31 Mei 1946, Nyai Siti Walidah wafat.

Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam membina dan mendidik perempuan Muslim Indonesia.

Bagi Debbie Afianty, yang paling penting dari sosok Nyai Walidah bukan hanya sejarah organisasinya, tetapi cara pandangnya terhadap perempuan dan Islam. Ia menunjukkan bahwa agama bukan penghalang bagi kemajuan perempuan. Sebaliknya, Islam justru menjadi sumber etika pembebasan dan keadilan sosial.

“Beliau menggunakan bahasa agama untuk memperjuangkan pendidikan, keadilan, dan martabat manusia,” ujar Debbie.

Menurutnya, pesan Nyai Walidah masih sangat relevan hingga hari ini, ketika Indonesia masih menghadapi persoalan kekerasan terhadap perempuan, perdagangan orang, kekerasan digital, hingga ketimpangan sosial.

Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Jika hidup hari ini, kata Debbie, mungkin Nyai Walidah tidak hanya berada di ruang pengajian. Ia mungkin hadir di ruang advokasi, pendidikan digital, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai ruang kemanusiaan lainnya.

Karena yang diperjuangkan Nyai Walidah sesungguhnya bukan hanya perempuan, tetapi kemaslahatan masyarakat secara luas.

Diskusi malam itu akhirnya tidak hanya menjadi ruang mengenang sejarah, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan ulama perempuan selalu lahir dari keberanian membaca zaman. Nyai Siti Walidah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kita mulai dari ruang-ruang kecil: pengajian sederhana, kelas membaca, asrama perempuan, atau percakapan selepas Magrib.

Dari Kauman, cahaya itu menyebar ke seluruh Indonesia.

Dan pertanyaan yang tersisa bagi generasi hari ini, sebagaimana Debbie sampaikan di akhir pemaparannya, bukan lagi siapa Nyai Siti Walidah, melainkan apakah semangatnya masih hidup dalam diri kita.

Karena menghormati ulama perempuan bukan sekadar mengenang nama mereka, tetapi meneruskan hikmah dan perjuangannya. []

Tags: jalanMenjadikanNyai Siti WalidahPembebasanpendidikanperempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Teungku Fakinah: Pemimpin Dayah dari Serambi Makkah

Next Post

Saparinah Sadli, Pelopor Kajian Wanita dan Kemitrasejajaran Gender

Redaksi

Redaksi

Related Posts

Makna Tahrīr
Personal

Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

13 Juli 2026
Penyakit yang Menular
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

12 Juli 2026
Romina Pourmokhtari
Figur

Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga

12 Juli 2026
Pendidikan Perempuan
Publik

Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

8 Juli 2026
Kurikulum Responsif Gender
Publik

Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

8 Juli 2026
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

7 Juli 2026
Next Post
Saparinah Sadli

Saparinah Sadli, Pelopor Kajian Wanita dan Kemitrasejajaran Gender

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin
  • Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option
  • Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?
  • Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr
  • Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0