Mubadalah.id – Dalam rangkaian Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia ke-20, Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menghadirkan dua sosok penting dalam sejarah perempuan Muslim Indonesia: Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan dan Prof. Siti Baroroh Baried.
Forum yang berlangsung pada Kamis malam, 21 Mei 2026, itu sebagai upaya membaca kembali bagaimana perempuan Muslim membangun sejarah bangsa melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, dan gerakan sosial.
Dalam paparannya, Dr. Debbie Afianty, M.Si menegaskan bahwa Nyai Siti Walidah tidak bisa hanya dilihat sebagai “istri pendiri Muhammadiyah”. Menurutnya, Siti Walidah adalah ulama perempuan yang ikut mengubah arah sejarah Indonesia pada masa ketika perempuan bahkan belum dianggap layak memperoleh pendidikan yang memadai, apalagi memiliki otoritas di ruang publik dan keagamaan.
“Justru di situlah letak keistimewaannya,” ujar Debbie dalam diskusi tersebut.
Siti Walidah lahir di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1872, di lingkungan keluarga yang cukup mapan dan religius. Ayahnya, KH. Muhammad Fadil, merupakan penghulu keraton sekaligus saudagar batik yang dikenal terpandang. Namun seperti kebanyakan perempuan pada zamannya, Walidah tidak memperoleh pendidikan formal. Ruang gerak perempuan ketika itu masih dibatasi pada urusan domestik: mengurus rumah, melayani keluarga, dan menjaga tradisi.
Meski demikian, keluarga tetap memberikan ruang baginya untuk belajar agama, bahasa Arab, dan Al-Qur’an langsung dari sang ayah. Lingkungan keluarga inilah yang kemudian membentuk fondasi intelektual dan spiritual Nyai Walidah. Sejak kecil, ia dikenal berbeda dibanding teman-teman sebayanya: berani berbicara, memiliki rasa percaya diri, dan menunjukkan perhatian besar terhadap kondisi perempuan.
Perjalanan hidupnya kemudian berubah ketika pada usia 17 tahun ia menikah dengan Muhammad Darwis, yang kelak dikenal sebagai KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Keduanya hidup di lingkungan Kauman yang sangat dekat dengan tradisi keagamaan Kesultanan Yogyakarta.
Mitra Perjuangan
Namun Debbie menegaskan, hubungan mereka bukan sekadar relasi domestik antara suami dan istri. Dalam banyak hal, Nyai Walidah menjadi mitra perjuangan Ahmad Dahlan. Ketika Muhammadiyah berdiri pada 1912, Siti Walidah turut membangun ruang-ruang pendidikan dan pengajian perempuan di berbagai kampung seperti Kauman, Lempuyangan, Karangkajen, hingga Pakualaman.
Pengajian itu dikenal dengan nama Sopo Tresno, sebuah forum sederhana yang berlangsung selepas Asar. Dari ruang kecil itulah lahir kesadaran baru perempuan Muslim tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan keberanian hadir di ruang publik.
“Sesekali beliau bahkan menggantikan suaminya untuk menyampaikan pengajian,” tutur Debbie.
Apa yang dilakukan Nyai Walidah pada masa itu sesungguhnya sangat revolusioner. Ia tidak hanya mengajarkan perempuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca realitas sosial. Ia mendorong perempuan belajar membaca, menulis, dan memahami kehidupan di luar batas-batas domestik.
Perhatian Nyai Walidah juga tertuju pada buruh-buruh perempuan di industri batik Kauman. Pada masa itu, Kauman berkembang menjadi pusat industri batik sehingga banyak perempuan dari luar daerah datang untuk bekerja. Mereka tinggal di sekitar kawasan Muhammadiyah, bahkan sebagian menumpang di area dekat kantor organisasi.
Di tangan Nyai Walidah, ruang itu berubah menjadi tempat perlindungan sekaligus pembinaan. Seusai bekerja, para buruh perempuan mengikuti pengajian malam yang kemudian dikenal dengan nama Maghribi School. Di sana mereka belajar agama, membaca, menulis, sekaligus membangun rasa percaya diri.
Menurut Debbie, Nyai Walidah memahami bahwa keterbelakangan perempuan bukan persoalan kodrat, melainkan persoalan akses terhadap pengetahuan. Ketika perempuan kehilangan akses terhadap ilmu, sesungguhnya masyarakat sedang kehilangan separuh potensi kemanusiaannya.
Karena itulah perjuangannya dimulai dari pendidikan.
Membangun Pendidikan Karakter
Nyai Walidah juga membangun pendidikan karakter bagi murid-muridnya. Ia berpesan agar perempuan tidak hidup dalam mentalitas rendah diri dan tidak terjebak pada simbol-simbol kemewahan. Ia menanamkan semangat agar perempuan memiliki jiwa Srikandi: kuat, mandiri, dan tidak menggantungkan hidup sepenuhnya kepada laki-laki.
Pesan-pesan itu membekas kuat di kalangan murid-muridnya. Dari ruang pengajian sederhana itulah kemudian lahir kader-kader perempuan yang kelak menjadi pelopor organisasi Aisyiyah.
Bersama Ahmad Dahlan, Nyai Walidah mendirikan kursus dan sekolah perempuan melalui wadah Sopo Tresno. Pada 1917, organisasi itu berubah nama menjadi Aisyiyah. Menariknya, ketua pertama organisasi tersebut bukan Nyai Walidah, melainkan Siti Bariyah. Menurut Debbie, hal itu menunjukkan bahwa sejak awal Aisyiyah dibangun dengan semangat kepemimpinan modern dan profesional, bukan berdasarkan kedekatan keluarga.
Nyai Walidah sendiri baru terpilih menjadi Ketua Hoofdbestuur Aisyiyah pada 1921. Di bawah kepemimpinannya, Aisyiyah berkembang sangat cepat. Organisasi ini mengirim mubaligat ke berbagai kampung, menyelenggarakan kursus agama bagi perempuan pekerja, hingga membangun pendidikan anak usia dini melalui pendirian Frobel School pada 1922.
Warisan penting lain dari Nyai Walidah adalah pembentukan budaya baru perempuan Muslim, termasuk penguatan tradisi berkerudung di lingkungan perempuan Muhammadiyah.
Namun perjuangan mereka tidak mudah. Muhammadiyah pada masa awal sering mengalami kesulitan keuangan. Debbie menuturkan bahwa Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah bahkan rela melelang barang-barang milik pribadi demi membiayai sekolah dan kegiatan dakwah.
“Muhammadiyah perlu uang, perlu harta untuk mendirikan sekolah dan bertabligh,” kata Ahmad Dahlan kala itu.
Pengorbanan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan pembaruan Islam tidak dibangun di atas kemewahan, melainkan ketulusan dan keberanian berkorban.
Melanjutkan Dakwah
Ketika Ahmad Dahlan wafat pada 1923, perjuangan itu tidak berhenti. Nyai Walidah melanjutkan dakwah dan pengorganisasian perempuan hingga ke berbagai daerah. Bahkan di usia lebih dari 50 tahun, ia masih melakukan perjalanan jauh dengan menunggang kuda untuk mengunjungi cabang-cabang Aisyiyah.
Menjelang akhir hayatnya, kondisi kesehatan Nyai Walidah mulai menurun. Namun semangatnya tetap hidup. Dalam sebuah pertemuan Muhammadiyah pasca kemerdekaan, ia kembali mengingatkan pentingnya menjaga perjuangan persyarikatan.
Tidak lama setelah itu, pada 31 Mei 1946, Nyai Siti Walidah wafat.
Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya dalam membina dan mendidik perempuan Muslim Indonesia.
Bagi Debbie Afianty, yang paling penting dari sosok Nyai Walidah bukan hanya sejarah organisasinya, tetapi cara pandangnya terhadap perempuan dan Islam. Ia menunjukkan bahwa agama bukan penghalang bagi kemajuan perempuan. Sebaliknya, Islam justru menjadi sumber etika pembebasan dan keadilan sosial.
“Beliau menggunakan bahasa agama untuk memperjuangkan pendidikan, keadilan, dan martabat manusia,” ujar Debbie.
Menurutnya, pesan Nyai Walidah masih sangat relevan hingga hari ini, ketika Indonesia masih menghadapi persoalan kekerasan terhadap perempuan, perdagangan orang, kekerasan digital, hingga ketimpangan sosial.
Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Jika hidup hari ini, kata Debbie, mungkin Nyai Walidah tidak hanya berada di ruang pengajian. Ia mungkin hadir di ruang advokasi, pendidikan digital, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai ruang kemanusiaan lainnya.
Karena yang diperjuangkan Nyai Walidah sesungguhnya bukan hanya perempuan, tetapi kemaslahatan masyarakat secara luas.
Diskusi malam itu akhirnya tidak hanya menjadi ruang mengenang sejarah, tetapi juga pengingat bahwa perjuangan ulama perempuan selalu lahir dari keberanian membaca zaman. Nyai Siti Walidah menunjukkan bahwa perubahan besar sering kita mulai dari ruang-ruang kecil: pengajian sederhana, kelas membaca, asrama perempuan, atau percakapan selepas Magrib.
Dari Kauman, cahaya itu menyebar ke seluruh Indonesia.
Dan pertanyaan yang tersisa bagi generasi hari ini, sebagaimana Debbie sampaikan di akhir pemaparannya, bukan lagi siapa Nyai Siti Walidah, melainkan apakah semangatnya masih hidup dalam diri kita.
Karena menghormati ulama perempuan bukan sekadar mengenang nama mereka, tetapi meneruskan hikmah dan perjuangannya. []










































