Senin, 13 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Teladan Kisah Keluarga Nabi Ibrahim: Pentingnya Bersikap Demokratis Terhadap Anak

Dalam keluarga seringkali kita menemukan sikap otoriter yang orang tua lakukan terhadap anaknya. Orang tua yang bersikap demikian, biasanya cenderung memaksakan kehendak kepada anakya

Kholifah Rahmawati by Kholifah Rahmawati
29 Desember 2022
in Keluarga
A A
0
Kisah Keluarga Nabi Ibrahim

Kisah Keluarga Nabi Ibrahim

8
SHARES
393
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Nabi Ibrahim As merupakan salah satu nabi dan rasul yang kisahnya paling banyak Al-Qur’an ceritakan. Selain sebagai kategori rasul Ulul Azmi dan penyadang gelar al-Khalili, Nabi Ibrahim juga terkenal sebagai rasul yang dekat dengan keluarganya. Pasalnya dalam Al-Qur’an banyak bercerita tentang kisah keluarga Nabi Ibrahim. Dalam kisah tersebut Nabi Ibrahim mengambil berbagai peran yang berhubungan dengan keluarga. Ia berperan sebagai anak, ayah dan juga suami.

Sekilas Tentang Nabi Ibrahim dan Keluarganya

Peran Ibrahim sebagai ayah tertulis dalam QS. Maryam ayat 42-48. Dalam ayat tersebut menceritakan bahwa ayah dari Nabi Ibrahim adalah seorang pembuat berhala. Ia bekerja dengan memahat batu-batu menjadi berhala yang akan ia gunakan sebagai bahan sesembahan kaumnya.

Sebagai seorang rasul yang menerima mandat dakwah, Ibrahim tidak segan berdakwah kepada ayahnya sendiri. Tentu saja dakwah tersebut ia lakukan dengan lembut dan tetap menghormati ayahnya. Namun sayangnya Sang ayah menolak ajakan dakwah tersebut dan justru mengancam Nabi Ibrahim.

Sedangkan peran Nabi Ibrahim sebagai ayah sekaligus suami tertuang dalam QS. Ibrahim ayat ayat 37. Saat itu nabi Ibrahim mendapat perintah oleh Allah agar meninggalkan Istri dan anaknya yang masih bayi di sebuah tempat yang telah ditentukan.

Namun sayangnya tempat tersebut sangatlah  gersang dan sulit untuk mendapatkan makanan. Dengan berat hati dan keyakinan yang teguh pada janji Allah, Ibrahim pun meninggalkan keluarganya di sana. Namun dengan seizin Allah tempat itu menjadi kawasan yang subur dan anaknya pun tumbuh dengan baik. Ia diberi nama Ismail.

Ujian belum berhenti sampai di situ. Ketika anaknya mulai beranjak dewasa, Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi bahwa ia harus menyembelih putranya. Mimpi itu datang sampai beberapa kali, sehingga membuat Nabi Ibrahim yakin dan membenarkan mimpi tersebut berasal dari Allah. Akhirnya Nabi Ibrahim pun menyampaikan mimpinya itu kepada putranya. Alih-alih menolak, Ismail justru meyakinkan ayahnya agar ia melaksanakan perintah Allah. Untuk menyembelihnya

Sejarah Kurban dan Kisah Penyembelihan Ismail

Kisah ini menjadi salah satu sejarah nabi yang cukup popular bahkan di kalangan orang awam sekalipun. Cerita tersebut sangat terkenal karena menjadi asal mula syariat perintah kurban, yang kita rayakan sebagai hari raya Idul Adha. Sejarah penyembelihan Ismail tertulis dalam Al-Qur’an pada surat As-Shaffat ayat 101-105.

Ayat tersebut menceritakan bahwa nabi Ibrahim dikaruniai seorang putra bernama Ismail. Kelahiran Ismail merupakan sebuah berita gembira. Karena sudah lama sejak pernikahanya Nabi Ibrahim belum dikarunia seorang anak. Hingga ketika Ismail telah lahir, Nabi Ibrahim diuji kesabaranya oleh Allah untuk menempatkan anak dan istrinya di sebuah lembah yang gersang. (sekarang tempat itu kita kenal dengan Kota Mekah yang memiliki sumur zam-zam).

Ujian untuk nabi Ibrahim tak berhenti sampai di situ. Ketika Ismail berhasil tumbuh dengan baik dan menginjak usia dewasa, Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi bahwa ia harus menyembelih putranya. Mimpi tersebut datang sampai beberapa kali, hingga membuat Nabi Ibrahim membenarkan dan meyakini bahwa itu berasal dari Allah.

Sebelum melaksanakan penyembelihan tersebut nabi Ibrahim terlebih dulu menceritakan perihal mimpinya itu kepada putranya dan meminta tanggapan. Adapun dialog mereka diabadikan oleh Al-Qur’an dalam QS. As-Shaffat ayat 102 sebagai berikut:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّءْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ

 Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Kesabaran Sang Nabi dan Balasan Allah

Ternyata kesabaran yang dimiliki nabi Ibrahim juga menurun pada putranya. Dengan jawaban yang sangat bijaksana ia menjawab pertanyaan dari ayahnya dan menerima perintah penyembelihan itu. Kesabaran Ismail bahkan dinarasikan dengan jelas pada ayat tersebut. Akhirnya Allah pun tidak menyia-nyiakan kesabaran mereka berdua.

Ketika keduanya telah berserah diri dan hendak melaksanakan penyembelihan, tiba-tiba ada suara gaib yang memanggil Nabi Ibrahim. Suara itu, mengatakan bahwa nabi Ibrahim telah membenarkan mimpinya dan termasuk orang-orang yang melakukan kebaikan.

Setelah itu Allah menebus nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan yang besar. Akhirnya perintah penyembelihan itu tetap ia lakukan. Namun  bukan lagi kepada Ismail, melainkan kepada hewan sembelihan tersebut. Peristiwa itu kemudian terabadikan dalam syariat sebagai bentuk pujian kepada Nabi Ibrahim dan Ismail yang telah berhasil melalui ujian  berat.

Keteladanan yang dapat dicontoh

Hal pertama yang dapat kita contoh dari kisah di atas, tentu saja adalah kesabaran yang Nabi Ibrahim dan Ismail miliki. Keduanya termasuk orang-orang yang sabar dalam menjalankan perintah Allah. Kita dapat melihat bagaimana kecintaan mereka pada keluarganya tidak menghalangi ketaatannya kepada Allah. Seberat apapun ujian yang Allah berikan, termasuk untuk mengorbankan keluarga sendiri, tidaklah menggoyahkan ketaatan mereka.

Semua perintah Allah ia laksanakan dengan ikhlas dan penuh keyakinan kepada-Nya. Hingga akhirnya Allah menampakan kebesaran-Nya  dengan membalas kesabaran mereka. Nama dan kisah mereka terabadikan dalam sejarah dan Al-Quran. Seluruh umat Islam bahkan merayakanya setiap tahun dengan melaksanakan ibadah kurban.

Hal lain yang tak kalah penting untuk kita teladani adalah sikap demokratis Nabi Ibrahim kepada anaknya. Demokratis berasal dari istilah demokrasi yang merupakan sebuah bentuk pemerintahan di mana semua warga negara memiliki hak yang sama untuk pengambilan keputusan.

Dalam sistem demokrasi mempertimbangkan pendapat rakyat  dalam pengambilan keputusan sangatlah penting. Karena pada akhirnya keputusan yang pemerintah ambil, akan mempengaruhi kehidupan rakyat. Pola yang sama juga terjadi dalam keluarga. Di mana keputusan dari kepala keluarga akan berpengaruh terhadap kehidupan seluruh anggota keluarganya.

Sebagaimana teladan Nabi Ibrahim sebagai kepala keluarga, yang telah menunjukan sikap demokratis. Ia tidak membuat keputusan sendiri dan memaksakan kepada Ismail. Melainkan memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih apa yang dia inginkan. Hal ini Nabi Ibrahim lakukan karena keputusan penyembelihan yang ia ambil akan berdampak langsung bagi kehidupan Ismail, sehingga ia memberi kebebasan Ismail untuk menentukan pilihanya.

Pentingnya bersikap demokratis kepada anak

Dalam keluarga seringkali kita menemukan sikap otoriter orang tua terhadap anaknya. Orang tua yang bersikap demikian, biasanya cenderung memaksakan kehendak kepada anaknya. Misalnya orang tua yang selalu memilihkan sekolah untuk anak atau mengharuskan anaknya mengambil program studi tertentu. Dalam hal ini orang tua telah bersifat otoriter karena mengharuskan anak mengikuti kehendaknya serta tidak memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih.

Sayangnya, hal yang demikian biasa terjadi dan dianggap lumrah oleh sebagian orang. Mereka berdalih bahwa orang tua lebih berpengalaman sehingga lebih tahu mana yang terbaik untuk anaknya. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Karena biasanya orang tua menjadikan dirinya sebagai tolak ukur kehidupan anaknya. Tanpa dia sadari, sebenarnya banyak keadaan yang berbeda dari kehidupan mereka.

Misalnya terkait perkembangan zaman dan teknologi. Era pada saat orang tua beranjak dewasa dengan era pada saat anak tumbuh sekarang  tentu sudah sangat berbeda. Sehingga memaksa anak mengikuti kemauan orang tua tidak akan menjamin masa depan mereka.

Selain itu, bersikap otoriter kepada anak  juga sangat berpotensi membuat anak tertekan dan akan berdampak buruk pada psikologi mereka. Hal ini karena anak harus menjalani kehidupan yang tidak mereka inginkan. Mereka harus melakukan sesuatu yang mungkin tidak mereka sukai, tapi dituntut  memperoleh hasil terbaik seperti harapan orang tua. Semua itu seringkali berakhir dengan kasus depresi pada anak, atau bahkan tindakan ekstrim dari anak sebagai bentuk perlawanan.

Oleh karena itu, sangat penting bersikap demokratif kepada anak. Berikanlah kebebasan bagi anak untuk menentukan pilihanya sendiri, selagi itu tidak melanggar syariat dan norma. Tugas orang tua sebagai manusia yang lebih berpengalaman bukanlah mendikte kehidupan anak. Yang perlu mereka lakukan hanyalah memberi informasi tentang pengalaman hidup yang pernah mereka jalani. Selanjutnya biarkan anak yang memilih dan bertangungjawab atas hidupnya sendiri.

Ajarkan Anak Pro Aktif dalam Kehidupan

Sementara jika melihat dari sisi pendidikan, bersikap demokratis kepada anak juga sangat penting. Hal tersebut berguna untuk mengajarkan anak agar bisa pro aktif dalam kehidupannya kelak. Sikap demokratis mengajarkan anak untuk mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas pilihan yang mereka buat.

Sikap demokratis juga akan sangat bermanfaat bagi kehidupan sosial anak. Dengan bersikap demokratis anak akan belajar menghargai pendapat orang lain, sehingga ia akan menjadi pribadi yang lebih terbuka dan mudah bersosialisasi. []

 

 

Tags: islamKeluarga NabiNabi IbrahimNabi IsmailParenting Islamisejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah saat Nabi Saw Menolak Para Suami yang Memukul Istrinya

Next Post

Kesehatan Dalam Islam

Kholifah Rahmawati

Kholifah Rahmawati

Alumni UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Peserta Akademi Mubadalah Muda 2023. Bisa disapa melalui instagram @kholifahrahma3

Related Posts

Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Lini Masa
Buku

Agama, Peristiwa Lini Masa, dan Bagaimana Sikap Kita?

7 Juli 2026
Kepemimpinan Perempuan
Publik

Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

7 Juli 2026
Lirik Lagu
Personal

Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

7 Juli 2026
Maskulinitas Mubadalah
Personal

Dari Maskulinitas Mubadalah Menuju Epistemologi Ulama Perempuan

6 Juli 2026
Surah 'Abasa
Disabilitas

Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

5 Juli 2026
Next Post
Kesehatan

Kesehatan Dalam Islam

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya
  • Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?
  • Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah
  • Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga
  • 6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0