Mubadalah.id – Di balik gemuruh mesin tambang dan kilau nikel yang dipromosikan sebagai simbol kemajuan, ada suara-suara yang terpaksa diam. Suara perempuan yang menanggung biaya paling mahal dari sebuah pembangunan yang tidak pernah benar-benar berpihak pada kehidupan. Pembangunan yang kita elu-elukan atas nama hilirisasi dan pertumbuhan ekonomi itu, dalam praktiknya, kerap berdiri di atas luka ekologis dan tubuh perempuan yang lelah, sakit, bahkan kehilangan masa depan.
Industri ekstraktif yang terus negara dorong bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan sebuah rezim penguasaan atas alam dan manusia. Hutan dibuka tanpa kendali, tanah terampas atas nama investasi, sungai tercemar limbah, dan laut kehilangan kehidupannya. Desa-desa yang dahulu menjadi ruang hidup kini direduksi menjadi ruang produksi yang tak lagi ramah bagi manusia. Dalam logika ini, alam diperlakukan sebagai objek eksploitasi.
Bencana ekologis yang terus bermunculan bukanlah peristiwa alam. Konsekuensi langsung dari pilihan politik dan model pembangunan yang dengan sadar mengorbankan keberlanjutan demi produksi yang tak pernah berhenti. Namun ketika krisis lingkungan terjadi, dampaknya tidak terbagi secara merata. Perempuan selalu berada di barisan pertama yang merasakan dampak, sekaligus di barisan terakhir yang terdengar.
Beban Sosial dan Ekonomi bagi Perempuan
Dalam banyak komunitas dan jaringan perempuan memiliki relasi yang sangat dekat dengan alam. Laut bukan hanya ruang ekonomi, tetapi juga ruang hidup. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan sehari-hari untuk memasak, mencuci, merawat anak, dan menjaga kesehatan keluarga.
Ketika laut rusak dan sungai tercemar, perempuanlah yang pertama kali harus memikul beban tambahan. Berjalan lebih jauh untuk air bersih, mengeluarkan biaya lebih besar untuk pangan, dan menghadapi kecemasan berkepanjangan atas kesehatan keluarga.
Pengalaman itu tergambar jelas dalam berbagai kesaksian perempuan dari wilayah industri ekstraktif. Menurut dokumentasi narasi yang terhimpun oleh Media Trend Asia, pengalaman Maria di Morowali menjadi testimoni nyata bagaimana perempuan berada di garis depan dampak industri nikel. Maria kehilangan laut yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.
Laut yang dahulu memberi ikan dan penghidupan kini tercemar limbah, sementara ruang hidup masyarakat pesisir semakin terdesak oleh ekspansi industri. Kesaksian Maria tidak hanya merekam kerusakan lingkungan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana beban sosial dan ekonomi akibat pembangunan jatuh secara tidak proporsional kepada perempuan.
Derita Perempuan
Hal serupa Nafisa alami di Sagea, yang tak lagi dapat mengandalkan sungai sebagai sumber air bersih. Sungai yang tercemar memaksanya mencari alternatif dengan biaya dan tenaga tambahan.
Di sisi lain, Diandra dan Nengsih perempuan pekerja di smelter menghadapi risiko berlapis, jam kerja panjang, lingkungan kerja berbahaya, paparan zat beracun, hingga dampak serius terhadap kesehatan tubuh dan reproduksi. Sakit, luka, bahkan kehilangan anak menjadi harga yang harus mereka bayar demi roda industri yang terus berputar.
Namun, penderitaan perempuan ini sering kali tidak tercatat dalam laporan resmi pembangunan. Mereka absen dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Suara mereka terabaikan dalam analisis dampak lingkungan.
Pengalaman tubuh perempuan yang mengalami langsung pencemaran, ekologis, dan kerentanan ekonomi, direduksi menjadi urusan domestik, bukan persoalan politik. Padahal, di sanalah wajah paling nyata dari ketidakadilan pembangunan.
Ada yang Keliru dengan Arah Pembangunan Kita
Model pembangunan ekstraktif bukan hanya merusak alam, tetapi juga memperdalam ketimpangan gender. Ketika ruang hidup menyempit, perempuan terpaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan kehidupan keluarga.
Ketika sumber pangan hilang, perempuan yang harus mencari jalan keluar. Lalu ketika penyakit meningkat akibat pencemaran, perempuan pula yang menjadi perawat tanpa upah di dalam rumah. Beban berlapis ini dijalani dalam sunyi, tanpa pengakuan dan tanpa perlindungan yang memadai.
Oleh karena itu, advokasi sensitivitas perempuan dalam isu lingkungan tidak boleh kita pahami sebagai isu tambahan atau pelengkap. Ia adalah inti dari perjuangan keadilan ekologis. Pembangunan yang adil mensyaratkan pengakuan atas pengalaman perempuan, pelibatan mereka secara bermakna dalam pengambilan keputusan, serta perlindungan nyata atas tubuh dan ruang hidup mereka.
Tanpa itu, pembangunan hanyalah mesin raksasa yang terus melindas kehidupan paling rentan. Kita tidak boleh membiarkan suara-suara perempuan ini tenggelam di balik bisingnya mesin dan retorika kemajuan. Suara mereka adalah peringatan bahwa ada yang keliru dengan arah pembangunan kita. []



















































