Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    Apa itu AIDS

    Apa itu AIDS?

    Apa itu HIV

    Apa itu HIV?

    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Satu Mawar, Empat Cinta: Transformasi Karakter Huang Yi Mei dalam Drama Cina “The Tale of Rose”

Perjalanan hidup Huang Yi Mei bukanlah kisah yang asing. Perjalanannya sangat mewakili kehidupan perempuan pada umumnya yang sering mengalami pasang-surut

Dewi Surani by Dewi Surani
10 Februari 2026
in Film
A A
0
The Tale of Rose

The Tale of Rose

24
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Drama Cina “The Tale of Rose” berkisah tentang perjalanan hidup Huang Yi Mei (diperankan Crystal Liu). Mengambil setting tahun 2000-an awal hinggal 2020-an, serial ini mengikuti perjalanan hidup tokoh utamanya sejak usia 20-an awal hingga 40 tahun.

Dalam rentang waktu sekitar 20 tahun, Huang Yi Mei mengalami transformasi dari perempuan dewasa awal, menjalani peran sebagai istri dan ibu, menjadi single parent, hingga menjadi perempuan yang mandiri dan menemukan makna dalam hidupnya. Kehadiran pria-pria dalam hidupnya tidak hanya memberinya bunga-bunga cinta, tetapi juga memberinya pengalaman hidup agar ia terus tumbuh.

Yi Mei: Bunga Mawar di Rumah Kaca

Huang Yi Mei (biasa dipanggil Mei Gui oleh keluarganya, yang artinya mawar) terlahir dalam keluarga yang sangat harmonis. Kedua orang tuanya bekerja sebagai akademisi menerapkan pola pengasuhan yang cukup demokratis. Mereka memberi kebebasan kepada Yi Mei untuk mengejar pendidikan di bidang seni yang menjadi minatnya.

Sama seperti namanya yang berarti mawar, Yi Mei punya wajah yang cantik, kepribadian yang supel, dan bakat di bidang seni yang membuat banyak orang tertarik padanya. Meskipun demikian, dia punya sifat emosional dan rebel.

Masa kecil hingga remaja Yi Mei tidak kekurangan kasih sayang, terlebih dari kakak laki-lakinya yang menjaganya layaknya bunga di rumah kaca. Hidupnya juga tidak pernah mengalami kesulitan berarti. Itu sebabnya orang tuanya tidak terlalu setuju ketika Yi Mei ingin bekerja setelah lulus kuliah.

Orang tuanya ingin Yi Mei melanjutkan kuliah S-2 karena tidak yakin apakah anaknya bisa bekerja, mengingat selama ini ia hanya bekerja dan bermain. Karena tekadnya kuat, akhirnya Yi Mei diterima bekerja di perusahaan kurasi seni. Di fase inilah Yi Mei mulai mengenal cinta yang akan membawanya pada perjalanan menemukan identitas dan makna hidup.

Zhuang Guo Dong: Cinta Pertama dan Gairah Usia Muda

Yi Mei bertemu Zhuang Guo Dong (punya nama Barat: Eric) dalam sebuah proyek kerja sama antara Cyan dan perusahaan tempat Eric bekerja. Pertemuan pertama mereka membuat Eric terkesan dengan Yi Mei yang cantik dan cerdas. Demikian halnya Yi Mei terkesan dengan Eric yang tampan, cerdas, mapan, dan lulusan Prancis.

Bersama Eric, Yi Mei merasakan cinta yang romantis dan penuh gairah. Namun sayangnya, mereka masih sama-sama punya hasrat yang besar untuk membangun karier. Keputusan Eric secara sepihak untuk pindah ke Prancis demi karier merupakan awal retaknya hubungan Yi Mei. Kesulitan komunikasi di awal tahun 2000-an membuat mereka sering mengalami salah paham.

Pada fase ini, Yi Mei mengalami patah hati untuk pertama kali. Dengan emosi meledak-ledak, Yi Mei melampiaskan kemarahannya pada Eric. Namun, akhirnya ia tersadar bahwa rasa cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan hubungan. Tanpa kompromi dan komunikasi yang baik, mereka tidak akan bisa bersama.

Fang Xie Wen: Ruang Domestik, Komitmen, dan Ekspektasi Sosial

Setelah move on dengan patah hatinya dengan Eric, Yi Mei memutuskan untuk berhenti bekerja. Dia ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-2 dengan mempelajari ilmu baru, yaitu psikologi. Hal itu ia putuskan setelah menyelenggarakan pameran lukisan karya anak berkebutuhan khusus. Ia melihat ada korelasi antara seni dan terapi kejiwaan.

Yi Mei meninggalkan zona nyamannya dengan pindah ke Shang Hai dan menjalani kehidupan sederhana sebagai mahasiswa perantau. Di fase inilah Yi Mei bertemu dengan Fang Xie Wen, seniornya di kampus yang belajar ilmu komputer. Fang Xie Wen adalah laki-laki dari keluarga sederhana yang selalu berupaya melindungi Yi Mei secara material maupun nonmaterial.

Melihat kebaikan Fang Xie Wen, hati Yi Mei pun luluh dan memutuskan menikah dengannya. Keputusan ini tidaklah mudah karena Fang Xie Wen baru saja merintis perusahaannya. Di satu sisi, Fang Xie Wen adalah pekerja keras, tetapi di sisi lain dia selalu merasa insecure, terutama dengan Eric, mantan pacar Yi Mei.

Dengan jiwa provider-nya, Fang Xie Wen berupaya memenuhi semua kebutuhan Yi Mei dan anaknya sehingga Yi Mei tidak perlu bekerja. Namun, ia lupa bahwa Yi Mei juga punya keinginan untuk bekerja sebagai bentuk aktualisasi diri. Lambat laun, rasa sayang Fang Xi Wen berubah menjadi posesif, bahkan ia mensabotase karier Yi Mei.

Ketika masuk ke kehidupan rumah tangga bersama Fang Xie Wen, Yi Mei semakin kehilangan dirinya. Jiwa seninya tidak lagi mendapatkan ruang untuk berkembang karena waktu dan tenaganya ia habiskan untuk mengurus pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Terlebih lagi, Yi Mei harus menghadapi berbagai tuntutan dari masyarakat tentang standar ibu yang ideal.

Yi Mei dan Fang Xie Wen juga semakin tidak sejalan dalam hal pengasuhan Fang Tai Chu, anak perempuan mereka. Puncaknya, Fang Xie Wen kembali mensabotase kesempatan karier Yi Mei karena ia ingin punya anak laki-laki, sementara Yi Mei merasa sudah cukup. Tak ingin terus saling menyakiti, Yi Mei memilih untuk mengakhiri pernikahannya.

Fu Jia Ming: Mencintai dan Melepaskan

Setelah berpisah dari Fang Xie Wen, Yi Mei kembali ke rumah orang tuanya di Beijing. Perlahan Yi Mei menekuni seni kembali sembari mengasuh Taichu. Beruntungnya ia kembali bertemu dengan mantan bosnya. Mereka pun bekerja sama membangun Perusahaan kurasi seni dan membuka galeri seni dengan konsep yang sangat mewadahi idealisme Yi Mei.

Dalam fase ini, Yi Mei bertemu dengan Fu Jia Ming, seorang musisi. Fu Jia Ming membuat komposisi musik untuk lukisan Yi Mei dan membuatnya terkesan. Meskipun awalnya terjadi kesalahpahaman, Yi Mei akhirnya merasakan frekuensi yang sama dengan Fu Jia Ming. Yi Mei semakin menemukan jiwanya dalam seni. Terlebih, Fu Jia Ming juga menerima Tai Chu.

Sayangnya, pertemuan dengan Fu Jia Ming adalah pelajaran berharga bagi Yi Mei bahwa titik tertinggi dalam mencintai ialah melepaskan. Yi Mei harus menerima bahwa terkadang ada hal yang tidak bisa dilawan dalam hidup, yaitu kematian. Pertemuan mereka hanya singkat karena Fu Jia Ming meninggal akibat penyakit kelainan jantung.

He Xi: Ketenangan dan Kemandirian

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Yi Mei semakin tenang dan matang secara mental. Kariernya di bidang kurasi seni semakin stabil. Di tengah segala kesibukannya, ia tetap menjalankan co-parenting bersama mantan suaminya. Kedewasaannya juga tampak dari relasinya yang baik dengan mantan kekasih, mantan suami, dan keluarganya.

Secara mental, Yi Mei sangat matang, tetapi jiwa mudanya tetap menyala. Tak lagi mengejar asmara dan karier dengan menggebu-gebu, Yi Mei lebih banyak menghabiskan waktunya untuk terus upgrade diri dan menjajal hal-hal menantang. Dia menjalani hobi baru mengendarai motor, kemudian mengambil lisensi penerbang pesawat.

Dalam fase ini, dia bertemu He Xi, pelatih di kursus penerbangan. He Xi berusia jauh lebih muda daripada Yi Mei, masih 24 tahun. He Xi sebenarnya siswa di sekolah penerbangan, tetapi statusnya ditangguhkan karena tersangkut kasus. Karena nasihat dari Yi Mei, akhirnya He Xi kembali mengurus pendidikannya.

Di mata He Xi, Yi Mei adalah sosok perempuan yang sangat inspiratif. Hal itu yang membuat He Xi jatuh hati padanya. Alih-alih membalas perasaan He Xi, Yi Mei justru meminta He Xi menikmati masa mudanya dan tidak perlu menjanjikan apa-apa. Yi Mei melihat bahwa ia dan He Xi sama-sama memiliki masa depan yang terbuka.

Perjalanan hidup Huang Yi Mei sebenarnya bukanlah kisah yang asing bagi kita. Perjalanannya sangat mewakili kehidupan perempuan pada umumnya yang sering mengalami pasang-surut. Pertemuan dan perpisahan, tangis dan tawa datang silih berganti dalam kehidupan dan perempuan harus tetap menjalaninya dengan tegar.

Huang Yi Mei adalah mawar yang cantik sekaligus berduri sebagai simbol ketegarannya dalam menjalani hidup. Huang Yi Mei telah bertransformasi dari bunga mawar dalam rumah kaca menjadi mawar yang tetap tumbuh di tengah kondisi alam yang tak menentu. Tak membuatnya terpuruk, semua cobaan dalam hidupnya justru memberi makna baru. []

Tags: Co ParentingdracinDrama CinaGenderidentitasperan ibuperempuanThe Tale of Rose
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an

Next Post

Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

Dewi Surani

Dewi Surani

Dewi Surani adalah alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM. Masuk 2008 dan lulus 2012 dengan fokus studi linguistik. Saat ini bekerja di salah satu penerbit universitas di Yogyakarta sebagai pemeriksa aksara. Membaca, menari, dan fotografi adalah hobi yang digelutinya.

Related Posts

HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

20 Juli 2026
Sepak Bola Dunia
Aktual

Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

20 Juli 2026
HIV
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

18 Juli 2026
Lagu Teh Hijau
Personal

Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

17 Juli 2026
Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Penyakit yang Menular
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

12 Juli 2026
Next Post
Kehormatan

Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

No Result
View All Result

TERBARU

  • Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya
  • Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak
  • Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes
  • Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara
  • HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0